
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Hari sial
•
•
Lova yang tengah melangkah di lorong kampus, terkejut bukan main ketika seseorang menarik tangannya begitu saja dan membawanya pergi dari sana. Sontak Lova panik bukan main dibuatnya, ia coba berontak tetapi tenaganya kalah kuat dengan si lelaki, hingga ia pun hanya bisa pasrah.
Setelah berhasil melihat ke samping, rupanya Arul lah yang menariknya saat ini dan hendak mengajaknya ke suatu tempat. Tentu Lova tampak bingung dan terheran-heran, ia tak mengerti apa maksud Arul membawanya pergi secara paksa seperti ini, padahal situasinya baik-baik saja.
"Ish Rul, lu apa-apaan sih? Ngapain lu tarik gue kayak gini? Lepasin gak?!" protes Lova.
Namun, Arul tak menjawab dan malah terus asyik menarik lengan nona nya itu tanpa perduli dengan teriakan serta protes yang dilayangkan gadis itu. Lova akhirnya terdiam setelah merasa diabaikan, ia mengikuti saja apa yang ingin dilakukan Arul saat ini padanya dan memilih pasrah.
Sampai kemudian, mereka berdua tiba di dekat gudang kampus. Ya barulah saat itu Arul melepaskan tangan Lova dan menghimpit tubuh gadis itu ke dinding, Arul tersenyum seraya mengelus wajah cantik nona nya menggunakan jari telunjuk yang membuat Lova merinding.
"Mmhhh, lu mau ngapain bawa gue kesini Rul? Pengen ngajak mesum? Ya ampun, tau tempat kek lu!" ujar Lova.
"Kalau iya, kenapa? Kamu mau berbuat mesum sama saya disini?" ujar Arul menggoda.
"Gila aja kali lu ya! Ogah banget gue begituan sama lu, apalagi disini. Gue itu belum pernah ngelakuin yang kayak gitu, jadi lu hati-hati deh kalo ngomong!" sentak Lova.
"Saya tahu nona, kamu pasti masih perawan. Itu artinya saya berhasil menjaga nona sesuai perintah tuan," ucap Arul tersenyum.
"Yaudah, terus sekarang lu mau apa? Lu pengen gituin gue dan renggut kesucian gue, iya? Biadab banget dong lu!" ucap Lova.
"Ahaha, kenapa pikiran nona seperti itu sih? Atau jangan-jangan nona emang kepengen melakukan itu dengan saya?" goda Arul.
"Hah??" Lova langsung gelagapan sendiri dibuatnya, terlebih saat ini Arul kembali menggenggam kedua tangannya dan menaruhnya di atas kepala.
Perlahan Arul mulai memajukan wajahnya mendekati bibir Lova, pria itu seolah sengaja ingin memancing nona nya dan melihat apa reaksi dari gadis itu. Tentunya Lova tak tinggal diam, ia coba berontak walau usahanya sia-sia karena tenaga yang kalah jauh dibanding Arul si pengawal.
"Rul Rul, please Rul jangan kayak gini! Lu katanya sayang sama gue, masa lu mau ngerusak gue sih? Emang lu pengen gue laporin ke papa nanti kalau lu perkosa gue?" ucap Lova.
Arul menggeleng pelan, "Udah kamu diam aja, saya bisa bikin kamu enak loh!" ucapnya sensual.
"Apaan sih? Gue gak mau! Lepasin gue Rul, jangan sampai gue teriak dan lu ditangkap sama security!" ucap Lova mengancam.
"Silahkan aja nona!" ucap Arul santai.
Disaat Arul hendak menempelkan bibirnya, tiba-tiba saja seseorang membuka pintu gudang dan terkejut melihat keberadaan Arul dan Lova di depan sana. Arul pun mengurungkan niatnya, ia langsung melepaskan tangan Lova dan terlihat panik saat seorang pria memergoki mereka disana.
"Loh Lova, lu ngapain disitu anjir? Sama cowok lagi, mau mesum ya lu?" tuduh si lelaki setelah mengenali wanita yang ada di depannya.
"Hah? Eee gu-gue gak ngapa-ngapain kok, ini juga pengawal gue woi, lu jangan salah paham gitu lah! Lu sendiri ngapain dari dalam gudang? Mau aneh-aneh kan lu?" elak Lova.
"Dih malah balik nuduh, gue mah lagi cari barang gue yang hilang. Untungnya ketemu, lagian gue juga gak bawa cewek. Beda sama lu Lova," cibir si lelaki.
