
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Marah-marah
•
•
Dinda dan Erick datang ke kantor polisi untuk menjenguk Tom yang ditahan disana, mereka tampak diarahkan menuju ruang berkunjung dan terduduk sembari menunggu kehadiran Tom. Tampak Dinda agak ragu saat ini, ia khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya.
Erick pun menatap wajah istrinya itu sembari merangkulnya, ia mengecup pipi serta mengelus rambut panjang sang istri dengan lembut. Tadi memang Dinda lah yang mengajak Erick datang kesini, tapi entah kenapa tiba-tiba saja Dinda merasa ragu untuk bertemu dengan Tom.
"Huft, kayaknya aku ragu deh mas mau ketemu sama Tom hari ini. Aku masih takut sama dia," ucap Dinda merengut.
"Kamu gak perlu takut begitu sayang, ada aku disini yang akan selalu jagain kamu. Sudah ya sekarang kamu tenang aja, kalau nanti dia berani macam-macam sama kamu, maka dia akan berhadapan sama aku!" ucap Erick.
"Iya mas, aku percaya kok sama kamu. Tapi, tetap aja sih aku masih agak ragu," ucap Dinda.
"Tenang ya, gausah ragu begitu sayangku! Tom juga gak mungkin apa-apain kamu kok, dia kan nanti dikawal sama polisi juga," ucap Erick.
"Yaudah, aku sekarang gak ragu lagi kok. Makasih ya mas udah yakinin aku?" ucap Dinda tersenyum.
"Sama-sama cantik, udah dong jangan cemberut lagi ya sayang!" bujuk Erick seraya mencolek dagu istrinya sambil tersenyum lebar.
Dinda mengangguk pelan dan mulai menghilangkan rasa ragu di hatinya, ia pun bersiap menemui Tom saat ini untuk melampiaskan semua kekesalannya pada pria itu, sekaligus meminta Tom agar bisa melupakan dirinya dan tidak mengejar-ngejar cintanya seperti sebelum ini.
Tak lama kemudian, akhirnya pria yang mereka tunggu pun tiba. Ya Tom si tahanan pun datang bersama dua orang polisi yang menjaganya, lalu Tom diminta duduk pada kursi di dekat Erick serta Dinda. Melihat keberadaan Dinda disana, sontak saja Tom sangat terkejut dan keheranan dibuatnya.
"Dinda, akhirnya kamu datang juga sayang. Jujur aku rindu sekali dengan kamu, dan aku senang kamu bisa hadir disini menengokku. Pasti kamu juga merasakan hal yang sama bukan?" ucap Tom.
Dinda menggeleng dan tersenyum seringai, "Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu Tom, padahal aku sama sekali tidak pernah merindukan kamu. Aku bahkan sangat membenci kamu, jadi kamu jangan terus berharap!" ucapnya mengelak.
Masih saja kamu malu-malu begitu, sudahlah kamu akui saja kalau kamu memang masih mencintai aku, Dinda sayang!" ucap Tom menggoda.
"Cukup Tom! Sekali lagi kamu bicara begitu, aku tidak akan segan-segan merobek mulut kamu itu!" sentak Erick penuh emosi.
Dinda yang berada di sebelahnya pun berusaha menenangkan suaminya itu, ia mengusap lembut pundak sang suami serta menggenggam dua tangannya erat. Sedangkan Tom sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan Erick tadi, dia masih saja tersenyum genit menatap wajah Dinda.
"Mas udah, biarin aku yang bicara sama Tom ya? Kamu tolong diam dulu disini!" ucap Dinda.
"It's okay, meskipun berat buat aku, tapi aku gak mungkin bikin kamu sedih," ucap Erick pasrah.
"Makasih mas, sekarang tolong kamu jaga emosi kamu ya sayang!" pinta Dinda.
Erick manggut-manggut paham, lalu Dinda kembali menatap Tom dengan dua tangan ia lipat di atas meja. Dinda tampak berhati-hati sebelum mulai berbicara dengan Tom, ia tidak mau hal seperti tadi terjadi kembali dan malah membuat Erick semakin emosi pada pria di depannya itu.
