
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
First kiss yang dicuri
•
•
Lova dan Arul pun tiba di kampus sesuai permintaan gadis itu. Mereka sama-sama turun dari mobil lalu saling berhadapan satu sama lain, Lova tersenyum sembari mengucap terimakasih pada Arul karena sudah mentraktir serta mengantarnya ke kampus pada pagi hari ini.
Bisa dibilang Lova memang sangat bahagia kali ini, belum pernah ia menikmati waktu berdua dengan lelaki sebelumnya, dan hanya Arul lah yang berhasil membuatnya seperti ini. Entah kenapa juga perasaan Lova begitu deg-degan ketika Arul menatapnya dari jarak dekat tanpa berkedip.
"Makasih ya Rul, tadi lu udah traktir gue makan di warteg!" ucap Lova sambil tersenyum.
"Sama-sama nona cantik, sekarang mari saya antar nona sampai ke kelas! Saya mau jaga-jaga aja biar nona gak kenapa-napa," ucap Arul.
"Eee gausah Rul, lu boleh pulang kok sekarang. Gue mau masuk sendiri aja," ucap Lova.
"Jangan nona! Saya takut nona kenapa-napa, mending saya antar aja ya nona?" ucap Arul memaksa.
"Ish, lu—" ucapan Lova terhenti lantaran Arul menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Saya antar ya nona? Kamu sebaiknya tidak usah menolak, karena lagian kan saya mau sekalian kenalan sama teman-teman kampus nona supaya makin akrab dan dekat gitu," potong Arul.
"Hah??" Lova menganga karena terkejut mendengar ucapan pria itu. "Maksud lu gimana sih Rul? Ngapain lu mau kenalan sama teman gue?" sambungnya.
"Tadi kan saya udah bilang, saya pengen lebih akrab sama nona. Nanti saya juga akan mengenalkan diri sebagai kekasih nona di hadapan teman-teman nona," jelas Arul.
"Dih, lu gila ya? Gue aja belum tentu mau jadi pacar lu ya Arul!" sentak Lova.
"Ya iya sih, tapi saya yakin kok kamu mau terima saya. Yaudah yuk kita masuk sekarang!" ucap Arul tersenyum dan menggenggam tangan Lova.
"Ish, jangan pegang-pegang gue sembarangan deh!" Lova kesal dan menyentak tangan pria itu darinya.
"Ya ampun, segitunya kamu sama saya nona? Masa cuma dipegang aja gak boleh sih?" ujar Arul memelas.
"Bodoamat, lu itu cuma pengawal dan gak seharusnya lu pegang-pegang gue!" tegas Lova.
"Waktu itu aja nona peluk saya kok, saya gak protes tuh," goda Arul.
Lova terdiam dan memalingkan wajahnya, Arul yang melihat itu dibuat gemas dan terkekeh karena ekspresi Lova yang benar-benar menggemaskan. Kemudian pria itu dengan berani merangkul pundak Lova dari samping dan mendekapnya, sontak Lova tersentak kaget lalu menatapnya tak percaya.
Baru saja Lova hendak protes, namun bibirnya yang terbuka itu langsung dibungkam oleh bibir sang pengawal. Ya akhirnya bibir mereka saling menempel satu sama lain disana, tak ada pergerakan dan hanya menempel, tampaknya Lova masih tak percaya dengan apa yang dirinya dapatkan saat ini dari Arul.
"Oh my God, first kiss gue!" batin Lova yang tentunya sangat syok.
"Lova!" suara teriakan itu mengagetkan keduanya, Lova pun langsung mendorong tubuh Arul lalu menatap ke asal suara.
Rupanya suara itu berasal dari mulut Nina, sahabat Lova yang baru tiba di kampus. Ya Nina terkejut ketika menyaksikan Lova tengah bersenggama dengan seorang pria di depan sana, apalagi setelah dilihat lebih jelas pria yang bersama temannya itu adalah Arul, bodyguard Lova sendiri.
