
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Bawa ke penjara
•
•
Queen tiba di rumah Aulia dengan diantar oleh suaminya, mereka sama-sama turun dari mobil dan berniat masuk ke dalam halaman rumah Aulia. Namun, Queen berhenti sejenak menatap wajah Jeevan untuk meminta pada suaminya agar pergi saja dan membiarkannya sendiri disana.
"Jev, kamu boleh pergi kok sekarang. Aku bisa masuk sendiri buat ketemu sama Aulia, jadi kamu gapapa kalau mau pulang," ucap Queen.
Jeevan menangkup wajah istrinya itu sambil tersenyum, "Gak dong sayang, aku mau disini aja temenin kamu deh. Lagian mana mungkin aku tega tinggalin kamu sendiri?" ucapnya.
"Ih gapapa Jev, kamu juga bukannya tadi ditelpon ya buat diminta pergi?" ucap Queen.
"Iya sih, tapi aku masih ada waktu kok buat nemenin kamu disini. Emangnya kenapa sih kamu kayak gak suka gitu aku nemenin kamu?" ucap Jeevan.
"Gak gitu Jev, aku khawatir aja jadi ganggu waktu kamu sayang," ucap Queen.
Tangan Jeevan beralih merangkul pundak Queen dan mendekapnya erat sambil terus tersenyum, "Kamu gak mungkin ganggu aku sayang, mana pernah aku merasa terganggu kalau sama kamu?" ucapnya.
"Huft, yaudah deh terserah kamu aja sayang. Tapi, bukan aku yang maksa loh ya?" ucap Queen.
"Iya cantik," singkat Jeevan.
Queen menghela nafas singkat karena gagal membuat Jeevan pergi dari sana, wanita itu merasa jika rencananya akan gagal dengan adanya Jeevan disana. Padahal tadinya Queen ingin bertanya pada Aulia mengenai rahasia Jeevan, tetapi tentunya itu akan sangat sulit untuk dilakukan.
"Eh Queen?" tiba-tiba saja Aulia muncul dan melihat keberadaan sahabatnya disana.
Sontak Queen dan Jeevan menoleh ke asal suara secara bersamaan, mereka kompak tersenyum lalu melangkah mendekati tuan rumah tersebut. Sedangkan Aulia juga tampak mengukir senyumnya ketika melihat sahabatnya datang, tapi senyumannya mendadak hilang saat menyadari Jeevan juga berada bersama Queen.
"Queen, lu ada apa kesini sama suami lu? Tumben banget kalian berdua kesini, biasanya juga lu kalo datang sendiri aja," heran Aulia.
"Hehe, iya tuh si Jeevan maksa mau antar dan temenin gue. Dia katanya gak mau gue kenapa-napa kalo pergi sendiri, padahal gue udah minta dia buat pulang aja tadi," ucap Queen.
Aulia terdiam menatap wajah Jeevan, "Gue tahu maksud lu Jev, pasti lu takut kan gue bakal beberin semuanya ke Queen?" batinnya.
Aulia pun kembali menatap Queen dengan senyum tipisnya, "Yaudah Queen, lu sama suami lu masuk aja yuk ke dalam! Gue senang banget kalian mau datang ke rumah gue," ucapnya.
"Okay, eh omong-omong lu lagi sendirian atau ada abang lu juga di dalam nih?" tanya Queen.
"Ada kak Victor kok, emang kenapa?" jawab Aulia.
"Gapapa sih, nanya aja." Queen tersenyum dan lalu berlanjut melangkah memasuki rumah itu bersama Aulia serta Jeevan di sisinya.
Namun, saat hendak memasuki pintu, tanpa diduga Victor ikut muncul dan nyaris bertubrukan dengan adiknya sendiri disana. Victor pun terkekeh seraya menggeleng pelan, begitupun dengan Aulia yang tampak terkejut sembari memegangi dadanya akibat kejadian barusan.
"Ih kakak, bikin kaget aja deh!" kesal Aulia dengan wajah merengut.
