
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Jadian?
•
•
Lova merasa aneh ketika Arul mengajaknya ke sebuah tempat makan di pinggir jalan yang selama ini jarang ia datangi, ya sebut saja tempat makan itu adalah warteg alias warung Tegal, dimana biasanya orang-orang menyantap makanan baik pagi, siang maupun malam hari asalkan sudah lapar dan perut belum terisi tentunya.
Bahkan jika diingat, ini mungkin adalah kali pertama Lova datang di tempat itu untuk sarapan. Gadis cantik itu pun duduk di kursi panjang yang tersedia dengan Arul di sampingnya, ia tampak menoleh ke sekeliling bangunan tersebut seolah hendak memastikan kalau tempat itu aman dan bersih, agar ia bisa lebih nyaman saat makan nanti.
"Arul, gue baru pertama kali masuk kesini tau. Lu bisa jamin gak ke gue kalau makanan disini tuh bersih dan higienis?" ujar Lova agak khawatir.
Pria itu malah tersenyum menatapnya, "Kamu kira makanan di tempat kayak gini gak higienis gitu? Santai aja kali, saya udah sering makan disini kok dan saya masih hidup sampai sekarang," ucapnya.
"Ih gue serius Arul, gue kan takut aja nanti gue sakit perut atau kenapa-napa gitu! Emang semisal gue nanti kena penyakit, lu mau tanggung jawab?" ucap Lova mengembungkan pipinya.
"Ya tentu, saya ini kan pelindung buat kamu. Jadi, saya akan jadi orang pertama yang selalu bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu ke kamu Lova cantik," ucap Arul dengan santai.
"Terserah lu deh, terus ini kita makan apa?" tanya Lova penasaran.
"Kamu pilih aja cantik, kan banyak tuh makanan yang bisa kamu lihat dari kaca! Disini juga canggih loh, tinggal ditunjuk mana yang kamu mau terus dikasih deh sama penjualnya," jawab Arul.
"Umm, aku mau ayam deh.." setelah berpikir sejenak, akhirnya Lova memilih ayam opor yang ditunjuknya.
"Oh okay, mbak ayam opornya satu ya! Sama kerang deh buat saya," ucap Arul pada si penjual.
"Oke mas." penjual tersebut pun mulai menyiapkan makanan pesanan untuk mereka berdua.
Sementara Lova tampak masih melirik-lirik sekitar bangunan itu, ia melihat cukup banyak juga orang yang makan disana dan terlihat sangat lahap. Namun, entah mengapa Lova menjadi kurang selera saat melihat beberapa dari mereka makan menggunakan tangan secara langsung.
"Rul, itu kok pada makan pake tangan kosong sih? Emang gak jorok apa ya?" tanya Lova yang berbisik di telinga Arul.
"Hah?" Arul terkejut lalu reflek menoleh ke arah yang dilihat gadis itu.
Lova pun reflek menarik kepala Arul, "Ish jangan dilihat p3ak!" ucapnya.
"Loh kenapa cantik? Saya kan mau mastiin, biar saya bisa jawab pertanyaan kamu. Lagian kamu nanyanya ada-ada aja sih," ucap Arul.
"Ya gue heran aja, biasanya kan di restoran tuh jarang yang kayak gitu. Bahkan malah hampir gak ada, makanya gue tanya ke lu apa mereka itu gak ngerasa jorok apa?" ujar Lova.
Arul tersenyum dan mengusap puncak kepala gadis itu, "Udah ya jangan dipikirin lagi! Itu gak penting, mending kita siap-siap buat makan," ucapnya.
"Makan gimana sih? Makanan aja belum datang, mending lu jawab aja dulu kenapa mereka semua pada makan pake tangan langsung!" ucap Lova.
Tak lama kemudian, si penjual pun tiba dengan membawa makanan pesanan mereka. "Nah tuh, makanannya udah datang," ucap Arul seraya menunjuk ke arah penjual.
