Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 29. Apakah gagal?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Ditangkap polisi




Ting nong ting nong...


Disaat mereka tengah asyik berbincang, tiba-tiba terdengar suara orang menekan bel dari arah luar apartemen Tom tersebut. Sontak baik Dinda maupun Tom sama-sama menoleh ke arah pintu, mereka penasaran dengan siapa yang datang kesana dan untuk apa orang itu datang pagi-pagi.


Akhirnya karena penasaran, Tom memutuskan mengecek ke depan untuk mencari tahu siapa yang datang kesana. Sedangkan Dinda diminta tetap berada di dalam kamar dan tidak diizinkan ikut dengannya ke depan, ya Tom ingin berjaga-jaga saja khawatir kalau Dinda akan kabur nantinya.


"Ya sebentar," Tom berteriak sembari mendekati pintu dan mulai membukanya.


Ceklek


"Good morning, mister Tom!" betapa terkejutnya Tom, saat ia membuka pintu dan ternyata di depannya sudah berdiri sosok Erick bersama segerombolan polisi di belakangnya.


"I-i-iya, apa-apaan ini? Kenapa anda datang ke tempat saya bersama polisi? Maksudnya apa?" tanya Tom tampak ketakutan.


"Sudahlah, anda tidak perlu berakting seperti itu mister Tom. Saya yakin anda pasti tahu apa maksud kedatangan saya kesini, karena anda sudah menculik istri saya!" ucap Erick.


Tom tersentak kaget mendengarnya, ia tak menyangka jika Erick telah mengetahui semuanya. Namun, kini Tom berusaha tetap santai agar tidak dicurigai oleh para polisi disana, tentunya Tom tidak mau kehilangan Dinda lagi saat ini. Tom akan terus berjuang demi bisa bersama wanita tercintanya itu.


"Anda salah alamat, bukan saya yang menculik Dinda. Lebih baik anda cari istri anda itu di tempat lain, saya tidak tahu menahu dengan Dinda! Lagipun, bukannya dia istri anda ya? Kenapa malah cari disini?" elak Tom.


"Masih saja anda mengelak dari tuduhan saya, padahal sudah jelas-jelas anda pelakunya. Akui saja semuanya mister Tom!" ujar Erick.


Tom terkekeh dan menggeleng pelan, "Bukan saya yang menculik Dinda, jangan salah paham dong anda! Mentang-mentang saya mencintai istri anda, terus anda menuduh saya gitu?" ujarnya.


"Iya, karena saya telah mengetahui semuanya." Erick tersenyum seringai dan menunjukkan seseorang yang ia bawa di dekatnya.


Sontak Tom melongok, yang dilihatnya adalah Ariana alias orang yang mengajaknya bekerjasama untuk membawa kabur Dinda dari apartemen Erick. Tom pun tak berkutik saat ini, ia bingung harus menjawab apa. Tom sungguh menyesal karena sudah bekerjasama dengan wanita itu.


"Mampus deh saya! Gimana ini ya cara ngelak nya?" gumam Tom dalam hati.


"Bagaimana Tom? Apa kamu masih bisa mengelak sekarang setelah melihat Ariana disini? Kamu pasti tahu kan siapa dia?" ujar Erick.


"Apa-apaan sih ini? Saya gak kenal sama cewek itu, siapa dia?" elak Tom.


"Halah udah lah mister Tom, anda akui saja semua perbuatan anda dan serahkan Dinda pada saya! Ariana sudah menjelaskan semuanya tadi, dia bilang kalau anda yang telah menculik istri saya!" tegas Erick bertambah emosi.


"Bisa-bisanya anda percaya perkataan dia, padahal saya gak kenal sama sekali sama dia. Anda semua telah dibohongi!" ucap Tom.


"Saudara Tom, lebih baik anda mengaku saja biar semua urusan ini cepat selesai!" sela polisi.


"Pak, apa yang mau saya akui? Saya tidak melakukan penculikan itu kok," kekeuh Tom.