"Ya maaf, lagian kamu ngapain sih buru-buru amat jalannya?" heran Victor.
"Ini loh kak ada tamu, Queen sama suaminya. Tadi aku lihat mereka udah sampe di depan, makanya aku ajak mereka masuk deh," jelas Aulia.
"Oalah.." Victor manggut-manggut paham dan menatap Queen serta Jeevan bergantian.
Queen pun menyapa Victor sambil bersalaman, begitu juga dengan Jeevan yang melakukan hal sama sebelum melangkah masuk ke dalam rumah itu bersama mereka berdua.
•
•
Sontak Tom melongok, yang dilihatnya adalah Ariana alias orang yang mengajaknya bekerjasama untuk membawa kabur Dinda dari apartemen Erick. Tom pun tak berkutik saat ini, ia bingung harus menjawab apa. Tom sungguh menyesal karena sudah bekerjasama dengan wanita itu.
"Mampus deh saya! Gimana ini ya cara ngelak nya?" gumam Tom dalam hati.
"Bagaimana Tom? Apa kamu masih bisa mengelak sekarang setelah melihat Ariana disini? Kamu pasti tahu kan siapa dia?" ujar Erick.
"Apa-apaan sih ini? Saya gak kenal sama cewek itu, siapa dia?" elak Tom.
"Halah udah lah mister Tom, anda akui saja semua perbuatan anda dan serahkan Dinda pada saya! Ariana sudah menjelaskan semuanya tadi, dia bilang kalau anda yang telah menculik istri saya!" tegas Erick bertambah emosi.
__ADS_1
"Bisa-bisanya anda percaya perkataan dia, padahal saya gak kenal sama sekali sama dia. Anda semua telah dibohongi!" ucap Tom.
"Saudara Tom, lebih baik anda mengaku saja biar semua urusan ini cepat selesai!" sela polisi.
"Pak, apa yang mau saya akui? Saya tidak melakukan penculikan itu kok," kekeuh Tom.
"Baiklah, kalau begitu izinkan kami menggeledah ke dalam tempat anda," pinta polisi itu.
Tom terdiam sejenak, berpikir keras harus bagaimana untuk bisa mengusir polisi-polisi itu dari tempatnya. Tentu Tom tak mau masuk penjara, apalagi harus kehilangan Dinda yang sangat ia cintai. Namun, Tom juga bingung harus melakukan apa untuk melindungi wanita itu.
"Tunggu dulu pak, kalian tidak bisa masuk begitu saja ke dalam rumah orang dong! Saya tidak akan mengizinkan kalian," cegah Tom.
"Maka dari itu, kami meminta izin dari saudara untuk mengecek ke dalam. Jika memang terbukti tidak ada saudari Dinda disana, seharusnya anda tidak perlu takut saudara Tom," ucap polisi itu.
"Ya benar itu pak pol, dari ekspresi anda sekarang saja sudah terlihat kalau anda sedang menyembunyikan sesuatu mister Tom," sahut Erick.
"Diam kamu mister Erick! Saya sama sekali tidak pernah melakukan apapun, apalagi menculik istri kamu itu. Lebih baik kalian semua pergi, saya ini gak tahu apa-apa!" tegas Tom.
"Tenang dulu pak, kami hanya ingin memastikan semuanya benar atau tidak!" ucap polisi itu.
Setelah tak ada cara lain, akhirnya Tom pasrah dan mempersilahkan polisi-polisi itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Tom pun hanya bisa berdiam diri di dekat pintu menatap para polisi itu melangkah memasuki rumahnya dan langsung menggeledah demi mencari sosok Dinda.
Erick yang tak mau diam saja juga ikut masuk ke dalam menyusul para polisi, Tom kali ini tidak menghalanginya karena dia juga sudah pasrah dengan semua yang akan dia alami. Kini Tom hanya berdua bersama Ariana disana, pria itu menatap wajah si wanita dengan tampang kesal.