"Tom, aku datang kesini cuma untuk kasih tahu ke kamu supaya kamu bisa lupain aku dan jangan berharap cinta lagi sama aku! Aku harap kamu bisa mengerti itu ya Tom?" ucap Dinda pelan.
"Tidak akan, sampai kapanpun aku gak mungkin bisa lupain kamu apalagi menghilangkan rasa cinta aku ke kamu sayang," ucap Tom tersenyum tipis.
Deg!
•
•
Victor pun langsung menarik pundak adiknya dan merangkulnya erat, "Hey! Siapa coba yang cemburu sama laki-laki? Ngapain juga kakak harus cemburu sama dia? Ngada-ngada aja kamu dek!" elaknya.
"Iya iya, lepasin ah aku mau ke depan temuin kak Rifan!" ucap Aulia meronta-ronta.
"Hah? Udah deh gausah, biarin aja dia disitu sendiri nanti juga pulang sendiri kalau tau gak ada yang keluar temuin dia!" ucap Victor.
"Ya ampun kak, masa kakak begitu sih sama tamu sendiri? Gak boleh tau kak, dosa!" ucap Aulia.
__ADS_1
"Biarin aja, abisnya kakak gak suka kamu dekat-dekat sama dia. Dari yang kakak lihat, dia itu bukan orang baik tau. Udah deh mending kamu jauh-jauh aja dari dia sayang," ucap Victor.
"Tapi kak, aku kan cuma mau buka pintu dan temuin dia. Aku juga gak ada apa-apa kok sama dia," ucap Aulia membela diri.
Victor menggeleng pelan seraya menepuk jidatnya, akhirnya mau tak mau ia terpaksa membiarkan adiknya itu keluar membukakan pintu. Tentunya Victor juga mengikuti Aulia dari belakang, ya ia tak mau sesuatu terjadi pada gadis itu kalau ia tidak berjaga-jaga saat ini.
Ceklek
Pintu terbuka, dan Aulia langsung tersenyum ke arah Rifan begitu melihat pria tersebut sudah berada di depan matanya. Rifan sendiri tampak membungkuk seolah memberi salam, sedangkan Victor masih mengamati dari belakang berjaga-jaga jikalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
"Hai Aulia! Maaf ya kalau aku kesini gak kasih kabar dulu ke kamu, soalnya aku mau kasih kejutan ke kamu," ucap Rifan sambil tersenyum.
"Ah iya, gapapa kok kak. Omong-omong ada urusan apa ya datang ke rumah aku?" ujar Aulia keheranan.
"Eee gak ada sih, aku cuma pengen ketemu aja sama kamu Aulia," ucap Rifan.
"Cih dasar modus!" tiba-tiba saja Victor muncul dan menyela percakapan mereka, sontak Aulia pun kaget lalu spontan menatap wajah kakaknya.
"Kak, kakak ngap—" ucapan Aulia terhenti karena Victor menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
Lalu, Victor pun beralih menatap Rifan dan bergerak maju mendekatinya setelah meminta Aulia berdiam diri di tempatnya. Sungguh Rifan terlihat cukup gugup ketika Victor mendekat ke arahnya, ia tak tahu harus melakukan apa dan berbicara apa pada Victor agar tidak membuat lelaki itu emosi.
"Ha-halo bang! Apa kabar?" sapa Rifan.
Victor hanya diam acuh, dua tangannya ia lipat di depan dan mengabaikan uluran tangan Rifan yang mengajaknya bersalaman. Aulia yang melihat itu langsung menatap jengah ke arah sang kakak, gadis itu sungguh heran mengapa sikap Victor harus seperti itu pada Rifan.
"Kak, itu kak Rifan mau ngajak salaman tau. Kakak kenapa malah cuek aja kayak gitu?" ujar Aulia.
"Diam kamu Aulia! Orang yang suka modus seperti dia, tidak pantas diberi kebaikan! Lagian kamu ngapain sih masih kasihan sama dia? Mending kamu masuk deh sana!" ucap Victor.