"Ya ampun Lova, lu tadi ngapain sama si Arul anjir? Kalian kok peluk-pelukan begitu?" Nina kini sudah berada di dekat mereka dan langsung melontarkan berbagai pertanyaan yang membuat Lova bingung.
•
•
Deg!
Dinda tersentak kaget mendengar ucapan pria itu barusan, ia bingung harus merasa senang atau sedih setelah Tom mengucapkan kalimat seperti itu. Jujur saja hingga kini Dinda juga masih belum bisa melupakan perasaannya pada pria itu, akan tetapi ingatan mengenai pengkhianatan yang dilakukan Tom padanya sungguh mampu melukai dirinya.
Tom sendiri masih berusaha meyakinkan Dinda kalau ia memang sangat mencintainya, meski sangat sulit bagi Tom untuk membuat Dinda percaya padanya, sebab Tom akui kalau ia pernah berbuat salah pada wanita itu yang membuat Dinda kini sangat membencinya dan menganggap dirinya seperti seorang musuh.
__ADS_1
"Tom, kalau memang kamu cinta sama aku, harusnya kamu gak ngelakuin ini dan kamu gak culik aku kayak gini!" ucap Dinda menggeleng.
"Salahnya dimana? Aku cuma mau mengambil hak aku kembali kok, kamu itu milik aku Dinda!" ujar Tom.
"Kamu kayaknya udah tambah konslet deh Tom, aku ini milik mister Erick, bukan kamu. Aku rasa kamu juga udah tahu itu semua, jadi kamu gak bisa ngaku-ngaku kalau aku ini milik kamu!" tegas Dinda.
"Suka-suka aku dong, aku menganggap kamu itu milik aku. Lagian aku yakin kamu juga masih cinta sama aku, ya kan?" ujar Tom.
"Segitu yakinnya kamu kalau aku masih cinta sama aku? Cih, kepedean banget sih kamu jadi cowok! Aku gak ada rasa lagi ya sama kamu Tom, sekarang dan kapanpun!" sentak Dinda.
"Terserah kamu aja Dinda sayang," ucap Tom singkat.
Ting nong ting nong...
Disaat mereka tengah asyik berbincang, tiba-tiba terdengar suara orang menekan bel dari arah luar apartemen Tom tersebut. Sontak baik Dinda maupun Tom sama-sama menoleh ke arah pintu, mereka penasaran dengan siapa yang datang kesana dan untuk apa orang itu datang pagi-pagi.
Akhirnya karena penasaran, Tom memutuskan mengecek ke depan untuk mencari tahu siapa yang datang kesana. Sedangkan Dinda diminta tetap berada di dalam kamar dan tidak diizinkan ikut dengannya ke depan, ya Tom ingin berjaga-jaga saja khawatir kalau Dinda akan kabur nantinya.
"Ya sebentar," Tom berteriak sembari mendekati pintu dan mulai membukanya.
Ceklek
"Good morning, mister Tom!" betapa terkejutnya Tom, saat ia membuka pintu dan ternyata di depannya sudah berdiri sosok Erick bersama segerombolan polisi di belakangnya.
"I-i-iya, apa-apaan ini? Kenapa anda datang ke tempat saya bersama polisi? Maksudnya apa?" tanya Tom tampak ketakutan.
"Sudahlah, anda tidak perlu berakting seperti itu mister Tom. Saya yakin anda pasti tahu apa maksud kedatangan saya kesini, karena anda sudah menculik istri saya!" ucap Erick.
Tom tersentak kaget mendengarnya, ia tak menyangka jika Erick telah mengetahui semuanya. Namun, kini Tom berusaha tetap santai agar tidak dicurigai oleh para polisi disana, tentunya Tom tidak mau kehilangan Dinda lagi saat ini. Tom akan terus berjuang demi bisa bersama wanita tercintanya itu.
"Anda salah alamat, bukan saya yang menculik Dinda. Lebih baik anda cari istri anda itu di tempat lain, saya tidak tahu menahu dengan Dinda! Lagipun, bukannya dia istri anda ya? Kenapa malah cari disini?" elak Tom.