Lova memutar bola matanya sembari melipat kedua tangan di atas meja, sedangkan Arul mencubit gemas pipi nona nya yang sebentar lagi akan menjadi kekasihnya itu.
•
•
Dinda terdiam sembari menundukkan wajahnya, ia semakin bingung harus melakukan apa lagi untuk bisa keluar dari sana. Sedangkan Tom tampak mengunci pintu dan mendekati Dinda sambil tersenyum, Dinda yang ketakutan terus melangkah mundur menjauhi Tom karena merasa cemas.
"Ka-kamu mau apa Tom? Sana jauh-jauh dan jangan dekati aku!" ucap Dinda gugup.
"Tenang Dinda sayang, aku gak ada niatan buat menyakiti kamu kok!" ucap Tom santai.
"Ya aku tahu itu Tom, tapi aku sampai kapanpun gak akan pernah mau tinggal sama kamu. Aku ini udah punya suami, kamu harusnya paham dong bukan malah egois kayak gini!" ucap Dinda.
__ADS_1
"Sekali-sekali aku harus egois sayang, demi bisa mendapatkan kembali cintaku yang mustahil ini," ucap Tom tersenyum lebar.
Dinda reflek memalingkan wajahnya serta menepis tangan Tom yang hendak mengusapnya, tentu Tom sedikit kecewa, meski begitu Tom tetap saja terus mendekati Dinda hingga wanita itu tidak bisa menghindar lagi darinya. Ya langkah Dinda terhenti lantaran punggungnya sudah menyentuh tembok.
"Mau kemana lagi Dinda? Tempat kamu itu disini sama aku, aku gak akan biarin kamu pergi dari sini sayangku!" ucap Tom mengungkung tubuh Dinda.
Dinda menggeleng cepat, "Kamu udah gila Tom! Kamu bisa masuk penjara atas tindakan kamu ini, apa kamu gak takut?" ujarnya.
"Aku gak pernah takut dengan apapun sayang, kecuali kehilangan kamu, itu saja yang aku takuti di dunia ini," ucap Tom.
Deg!
Dinda tersentak kaget mendengar ucapan pria itu barusan, ia bingung harus merasa senang atau sedih setelah Tom mengucapkan kalimat seperti itu. Jujur saja hingga kini Dinda juga masih belum bisa melupakan perasaannya pada pria itu, akan tetapi ingatan mengenai pengkhianatan yang dilakukan Tom padanya sungguh mampu melukai dirinya.
Tom sendiri masih berusaha meyakinkan Dinda kalau ia memang sangat mencintainya, meski sangat sulit bagi Tom untuk membuat Dinda percaya padanya, sebab Tom akui kalau ia pernah berbuat salah pada wanita itu yang membuat Dinda kini sangat membencinya dan menganggap dirinya seperti seorang musuh.
"Tom, kalau memang kamu cinta sama aku, harusnya kamu gak ngelakuin ini dan kamu gak culik aku kayak gini!" ucap Dinda menggeleng.
"Salahnya dimana? Aku cuma mau mengambil hak aku kembali kok, kamu itu milik aku Dinda!" ujar Tom.
"Kamu kayaknya udah tambah konslet deh Tom, aku ini milik mister Erick, bukan kamu. Aku rasa kamu juga udah tahu itu semua, jadi kamu gak bisa ngaku-ngaku kalau aku ini milik kamu!" tegas Dinda.
"Suka-suka aku dong, aku menganggap kamu itu milik aku. Lagian aku yakin kamu juga masih cinta sama aku, ya kan?" ujar Tom.
"Segitu yakinnya kamu kalau aku masih cinta sama aku? Cih, kepedean banget sih kamu jadi cowok! Aku gak ada rasa lagi ya sama kamu Tom, sekarang dan kapanpun!" sentak Dinda.
"Terserah kamu aja Dinda sayang," ucap Tom singkat.
Ting nong ting nong...
