Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 33. Apa itu anak Jeevan?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Apa itu anak Jeevan?




Tin Tin...


Sebuah mobil membunyikan klakson dengan keras di halaman depan rumah Aulia, hal itu sontak membuat Aulia terkejut dan meletakkan sejenak ponselnya di atas sofa. Gadis itu mengintip melalui tirai jendela, ia terbelalak melihat mobil milik Rifan alias katingnya di kampus lah yang datang kesana.


Aulia pun dibuat bingung, ia tak mengerti mengapa Rifan datang ke rumahnya disaat seperti ini. Padahal baru saja Aulia hendak melihat reaksi Queen setelah menonton video yang dikirim olehnya, ia pun terus mengamati mobil tersebut dari tempatnya berdiri sembari berpikir keras.


"Dek!" tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari belakang, Aulia terkejut lalu menoleh dan menemukan sosok Victor disana.


"Kak Victor? Ih kakak ngagetin aja deh! Ngapain sih kakak disitu?" kesal Aulia.


"Loh kenapa kamu jadi nyalahin kakak? Harusnya kakak yang tanya ke kamu, ngapain kamu berdiri di dekat jendela kayak gini? Lagi ngeliatin apa sih adikku yang cantik ini?" ujar Victor.


"Huh dasar kakak gombal! Aku tuh cuma penasaran sama mobil yang tadi bunyiin klakson, makanya aku mau coba cek dari sini," ucap Aulia.


"Ohh, terus kamu udah tahu itu mobil siapa?" tanya Victor.


Aulia mengangguk pelan, "Sudah kak, itu mobil kak Rifan. Kating aku yang sempat bikin kakak cemburu dan salah paham loh," jawabnya.


Victor pun langsung menarik pundak adiknya dan merangkulnya erat, "Hey! Siapa coba yang cemburu sama laki-laki? Ngapain juga kakak harus cemburu sama dia? Ngada-ngada aja kamu dek!" elaknya.


"Iya iya, lepasin ah aku mau ke depan temuin kak Rifan!" ucap Aulia meronta-ronta.


"Hah? Udah deh gausah, biarin aja dia disitu sendiri nanti juga pulang sendiri kalau tau gak ada yang keluar temuin dia!" ucap Victor.


"Ya ampun kak, masa kakak begitu sih sama tamu sendiri? Gak boleh tau kak, dosa!" ucap Aulia.


"Biarin aja, abisnya kakak gak suka kamu dekat-dekat sama dia. Dari yang kakak lihat, dia itu bukan orang baik tau. Udah deh mending kamu jauh-jauh aja dari dia sayang," ucap Victor.


"Tapi kak, aku kan cuma mau buka pintu dan temuin dia. Aku juga gak ada apa-apa kok sama dia," ucap Aulia membela diri.


Victor menggeleng pelan seraya menepuk jidatnya, akhirnya mau tak mau ia terpaksa membiarkan adiknya itu keluar membukakan pintu. Tentunya Victor juga mengikuti Aulia dari belakang, ya ia tak mau sesuatu terjadi pada gadis itu kalau ia tidak berjaga-jaga saat ini.


Ceklek


Pintu terbuka, dan Aulia langsung tersenyum ke arah Rifan begitu melihat pria tersebut sudah berada di depan matanya. Rifan sendiri tampak membungkuk seolah memberi salam, sedangkan Victor masih mengamati dari belakang berjaga-jaga jikalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Hai Aulia! Maaf ya kalau aku kesini gak kasih kabar dulu ke kamu, soalnya aku mau kasih kejutan ke kamu," ucap Rifan sambil tersenyum.


"Ah iya, gapapa kok kak. Omong-omong ada urusan apa ya datang ke rumah aku?" ujar Aulia keheranan.


"Eee gak ada sih, aku cuma pengen ketemu aja sama kamu Aulia," ucap Rifan.


"Cih dasar modus!" tiba-tiba saja Victor muncul dan menyela percakapan mereka, sontak Aulia pun kaget lalu spontan menatap wajah kakaknya.