Tom terkekeh dan menggeleng pelan, "Bukan saya yang menculik Dinda, jangan salah paham dong anda! Mentang-mentang saya mencintai istri anda, terus anda menuduh saya gitu?" ujarnya.
"Iya, karena saya telah mengetahui semuanya." Erick tersenyum seringai dan menunjukkan seseorang yang ia bawa di dekatnya.
Sontak Tom melongok, yang dilihatnya adalah Ariana alias orang yang mengajaknya bekerjasama untuk membawa kabur Dinda dari apartemen Erick. Tom pun tak berkutik saat ini, ia bingung harus menjawab apa. Tom sungguh menyesal karena sudah bekerjasama dengan wanita itu.
"Mampus deh saya! Gimana ini ya cara ngelak nya?" gumam Tom dalam hati.
•
•
Queen mengangguk sebagai jawaban, tentu saja Jeevan tidak akan mengizinkan istrinya itu untuk pergi jika dia ingin menemui Aulia. Jeevan memang masih cemas kalau-kalau nantinya Aulia akan menyerahkan video kemarin kepada Queen, pastinya Queen akan langsung emosi padanya.
"Kalau gitu kamu gak boleh pergi, mending kamu disini aja sama saya Queen sayang!" ucap Jeevan.
"Ih kamu tuh kenapa sih Jeevan? Ada masalah apa sebenarnya kamu, sampai kamu gak izinin aku buat ketemu sama Aulia? Jawab jujur Jeevan!" ujar Queen.
"Kamu gak perlu tau, intinya kamu gak boleh pergi kemana-mana kali ini!" tegas Jeevan.
"Dih, aku gak perduli! Pokoknya aku tetap mau ketemu sama mereka sekarang juga, awas minggir!" ucap Queen.
Jeevan pun tak semudah itu membiarkan istrinya pergi, ia mencekal lengan sang wanita dengan kuat sampai Queen tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ya Jeevan memang masih sangat khawatir jika Queen mengetahui apa yang ia lakukan bersama Fritzy di belakangnya, itu sebabnya Jeevan tidak ingin Queen pergi dari rumahnya.
"Kamu kira kamu bisa pergi sayang? No no no, kali ini saya tidak akan biarkan kamu pergi gitu aja. Ayo, masuk lagi sayang!" ucap Jeevan.
"Ih lepasin Jev, sakit tau!" pinta Queen.
"Iya iya, nanti saya lepasin kok. Tapi, sekarang kamu ikut saya ke kamar ya sayang!" ujar Jeevan.
__ADS_1
"Gak mau, orang aku mau pergi kok. Please Jev, sebentar aja kok!" mohon Queen.
Jeevan menggeleng, "No Queen, tidak bisa!" ucapnya kekeuh.
Queen akhirnya menyerah, wanita itu sudah tak memiliki cara lagi untuk bisa pergi dari rumahnya karena Jeevan yang terus saja melarangnya. Queen pun kesal dan memilih masuk ke dalam kamar, tapi kemudian Jeevan mendapatkan sebuah panggilan dari seseorang yang memintanya untuk segera pergi mengecek kondisi di kantornya
Tentu saja Queen yang mendengar kabar tersebut langsung memanfaatkannya, ia berniat pergi dari rumah setelah Jeevan pergi lebih dulu nantinya. Queen pun merasa sangat lega saat ini, karena ia masih memiliki harapan. Namun, tiba-tiba saja Jeevan masuk ke dalam dan menemuinya dengan cepat. Pria itu juga langsung menariknya dan menghimpit tubuhnya ke tembok.
"Mmhhh, apa-apaan sih kamu Jev? Mau ngapain lagi kamu?" tanya Queen tersentak.
"Gak kok sayang, aku cuma pengen cium kamu." setelah itu, Jeevan langsung menyerang wajah Queen dengan ciumannya.
Wanita itu hanya bisa pasrah, ya meskipun ia sangat risih dengan perlakuan Jeevan padanya. Setelah puas, akhirnya Jeevan pun melepaskan tangan Queen dan tersenyum menatapnya. Queen tampak merengut karena kesal dengan perlakuan Jeevan barusan, sedangkan Jeevan malah terkekeh.
