Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 7. Aku masih cinta


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Aku masih cinta




Dinda kini tampak tengah melamun sambil berdiri memegang kemoceng, ya seharusnya Dinda membersihkan meja di depannya itu, tetapi entah kenapa tiba-tiba Dinda terpikirkan sesuatu yang membuatnya tidak bisa fokus bekerja. Pikiran Dinda seolah belum dapat melupakan sosok Tom dari kepalanya, padahal kini Dinda sudah resmi menikah dengan Erick, si pria pilihannya.


Tak lama kemudian, Erick sang suami muncul dengan pakaian rapih seperti siap untuk berangkat bekerja. Erick langsung menghampiri istrinya dan mengecup pipi wanita itu tanpa aba-aba, Erick juga merengkuh pinggang Dinda lalu menghirup aroma tubuh sang istri yang sangat wangi dan membuatnya terpesona serta ingin berhubungan dengannya lagi.


"Mmhhh, istriku ini cantik banget sih. Kamu kenapa ngelamun pagi-pagi gini sayang? Lagi mikirin apa?" ucap Erick tepat di telinga sang istri.


Sontak Dinda merasa terkejut dan juga geli dengan perlakuan suaminya, kumis tebal sang suami yang menyentuh daun telinganya itu menambah kesan aneh yang ia rasakan. Darahnya berdesir seketika saat mendapat perlakuan dari Erick itu, namun Dinda mati-matian menahan suara indahnya dengan cara menggigit bibirnya sendiri, ya Dinda tak mau Erick malah makin menjadi-jadi nantinya.


"Eee enggak kok om, eh maksudnya mas suami. Aku ini lagi bersih-bersih karena tadi aku lihat mejanya agak berdebu gitu, kamu sendiri ngapain malah kesini coba?" ucap Dinda.


"Ya aku mau pamit sama kamu sayang, aku harus berangkat kerja nih. Kamu tahu kan hari ini ada pembukaan cabang kantor aku di Jakarta, ini semua kan atas kemauan kamu yang minta kita buat tinggal disini," ucap Erick.


"Oh iya, makasih ya mas kamu udah mau turutin kemauan aku?" ucap Dinda tersenyum.


"Sama-sama sayang, apapun itu untuk istriku tercinta. Aku kan sayang banget sama kamu, jadi aku rela lakuin apapun demi kamu!" ucap Erick.


Dinda terpesona dengan ucapan suaminya, ia memejamkan mata saat Erick mengusap perut sembari mengendus lehernya. Kini posisi Erick ada di belakang Dinda dengan satu tangan melingkar di perut buncit Dinda, sepertinya Erick sangat menikmati posisi ini karena aroma tubuh istrinya.


"Kalo gitu aku pergi dulu ya? Kamu hati-hati di rumah sendirian, kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku biar aku bisa langsung kesini!" ucap Erick.


"Iya mas, aku bakal baik-baik aja kok disini. Kamu yang semangat aja kerjanya!" ucap Dinda.


"Pasti dong, aku semangat cari uang untuk istri dan calon anak kita ini," ucap Erick.

__ADS_1


Seketika Dinda terkejut dengan perkataan Erick, ia tak menyangka kalau Erick mau menganggap anak yang ada di dalam kandungannya itu sebagai anaknya. Padahal Erick jelas tau jika anak itu adalah anak Tom, tetapi sepertinya Erick sudah terlanjur cinta pada Dinda dan tidak memperdulikan itu.


"Kamu kenapa sayang? Mukanya kok berubah kaget gitu?" tanya Erick keheranan.


"Eee aku kaget aja waktu kamu bilang anak ini anak kita, padahal kan kamu sendiri tahu kalau ini..." ucapan Dinda terhenti lantaran Erick menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


"Sssttt, gak perlu dibahas lagi yang itu mah! Aku kan sudah bilang, aku akan terima dia sebagai anak aku," potong Erick.


Dinda langsung tersenyum dan memeluk erat suaminya, ia berterima kasih serta memohon maaf pada Erick karena ia telah sempat berkhianat dengan kabur bersama Tom, ya meski pria itulah yang memaksanya untuk pergi dari tempat Erick dengan alasan ingin menyelamatkannya.


Lalu, karena dirasa sudah hampir terlambat akhirnya Erick pamit pada istrinya untuk segera pergi ke kantor. Dinda mengangguk dan melepas pelukannya, ia mencium tangan suaminya itu yang dibalas dengan kecupan pada keningnya, Erick pun berjalan keluar rumah dengan santai meninggalkan sang istri.