"Heh! Kenapa kamu mengkhianati saya dan menceritakan semuanya ke si Erick? Kamu itu benar-benar tidak bisa dipercaya!" tegur Tom.
"Sabar Tom! Aku gak ada niatan buat khianati kamu, tapi aku terpaksa Tom. Tadi aku gak punya pilihan lain, daripada Erick mau bunuh aku di apartemennya," ucap Ariana.
"Saya gak perduli, awas ya kamu!" ancam Tom yang kemudian menyusul masuk ke dalam rumahnya.
•
•
Di dalam, Dinda yang kebingungan pun tampak terus memikirkan cara untuk bisa keluar dari kamar terkutuk itu. Tapi tentu ia tak dapat melakukan apa-apa karena semua disana terkunci, ia hanya bisa pasrah duduk di pinggir ranjang sembari menunggu Tom kembali dan barulah ia memohon pada pria itu agar mau melepaskannya.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara seperti langkah kaki yang mendekati pintu kamarnya. Sontak saja Dinda dibuat penasaran, apalagi suara tersebut terdengar banyak sekali dan seolah sedang mencari sesuatu. Ya Dinda juga mendengar orang-orang di luar sana tengah menggeledah seisi ruangan, Dinda pun semakin penasaran kali ini.
"Mereka siapa ya? Kenapa masuk rumah Tom terus main geledah gitu aja?" gumam Dinda.
"Sebenarnya mereka itu siapa sih dan ada perlu apa coba kesini? Kenapa mereka berani banget geledah rumah Tom kayak gini?" ujar Dinda makin penasaran.
Tiba-tiba saja, Dinda dikejutkan ketika seseorang dari luar sana mencoba untuk membuka kenop pintu kamar tersebut. Dinda reflek menjauh karena perasaan kagetnya, tetapi kemudian orang di luar itu berteriak memanggil-manggil hingga membuat Dinda merasa bingung.
Ya tentu orang di luar tersebut adalah si polisi yang sedang mencari Dinda, namun tampaknya Dinda justru ketakutan karena mengira orang tersebut berniat jahat padanya. Dinda khawatir Tom merencanakan sesuatu untuk membuatnya makin tersakiti, untuk itu ia memilih diam disana.
Sementara dua orang polisi yang berdiri di depan kamar tempat Dinda berada, masih terus berusaha membuka pintu tersebut sembari berteriak. Walaupun tentunya Dinda hanya diam tak menjawab, karena wanita itu merasa ketakutan. Polisi tersebut pun makin curiga bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Tom di dalam kamar itu.
TOK TOK TOK...
"Hey, halo! Apa ada orang di dalam? Kalau iya, tolong merespon dan tidak usah takut! Kami dari kepolisian berniat menolong kamu," ucap polisi itu.
Sontak Dinda yang mendengar itu pun dibuat terkejut, ia tak mengira kalau ternyata yang datang kesana adalah seorang polisi dan ingin menyelamatkannya. Tentu saja Dinda langsung bergerak mendekat dan membalas ketukan pintu itu untuk memberitahu bahwa ia ada disana.
"Pak, tolong saya pak! Saya ada di dalam sini, saya disekap pak!" teriak Dinda sekeras mungkin.
Mendengar suara Dinda, polisi-polisi itu kemudian yakin jika yang ada di dalam adalah orang yang tengah mereka cari. Tanpa menunggu lama, dua polisi tersebut meminta Dinda mundur karena mereka akan mendobrak pintu tersebut tanpa meminta persetujuan dari Tom.
Braakk
Pintu terbuka, dan Dinda yang ada di dalam langsung berlari ke luar mendekati dua polisi tersebut. Saat itu juga Erick melihatnya, pria itu pun berteriak memanggilnya dan berlari menghampiri istrinya itu. Mereka langsung berpelukan disana dengan erat, Dinda juga melampiaskan kesedihannya di dalam pelukan suaminya itu.
"Mas, aku senang banget kamu datang buat tolong aku! Aku benar-benar takut ada disini, aku mau ikut sama kamu mas!" rengek Dinda.