"Ah berisik lu, udah sana pergi!" usir Lova.
"Iya iya, selamat bersenang-senang ya! Awas tuh jangan lupa dibersihin kalo udah kelar!" kekeh si lelaki.
Lova menggeram kesal dibuatnya, sedangkan lelaki itu sudah berbalik dan pergi meninggalkan Lova bersama Arul. Tampak Lova masih merasa canggung saat ini atas kejadian tadi, yang mana dirinya hampir saja dipergoki oleh rekan kampusnya saat hendak berciuman dengan Arul.
"Nona, kenapa diam aja? Yang tadi mau dilanjut atau enggak nih?" tanya Arul tiba-tiba.
Sontak Lova melirik sinis ke arah Arul, dan sedetik kemudian tamparan keras melayang di pipi lelaki itu karena Lova yang sudah benar-benar kesal. Tentu saja Arul meringis sembari memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan itu, dia menatap tak percaya ke arah Lova dengan mata berkaca-kaca.
Plaaakk
"Makan tuh dilanjut! Kesel banget gue sama lu sumpah, hampir aja kita ketahuan sama si Rony tau! Terus sekarang lu malah nyantai dan mau lanjutin yang tadi? Gila lu dasar!" sentak Lova.
__ADS_1
"Saya gak gila loh nona, saya kan cuma menyarankan. Kalau nona gak mau lanjut, yaudah saya juga gak maksa kok," ucap Arul santai.
"Tau ah, gue mau ketemu teman-teman gue aja! Lu jangan ikutin gue lagi atau tarik-tarik gue kayak tadi lagi, paham lu?!" ujar Lova.
Arul mengangguk pelan sambil tersenyum, "Iya nonaku yang cantik dan manis, saya ngerti kok," ucapnya.
Setelahnya, Lova pun memilih pergi dari tempat itu sembari membenarkan pakaiannya yang sempat acak-acakan akibat tarikan paksa Arul tadi. Sedangkan Arul sendiri tetap pada tempatnya dan tak bergerak sedikitpun, dia terus memandangi tubuh belakang Lova yang memang terlihat indah.
"Kamu akan jadi milik saya Lova, saya yakin kamu pasti kaget setelah tahu siapa saya!" gumam Arul.
•
•
TOK TOK TOK...
"Hey, halo! Apa ada orang di dalam? Kalau iya, tolong merespon dan tidak usah takut! Kami dari kepolisian berniat menolong kamu," ucap polisi itu.
Sontak Dinda yang mendengar itu pun dibuat terkejut, ia tak mengira kalau ternyata yang datang kesana adalah seorang polisi dan ingin menyelamatkannya. Tentu saja Dinda langsung bergerak mendekat dan membalas ketukan pintu itu untuk memberitahu bahwa ia ada disana.
"Pak, tolong saya pak! Saya ada di dalam sini, saya disekap pak!" teriak Dinda sekeras mungkin.
Mendengar suara Dinda, polisi-polisi itu kemudian yakin jika yang ada di dalam adalah orang yang tengah mereka cari. Tanpa menunggu lama, dua polisi tersebut meminta Dinda mundur karena mereka akan mendobrak pintu tersebut tanpa meminta persetujuan dari Tom.
Braakk
Pintu terbuka, dan Dinda yang ada di dalam langsung berlari ke luar mendekati dua polisi tersebut. Saat itu juga Erick melihatnya, pria itu pun berteriak memanggilnya dan berlari menghampiri istrinya itu. Mereka langsung berpelukan disana dengan erat, Dinda juga melampiaskan kesedihannya di dalam pelukan suaminya itu.
"Mas, aku senang banget kamu datang buat tolong aku! Aku benar-benar takut ada disini, aku mau ikut sama kamu mas!" rengek Dinda.
"Iya sayang iya, kamu gausah takut lagi ya kan sekarang udah ada aku disini!" ujar Erick.
Tanpa sengaja, Tom yang baru masuk juga menyaksikan kejadian itu. Entah kenapa ia merasa iri sekaligus sakit hati saat melihatnya, ada rasa cemburu dan tak suka ketika wanita yang dicintainya itu disentuh oleh lelaki lain, meskipun Tom tahu Erick sudah berstatus sebagai suami Dinda.
