Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 6. Cinta atau tidak


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Cinta atau tidak?




Jeevan datang ke markasnya untuk mengecek kondisi bisnis yang ia pegang saat ini, ya sebelumnya Jeevan mengajukan cuti dan memberi tanggung jawab pada Alden untuk bisa mengurus semua yang diperlukan disana. Selain itu, Jeevan juga memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan bisnis papa Queen yang kini dipegang olehnya.


Tampak pria itu melihat Fritzy yang baru keluar dari ruangannya dengan membawa sebuah berkas, sontak Jeevan meninggalkan sejenak perbincangan dengan para staf disana karena ingin menemui wanita itu. Fritzy berusaha menghindar dari kejaran Jeevan, namun lelaki itu berlari dan mencekal lengannya dari belakang sehingga Fritzy tak bisa pergi kemana-mana.


"Kamu kenapa lari sih Fritzy? Saya mau bicara sama kamu, ayo kamu ikut saya ke ruangan!" ujar Jeevan.


"Ta-tapi bos.." belum sempat Fritzy menyelesaikan ucapannya, Jeevan sudah lebih dulu menariknya secara paksa dan membawanya masuk ke dalam ruangan untuk berbincang.


Di dalam sana, Jeevan mendudukkan Fritzy dengan ia berada di sebelahnya. Ia tersenyum memandangi wajah wanita yang sebelumnya sempat ia sukai itu, entah kenapa perasaannya Jeevan pada Fritzy masih belum sepenuhnya hilang meski ia sudah menikah dengan cinta pertamanya saat ini.


"Fritzy, saya mau tanya sama kamu. Apa benar kalau pernikahan kita kemarin itu cuma rekayasa kamu? Tolong jawab jujur Fritzy!" ujar Jeevan pelan.


"Hah? Pasti bos tahu ini dari mbak Queen ya? Maaf bos, saya bilang begitu biar supaya mbak Queen gak curiga tentang kehamilan saya. Kan gak mungkin kalau saya ungkap semuanya," ucap Fritzy.


"Betul itu, untung kamu punya pemikiran seperti itu. Tapi, kenapa kamu malah bilang kalau pernikahan kita cuma rekayasa sih? Jujur deh sama saya, kamu cinta enggak sama saya?!" ucap Jeevan.


"Buat apa bos tanya begitu ke saya? Bos kan udah punya mbak Queen sekarang," ucap Fritzy.


"Gapapa, saya mau tahu aja. Kamu itu sebenarnya cinta sama saya atau enggak? Tinggal jawab aja gak susah kan?" ucap Jeevan.


"Saya rasa bos udah tahu jawabannya, saya waktu itu mau nikah sama bos ya karena bayi ini aja. Saya gak ada rasa sama bos," bohong Fritzy.

__ADS_1


Deg!


Jantung Jeevan seolah berhenti sejenak mendengar pengakuan Fritzy, ia tak tahu wanita itu berbohong atau tidak, tapi sungguh perkataannya barusan membuat Jeevan amat hancur. Jeevan kira kala itu Fritzy memang mencintainya, tetapi ternyata Fritzy justru tidak memiliki rasa sama sekali padanya. Padahal Jeevan sudah mencoba melupakan Queen saat itu demi membuka hati untuk Fritzy.


"Kamu serius bicara begitu Fritzy? Kamu gak lagi mempermainkan saya kan?" tanya Jeevan memastikan.


"Iya bos, saya sudah menjawab dengan jujur kok. Dari awal juga kan saya emang gak cinta sama bos, andai saja waktu itu bos gak ambil kesucian saya, mungkin pernikahan kita juga gak akan pernah terjadi dan selamanya status kita tetap seperti ini," jawab Fritzy dengan tegas.


Jeevan terdiam, matanya berkaca-kaca menahan tangis dan reflek tangannya juga melepas lengan Fritzy sehingga wanita itu bisa berdiri dari tempat duduknya. Jeevan mendongak heran, sedangkan Fritzy langsung pamit pada bosnya itu karena ia masih harus mengurus banyak pekerjaan di luar yang menjadi tugasnya.


"Sudah ya bos, saya harus pergi sekarang. Masih banyak yang harus saya urus di luar, bos juga lebih baik urus yang lain deh daripada bertanya tentang soal yang gak penting ke saya," ucap Fritzy.


Tak ada jawaban dari Jeevan, tampaknya lelaki itu masih amat kecewa pada Fritzy. Akhirnya Fritzy melangkah keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Jeevan begitu saja, meski Fritzy merasa tidak enak.




