
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Apa mau dikata
•
•
Seketika Fritzy terkejut mendengar ucapan bosnya itu, "Apa bos? Sa-saya gak bermaksud begitu, saya terpaksa cerita sama nyonya Aqila karena beliau terus mencecar saya. Akhirnya saya tidak ada pilihan lain bos," ucapnya.
"Halah alasan aja kamu, kan bisa kamu karang cerita bohong sampai mama saya percaya! Kamu itu gak harus cerita yang sejujurnya dong!" ujar Jeevan.
"Ma-maaf bos, saya sudah terlanjur bingung tadi sewaktu nyonya Aqila menanyakan siapa ayah dari anak yang saya kandung ini. Jadinya saya terpaksa jujur sama beliau bos," ucap Fritzy gugup.
"Ah terserah lah! Sekarang hubungan saya dan Queen jadi berantakan gara-gara kamu!" ujar Jeevan.
"Sekali lagi saya minta maaf bos, saya janji akan berusaha membujuk mbak Queen supaya mau menerima bos lagi. Tolong jangan pecat saya dari pekerjaan ya bos!" ucap Fritzy memohon.
"Gimana caranya kamu bisa bujuk istri saya, hm? Tidak akan mudah untuk kamu melakukan itu, karena saya tahu karakter Queen seperti apa!" ucap Jeevan.
"Biar itu jadi urusan saya bos, apapun pasti akan saya lakukan demi keutuhan rumah tangga bos dan mbak Queen. Jujur saya juga gak mau kalau bos pisah dari mbak Queen," ucap Fritzy.
"Kalau memang begitu, seharusnya kamu bisa sembunyikan ini semua dari mereka! Kenapa kamu malah jujur coba ke mama saya?" kesal Jeevan.
"Kan tadi saya sudah bilang bos, saya tidak sengaja menceritakan itu semua. Saya benar-benar menyesal bos," ucap Fritzy tampak sedih.
"Okelah, saya juga gak bisa marah terus sama kamu. Saya tahu kamu pun butuh pertanggungjawaban dari saya atas bayi itu, jadi ini semua bukan murni salah kamu. Pasti itu kan yang kamu mau?" ucap Jeevan.
"Bos, saya emang sempat ngerasa sedih waktu bos menikah dengan mbak Queen. Tapi, saya udah ikhlas kok sekarang. Saya juga gak berharap apa-apa dari bos," elak Fritzy.
"Yasudah, kamu boleh pergi sekarang. Saya mau ketemu istri saya dan bicarakan mengenai ini semua," ucap Jeevan dingin.
"Baik bos!" ucap Fritzy menurut.
Disaat Fritzy bangkit dan hendak pergi, tanpa diduga Queen justru muncul tepat di hadapan mereka sembari menenteng tasnya. Melihat itu, sontak Jeevan makin dibuat panik dan khawatir. Pria itu bahkan langsung berdiri mendekat ke arah sang istri bermaksud untuk mencegahnya.
"Sayang, kamu mau kemana sih pake bawa tas segala? Kamu jangan ngada-ngada deh sayang!" ujar Jeevan panik.
"Aku mau pergi Jev, aku gak tahan kalau harus tinggal disini," ucap Queen singkat.
Deg!
Jantung Jeevan berhenti seketika saat mendengar ucapan Queen, ia sungguh tak menyangka kalau Queen benar-benar akan pergi meninggalkannya setelah mengetahui semuanya. Sontak saja Jeevan menggeleng tak terima dan berusaha membujuk Queen untuk tetap disana bersamanya.
"Enggak Queen, kamu gak boleh pergi dari sini. Kamu harus tetap disini sama aku sayang!" ucap Jeevan tegas.
"Hah? Buat apa aku tinggal disini coba? Aku gak kuat lihat wajah busuk kamu itu Jev, lebih baik aku pergi dan cari suasana baru yang lebih menyenangkan!" ucap Queen.
"Tapi Queen, kamu masih istri aku. Kamu gak bisa pergi gitu aja tanpa izin aku," ucap Jeevan.
"Ya aku tahu Jev, maka dari itu aku datang kesini untuk minta izin dari kamu. Kalau aku gak mandang kamu, mungkin aku udah langsung pergi," ucap Queen.
Jeevan terdiam menunduk, sedangkan Fritzy kini berusaha mendekati Queen dan membujuk wanita itu agar tidak pergi dari sana. Sebagai seorang karyawan yang setia pada bosnya, tentu Fritzy tak mau jika hubungan rumah tangga Jeevan dengan Queen akan hancur karenanya.
Namun, tentu Queen tak akan semudah itu menuruti permintaan Fritzy lagi. Terakhir kali Queen mengikuti kemauan Fritzy, membuat Queen terjebak dalam sebuah pernikahan yang menyakitkan dengan Jeevan. Meski Queen sangat mencintai pria itu, tetapi Queen tak tahu bagaimana sebaliknya.