Setelah suaminya tak terlihat lagi, Dinda berniat menutup kembali pintu apartemennya dan lanjut membereskan barang-barang di dalam. Akan tetapi, ia dikejutkan dengan kemunculan Tom yang secara tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya dan menatap ke arahnya sambil tersenyum.


"Hai Dinda! Apa kabar? Kamu pasti masih ingat kan sama aku sayang? Bagaimana hubungan kamu dengan mister Erick setelah kalian menikah? Bahagia?" ujar Tom dengan senyum di bibirnya.


Dinda hanya terdiam, sesaat kemudian Tom mendekat dan meraih kedua tangannya untuk digenggam. Tom mencium punggung tangan wanita itu seraya memberikan lirikan aneh yang membuat Dinda merasa ketakutan, Dinda khawatir Tom akan berbuat nekat seperti dahulu.




Disisi lain, Fritzy dicegat Alden yang penasaran apa sebenarnya yang baru dibicarakan Fritzy dengan Jeevan tadi. Tampaknya Alden semakin mencurigai hubungan diantara Fritzy dan Jeevan, apalagi mereka memang sempat kepergok sedang berciuman dua kali oleh Alden sebelum ini.


"Fritzy, kamu tuh sebenarnya ada apa sih sama bos Jeevan? Kok kayaknya kalian bisa dekat banget begitu ya?" tanya Alden penasaran.


"Apa sih Alden? Dari dulu yang kamu tanyain itu terus, gak ada pertanyaan lain apa? Aku bosan loh dengarnya Alden," kesal Fritzy dengan wajah ketusnya.


"Lah kok ngamuk? Masa cuma nanya begitu aja kamu marah sih? Yaudah, makanya jawab biar aku gak tanya-tanya begitu lagi!" ucap Alden.


"Aku udah sering bilang ke kamu, aku sama bos Jeevan gak ada apa-apa. Tapi kamu pasti gak percaya kan, jadi jangan salahin aku!" ucap Fritzy.

__ADS_1


"Ya jelas lah aku gak percaya, mana ada orang tanpa hubungan dekat banget begitu? Nih ya Fritzy aku kasih tahu, bos Jeevan itu udah nikah loh sama nona Queen, kamu harus jaga jarak dari bos Jeevan kalau gak mau kena masalah!" ucap Alden.


"Aku tahu kali, lagian kamu tuh mikir apa sih Alden?" heran Fritzy.


"Kali aja gitu kan kamu punya niat buat jadi pelakor di hubungan mereka," ucap Alden.


Plaaakk


Fritzy yang kesal reflek menampar wajah Alden dengan kerasnya sampai meninggalkan bekas merah, sontak lelaki itu merintih sembari memegangi pipinya dan menatap Fritzy dengan bingung. Sebenarnya Fritzy hendak melontarkan kalimat marah, tetapi tiba-tiba ia malah kembali merasa mual.


"Kok kamu tampar aku sih? Apa salahnya kalau aku bicara begitu? Toh kamu emang kelihatan dekat banget sama bos Jeevan," ujar Alden.


"Huweekkk huweekkk.." Fritzy yang sudah tak kuat langsung memilih pergi meninggalkan Alden menuju kamar mandi.


"Loh Fritzy, tunggu!" teriak Alden sembari mengejar wanita itu ke toilet karena penasaran.


Fritzy langsung memasuki kamar mandi dan mengeluarkan segala muntahannya ke dalam wastafel, ia menyalakan keran untuk membersihkan itu semua serta mulutnya. Fritzy menatap sekilas kaca di kamar mandi itu, ia benar-benar hidup dalam kesusahan karena harus berjuang merawat anak dari bosnya seorang diri.


Setelah dirasa lega, Fritzy pun keluar dari kamar mandi dengan keadaan lemas. Namun, ia kembali berhadapan dengan Alden yang rupanya menunggu di depan kamar mandi itu karena ingin tahu apa sebenarnya yang sedang menimpa Fritzy. Tentu saja Fritzy terlihat kaget dan kebingungan sendiri.


"Fritzy, kamu itu sebenarnya kenapa sih? Belakangan ini aku lihat-lihat kamu sering banget muntah, apa yang kamu alami sebenarnya? Gak mungkin cuma masuk angin kan?" tanya Alden.


Deg!


Fritzy yang gugup terlihat gemetar dan bingung saat hendak menjawab, sedangkan Alden terus mencecarnya dengan tatapan tajam yang membuat Fritzy semakin grogi. Tidak mungkin tentunya Fritzy menceritakan mengenai kehamilannya pada Alden, karena pasti lelaki itu akan sangat syok.


"Eee a-aku..."


...~Bersambung~...


JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!

__ADS_1


__ADS_2