"Kamu kenapa sih Jev? Bukannya kamu mau pergi ya? Ngapain kamu malah masuk ke kamar?" tanya Queen kesal.
"Loh kamu tau darimana sayang? Ah kamu nguping ya tadi?" ujar Jeevan.
"Dih siapa yang nguping? Aku cuma gak sengaja dengar aja tadi," elak Queen.
"Masa? Ngaku aja kalo nguping mah, aku gak marah kok sama kamu!" ucap Jeevan.
Queen menggeleng cepat, "Aku gak nguping, udah dibilang gak sengaja dengar. Masa kamu gak percaya sama istri kamu sendiri sih?" ucapnya.
"Iya iya, yaudah aku percaya sama kamu. Ini aku mau pergi kok sayang, tapi aku pengen ambil jaket dulu biar gak kedinginan di jalan," ucap Jeevan.
"Oh oke, sebentar ya aku ambilin?" ucap Queen.
Jeevan mengangguk, sedangkan Queen langsung berbalik dan pergi menuju lemari untuk mengambil jaket milik suaminya. Ia pun memberikan jaket itu pada Jeevan dan membantu memakaikannya, Queen sengaja melakukan itu agar bisa membuat Jeevan mengizinkannya pergi.
"Duh, istriku ini udah cantik terus perhatian banget lagi!" puji Jeevan.
Queen tersenyum dibuatnya, setelah selesai memakaikan jaket, Queen pun mundur sedikit membiarkan suaminya itu jika ingin pergi. Namun, Queen sungguh terkejut ketika Jeevan mencabut kunci yang tergantung di lubang pintu kamarnya, sontak saja Queen mengejar suaminya itu.
"Ih Jev, itu kuncinya ngapain kamu cabut? Emangnya kamu mau pergi sambil bawa-bawa kunci kamar gitu sayang?" tanya Queen penasaran.
Jeevan mengangguk pelan, "Ya sayang, soalnya aku gak pengen kamu pergi nanti," jawabnya.
"Hah? Maksudnya kamu mau kunciin aku disini gitu selama kamu pergi?" kaget Queen.
"Iya betul banget, kamu disini aja ya cantik tunggu aku sampai pulang!" ucap Jeevan.
Tentu saja Queen tak terima dengan itu, ia berniat mengambil kembali kunci tersebut dari tangan Jeevan dan mencegahnya. Akan tetapi, Jeevan berhasil dengan cepat mengamankan kunci itu sehingga Queen tidak bisa apa-apa. Queen pun merengut pasrah menerima kenyataan.
"Jev, please jangan kunciin aku di kamar lah! Aku mau keluar ketemu teman, lagian bosan lah kalau aku di kamar doang. Kamu gak kasihan apa sama istri kamu sendiri?" mohon Queen.
"Aku cuma pergi sebentar kok, nanti aku balik lagi dan ajak kamu jalan-jalan sayang," ucap Jeevan.
"Buat apa? Aku gak mau pergi sama kamu, aku maunya ketemu teman aku!" ketus Queen.
"Gitu banget sih kamu, masa jalan sama suami sendiri gak mau? Malah lebih mentingin ketemuan sama teman-teman kamu itu," cibir Jeevan.
"Ya biarin lah, suka-suka aku. Udah ya aku mau pergi sekarang?" ujar Queen.
Karena tidak ingin berdebat dan berakhir ribut, akhirnya Jeevan membiarkan saja Queen pergi menemui teman-temannya. Namun, Jeevan berkata bahwa dia akan mengantar Queen sampai ke tempat wanita itu berkumpul dengan temannya. Queen pun setuju, dan lalu mereka pergi bersama-sama dari sana.
"Walau saya masih cemas, tapi seenggaknya saya bisa pantau Queen disana nanti. Saya gak mau Aulia bongkar semuanya di depan Queen dan membuat nama saya jelek," gumam Jeevan dalam hati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1