"Kak, kakak ngap—" ucapan Aulia terhenti karena Victor menempelkan jari telunjuk di bibirnya.


Lalu, Victor pun beralih menatap Rifan dan bergerak maju mendekatinya setelah meminta Aulia berdiam diri di tempatnya. Sungguh Rifan terlihat cukup gugup ketika Victor mendekat ke arahnya, ia tak tahu harus melakukan apa dan berbicara apa pada Victor agar tidak membuat lelaki itu emosi.


"Ha-halo bang! Apa kabar?" sapa Rifan.


Victor hanya diam acuh, dua tangannya ia lipat di depan dan mengabaikan uluran tangan Rifan yang mengajaknya bersalaman.




Tiba-tiba saja, Aqila alias mama dari Jeevan muncul tanpa diduga dan berdiri tepat di hadapan mereka disertai deheman pelan. Sontak saja baik Fritzy maupun Alden kompak terkejut, mereka tak mengira jika Aqila akan datang kesana menemui mereka dan memberikan tatapan yang kurang mengenakkan.


"Ehem ehem.." dehem Aqila seraya melipat kedua tangannya di depan.


Fritzy dan juga Alden pun sama-sama bangkit dari duduknya, mereka menatap wajah Aqila dengan bingung seolah tak percaya dengan kehadiran wanita itu disana. Sedangkan Aqila tampak melepas kacamatanya dan menunjukkan dua bola mata yang menyorot tajam ke arah dua orang itu.


"Lagi pada ngapain kalian disini? Ini itu jam kerja, bukannya kerja malah pada nyantai! Kalau udah bosan kerja disini, gapapa nanti biar saya bilang ke Jeevan buat pecat kalian!" ucap Aqila.


"Eee jangan nyonya! Kami masih betah kok kerja disini, tolong jangan pecat kami!" ucap Alden.


"Iya nyonya, tadi itu saya cuma mau istirahat sebentar sembari tenangin diri. Eh terus tiba-tiba Alden nyusul kesini," sahut Lova.


"Memangnya kamu sedang ada masalah apa Fritzy?" tanya Aqila keheranan.


Fritzy tak menjawab, ia hanya diam menundukkan wajahnya karena khawatir Aqila akan banyak bertanya padanya nanti. Jujur Fritzy tidak ingin jika Aqila sampai mengetahui bahwa dirinya tengah hamil anak dari Jeevan, jika semua itu terjadi maka habislah dirinya ini.


"Udah Fritzy, kamu ceritain aja semuanya ke nyonya Aqila! Siapa tahu beliau bisa bantu kamu supaya dapat tanggung jawab dari bos Jeevan," bisik Alden.

__ADS_1


"Apa??" tak disangka, ucapan Alden itu didengar jelas oleh Aqila yang tepat berada di depan mereka. Tentu saja Aqila kaget mendengarnya, ia tak mengerti apa maksud Alden berbicara seperti itu.


"Maksud kamu apa Alden? Kenapa Fritzy harus dapat tanggung jawab dari anak saya? Memangnya dia kenapa?" tanya Aqila penasaran.


"Begini nyonya—" baru saja Alden hendak menjelaskan, tetapi kemudian Fritzy langsung menginjak kakinya dengan keras dan melotot tajam ke arahnya sembari memberi isyarat untuk diam.


"Awhh akh sakit!" rintih Alden secara spontan.


"Ada apa ini, hm? Apa yang kalian berdua sembunyikan dari saya? Cepat katakan!" sentak Aqila yang terlihat sangat emosi.


Fritzy dan Alden kini saling memalingkan wajah masing-masing, mereka juga bingung harus menjawab bagaimana pada Aqila agar tak membuat wanita itu kecewa. Jujur saja Fritzy benar-benar ketakutan, ia sangat khawatir kalau Aqila mengetahui semuanya dan akan memarahinya.


"Fritzy, kenapa kamu malah diam? Ayo jawab pertanyaan saya! Jangan bikin saya emosi ya, kalau kamu gak mau jawab nanti saya hukum loh kamu!" ucap Aqila.