"Mbak, saya mohon sama mbak Queen tolong jangan pergi dari rumah ini ya! Saya janji sama mbak, saya gak akan ganggu kalian lagi dan saya akan pergi sejauh mungkin!" ucap Fritzy.
Queen menatap sendu ke arah Fritzy, "Kenapa kamu bicara seperti itu Fritzy? Seolah-olah ini adalah salah kamu dan kamu harus menebusnya, padahal saya tahu kalau ini semua kesalahan Jeevan yang tidak bisa menahan hasratnya!" ucapnya geram.
"Tidak mbak, dalam hal ini saya juga bersalah. Andai saja waktu itu saya tidak mengikuti bos Jeevan, mungkin ini tidak akan terjadi," ucap Fritzy.
"Kamu gak perlu salahin diri kamu sendiri Fritzy, saya gak pernah menyalahkan kamu karena kamu disini adalah korban. Sebaiknya kamu terus minta tanggung jawab dari Jeevan!" ucap Queen tegas.
"Bicara apa sih kamu Queen?" tiba-tiba Jeevan menyela karena terkejut.
Queen pun beralih menatap Jeevan dengan tatapan sinis, "Apa salahnya? Aku cuma minta Fritzy minta tanggung jawab dari kamu, karena kamu sudah menghamili dia. Kalau kamu gak mau, itu artinya kamu laki-laki biadab!" ucapnya.
"Tapi gak mungkin aku ngelakuin itu sayang, statusnya sekarang aku masih jadi suami sah kamu. Gimana caranya aku tanggung jawab ke Fritzy coba?" ujar Jeevan.
__ADS_1
"Memang kita sekarang masih jadi suami-istri Jev, tapi itu gak lama lagi. Karena aku akan melepas kamu dan biarin kamu menikah dengan Fritzy, sebagai bentuk tanggung jawab kamu ke dia," ucap Queen.
"Apa? Kamu jangan asal bicara deh Queen, aku gak mungkin mau pisah sama kamu!" tegas Jeevan.
"Aku gak perduli kamu mau atau enggak, intinya aku akan tetap minta cerai dari kamu dan kita bertemu di pengadilan nanti!" ujar Queen.
Jeevan menggeleng dengan cepat, "Itu tidak akan terjadi Queen, aku gak mau pisah dari kamu!" ucapnya.
"Terserah kamu Jeevan, aku permisi!" ucap Queen pamit pada suaminya.
Namun, Jeevan kembali mencekal lengan istrinya itu dan memintanya tetap disana bersamanya, sebab Jeevan tak ingin bila Queen pergi meninggalkannya. Meski begitu, Queen sama sekali tak merasa kasihan pada suaminya yang telah berkhianat darinya itu, ia malah semakin membenci Jeevan dengan kelakuannya saat ini.
"Aku gak izinin kamu buat pergi, kamu harus tetap disini sama aku sayang!" ucap Jeevan kekeuh.
"Lepaskan Queen, Jeevan!" mereka dibuat terkejut saat Aqila tiba-tiba muncul dan meminta Jeevan melepaskan lengan istrinya.
"Mama?" Jeevan tampak syok melihat mamanya mendekat dan menatap tajam ke arahnya.
"Cepat kamu lepasin Queen, jangan paksa dia untuk tetap disini kalau dia tidak mau!" pinta Aqila.
"Tapi ma—"
"Cepat Jeevan!" Aqila langsung memotong ucapan Jeevan sebelum putranya itu selesai berbicara.
Akhirnya Jeevan menurut dan melepaskan lengan Queen sesuai perintah mamanya, meskipun ia tak rela jika Queen akan pergi darinya karena ia masih sangat mencintai wanita itu. Setelahnya, Queen pun bergegas melangkah mendekati Aqila untuk berpamitan pada mama mertuanya itu.
"Makasih ya ma? Kalo gitu aku juga pamit sama mama, aku janji akan pikiran semuanya dan berusaha yang terbaik!" ucap Queen tersenyum.
"Iya sayang, mama juga terus berdoa supaya kamu bisa mendapat pilihan yang baik untuk kehidupan kamu ke depannya!" ucap Aqila.
"Aamiin ma, makasih banyak atas doanya! Aku juga berharap hubungan kita tetap seperti ini ya ma, walaupun nantinya keputusan buruk harus aku ambil," ucap Queen.
Aqila mengangguk sembari menahan sedihnya, "Ya Queen, itu pasti!" ucapnya pelan.