Saat melirik ke samping, Dinda berhasil menemukan keberadaan Tom dan ia pun langsung melepas pelukannya dari Erick untuk fokus menatap pria itu. Sorot matanya seolah menunjukkan betapa bencinya ia pada Tom saat ini, Dinda pun tak mau mengenal lelaki itu lagi di hidupnya.
"Sssttt sayang, iya iya saya tahu perasaan kamu. Saya akan lakukan semua permintaan kamu, tenang ya!" ucap Erick.
Perlahan Tom mendekati Dinda dengan wajah memelas seolah memohon ampun, "Dinda, tolong maafkan saya Dinda! Kamu jangan membenci saya ya, saya ini cinta loh sama kamu!" ucapnya.
"Enggak, kamu gak cinta sama aku. Kamu itu cuma terobsesi dan jadi orang gila!" tegas Dinda.
"Saya gak begitu Dinda, ayolah kamu percaya sama saya! Maafin saya ya, saya janji gak akan mengulangi kesalahan saya ini!" mohon Tom.
"Aku gak percaya sama kamu, tempat yang pantas untuk kamu itu di penjara!" ujar Dinda.
Tom jatuh berlutut di hadapan Dinda serta Erick, ia menempelkan kedua telapak tangannya dan mendongak menatap ke arah Dinda. Ya pria itu terus memohon ampun dari keduanya, tetapi mereka seolah tak mau mendengar, mungkin karena Dinda sudah sangat emosi dibuatnya.
"Cukup Tom, sampai kapanpun aku gak akan pernah mau maafin kamu!" ucap Dinda dengan lantang. Lalu, ia beralih menatap ke arah polisi. "Pak polisi, tolong bawa laki-laki ini ke penjara karena dia sudah menculik saya!" ucapnya tegas.
"Ya pak, jebloskan dia ke penjara bersama wanita yang ada di depan tadi! Saya tidak mau melihat mereka berkeliaran lagi di dekat kami," sahut Erick.
"Baik pak Erick!" polisi-polisi itu langsung mendekat dan memborgol tangan Tom, seketika Tom berontak berusaha melawan, tetapi usahanya sia-sia sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya Tom dibawa pergi oleh para polisi itu, mereka menyeret paksa tubuh Tom keluar dari tempat tersebut dengan diikuti Dinda dan Erick yang saling berpelukan. Tak lupa juga polisi turut membawa Ariana, ya keduanya ditangkap atas tuduhan penculikan berencana dan pelecehan.
Setelah itu, kini Dinda merasa lega karena ia sudah tidak akan terganggu lagi dengan keberadaan Tom. Ia pun tersenyum lebar menatap wajah suaminya yang sudah terduduk di kursi kemudi, satu tangannya meraih lengan Erick dan menggenggamnya erat seraya mengelusnya.
"Aku sayang sama kamu mas, makasih ya udah tolongin aku?" ucap Dinda.
Erick yang gemas pun mencubit pipi istrinya itu, "Sama-sama sayang, ini sudah tugas aku sebagai seorang suami. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu," ucapnya.
Mereka saling memandang satu sama lain, sampai kemudian entah siapa yang memulai kini bibir mereka sudah saling bertaut nikmat.
__ADS_1
•
•
Sementara itu, Alden merasa prihatin melihat Fritzy tengah menangis seorang diri di taman dekat markas mereka. Ia pun juga penasaran apa yang menjadi penyebab wanita itu menangis, lalu ia bergerak menghampiri tempat Fritzy berada dan menegur wanita itu sembari berdiri tepat di sampingnya, yang sontak membuat Fritzy terkejut.
"Fritzy!" sapa Alden pelan dengan satu tangan menyentuh pundak wanita itu, tentu saja Fritzy merasa kaget dan reflek menoleh ke arahnya.
"Hah Alden?" dengan cepat Fritzy menghapus air matanya dan mendongak menatap lelaki itu.
"Ya ini saya, kamu ngapain nangis disini sendirian? Ada masalah apa sih Fritzy? Kamu bisa cerita sama saya, pasti saya akan dengarkan semua keluhan kamu!" ucap Alden kini duduk di sebelah Fritzy.
"Umm, aku gak ada apa-apa kok Alden. Kamu gak perlu khawatir kayak gitu lah, aku cuma pengen tenangin diri aja!" ucap Fritzy.
"Karena apa? Anak kamu baik-baik aja kan Fritzy?" tanya Alden penasaran.