"Baiklah, kalau begitu izinkan kami menggeledah ke dalam tempat anda," pinta polisi itu.


Tom terdiam sejenak, berpikir keras harus bagaimana untuk bisa mengusir polisi-polisi itu dari tempatnya. Tentu Tom tak mau masuk penjara, apalagi harus kehilangan Dinda yang sangat ia cintai. Namun, Tom juga bingung harus melakukan apa untuk melindungi wanita itu.




"Hah??" Lova menganga karena terkejut mendengar ucapan pria itu. "Maksud lu gimana sih Rul? Ngapain lu mau kenalan sama teman gue?" sambungnya.


"Tadi kan saya udah bilang, saya pengen lebih akrab sama nona. Nanti saya juga akan mengenalkan diri sebagai kekasih nona di hadapan teman-teman nona," jelas Arul.

__ADS_1


"Dih, lu gila ya? Gue aja belum tentu mau jadi pacar lu ya Arul!" sentak Lova.


"Ya iya sih, tapi saya yakin kok kamu mau terima saya. Yaudah yuk kita masuk sekarang!" ucap Arul tersenyum dan menggenggam tangan Lova.


"Ish, jangan pegang-pegang gue sembarangan deh!" Lova kesal dan menyentak tangan pria itu darinya.


"Ya ampun, segitunya kamu sama saya nona? Masa cuma dipegang aja gak boleh sih?" ujar Arul memelas.


"Bodoamat, lu itu cuma pengawal dan gak seharusnya lu pegang-pegang gue!" tegas Lova.


"Waktu itu aja nona peluk saya kok, saya gak protes tuh," goda Arul.


Lova terdiam dan memalingkan wajahnya, Arul yang melihat itu dibuat gemas dan terkekeh karena ekspresi Lova yang benar-benar menggemaskan. Kemudian pria itu dengan berani merangkul pundak Lova dari samping dan mendekapnya, sontak Lova tersentak kaget lalu menatapnya tak percaya.


Baru saja Lova hendak protes, namun bibirnya yang terbuka itu langsung dibungkam oleh bibir sang pengawal. Ya akhirnya bibir mereka saling menempel satu sama lain disana, tak ada pergerakan dan hanya menempel, tampaknya Lova masih tak percaya dengan apa yang dirinya dapatkan saat ini dari Arul.


"Oh my God, first kiss gue!" batin Lova yang tentunya sangat syok.


"Lova!" suara teriakan itu mengagetkan keduanya, Lova pun langsung mendorong tubuh Arul lalu menatap ke asal suara.


Rupanya suara itu berasal dari mulut Nina, sahabat Lova yang baru tiba di kampus. Ya Nina terkejut ketika menyaksikan Lova tengah bersenggama dengan seorang pria di depan sana, apalagi setelah dilihat lebih jelas pria yang bersama temannya itu adalah Arul, bodyguard Lova sendiri.


"Ya ampun Lova, lu tadi ngapain sama si Arul anjir? Kalian kok peluk-pelukan begitu?" Nina kini sudah berada di dekat mereka dan langsung melontarkan berbagai pertanyaan yang membuat Lova bingung.


"Nin, lu tenang dulu! Gue sama Arul tadi gak sengaja aja pelukan, soalnya gue tuh hampir jatuh dan tadi dia niatnya mau tolongin gue," bohong Lova.


"Ah serius? Masa sih?" tanya Nina tak percaya.


"Iyalah Nina, lagian lu mikir apa sih emang? Mana ada majikan pelukan sama pengawalnya tanpa sebab coba?" ujar Lova.


"Ya betul sih, gak mungkin juga lu mau dipeluk sama si Arul kayak tadi kalau gak ada sebabnya ya. Sorry deh kalo gue salah paham, abisnya tadi kalian kelihatan mesra banget sih," ucap Nina.


"Yeh ngaco aja lu! Yakali gue sama Arul mesra-mesraan," elak Lova.