Lalu, Aqila yang tak tahan pun langsung memeluk tubuh Queen dengan erat di hadapan Jeevan serta Fritzy. Tanpa diduga mereka berdua sama-sama menumpahkan air mata disana karena tak kuasa menahan tangis, hal itu membuat Jeevan turut merasakan kesedihan yang sama.
Queen menatap wajah Aqila seraya mengusap air matanya, "Iya ma, aku udah minta Jago buat jemput aku disini kok tadi," ucapnya.
"Oh yaudah kalo emang mau kamu begitu, pokoknya mama minta kamu sehat-sehat terus ya dan jangan telat makan!" ucap Aqila.
Queen mengangguk setuju, lalu tak lama Jago pun datang dengan mobil yang dikendarainya. Pria itu memasuki pekarangan rumah sang majikan dan berhenti disana, sontak Queen yang melihatnya pun bergegas melangkah menghampiri Jago bersama Aqila di sebelahnya.
"Ma, itu Jago udah sampe. Aku pergi dulu ya? Kalau mama mau, nanti kita bisa lanjut call atau chat kok pas aku sampai di rumah," ucap Queen.
"Iya Queen, mama tunggu sekali telpon dari kamu. Yuk mama antar kamu sampai ke mobil!" ucap Aqila sembari merangkul menantunya itu.
Queen menurut saja dengan perkataan Aqila, mereka pun mulai melangkah bersamaan menuju mobil yang dikendarai Jago tadi. Sedangkan Jeevan masih terdiam di tempat dan tampak bersedih karena ia akan berpisah dengan istrinya, begitupun Fritzy yang juga merasa bersalah kali ini.
"Jago, tolong kamu antarkan Queen sampai ke rumahnya ya! Jangan sampai dia terluka atau kenapa-napa!" ucap Aqila pada Jago.
"Siap nyonya Aqila! Saya pasti akan jaga nona Queen dengan baik kok nyonya, beliau kan amanah dari tuan saya," ucap Jago tersenyum.
"Iya ma, mama gak perlu khawatir begitu sama aku. Aku pasti aman kok kalau sama Jago, mama tenang aja ya!" ucap Queen.
Aqila turut tersenyum dan mengusap punggung menantunya itu, lalu saat Queen kembali pamit serta mencium tangan Aqila sebelum masuk ke mobil, tiba-tiba saja Queen malah merasa mual dan ingin muntah. Queen reflek memegangi perutnya yang terasa tidak enak serta memijat pelipisnya.
"Queen, kamu kenapa sayang? Ada yang salah?" tanya Aqila penasaran.
"Eee gak tahu ma, tiba-tiba aku ngerasa kayak mual banget," jawab Queen.
"Hah? Ya ampun, udah kamu masuk aja yuk jangan pergi ya sayang!" ujar Aqila panik.
Queen menggeleng cepat, "Enggak ma, aku harus pergi sekarang. Lagian paling aku cuma mual sebentar, nanti juga baikan kok," ucapnya menolak.
"Jangan dipaksain begitu sayang! Mama tahu kamu emosi, tapi kondisi kamu lagi sakit dan kamu gak boleh maksa! Kalau nanti terjadi sesuatu di luar sana gimana hayo?" ucap Aqila.
"Eee.." Queen berpikir sejenak, ia pun mulai ragu untuk pergi setelah mendengar kata-kata Aqila.
"Udah ya sayang, kamu disini aja dulu!" pinta Aqila.
__ADS_1
"Iya nona, mending nona jangan pergi dulu deh kalo nona lagi sakit! Nanti nona kenapa-napa malah tambah repot tau," sahut Jago.
"Tapi ma—" belum sempat Queen menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ia kembali merasakan mual yang amat sangat dan nyaris muntah.
"Huweekkk huweekkk..." wanita itu akhirnya berlari pergi memasuki rumahnya sambil terus menutupi mulutnya yang ingin memuntahkan sesuatu.
"Hah Queen??" Aqila yang panik berusaha menyusul menantunya itu, begitupun dengan Jeevan serta Fritzy.
•
•
Singkat cerita, Queen baru selesai diperiksa oleh dokter di rumah sakit karena Aqila tadi memaksanya untuk pergi kesana demi mengecek kondisinya. Ya Aqila tampak khawatir dan tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa menantunya itu, makanya Aqila membawa paksa Queen ke rumah sakit kali ini.
Tak hanya Aqila, tampak Jeevan juga berada di dalam ruangan itu menunggu hasil pemeriksaan yang akan diberitahu oleh dokter. Mereka terlihat berharap-harap cemas sambil terus menggigit jari disana, tak ada yang ingin Queen celaka tentunya karena mereka amat mencintai wanita itu.
"Ah dok, bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja kan dok?" tanya Jeevan khawatir.