Aulia tampak kaget dengan sikap Victor saat ini, ia pun tidak dapat berbicara apa-apa lagi. Sedangkan Rifan terlihat menyerah, sebab sangat sulit untuk bisa menaklukkan kerasnya hati Victor dan mendapatkan Aulia. Rifan pun pasrah saja, meski hatinya cukup sakit karena perlakuan Victor barusan.
•
•
Tak lama kemudian, ponsel milik Queen berdering menandakan ada pesan yang masuk kesana. Sontak Queen segera mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang mengirim pesan itu, setelahnya ia lalu menatap ke arah Jeevan yang membuat pria itu terlihat keheranan.
"Siapa sayang?" tanya Jeevan penasaran.
"Aulia kirim pesan ke aku, ada video nih. Tapi, aku gak tahu video apa," lirih Queen.
Deg!
Seketika Jeevan terkejut bukan main mendengar ucapan istrinya, bagaimana tidak? Karena ternyata Queen baru saja mendapat kiriman video dari Aulia, tentu saja Jeevan sangat panik dan dibuat cemas. Meski begitu, Jeevan harus berjaga-jaga agar tidak sampai membuat Queen curiga padanya.
"Video apa sayang? Coba deh aku lihat dulu sini, takutnya nanti si Aulia kirim video yang aneh-aneh lagi ke kamu. Aku gak mau ya mata kamu tercemar nanti sayang," ucap Jeevan yang langsung mengambil paksa ponsel milik istrinya.
"Ih apaan sih Jev? Kamu gak bisa ambil hp aku gitu aja dong, sini balikin atau aku marah nih!" ucap Queen dengan kesal.
"Tenang sayang, aku cuma mau lihat videonya kayak apa. Kamu gak perlu emosi gitu dong," ujar Jeevan.
"Jangan banyak alasan deh Jev! Balikin cepat hp aku, gak mungkin Aulia kirim video aneh-aneh ke aku!" sentak Queen.
"Sebentar dulu sayang, sabar ya!" pinta Jeevan.
Queen yang kesal langsung beranjak dari tempatnya dan berniat mengambil kembali ponsel miliknya, tetapi Jeevan bergerak cepat menjauh agar Queen tidak dapat merebut ponselnya. Sontak Queen semakin bertambah emosi, ia terus mengejar suaminya sambil berusaha berteriak keras.
"Jev, balikin hp aku! Kamu jangan main-main deh sama aku! Aku yakin, kamu pasti ketakutan kan kalau video itu adalah rahasia kamu?" ucap Queen.
"Enggak Queen, aku cuma mau mastiin aja. Kamu tenang dong sayang!" ucap Jeevan.
"Ih kamu mah!" Queen pun berhasil meraih lengan lelaki itu, tapi tiba-tiba Jeevan tersandung kakinya sendiri sehingga ponsel di tangannya terjatuh.
__ADS_1
Bruuukkk
"Hah??" Queen tersentak kaget melihatnya. Namun bukan karena Jeevan yang tersandung, melainkan ponsel miliknya itu.
Queen pun langsung mengambil ponselnya dari lantai, ia tampak emosi lantaran ponsel itu retak dan tidak dapat dinyalakan walau berulang kali ia sudah berupaya melakukannya. Sontak Queen kini menatap ke arah suaminya yang masih tergeletak di lantai, ia menghampirinya dan terlihat begitu emosi.
"Ish tuh kan, lihat nih gara-gara kamu sekarang hp aku gak bisa dinyalain tau. Kamu tuh emang benar-benar ngeselin ih!" ucap Queen emosi.
"Sa-sabar sayang! Aku bisa belikan kamu hp yang baru nantinya, tenang dulu ya!" ucap Jeevan gugup.
"Aku gak mau hp baru, aku cuma mau hp yang ini. Lagian kamu itu kenapa sih, Jev? Kok kayaknya kamu takut banget waktu Aulia kirim video ke aku? Apa yang lagi kamu sembunyiin dari aku, Jev?" ucap Queen dengan kesal.
"Apa sih? Aku kan udah bilang, aku gak sembunyiin apa-apa dari kamu. Aku cuma khawatir Aulia kirim video yang enggak-enggak," elak Jeevan.