"Iya sayang iya, kamu gausah takut lagi ya kan sekarang udah ada aku disini!" ujar Erick.
Tanpa sengaja, Tom yang baru masuk juga menyaksikan kejadian itu. Entah kenapa ia merasa iri sekaligus sakit hati saat melihatnya, ada rasa cemburu dan tak suka ketika wanita yang dicintainya itu disentuh oleh lelaki lain, meskipun Tom tahu Erick sudah berstatus sebagai suami Dinda.
•
•
__ADS_1
Lova yang tengah melangkah di lorong kampus, terkejut bukan main ketika seseorang menarik tangannya begitu saja dan membawanya pergi dari sana. Sontak Lova panik bukan main dibuatnya, ia coba berontak tetapi tenaganya kalah kuat dengan si lelaki, hingga ia pun hanya bisa pasrah.
Setelah berhasil melihat ke samping, rupanya Arul lah yang menariknya saat ini dan hendak mengajaknya ke suatu tempat. Tentu Lova tampak bingung dan terheran-heran, ia tak mengerti apa maksud Arul membawanya pergi secara paksa seperti ini, padahal situasinya baik-baik saja.
"Ish Rul, lu apa-apaan sih? Ngapain lu tarik gue kayak gini? Lepasin gak?!" protes Lova.
Namun, Arul tak menjawab dan malah terus asyik menarik lengan nona nya itu tanpa perduli dengan teriakan serta protes yang dilayangkan gadis itu. Lova akhirnya terdiam setelah merasa diabaikan, ia mengikuti saja apa yang ingin dilakukan Arul saat ini padanya dan memilih pasrah.
Sampai kemudian, mereka berdua tiba di dekat gudang kampus. Ya barulah saat itu Arul melepaskan tangan Lova dan menghimpit tubuh gadis itu ke dinding, Arul tersenyum seraya mengelus wajah cantik nona nya menggunakan jari telunjuk yang membuat Lova merinding.
"Mmhhh, lu mau ngapain bawa gue kesini Rul? Pengen ngajak mesum? Ya ampun, tau tempat kek lu!" ujar Lova.
"Kalau iya, kenapa? Kamu mau berbuat mesum sama saya disini?" ujar Arul menggoda.
"Gila aja kali lu ya! Ogah banget gue begituan sama lu, apalagi disini. Gue itu belum pernah ngelakuin yang kayak gitu, jadi lu hati-hati deh kalo ngomong!" sentak Lova.
"Saya tahu nona, kamu pasti masih perawan. Itu artinya saya berhasil menjaga nona sesuai perintah tuan," ucap Arul tersenyum.
"Yaudah, terus sekarang lu mau apa? Lu pengen gituin gue dan renggut kesucian gue, iya? Biadab banget dong lu!" ucap Lova.
"Ahaha, kenapa pikiran nona seperti itu sih? Atau jangan-jangan nona emang kepengen melakukan itu dengan saya?" goda Arul.
"Hah??" Lova langsung gelagapan sendiri dibuatnya, terlebih saat ini Arul kembali menggenggam kedua tangannya dan menaruhnya di atas kepala.
Perlahan Arul mulai memajukan wajahnya mendekati bibir Lova, pria itu seolah sengaja ingin memancing nona nya dan melihat apa reaksi dari gadis itu. Tentunya Lova tak tinggal diam, ia coba berontak walau usahanya sia-sia karena tenaga yang kalah jauh dibanding Arul si pengawal.
"Rul Rul, please Rul jangan kayak gini! Lu katanya sayang sama gue, masa lu mau ngerusak gue sih? Emang lu pengen gue laporin ke papa nanti kalau lu perkosa gue?" ucap Lova.
Arul menggeleng pelan, "Udah kamu diam aja, saya bisa bikin kamu enak loh!" ucapnya sensual.
"Apaan sih? Gue gak mau! Lepasin gue Rul, jangan sampai gue teriak dan lu ditangkap sama security!" ucap Lova mengancam.
