
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Tolong jelaskan!
•
•
Mereka tiba di belakang markas yang agak sepi itu, Alden langsung memojokkan tubuh Fritzy ke tembok dengan dua tangan yang masih digenggamnya. Alden menatap tajam ke arah wanita itu yang membuat Fritzy berdebar kencang, Fritzy sangat cemas dengan perlakuan Alden padanya saat ini.
"Al, kamu tuh mau apa sih? Jangan macam-macam ya atau aku teriak nih!" ucap Fritzy ketakutan.
"Siapa yang mau macam-macam sama kamu? Aku tuh cuma pengen tanya ke kamu, tapi tolong kamu jawab yang jujur ya Fritzy!" ucap Alden tegas.
"Emang kamu mau tanya apa lagi sih Alden? Soal anak di kandungan aku ini?" ujar Fritzy.
Alden mengangguk, "Ya betul, itu kamu tau. Aku pengen tanya, siapa ayah dari anak kamu ini?" ucapnya.
"Kenapa sih kamu mau tau banget soal ini? Bisa gak kamu gausah kepo gitu?" heran Fritzy.
"Gak bisa Fritzy, aku selalu kepikiran tentang ini. Aku bingung aja gitu kenapa kamu bisa hamil, sedangkan selama ini kamu tuh gak pernah punya hubungan sama laki-laki," ucap Alden.
"Kamu aja yang gak tahu, aku punya pacar kok. Jadi, anak ini ya anak pacar aku. Udah deh kamu jangan banyak tanya lagi!" ucap Fritzy berbohong.
"Serius kamu punya pacar? Siapa pacar kamu? Kok aku gak pernah tahu sih?" tanya Alden penasaran.
"Siapapun pacar aku itu bukan urusan kamu Alden, kamu gak perlu tahu!" ucap Fritzy.
"Aku yakin kamu bohong Fritzy, pasti ini bukan anak pacar kamu kan?! Gak mungkin kamu punya pacar karena selama ini kamu disini, apa jangan-jangan anak ini anaknya bos Jeevan?" tebak Alden.
Deg!
Fritzy melongok lebar mendengar tebakan Alden, ia sedikit cemas karena Alden sudah berhasil menebak siapa ayah dari anaknya. Tetapi, Fritzy mencoba untuk tetap tenang agar Alden tidak curiga dan menyangka kalau tebakannya salah. Tentu Fritzy tak mau siapapun termasuk Alden mengetahuinya.
__ADS_1
Sementara itu, Queen yang sedang mencari Fritzy serta Alden tak sengaja malah mendengar apa yang diucapkan Alden barusan. Ya Queen sontak langsung terperangah tak percaya dengan tebakan pria itu mengenai ayah dari anak di dalam kandungan Fritzy yang ternyata adalah Jeevan.
"Apa-apaan ini? Kenapa bisa Alden mengira Jeevan lah ayah dari anaknya Fritzy?" gumam Queen dalam hati.
Karena penasaran, Queen akhirnya maju mendekati mereka berdua untuk bertanya secara langsung. Sontak Fritzy dan Alden sama-sama terkejut melihat keberadaan Queen disana, mereka langsung menoleh dan tampak terperangah saat Queen semakin mendekat.
"Alden, apa yang kamu bicarakan barusan? Mengapa kamu mengatakan jika Jeevan suamiku adalah orang yang sudah menghamili Fritzy? Atas dasar apa kamu dapat berkata demikian?" ujar Queen.
Alden pun terlihat kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa, "Eee sa-saya cuma baru menduga aja nona, belum pasti juga kok kalau dugaan saya itu benar adanya. Nona jangan marah dulu ya sama saya!" ucapnya gugup.
"Ah tidak tidak, aku gak marah sama kamu. Tapi, tolong jelaskan mengapa kamu bisa menuduh Jeevan! Pasti ada alasannya kan?" ucap Queen.
"Ada sih nona, maka dari itu saya bisa mengira bos Jeevan lah pelakunya," ucap Alden.
"Yasudah, kamu jelaskan sekarang kenapa kamu menuduh suami aku pelakunya!" pinta Queen.
