Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 32. Jeevan was-was


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Kiriman video dari Aulia




Alden menggeleng-geleng kecil seraya memijat pelipisnya, ia sungguh bingung mengapa sulit sekali rasanya untuk membujuk Fritzy agar mau memberitahu padanya mengenai siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Padahal Alden sudah sangat penasaran ingin mengetahui semuanya.


Sementara Fritzy terlihat menyingkirkan paksa tangan Alden dari perutnya, ia merasa risih dengan tindakan pria itu yang terus saja memaksanya untuk bercerita. Tentunya Fritzy tak mungkin mau menceritakan yang sebenarnya pada Alden, karena itu akan membuat dirinya berada dalam masalah.


"Dengan sikap kamu yang begini, aku jadi makin curiga sama kamu Fritzy. Jangan-jangan benar dugaan aku selama ini, anak yang kamu kandung itu anak bos Jeevan kan?" ujar Alden.


Deg!


"Jangan sembarangan ya kamu kalo ngomong! Ini bukan anak bos Jeevan!" sentak Fritzy.


"Wih santai dong, gak perlu marah-marah kayak gitu Fritzy, nanti cantiknya ilang loh!" goda Alden seraya mencubit gemas pipi wanita itu.


"Ish, gausah sentuh-sentuh aku lagi! Kamu mending pergi aja deh dari sini!" usir Fritzy.


"Aku gak akan pergi, sebelum kamu jawab semua pertanyaan aku tadi. Kamu kasih tahu ke aku, siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu!" ucap Alden.


"Harus berapa kali sih aku bilang ke kamu? Aku gak mau kasih tahu ke kamu, kenapa kamu ngeyel banget sih jadi orang?" ujar Fritzy.


"Suka-suka aku lah, aku kan mau tau siapa ayahnya anak kamu itu," ucap Alden kekeuh.


Tiba-tiba saja, Aqila alias mama dari Jeevan muncul tanpa diduga dan berdiri tepat di hadapan mereka disertai deheman pelan. Sontak saja baik Fritzy maupun Alden kompak terkejut, mereka tak mengira jika Aqila akan datang kesana menemui mereka dan memberikan tatapan yang kurang mengenakkan.


"Ehem ehem.." dehem Aqila seraya melipat kedua tangannya di depan.


Fritzy dan juga Alden pun sama-sama bangkit dari duduknya, mereka menatap wajah Aqila dengan bingung seolah tak percaya dengan kehadiran wanita itu disana. Sedangkan Aqila tampak melepas kacamatanya dan menunjukkan dua bola mata yang menyorot tajam ke arah dua orang itu.


"Lagi pada ngapain kalian disini? Ini itu jam kerja, bukannya kerja malah pada nyantai! Kalau udah bosan kerja disini, gapapa nanti biar saya bilang ke Jeevan buat pecat kalian!" ucap Aqila.


"Eee jangan nyonya! Kami masih betah kok kerja disini, tolong jangan pecat kami!" ucap Alden.


"Iya nyonya, tadi itu saya cuma mau istirahat sebentar sembari tenangin diri. Eh terus tiba-tiba Alden nyusul kesini," sahut Lova.


"Memangnya kamu sedang ada masalah apa Fritzy?" tanya Aqila keheranan.


Fritzy tak menjawab, ia hanya diam menundukkan wajahnya karena khawatir Aqila akan banyak bertanya padanya nanti. Jujur Fritzy tidak ingin jika Aqila sampai mengetahui bahwa dirinya tengah hamil anak dari Jeevan, jika semua itu terjadi maka habislah dirinya ini.


"Udah Fritzy, kamu ceritain aja semuanya ke nyonya Aqila! Siapa tahu beliau bisa bantu kamu supaya dapat tanggung jawab dari bos Jeevan," bisik Alden.


"Apa??" tak disangka, ucapan Alden itu didengar jelas oleh Aqila yang tepat berada di depan mereka. Tentu saja Aqila kaget mendengarnya, ia tak mengerti apa maksud Alden berbicara seperti itu.