Sementara Arul justru tampak senyum-senyum sendiri memandangi wajah nona nya, membuat Lova salah tingkah dan gemetar sendiri ketika menyadari Arul terus menatapnya. Lova sungguh heran dengan sikap Arul saat ini, pria itu seolah tak menganggap dirinya sebagai majikan lagi.


"Dih, lu ngapain senyum-senyum gitu Rul? Gak waras lu ya?" tanya Nina menegur pria itu.


"Eh mbak Nina, saya masih waras kok. Buktinya non Lova mau sama saya," jawab Arul.


"Hah? Maksud lu apa Arul? Si Lova emangnya mau apaan dari lu?" kaget Nina.


"Hahaha, ya iyalah mbak kan buktinya non Lova mau jadiin saya pengawalnya. Itu tandanya saya masih waras tau mbak," jelas Arul sambil terkekeh.


"Ohh ada-ada aja lu," cibir Nina.


Lova pun merasa lega mendengarnya, tadinya ia kira Arul akan mengatakan hal yang tidak-tidak di depan Nina. Untungnya Arul mau mengerti dan tak melakukan apa yang tidak benar saat ini, meskipun ia yakin kalau Arul sebenarnya ingin sekali mengatakan tentang hubungan spesial mereka.


"Yaudah, gue ke dalam dulu ya Rul? Lu boleh pulang kok sekarang," ucap Lova pada pengawalnya itu.


"Eee nona lupa ya? Tadi kan saya udah bilang, saya mau ikut ke dalam biar sekalian bisa kenalan sama teman-teman nona," ucap Arul.


"Duh, ngapain sih Arul? Udah lah gausah ngada-ngada, lu kan udah kenal sama teman gue, nih salah satunya Nina. Mending lu balik aja deh sana, pulang!" usir Lova.


"Jahat banget sih nona, masa saya diusir kayak gitu? Padahal saya cuma mau kawal nona sampai ke dalam, saya khawatir nona kenapa-napa tau," ucap Arul sok imut.


"Hadeh, gue kan udah bareng Nina. Lagian di dalam juga gak akan ada apa-apa," sentak Lova.


Disaat Lova hendak pergi, tiba-tiba Arul menahan tangannya dengan kuat dan mencengkeramnya. Sontak saja Lova terkejut serta langsung melirik ke arah Arul, sedangkan Nina yang juga melihatnya ikut merasa kaget seolah tak percaya jika Arul berani menyentuh tangan Lova begitu saja.


"Lo apaan sih Rul? Jangan pegang-pegang gue! Lo ngerti kan lu itu siapa, jadi lu gak pantas kayak gini sama gue!" sentak Lova.

__ADS_1


Arul malah tersenyum dengan lebar, "Saya ngerti, tapi saya gak mau lepasin kamu," ucapnya.


Lova mendekat dan berbisik di telinga Arul sembari berjinjit, "Rul, please kita omongin soal perasaan lu itu nanti aja ya di rumah! Gue gak mau kalau si Nina tau, lepasin dulu tangan gue!" ucapnya lirih.


"Kamu yakin?" tanya Arul tak percaya.


Lova manggut-manggut mencoba meyakinkan pria itu, akhirnya Arul melepaskan tangannya dan itu langsung dijadikan kesempatan oleh Lova untuk pergi bersama Nina, ya Lova pun menarik tangan Nina lalu membawanya ke dalam kampus meninggalkan Arul sendirian disana.


Setelah menjauh dari Arul, kini Lova dapat bernafas lega karena ia tidak perlu takut lagi jika Nina mengetahui hubungan spesial Lova dengan Arul. Namun, tampaknya Nina masih penasaran dan terus ingin tahu apa yang terjadi diantara Lova dan Arul di belakangnya.


"Eh Va, gue mau tanya deh sama lu. Sebenarnya lu sama Arul itu ada hubungan apa sih selain pengawal dan majikan? Soalnya gue lihat-lihat kalian makin dekat aja tau, apalagi tadi dia berani pegang tangan lu kayak gitu," ucap Nina penasaran.


"Eee..." Lova kebingungan saat hendak menjawabnya, ia mencari cara agar tidak membuat Nina semakin curiga.