Disaat mereka tengah asyik berbincang, tiba-tiba terdengar suara orang menekan bel dari arah luar apartemen Tom tersebut. Sontak baik Dinda maupun Tom sama-sama menoleh ke arah pintu, mereka penasaran dengan siapa yang datang kesana dan untuk apa orang itu datang pagi-pagi.
•
•
Namun, baru saja ia membuka pintu kamarnya dan hendak berjalan keluar, tanpa diduga suaminya itu muncul lalu tersenyum ke arahnya sembari memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. Sontak Queen terkejut, ia juga terlihat panik karena bingung harus mengatakan apa pada Jeevan.
"Loh sayang, kamu mau kemana ini rapih banget? Kenapa gak izin sama saya dulu, hm?" tanya Jeevan pada istrinya.
Queen terlihat gugup dan cemas, "Umm aku udah ada janji sama teman aku di luar, boleh kan kalau aku pergi sebentar? Aku janji deh gak lama, nanti begitu selesai, aku bakal puasin kamu lagi selama yang kamu mau," ucapnya merayu.
Jeevan menggeleng disertai senyuman singkat, "No baby, kamu tidak boleh pergi dari sini. Kamu harus tetap di rumah ini, saya gak izinin kamu keluar apalagi ketemu teman kamu!" ucapnya tegas.
"Hah? Kenapa begitu sih Jev? Emang aku salah apa coba sama kamu?" tanya Queen heran.
"Kamu gak salah kok, saya aja yang gak pengen jauh dari kamu walau sebentar. Ya soalnya saya itu selalu rindu sama kamu sih sayang," jawab Jeevan.
"Apa sih Jev? Ayolah please, aku udah ditunggu nih sama Nina dan yang lainnya!" mohon Queen.
"Dan yang lainnya? Berarti sama Aulia juga dong?" tanya Jeevan.
Queen mengangguk sebagai jawaban, tentu saja Jeevan tidak akan mengizinkan istrinya itu untuk pergi jika dia ingin menemui Aulia. Jeevan memang masih cemas kalau-kalau nantinya Aulia akan menyerahkan video kemarin kepada Queen, pastinya Queen akan langsung emosi padanya.
"Kalau gitu kamu gak boleh pergi, mending kamu disini aja sama saya Queen sayang!" ucap Jeevan.
"Ih kamu tuh kenapa sih Jeevan? Ada masalah apa sebenarnya kamu, sampai kamu gak izinin aku buat ketemu sama Aulia? Jawab jujur Jeevan!" ujar Queen.
"Kamu gak perlu tau, intinya kamu gak boleh pergi kemana-mana kali ini!" tegas Jeevan.
"Dih, aku gak perduli! Pokoknya aku tetap mau ketemu sama mereka sekarang juga, awas minggir!" ucap Queen.
__ADS_1
Jeevan pun tak semudah itu membiarkan istrinya pergi, ia mencekal lengan sang wanita dengan kuat sampai Queen tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ya Jeevan memang masih sangat khawatir jika Queen mengetahui apa yang ia lakukan bersama Fritzy di belakangnya, itu sebabnya Jeevan tidak ingin Queen pergi dari rumahnya.
"Kamu kira kamu bisa pergi sayang? No no no, kali ini saya tidak akan biarkan kamu pergi gitu aja. Ayo, masuk lagi sayang!" ucap Jeevan.
"Ih lepasin Jev, sakit tau!" pinta Queen.
"Iya iya, nanti saya lepasin kok. Tapi, sekarang kamu ikut saya ke kamar ya sayang!" ujar Jeevan.
"Gak mau, orang aku mau pergi kok. Please Jev, sebentar aja kok!" mohon Queen.
Jeevan menggeleng, "No Queen, tidak bisa!" ucapnya kekeuh.