Queen memutar bola matanya malas dan pergi begitu saja meninggalkan Jeevan dengan membawa ponsel miliknya yang terjatuh tadi, sedangkan Jeevan terlihat diam di tempat memandangi kepergian istrinya. Ada rasa menyesal, tetapi juga lega di dalam hati Jeevan saat ini.
•
•
Fritzy tak menjawab, ia hanya diam menundukkan wajahnya karena khawatir Aqila akan banyak bertanya padanya nanti. Jujur Fritzy tidak ingin jika Aqila sampai mengetahui bahwa dirinya tengah hamil anak dari Jeevan, jika semua itu terjadi maka habislah dirinya ini.
"Udah Fritzy, kamu ceritain aja semuanya ke nyonya Aqila! Siapa tahu beliau bisa bantu kamu supaya dapat tanggung jawab dari bos Jeevan," bisik Alden.
"Apa??" tak disangka, ucapan Alden itu didengar jelas oleh Aqila yang tepat berada di depan mereka. Tentu saja Aqila kaget mendengarnya, ia tak mengerti apa maksud Alden berbicara seperti itu.
"Maksud kamu apa Alden? Kenapa Fritzy harus dapat tanggung jawab dari anak saya? Memangnya dia kenapa?" tanya Aqila penasaran.
"Begini nyonya—" baru saja Alden hendak menjelaskan, tetapi kemudian Fritzy langsung menginjak kakinya dengan keras dan melotot tajam ke arahnya sembari memberi isyarat untuk diam.
"Awhh akh sakit!" rintih Alden secara spontan.
"Ada apa ini, hm? Apa yang kalian berdua sembunyikan dari saya? Cepat katakan!" sentak Aqila yang terlihat sangat emosi.
Fritzy dan Alden kini saling memalingkan wajah masing-masing, mereka juga bingung harus menjawab bagaimana pada Aqila agar tak membuat wanita itu kecewa. Jujur saja Fritzy benar-benar ketakutan, ia sangat khawatir kalau Aqila mengetahui semuanya dan akan memarahinya.
"Fritzy, kenapa kamu malah diam? Ayo jawab pertanyaan saya! Jangan bikin saya emosi ya, kalau kamu gak mau jawab nanti saya hukum loh kamu!" ucap Aqila.
"Ma-maaf tante, tapi tadi Alden cuma salah bicara kok. Ucapan dia mah gausah didengar," ucap Fritzy.
"Saya gak percaya, kalian pasti sedang menyembunyikan sesuatu kan dari saya?" ucap Aqila tak percaya begitu saja.
"Enggak kok, kita gak ada sembunyiin apa-apa dari tante. Beneran deh tante," ucap Fritzy coba meyakinkan Aqila bahwa tidak ada apa-apa.
"Lebih baik kamu jujur saja sama saya, atau jangan-jangan anak yang kamu kandung itu anak Jeevan?" ucap Aqila tegas.
Deg!
Fritzy sontak terkejut dan terdiam saat itu juga, ia tak menyangka kalau Aqila dapat menduga seperti itu. Matanya kini langsung melirik ke arah Alden seolah meminta bantuan, namun tampaknya Alden juga tidak bisa membantunya karena dia pun bingung harus melakukan apa.
"Kenapa kalian malah diam? Benar berarti yang saya duga itu, ha? Kamu sedang mengandung anak Jeevan ya kan?" tanya Aqila lagi.
"Fritzy, jawab aja udah pertanyaan nyonya Aqila! Bener apa enggak itu anaknya bos Jeevan? Kalau enggak, ya jawab enggak. Kalau iya, yaudah kamu mending jujur aja deh!" bisik Alden.
"Ish, aku tuh bingung tau. Aku gak mungkin ngaku ke nyonya Aqila kalau anak yang aku kandung ini emang anak bos Jeevan," balas Fritzy.
"Apa? Berarti benar dong?" kaget Alden.
Fritzy mengangguk dengan wajah merengut, mereka berdua terus berbisik di depan Aqila dan membuat Aqila tentunya semakin tersulut emosi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1