"Ma-maaf tante, tapi tadi Alden cuma salah bicara kok. Ucapan dia mah gausah didengar," ucap Fritzy.


"Saya gak percaya, kalian pasti sedang menyembunyikan sesuatu kan dari saya?" ucap Aqila tak percaya begitu saja.


"Enggak kok, kita gak ada sembunyiin apa-apa dari tante. Beneran deh tante," ucap Fritzy coba meyakinkan Aqila bahwa tidak ada apa-apa.


"Lebih baik kamu jujur saja sama saya, atau jangan-jangan anak yang kamu kandung itu anak Jeevan?" ucap Aqila tegas.


Deg!


Fritzy sontak terkejut dan terdiam saat itu juga, ia tak menyangka kalau Aqila dapat menduga seperti itu.




Disaat Lova hendak bangkit dan memesan minuman, tiba-tiba saja seseorang sudah menaruh gelas berisi air minum di mejanya. Sontak saja Lova amat terkejut melihat itu, matanya membulat lebar ketika mengetahui Arul lah yang baru saja memberikan minuman untuknya.


"Ini nona minumannya, jadi nona tidak perlu repot-repot memesan minuman lagi. Saya sudah membelikannya untuk nona," ucap Arul.


"Arul, sejak kapan lu datang kesini? Kenapa sih lu selalu ganggu gue?" geram Lova.


"Ganggu? Tapi nona, saya ini kan cuma mau bantu nona kasih minuman ini," ucap Arul.


"Iya, tapi tetap aja lu udah ganggu gue. Gue gak suka diginiin terus!" sentak Lova.


"Emangnya saya salah apa nona? Perasaan saya cuma kasih minuman deh ke nona, masa gitu aja nona merasa risih?" heran Arul.


"Bukan masalah minumannya, tapi kehadiran lu ini yang selalu ganggu gue. Gue jadi ngerasa gak bebas tau kalau ada lu terus," ucap Lova.


Lova malah mengembungkan pipinya dan membuang muka, tapi sesaat kemudian ia mengambil gelas minuman itu dan meminumnya tanpa rasa ragu. Sontak Arul terkekeh melihatnya, begitu juga Nina yang merasa kalau Lova tidak konsisten pada perkataan yang dia lontarkan tadi.


"Yeh lu minum juga tuh minuman dari Arul, tadi katanya benci sama dia. Gimana sih lu? Gak konsisten banget sih jadi orang, si Arul jadi berharap tuh sama lu!" cibir Nina.


"Apa sih Nin?!" sentak Lova dengan wajah kesal.


"Nona, akui saja kalau nona juga menyukai saya!" sela Arul tiba-tiba disertai senyum tipisnya.


Deg!


Lova tersentak kaget dan bingung harus berkata apa, sedangkan Nina serta Arul malah kompak saling tersenyum satu sama lain seolah menggoda Lova yang tengah kelimpungan. Arul pun ikut duduk di samping gadis itu dan merangkulnya secara tiba-tiba, lagi-lagi Lova dibuat gugup dan jantungnya berdegup kencang.


Cup!


Kembali Arul mencuri satu kecupan di pipi sang gadis, tentu saja Lova bergerak cepat mendorong tubuh Arul menjauh darinya sembari mengusap pipinya yang basah. Lova pun tampak tak suka dengan kelancangan Arul padanya, tapi Arul justru malah terkekeh kecil menyaksikan ekspresi menggemaskan nona nya saat ini.


"Lu benar-benar kurang ajar ya Arul! Gue makin gak senang kalau kayak gini sama lu, udah ah awas lu jangan duduk disini!" sentak Lova.


"Kenapa sih nona? Saya kan cuma memberikan tanda sayang saya ke nona," ujar Arul.


"Gausah gitu deh lu, atau gue bakal pukul muka lu nih!" ancam Lova.


Arul masih terkekeh dengan pandangan terus menatap wajah gadis itu, "Nona jangan galak-galak dong! Tuh mbak Nina aja senyum lihat kita berdua, itu artinya dia setuju sama hubungan kita nona," ucapnya sambil kembali mendekati Lova.