"Iya dia baik-baik aja kok, emangnya dia kenapa? Tumben banget kamu nanyain anak aku, biasanya juga kamu gak perduli," heran Fritzy.
"Kata siapa aku gak perduli sama anak kamu? Aku khawatir banget loh sama dia," ucap Alden.
Fritzy mengernyit tak mengerti, lalu kemudian secara tiba-tiba Alden menaruh tangannya di perut Fritzy yang sudah mulai membesar. Sontak Fritzy terkejut, matanya menatap wajah Alden dengan bingung karena tak biasanya pria itu melakukan hal ini, apalagi usapannya terasa sangat lembut.
"Kamu ngapain usap-usap perut aku kayak gini? Mau pura-pura kasih perhatian ke calon anak aku?" tanya Fritzy agak ketus.
"Bukan pura-pura, aku emang perhatian kok sama anak ini. Aku gak sabar deh pengen lihat dia lahir, pasti bakal gemesin banget seperti mamanya," ucap Alden sambil tersenyum.
"Bisa aja kamu, udah ah lama-lama aku geli dielus-elus kayak gini! Kamu itu kan bukan ayahnya, jadi dia gak nyaman disentuh kamu," ucap Fritzy.
"Apa bedanya sih? Lagian emang bapak dari anak kamu ini siapa? Kasih tahu dong ke aku, biar aku juga bisa bantu kamu minta pertanggungjawaban dari dia," ucap Alden.
"Gausah, kamu gak perlu tau dan jangan ikut campur ke dalam urusan aku!" ucap Fritzy ketus.
"Aku tetap mau ikut campur Fritzy, karena aku penasaran banget siapa ayah dari anak kamu ini. Tolong kasih tahu ke aku ya!" pinta Alden.
"Hadeh, kamu itu kenapa sih Alden? Biasanya juga kamu gak maksa buat tahu siapa ayah anak aku ini, kenapa sekarang tiba-tiba begini?" heran Fritzy.
"Ya karena kali ini aku udah gak tahan lagi, sulit rasanya buat nahan rasa penasaran aku ini Fritzy. Ayolah kasih tau aja ke aku!" ucap Alden memohon.
"Kalau aku gak mau gimana?" ucap Fritzy.
Alden menggeleng-geleng kecil seraya memijat pelipisnya, ia sungguh bingung mengapa sulit sekali rasanya untuk membujuk Fritzy agar mau memberitahu padanya mengenai siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Padahal Alden sudah sangat penasaran ingin mengetahui semuanya.
Sementara Fritzy terlihat menyingkirkan paksa tangan Alden dari perutnya, ia merasa risih dengan tindakan pria itu yang terus saja memaksanya untuk bercerita. Tentunya Fritzy tak mungkin mau menceritakan yang sebenarnya pada Alden, karena itu akan membuat dirinya berada dalam masalah.
"Dengan sikap kamu yang begini, aku jadi makin curiga sama kamu Fritzy. Jangan-jangan benar dugaan aku selama ini, anak yang kamu kandung itu anak bos Jeevan kan?" ujar Alden.
Deg!
"Jangan sembarangan ya kamu kalo ngomong! Ini bukan anak bos Jeevan!" sentak Fritzy.
"Wih santai dong, gak perlu marah-marah kayak gitu Fritzy, nanti cantiknya ilang loh!" goda Alden seraya mencubit gemas pipi wanita itu.
"Ish, gausah sentuh-sentuh aku lagi! Kamu mending pergi aja deh dari sini!" usir Fritzy.
"Aku gak akan pergi, sebelum kamu jawab semua pertanyaan aku tadi. Kamu kasih tahu ke aku, siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu!" ucap Alden.
"Harus berapa kali sih aku bilang ke kamu? Aku gak mau kasih tahu ke kamu, kenapa kamu ngeyel banget sih jadi orang?" ujar Fritzy.
"Suka-suka aku lah, aku kan mau tau siapa ayahnya anak kamu itu," ucap Alden kekeuh.
Tiba-tiba saja, Aqila alias mama dari Jeevan muncul tanpa diduga dan berdiri tepat di hadapan mereka disertai deheman pelan. Sontak saja baik Fritzy maupun Alden kompak terkejut, mereka tak mengira jika Aqila akan datang kesana menemui mereka dan memberikan tatapan yang kurang mengenakkan.
"Ehem ehem.." dehem Aqila seraya melipat kedua tangannya di depan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...