Queen tiba di rumah Aulia dengan diantar oleh suaminya, mereka sama-sama turun dari mobil dan berniat masuk ke dalam halaman rumah Aulia. Namun, Queen berhenti sejenak menatap wajah Jeevan untuk meminta pada suaminya agar pergi saja dan membiarkannya sendiri disana.


"Jev, kamu boleh pergi kok sekarang. Aku bisa masuk sendiri buat ketemu sama Aulia, jadi kamu gapapa kalau mau pulang," ucap Queen.


Jeevan menangkup wajah istrinya itu sambil tersenyum, "Gak dong sayang, aku mau disini aja temenin kamu deh. Lagian mana mungkin aku tega tinggalin kamu sendiri?" ucapnya.


"Ih gapapa Jev, kamu juga bukannya tadi ditelpon ya buat diminta pergi?" ucap Queen.


"Iya sih, tapi aku masih ada waktu kok buat nemenin kamu disini. Emangnya kenapa sih kamu kayak gak suka gitu aku nemenin kamu?" ucap Jeevan.


"Gak gitu Jev, aku khawatir aja jadi ganggu waktu kamu sayang," ucap Queen.


Tangan Jeevan beralih merangkul pundak Queen dan mendekapnya erat sambil terus tersenyum, "Kamu gak mungkin ganggu aku sayang, mana pernah aku merasa terganggu kalau sama kamu?" ucapnya.


"Huft, yaudah deh terserah kamu aja sayang. Tapi, bukan aku yang maksa loh ya?" ucap Queen.


"Iya cantik," singkat Jeevan.


Queen menghela nafas singkat karena gagal membuat Jeevan pergi dari sana, wanita itu merasa jika rencananya akan gagal dengan adanya Jeevan disana. Padahal tadinya Queen ingin bertanya pada Aulia mengenai rahasia Jeevan, tetapi tentunya itu akan sangat sulit untuk dilakukan.


"Eh Queen?" tiba-tiba saja Aulia muncul dan melihat keberadaan sahabatnya disana.


Sontak Queen dan Jeevan menoleh ke asal suara secara bersamaan, mereka kompak tersenyum lalu melangkah mendekati tuan rumah tersebut. Sedangkan Aulia juga tampak mengukir senyumnya ketika melihat sahabatnya datang, tapi senyumannya mendadak hilang saat menyadari Jeevan juga berada bersama Queen.


"Queen, lu ada apa kesini sama suami lu? Tumben banget kalian berdua kesini, biasanya juga lu kalo datang sendiri aja," heran Aulia.


"Hehe, iya tuh si Jeevan maksa mau antar dan temenin gue. Dia katanya gak mau gue kenapa-napa kalo pergi sendiri, padahal gue udah minta dia buat pulang aja tadi," ucap Queen.


Aulia terdiam menatap wajah Jeevan, "Gue tahu maksud lu Jev, pasti lu takut kan gue bakal beberin semuanya ke Queen?" batinnya.


Aulia pun kembali menatap Queen dengan senyum tipisnya, "Yaudah Queen, lu sama suami lu masuk aja yuk ke dalam! Gue senang banget kalian mau datang ke rumah gue," ucapnya.


"Okay, eh omong-omong lu lagi sendirian atau ada abang lu juga di dalam nih?" tanya Queen.


"Ada kak Victor kok, emang kenapa?" jawab Aulia.


"Gapapa sih, nanya aja." Queen tersenyum dan lalu berlanjut melangkah memasuki rumah itu bersama Aulia serta Jeevan di sisinya.


Namun, saat hendak memasuki pintu, tanpa diduga Victor ikut muncul dan nyaris bertubrukan dengan adiknya sendiri disana. Victor pun terkekeh seraya menggeleng pelan, begitupun dengan Aulia yang tampak terkejut sembari memegangi dadanya akibat kejadian barusan.


"Ih kakak, bikin kaget aja deh!" kesal Aulia dengan wajah merengut.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2