"Ish, jangan deket-deket gue! Lo pergi atau gue teriak supaya lu didatengin satpam nih!" kesal Lova.


"Ahaha, ya ampun Lova lu masih aja gengsi sih sama si Arul! Udah lah lu mending terima aja cinta dia tuh, lu juga suka kan sama dia?" sela Nina.


Lova beralih menatap Nina sembari mengernyitkan dahinya, "Sembarangan aja lu kalo ngomong, gue gak gitu kali!" elaknya.




Jeevan terbelalak dan bingung ketika Queen meminta hal itu, ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini untuk bisa membuat Queen tak marah lagi padanya. Tentu tak mungkin jika Jeevan jujur pada Queen dan mengatakan kalau dirinya sudah menjalin hubungan dengan Fritzy sampai memiliki anak.


"Jev, kenapa kamu diam aja? Kamu gak bisa ya jujur sama aku? Kalau gitu mending kamu jangan ganggu aku dulu deh!" ucap Queen.

__ADS_1


"Eh jangan gitu dong sayang! Masa iya aku gak boleh deketin istri aku sendiri?" protes Jeevan.


"Bodo! Suruh siapa kamu gak mau jujur sama aku coba? Apa susahnya sih tinggal jujur aja gitu? Jadinya kan aku gak penasaran lagi," ujar Queen.


"Aku harus jujur apa sayang? Aku gak pernah bohong sama kamu," ucap Jeevan berbohong.


Queen memutar bola matanya seraya menggeleng pelan, "Bisa-bisanya ya kamu bilang begitu? Padahal jelas-jelas kamu lagi menyimpan sesuatu di belakang aku Jeevan," ucapnya tegas.


"Semua yang kamu tuduhkan ke aku itu gak benar, kamu salah paham sayang! Aku sama sekali gak punya rahasia apapun dari kamu, ayolah kamu percaya dong sama aku!" ucap Jeevan.


"Tetap aku gak akan percaya walau kamu bohong sampai gimanapun!" kekeuh Queen.


Tling


Tak lama kemudian, ponsel milik Queen berdering menandakan ada pesan yang masuk kesana. Sontak Queen segera mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang mengirim pesan itu, setelahnya ia lalu menatap ke arah Jeevan yang membuat pria itu terlihat keheranan.


"Siapa sayang?" tanya Jeevan penasaran.


"Aulia kirim pesan ke aku, ada video nih. Tapi, aku gak tahu video apa," lirih Queen.


Deg!


Seketika Jeevan terkejut bukan main mendengar ucapan istrinya, bagaimana tidak? Karena ternyata Queen baru saja mendapat kiriman video dari Aulia, tentu saja Jeevan sangat panik dan dibuat cemas. Meski begitu, Jeevan harus berjaga-jaga agar tidak sampai membuat Queen curiga padanya.


"Video apa sayang? Coba deh aku lihat dulu sini, takutnya nanti si Aulia kirim video yang aneh-aneh lagi ke kamu. Aku gak mau ya mata kamu tercemar nanti sayang," ucap Jeevan yang langsung mengambil paksa ponsel milik istrinya.


"Ih apaan sih Jev? Kamu gak bisa ambil hp aku gitu aja dong, sini balikin atau aku marah nih!" ucap Queen dengan kesal.


"Tenang sayang, aku cuma mau lihat videonya kayak apa. Kamu gak perlu emosi gitu dong," ujar Jeevan.


"Jangan banyak alasan deh Jev! Balikin cepat hp aku, gak mungkin Aulia kirim video aneh-aneh ke aku!" sentak Queen.


"Sebentar dulu sayang, sabar ya!" pinta Jeevan.


Queen yang kesal langsung beranjak dari tempatnya dan berniat mengambil kembali ponsel miliknya, tetapi Jeevan bergerak cepat menjauh agar Queen tidak dapat merebut ponselnya. Sontak Queen semakin bertambah emosi, ia terus mengejar suaminya sambil berusaha berteriak keras.