Queen yang tengah membersihkan rumah dibuat terkejut dengan suara bel dari arah luar, sontak ia menaruh sejenak gagang sapunya itu dan coba mengecek ke depan untuk mencari tahu siapa yang datang kesana. Queen bergegas membuka pintu sekaligus berhati-hati karena khawatir yang datang ternyata adalah musuhnya.


Begitu pintu dibuka, Queen amat kaget saat ketiga sahabatnya berada disana dan langsung memberi kejutan untuknya. Sontak Queen sampai harus mengelus dada atas perlakuan mereka itu, sedangkan Aulia, Lova dan juga Nina justru tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Queen barusan.


"Hahaha, lu kaget ya Queen? Sorry, kita bertiga emang sengaja pengen bikin lu kaget," ujar Aulia.


"Haish, sialan kalian! Kalau gue tadi jantungan gimana? Emang kalian mau tanggung jawab ngurusin suami gue?" protes Queen.


"Ah boleh tuh, si Jeevan kan juga ganteng. Lumayan lah buat dijadiin suami," sarkas Nina.


"Yeh dia malah pengen, emang dasar bibit pelakor!" ucap Queen seraya memukul lengan Nina pelan.

__ADS_1


"Hehe, canda Queen canda. Omong-omong ini lu kagak mau peluk kita apa? Lu gak kangen gitu sama kita bertiga?" ujar Nina.


Queen terdiam sejenak, menatap wajah tiga sahabatnya itu sambil tersenyum aneh. Lalu, tiba-tiba saja Queen bergerak dan memeluk mereka bertiga bersamaan. Ya jadilah mereka berempat berpelukan disana seperti Teletubbies, tampak Queen juga amat merindukan sahabatnya itu.


"Yaudah, kita masuk yuk guys! Kebetulan di rumah gak ada siapa-siapa kecuali gue, jadi lumayan kalian bisa bantu gue beberes rumah," ucap Queen.


"Hah? Ya ampun Queen, lu tega amat sih sama sohib lu sendiri! Masa iya kita yang cantik-cantik gini dijadiin pembantu?" ucap Lova.


"Tau ih, kelas kita mah udah kalangan atas kali Queen. Sembarangan aja lu!" timpal Aulia.


"Udah gausah lebay, yuk masuk yuk bantuin gue beberes!" paksa Queen yang langsung menarik ketiga sohibnya itu masuk ke rumahnya.


Di dalam, mereka duduk berdampingan pada sofa ruang tamu. Terlihat Aulia serta yang lainnya cukup terpukau dengan desain rumah baru Queen dan Jeevan itu, ya mereka merasa kagum dengan keindahan rumah yang tidak terlalu besar tetapi mengagumkan itu.


"Rumah lu keren banget dah emang! Tapi, terus rumah lu yang dulu itu gimana dong Queen? Gak ditempatin atau malah udah lu jual ke orang?" tanya Aulia penasaran.


Queen menggeleng, "Enggak lah, yakali gue jual rumah peninggalan bokap gue. Rumah itu satu-satunya kenangan yang gue punya, sampai kapanpun gue gak akan jual rumah itu karena gue sayang sama bokap gue!" ucapnya tegas.


"Ohh, ya tapi sayang dong kalo gak ditempatin. Mending lu sewain deh, lumayan kan duitnya buat beli skincare bulanan," ucap Aulia.


"Iya, atau enggak rumahnya itu lu jadiin markas geng kita aja. Jadi, kita bisa tiap hari ketemu disana dan kumpul-kumpul bareng kayak dulu," usul Lova.


"Gak bisa guys, kalian kan tahu gue udah jadi ibu rumah tangga. Gue harus urus rumah sama suami gue, belum lagi kalau gue hamil dan punya anak nanti," ucap Queen.


"Yah iya sih, gak asik lu nikah duluan!" cibir Lova.


"By the way, gimana hubungan lu sama si Jeevan? Kalian masih saling cinta emang?" tanya Nina tiba-tiba.


Queen yang tadinya tersenyum langsung mengubah ekspresinya begitu Nina menanyakan itu, tentu saja Queen merasa bingung harus menjawab bagaimana karena dirinya juga tak tahu apakah ia masih mencintai Jeevan atau tidak. Begitu juga dengan Jeevan, ia tak tahu apakah Jeevan mencintai dirinya atau hanya terpaksa mau menikahinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2