"Silahkan aja nona!" ucap Arul santai.
Disaat Arul hendak menempelkan bibirnya, tiba-tiba saja seseorang membuka pintu gudang dan terkejut melihat keberadaan Arul dan Lova di depan sana. Arul pun mengurungkan niatnya, ia langsung melepaskan tangan Lova dan terlihat panik saat seorang pria memergoki mereka disana.
•
•
Queen masih berada di dalam rumah Aulia, ia terus mengobrol dan bercanda gurau dengan gadis itu sembari menikmati cemilan. Namun, tatapan mata Queen sesekali mengarah ke sosok Jeevan, suaminya itu saat ini masih terduduk tak jauh darinya dan seolah tengah mengawasinya sambil berbincang dengan Victor.
Sungguh Queen merasa risih, ia jadi tidak bisa bebas dalam melakukan obrolan dengan Aulia. Padahal saat ini Queen hendak menanyakan perihal ketakutan Jeevan sebelumnya, tetapi ia harus menahan diri karena tak mau Jeevan mendengar semua perbincangan mereka dan malah emosi padanya lalu terjadilah pertengkaran.
"Queen, sebenarnya lu tuh kesini mau bahas soal apa? Gue lihat-lihat daritadi lu kayak nyembunyiin sesuatu gitu deh," tanya Aulia dengan nada lirih.
"Eee iya nih Aul, gue tuh mau ngomong dan nanya sesuatu ke lu. Tapi, gue gak bisa bilang sekarang karena ada Jeevan disini. Dia kayaknya ngawasin gue mulu tau," ucap Queen.
"Hah? Emangnya lu mau tanya soal apa sih sampe si Jeevan ngawasin lu gitu?" heran Aulia.
"Ada deh, nanti aja kapan-kapan gue tanya ke lu kalau gak ada Jeevan. Gue males banget debat sama dia tau," ujar Queen.
"Hey kalian! Kok ngobrolnya jadi bisik-bisik gitu sih? Hayo bahas apa?" tiba-tiba Jeevan menyela dengan suara lantang.
Sontak Queen terkejut dan menoleh ke arahnya, "Gak ada kok Jeevan," ucapnya pelan.
"Iya Jev, lu kepo banget deh jadi orang. Udah lu ngobrol aja sama kak Victor, biar gue sama Queen bisa enak ngobrolnya," ucap Aulia.
"Hahaha, bener itu bro. Kamu gausah ikut campur urusan perempuan, yang ada kamu bakal kena mental sendiri!" sahut Victor sambil terkekeh.
"Hehe, ya saya cuma penasaran aja sih," ujar Jeevan.
Akhirnya Jeevan terdiam, pria itu memilih mengalah dan tidak ingin lanjut berdebat. Tapi tetap saja, Queen masih merasa takut untuk bertanya langsung pada Aulia saat ini, sebab Jeevan bisa saja mendengar apa yang dia katakan bersama Aulia seperti barusan ketika pria itu menegurnya.
"Lia, besok kita janjian lagi ya kalau Jeevan gak ada di rumah? Gue bakal kirim chat ke lu, bisa kan?" usul Queen.
"Oh bisa kok, tenang aja lu tinggal chat gue dan kasih kabar kapannya!" ucap Aulia.
Queen mengangguk pelan, kemudian mereka mengambil sikap seperti biasa agar tidak membuat Jeevan curiga. Meskipun Queen masih saja penasaran apa yang tengah disembunyikan Jeevan darinya dan diketahui oleh Aulia, jika saja tidak ada suaminya maka Queen akan langsung menanyakan hal itu kepada Aulia.
Jeevan sendiri tak mengalihkan pandangannya dari sang istri, ia ingin memastikan jika Queen tidak membahas mengenai rahasia dirinya dengan Aulia. Sungguh Jeevan sangat cemas, itu sebabnya ia terus mengawasi Queen dari sana dan tidak akan beranjak kemana-mana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...