"Eee begini nona, bos Jeevan..." tiba-tiba ucapan Alden dihentikan paksa oleh Fritzy yang menyela karena tak ingin Alden membongkar semuanya.
Seketika Queen dan Alden menatap tajam ke arah Fritzy dengan penasaran.
•
•
Aulia bersama Dinda dan Nina kini tiba di depan rumah Queen, sahabat mereka yang ingin mereka kunjungi itu. Akan tetapi, sesampainya disana mereka malah melihat kalau rumah Queen tampak sepi seperti tak berpenghuni. Tentu saja ketiga gadis itu merasa keheranan, mereka menyesal tidak mengabari Queen lebih dulu sebelumnya.
"Hadeh, rumah Queen kosong tuh. Kayaknya dia lagi pergi deh nih," ujar Aulia.
"Iya ya, kelihatan banget rumahnya sepi begitu. Terus gimana dong ini? Apa kita mau coba telpon Queen sekarang?" ucap Nina kebingungan.
"Boleh tuh, lu telpon gih nomornya si Queen terus bilang ke dia kalau kita udah di rumahnya!" suruh Aulia.
Nina mengangguk setuju dan mencoba menghubungi nomor Queen, namun sayang tidak berhasil karena ternyata nomor Queen sedang tak aktif dan tidak bisa dihubungi. Nina pun merasa jengkel dan tak tahu harus apa lagi, begitu juga dengan Aulia.
__ADS_1
"Haish, nomornya gak aktif guys. Gimana dong ini? Yakali kita mau panas-panasan terus disini, bisa gosong kulit gue nih woy!" ucap Nina kesal.
"Sabar Nina, mungkin Queen lagi sibuk atau ada urusan. Kita masuk aja yuk ke dalam, tunggu di dalam yang adem dan gak panas!" usul Aulia.
"Nah boleh tuh, kebetulan nih pagarnya gak digembok. Bisa dibuka kayaknya," ucap Nina setuju.
"Eh guys tunggu! Kalian udah pada gila ya? Masa kalian mau masuk rumah orang gitu aja? Kalau kita disangka maling gimana?" ucap Dinda.
"Apa sih Dinda? Gapapa kali kita masuk, toh ini kan rumah sohib kita," ucap Aulia.
"Tetap aja gak boleh guys, gak sopan tau masuk ke rumah orang lain gitu aja meskipun dia sahabat kita!" ucap Dinda.
"Iya sih, yaudah deh gak jadi. Kalo gitu kita nunggu di mobil aja yuk!" ajak Aulia.
"Nah, kalo itu baru aku setuju. Ayo deh kita balik ke mobil aja!" ucap Dinda.
Disaat ketiganya hendak masuk ke mobil, mereka dikejutkan dengan sebuah motor besar hitam yang berhenti di dekat mereka. Seorang pria yang mengendarai motor itu tampak melepas helmnya, menatap ke arah tiga gadis tersebut sambil tersenyum dan merapihkan rambutnya.
"Tom, ka-kamu ngapain disini?" tanya Dinda dengan gugup sembari bersembunyi dibalik tubuh sohibnya.
"Halo Dinda! Tentu saja aku kesini karena mau jemput kamu sayang, aku akan bawa kamu pergi dan tinggal bareng aku. Kamu pasti mau kan Dinda?" jawab Tom dengan santainya.
Dinda menggeleng cepat, "Gak! Aku ini udah jadi istri orang, Tom. Kamu paham dong situasinya, kamu jangan begini terus!" ucapnya lantang.
"Iya Tom, lu mending pergi deh sebelum ada yang datang dan hajar lu!" sahut Aulia.
"Saya gak takut dengan siapapun, saya hanya ingin kembali bersama Dinda dan hidup bahagia. Asal kamu ingat Dinda, anak yang kamu kandung itu anak aku dan kamu gak akan bisa lepas dari status itu sayang!" ucap Tom.
Dinda terdiam seraya memalingkan wajahnya, tapi kemudian Tom bergerak semakin mendekatinya dan memaksa Dinda untuk ikut bersamanya. Tentu saja Dinda ketakutan, Aulia dan Nina pun mencoba untuk menolongnya agar Tom tidak bisa membawa pergi Dinda dari sana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1