Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 11. Anak siapa itu?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Anak siapa itu?




Queen tiba di markas Jeevan bekerja untuk memantau semua yang terjadi disana. Ia datang sendiri sebab Jeevan tengah mengurus urusan yang lain, wanita itu juga berniat menemui Fritzy kembali dan membahas mengenai pernikahan yang sempat akan mereka lakukan sebelumnya.


Queen memasuki tempat itu dengan santainya, ia sapa para anak buahnya yang berada disana dan mereka semua pun menyambutnya dengan ramah. Lalu, saat di dalam Queen bertemu dengan Alden yang kebetulan baru saja memberi instruksi pada kurir mereka untuk segera berangkat.


"Alden!" sengaja Queen menyapa pria itu karena ia hendak menanyakan mengenai Fritzy, sontak Alden pun menoleh ke arahnya.


"Eh nona Queen, selamat siang!" Alden memberi salam dan sedikit membungkuk sebagai tanda hormat pada sang nona.


"Siang! Semuanya aman-aman aja kan? Gak ada masalah yang terjadi disini?" tanya Queen.


Alden tersenyum menggeleng, "Tidak ada nona, semua dapat kami atasi dengan baik. Nona tidak perlu khawatir untuk itu," jawabnya.


"Baguslah, aku bahagia mendengarnya. Oh ya, apa kamu tahu dimana Fritzy?" ujar Queen.


"Tentu nona, dia ada di ruangannya. Mari saya antar nona!" ucap Alden.


Queen mengangguk pelan, mereka pun bergegas menuju ruangan tempat Fritzy bekerja. Queen tampak mengamati sekitar ruangan itu sembari berjalan, ia masih belum percaya kalau pada akhirnya ia bekerjasama dengan kelompok Jeevan yang merupakan musuh besar ayahnya dulu.


Sesampainya di depan ruang Fritzy, keduanya sontak terkejut karena tiba-tiba pintu terbuka dan menunjukkan Fritzy yang tengah mual menutupi mulutnya. Tentu Fritzy juga kaget dengan apa yang dilihatnya, tetapi ia sudah tidak tahan lagi dan memilih pergi ke toilet di tempat itu.


"Hah? Apa yang terjadi dengan Fritzy, Alden?" tanya Queen pada pria itu.


"Eee dia sih biasa begitu nona, maklumlah namanya juga wanita hamil," jawab Alden tanpa berpikir.

__ADS_1


Queen tersentak mendengarnya, "Hamil??" ujarnya dengan mata terbelalak lebar.


"Iya nona, memangnya nona belum tahu tentang kabar itu?" heran Alden.


Queen menggeleng, "Saya belum tahu tuh, emang sejak kapan Fritzy hamil? Terus siapa ayahnya?" ujarnya.


Kali ini giliran Alden yang menggeleng, "Saya juga tidak tahu siapa ayahnya nona, tapi dia sudah mengandung kurang lebih empat Minggu," ucapnya.


"Empat Minggu??" Queen kembali terkejut.


"Betul nona, waktu itu saya sendiri yang mengantar Fritzy ke rumah sakit untuk diperiksa. Saya juga terkejut sekali setelah dokter mengatakan kalau Fritzy sedang mengandung," jelas Alden.


"Ini aneh, tidak mungkin Fritzy bisa tiba-tiba hamil tanpa ada pelakunya," ucap Queen curiga.


"Itu juga yang saya sedang cari tahu nona, saya coba tanya ke Fritzy tapi dia gak mau jawab. Saya jadi makin bingung deh," ucap Alden.


"Yasudah, terimakasih infonya. Biar aku susul Fritzy dan coba bicara sama dia," ucap Queen.


Queen menghela nafasnya, "Ada apa lagi Alden?" tanyanya sedikit kesal.


"Tenang nona, saya cuma mau sampaikan kecurigaan saya sama seseorang. Bisa jadi dia itu orangnya yang sudah menghamili Fritzy," ucap Alden.