"Jev, balikin hp aku! Kamu jangan main-main deh sama aku! Aku yakin, kamu pasti ketakutan kan kalau video itu adalah rahasia kamu?" ucap Queen.


"Enggak Queen, aku cuma mau mastiin aja. Kamu tenang dong sayang!" ucap Jeevan.


"Ih kamu mah!" Queen pun berhasil meraih lengan lelaki itu, tapi tiba-tiba Jeevan tersandung kakinya sendiri sehingga ponsel di tangannya terjatuh.


Bruuukkk


"Hah??" Queen tersentak kaget melihatnya.




Dinda dan Erick datang ke kantor polisi untuk menjenguk Tom yang ditahan disana, mereka tampak diarahkan menuju ruang berkunjung dan terduduk sembari menunggu kehadiran Tom. Tampak Dinda agak ragu saat ini, ia khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.


Erick pun menatap wajah istrinya itu sembari merangkulnya, ia mengecup pipi serta mengelus rambut panjang sang istri dengan lembut. Tadi memang Dinda lah yang mengajak Erick datang kesini, tapi entah kenapa tiba-tiba saja Dinda merasa ragu untuk bertemu dengan Tom.


"Huft, kayaknya aku ragu deh mas mau ketemu sama Tom hari ini. Aku masih takut sama dia," ucap Dinda merengut.


"Kamu gak perlu takut begitu sayang, ada aku disini yang akan selalu jagain kamu. Sudah ya sekarang kamu tenang aja, kalau nanti dia berani macam-macam sama kamu, maka dia akan berhadapan sama aku!" ucap Erick.


"Iya mas, aku percaya kok sama kamu. Tapi, tetap aja sih aku masih agak ragu," ucap Dinda.


"Tenang ya, gausah ragu begitu sayangku! Tom juga gak mungkin apa-apain kamu kok, dia kan nanti dikawal sama polisi juga," ucap Erick.


"Yaudah, aku sekarang gak ragu lagi kok. Makasih ya mas udah yakinin aku?" ucap Dinda tersenyum.


"Sama-sama cantik, udah dong jangan cemberut lagi ya sayang!" bujuk Erick seraya mencolek dagu istrinya sambil tersenyum lebar.


Dinda mengangguk pelan dan mulai menghilangkan rasa ragu di hatinya, ia pun bersiap menemui Tom saat ini untuk melampiaskan semua kekesalannya pada pria itu, sekaligus meminta Tom agar bisa melupakan dirinya dan tidak mengejar-ngejar cintanya seperti sebelum ini.


Tak lama kemudian, akhirnya pria yang mereka tunggu pun tiba. Ya Tom si tahanan pun datang bersama dua orang polisi yang menjaganya, lalu Tom diminta duduk pada kursi di dekat Erick serta Dinda. Melihat keberadaan Dinda disana, sontak saja Tom sangat terkejut dan keheranan dibuatnya.


"Dinda, akhirnya kamu datang juga sayang. Jujur aku rindu sekali dengan kamu, dan aku senang kamu bisa hadir disini menengokku. Pasti kamu juga merasakan hal yang sama bukan?" ucap Tom.


Dinda menggeleng dan tersenyum seringai, "Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu Tom, padahal aku sama sekali tidak pernah merindukan kamu. Aku bahkan sangat membenci kamu, jadi kamu jangan terus berharap!" ucapnya mengelak.


Masih saja kamu malu-malu begitu, sudahlah kamu akui saja kalau kamu memang masih mencintai aku, Dinda sayang!" ucap Tom menggoda.


"Cukup Tom! Sekali lagi kamu bicara begitu, aku tidak akan segan-segan merobek mulut kamu itu!" sentak Erick penuh emosi.


Dinda yang berada di sebelahnya pun berusaha menenangkan suaminya itu, ia mengusap lembut pundak sang suami serta menggenggam dua tangannya erat. Sedangkan Tom sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan Erick tadi, dia masih saja tersenyum genit menatap wajah Dinda.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2