Queen akhirnya menyerah, wanita itu sudah tak memiliki cara lagi untuk bisa pergi dari rumahnya karena Jeevan yang terus saja melarangnya. Queen pun kesal dan memilih masuk ke dalam kamar, tapi kemudian Jeevan mendapatkan sebuah panggilan dari seseorang yang memintanya untuk segera pergi mengecek kondisi di kantornya
Tentu saja Queen yang mendengar kabar tersebut langsung memanfaatkannya, ia berniat pergi dari rumah setelah Jeevan pergi lebih dulu nantinya. Queen pun merasa sangat lega saat ini, karena ia masih memiliki harapan.
•
•
Sarapan telah usai, Lova dan Arul pun tiba di kampus sesuai permintaan gadis itu. Mereka sama-sama turun dari mobil lalu saling berhadapan satu sama lain, Lova tersenyum sembari mengucap terimakasih pada Arul karena sudah mentraktir serta mengantarnya ke kampus pada pagi hari ini.
Bisa dibilang Lova memang sangat bahagia kali ini, belum pernah ia menikmati waktu berdua dengan lelaki sebelumnya, dan hanya Arul lah yang berhasil membuatnya seperti ini. Entah kenapa juga perasaan Lova begitu deg-degan ketika Arul menatapnya dari jarak dekat tanpa berkedip.
"Makasih ya Rul, tadi lu udah traktir gue makan di warteg!" ucap Lova sambil tersenyum.
"Sama-sama nona cantik, sekarang mari saya antar nona sampai ke kelas! Saya mau jaga-jaga aja biar nona gak kenapa-napa," ucap Arul.
"Eee gausah Rul, lu boleh pulang kok sekarang. Gue mau masuk sendiri aja," ucap Lova.
"Jangan nona! Saya takut nona kenapa-napa, mending saya antar aja ya nona?" ucap Arul memaksa.
"Ish, lu—" ucapan Lova terhenti lantaran Arul menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Saya antar ya nona? Kamu sebaiknya tidak usah menolak, karena lagian kan saya mau sekalian kenalan sama teman-teman kampus nona supaya makin akrab dan dekat gitu," potong Arul.
"Hah??" Lova menganga karena terkejut mendengar ucapan pria itu. "Maksud lu gimana sih Rul? Ngapain lu mau kenalan sama teman gue?" sambungnya.
"Tadi kan saya udah bilang, saya pengen lebih akrab sama nona. Nanti saya juga akan mengenalkan diri sebagai kekasih nona di hadapan teman-teman nona," jelas Arul.
"Dih, lu gila ya? Gue aja belum tentu mau jadi pacar lu ya Arul!" sentak Lova.
"Ya iya sih, tapi saya yakin kok kamu mau terima saya. Yaudah yuk kita masuk sekarang!" ucap Arul tersenyum dan menggenggam tangan Lova.
"Ish, jangan pegang-pegang gue sembarangan deh!" Lova kesal dan menyentak tangan pria itu darinya.
"Ya ampun, segitunya kamu sama saya nona? Masa cuma dipegang aja gak boleh sih?" ujar Arul memelas.
"Bodoamat, lu itu cuma pengawal dan gak seharusnya lu pegang-pegang gue!" tegas Lova.
"Waktu itu aja nona peluk saya kok, saya gak protes tuh," goda Arul.
Lova terdiam dan memalingkan wajahnya, Arul yang melihat itu dibuat gemas dan terkekeh karena ekspresi Lova yang benar-benar menggemaskan. Kemudian pria itu dengan berani merangkul pundak Lova dari samping dan mendekapnya, sontak Lova tersentak kaget lalu menatapnya tak percaya.
Baru saja Lova hendak protes, namun bibirnya yang terbuka itu langsung dibungkam oleh bibir sang pengawal. Ya akhirnya bibir mereka saling menempel satu sama lain disana, tak ada pergerakan dan hanya menempel, tampaknya Lova masih tak percaya dengan apa yang dirinya dapatkan saat ini dari Arul.
"Oh my God, first kiss gue!" batin Lova yang tentunya sangat syok.
"Lova!" suara teriakan itu mengagetkan keduanya, Lova pun langsung mendorong tubuh Arul lalu menatap ke asal suara.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...