Sontak Queen mengurungkan niatnya dan justru kembali fokus menatap Alden, ia penasaran siapa pria yang dicurigai Alden itu. Sedangkan Alden tiba-tiba mendadak ragu untuk memberitahu Queen, ia baru ingat kalau Queen adalah istri dari Jeevan sekarang ini.


"Siapa orang yang kamu curigai Alden? Cepat beritahu saya!" pinta Queen.


"Eee anu itu..." Alden tampak gugup dan bingung saat hendak menjawabnya.



__ADS_1


Jleb


Jeevan baru saja menancapkan satu bilah pisau tepat di jantung seseorang yang dianggap sebagai pengkhianat di bisnisnya, ya seketika itu juga si pria pun tewas di hadapannya dengan luka tusuk yang cukup dalam. Jeevan langsung mencabut pisaunya yang penuh darah dan memberikan itu pada salah seorang anak buahnya.


Sebelumnya memang Jeevan telah melakukan pengejaran kepada sekelompok pengkhianat yang suka membocorkan rahasia bisnisnya ke orang luar itu, Jeevan tak terima dan langsung saja menangkap serta membunuh mereka yang berjumlah tiga orang itu agar tidak ada lagi anggota dari kelompoknya yang mau berniat berkhianat darinya.


"Bos, mereka semua sudah mati. Tapi, kita masih belum bisa mendapatkan siapa atasan mereka. Tadi dia lolos saat kita melakukan pengejaran," ucap Jago pada Jeevan.


"Itu yang harus kita cari tahu, kerahkan semua pasukan terbaik kamu untuk mencari orang itu dan bawa dia ke hadapan saya!" perintah Jeevan.


"Baik bos! Kami akan cari orang itu secepatnya dan membawanya ke hadapan bos," ucap Jago patuh.


Jeevan mengangguk, lalu Jago beserta pasukannya pergi dari sana lebih dulu untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan Jeevan. Sedangkan Jeevan sendiri masih tetap berada disana, ia menatap mayat tiga pria tersebut sambil tersenyum seringai. Cobra yang turut hadir disana mendekati Jeevan dan berbisik di telinganya.


"Tuan muda, apa rencanamu selanjutnya? Kamu sudah berhasil mengelabui pasukan ayahmu sendiri dengan mengatakan ada pengkhianat, padahal kamu sendiri pengkhianat itu tuan. Kamu benar-benar licik!" ujar Cobra.


"Diamlah kamu Cobra! Kamu sudah sepakat untuk membantu saya, jadi jangan sampai ada yang mendengarnya!" titah Jeevan.


"Baik tuan, asalkan nantinya tuan mau memberi saya pangkat lebih tinggi!" ucap Cobra.


"Apapun akan saya berikan untuk semua yang mau ikut dengan saya, sekarang kamu bereskan mayat mereka dan lanjutkan hasutan kamu ke anak buah papa yang lain!" ucap Jeevan.


Cobra setengah membungkuk dan menaruh tangannya di dada, "Siap tuan muda yang terhormat!" ucapnya penuh hormat.


Jeevan tersenyum tipis, setelahnya ia pun meninggalkan tempat itu dengan niat untuk menemui istrinya. Entah kenapa Jeevan selalu saja memikirkan Queen dan tidak bisa berjauhan terlalu lama dengan wanita itu, Jeevan ingin selalu berdekatan dengan istrinya kapanpun dimanapun.


Pria itu merogoh kantong celananya, mengambil foto Queen yang sudah ia cetak sebelumnya untuk dipandangi. Jeevan memang sempat diam-diam memotret tubuh istrinya yang sedang polos tanpa sehelai benangpun, tentunya itu ia jadikan fantasi disaat jauh dari istrinya.


"Mmhhh Queen, aku sangat mencintaimu sayang! Aku akan pulang dan memberi kepuasan lagi padamu di rumah nanti!" batin Jeevan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2