Dokter itu malah tersenyum dengan santainya, "Bapak gak perlu khawatir begitu, istri bapak tidak kenapa-napa kok. Yang beliau alami tadi adalah gejala awal kehamilan, selamat ya pak karena sebentar lagi anda akan menjadi ayah!" jawabnya.
"Apa dok? Maksudnya, istri saya hamil gitu dok? Dokter serius kan? Dokter gak lagi bohongin saya?" kaget Jeevan.
"Iya pak, jelas saya serius. Mana mungkin saya membohongi pasien saya sendiri?" ucap dokter itu.
Sontak Jeevan teramat bahagia mendengarnya, ia sampai menutupi mulutnya dan terlihat sangat antusias setelah mengetahui kehamilan istri yang sangat ia cintai itu. Begitu pula dengan Aqila, wanita itu tampak syok seolah tak percaya kalau ternyata Queen tengah mengandung cucunya saat ini.
"Dok, berarti benar Queen hamil? Sejak kapan?" tanya Aqila dengan antusias.
"Iya benar Bu, usia kandungan pasien sudah mencapai tiga Minggu. Sekali lagi saya ucapkan selamat ya pak, Bu!" jawab dokter itu.
"I-i-iya dok, terimakasih ya? Boleh saya temui istri saya?" ucap Jeevan.
"Oh boleh pak, silahkan!" dokter itu memberi jalan dan mempersilahkan Jeevan untuk menemui Queen disana.
"Terimakasih dok!" ucap Jeevan singkat.
Tanpa basa-basi lagi, Jeevan bergegas menemui Queen yang tengah terbaring sambil menangis. Lelaki itu berhenti tepat di samping Queen dan terduduk disana, matanya memandang wajah wanita di hadapan yang justru tampak bersedih seolah tak menyukai kehamilannya.
"Hey Queen, kamu kenapa sayang? Kok kamu malah sedih begitu sih? Kamu lagi hamil anak kita loh, apa kamu gak senang dengarnya?" heran Jeevan.
Queen menoleh dengan mata berkaca-kaca, "Gimana aku bisa senang, Jev? Aku mengandung anak dari seorang lelaki pengkhianat seperti kamu, jelas aja aku kecewa!" jawabnya.
Seketika Jeevan merunduk lesu dan semakin merasa bersalah pada Queen, "Aku minta maaf Queen, tapi tolong kamu jangan seperti ini terus ya sayang!" ucapnya memohon.
"Entahlah Jev, aku gak tahu apa aku bisa terima kamu lagi atau enggak. Jujur aja rasanya sakit banget setelah tahu semua itu," ucap Queen.
"Ya aku ngerti Queen, aku paham sekali kondisi kamu seperti apa. Tapi, aku minta sama kamu tolong jangan pergi dari aku! Kalau bukan karena aku, seenggaknya kamu harus bertahan demi calon anak kita di dalam rahim kamu sayang!" bujuk Jeevan.
Queen memalingkan wajahnya dan terlihat berpikir selama beberapa detik, rupanya wanita itu memang masih bingung apakah ia akan tetap meneruskan keinginannya tadi untuk pergi dan menggugat cerai Jeevan, atau ia akan mempertahankan rumah tangganya demi sang anak. Tentunya Queen tidak ingin jika anaknya nanti lahir tanpa sosok ayah, pastinya itu akan sangat menyakitkan.
Jeevan meraih satu tangan Queen dan menggenggam serta mengecupnya, "Sayang, aku mohon kamu pikirkan ini baik-baik! Semua demi anak kita sayang," ucapnya lembut.
"Cukup Jeevan! Kalau aku bertahan, apa jaminannya kalau kamu gak akan selingkuh di belakang aku?" ucap Queen dengan tegas.
"Nyawa aku," jawab Jeevan tanpa ragu.
"Maksud kamu?" tanya Queen tak mengerti.
"Iya sayang, kamu bisa ambil nyawa aku dan bunuh aku kalau memang nantinya aku selingkuh di belakang kamu. Aku janji sama kamu sayang, aku tidak akan melakukan itu!" ucap Jeevan lantang.
Queen terdiam selama beberapa saat, ia terus mengamati wajah serta kedua mata Jeevan dengan serius seolah tengah mengujinya. Setelah itu, entah kenapa tiba-tiba Queen tersenyum dan merubah ekspresinya. Queen tampaknya sudah yakin dengan apa yang dikatakan suaminya itu, meskipun masih ada sedikit keraguan di hatinya.
"Okay, aku mau bertahan sama kamu dan tinggal di rumah itu lagi," ucap Queen.
"Serius?!" sangking kagetnya, Jeevan sampai mempertanyakan keseriusan sang istri. Untungnya Queen manggut-manggut sambil tersenyum, tentu saja Jeevan langsung memeluk erat tubuh istrinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1