"Maksud kamu apa Alden? Kenapa Fritzy harus dapat tanggung jawab dari anak saya? Memangnya dia kenapa?" tanya Aqila penasaran.


"Begini nyonya—" baru saja Alden hendak menjelaskan, tetapi kemudian Fritzy langsung menginjak kakinya dengan keras dan melotot tajam ke arahnya sembari memberi isyarat untuk diam.


"Awhh akh sakit!" rintih Alden secara spontan.




Jeevan bersama Queen kini pergi dari rumah Aulia setelah urusan mereka selesai, meski begitu jujur saja Queen merasa belum puas karena dia tidak sempat menanyakan perihal masalah yang sedang disembunyikan Jeevan kepada Aulia. Padahal Queen sudah sangat penasaran ingin mengetahui semua.


Begitu tiba di rumah mereka kembali, tampak jelas kalau wajah Queen menunjukkan betapa dirinya sangat kesal pada suaminya. Sontak Jeevan pun bergerak mendekati wanita itu, ia rangkul dan cium pipi Queen dari samping sembari mengelusnya perlahan agar wanita itu tidak terus merengut.


"Sayangku, kamu itu kenapa sih, hm? Bete sama aku karena tadi aku nemenin kamu pas lagi main di rumah Aulia? Hey sayang, aku kan ngelakuin itu juga demi kebaikan kamu!" ucap Jeevan.


Queen menoleh dengan tatapan jengah, "Apanya yang demi kebaikan aku? Bilang aja kamu takut kan kalau aku tahu semuanya?" ucapnya lirih.


"Ma-maksud kamu apa sih sayang?" heran Jeevan.


"Halah pake pura-pura, aku tuh tahu kamu lagi sembunyiin sesuatu kan dari aku?! Terus Aulia tahu itu semua, makanya kamu takut kalau Aulia bakal cerita ke aku tentang itu, ya kan?" ujar Queen.


"Bicara apa sih kamu? Aku gak begitu ya, kamu gausah ngaco deh sayang!" elak Jeevan.


"Masih aja kamu ngelak, padahal jelas-jelas aku tahu semuanya. Buruan deh kamu kasih tahu aku, sebelum aku tahu dari orang lain!" pinta Queen.


"Kasih tahu apa Queen? Aku ini gak sembunyiin apa-apa kok dari kamu," kekeuh Jeevan.


Queen yang kesal memilih pergi meninggalkan lelaki itu begitu saja, ia tak perduli lagi dengan teriakan Jeevan yang berusaha menahannya, karena ia sungguh emosi saat ini pada lelaki itu. Queen merasa tidak dihargai sebagai seorang istri, sebab Jeevan masih saja menyimpan rahasia darinya.


"Sayang, tunggu dong sayang! Aku gak sembunyiin apa-apa dari kamu, tenang dulu dong sayang!" teriak Jeevan dengan lantang.

__ADS_1


Disaat Jeevan hendak menyusul Queen masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depannya yang membuat Jeevan terpaksa mengurungkan niatnya. Dari mobil itu, terlihat Cobra muncul dan mendekatinya sambil tersenyum lebar.


"Permisi tuan muda, mengapa anda tak kunjung datang ke markas hari ini?" ujar Cobra.


"Maaf, saya tadi sedang menemani istri saya. Lagipula kita kan bisa bahas ini nanti, buat apa anda datang ke rumah saya? Sekarang saya sedang sibuk, jadi tolong ya jangan ganggu saya!" ucap Jeevan.


"Tunggu tuan, ada hal penting yang ingin saya bicarakan kali ini. Saya mohon tuan dengarkan dulu kata-kata saya!" pinta Cobra.


Jeevan pun jadi dibuat penasaran olehnya, "Yasudah, apa yang mau anda katakan? Saya minta kali ini harus benar-benar penting!" ujarnya.


"Tentu tuan, ini mengenai para pengkhianat yang telah berhasil kita temukan di bisnis ini. Ada beberapa dari mereka yang membawa kabur barang milik kita tuan, apa yang harus saya lakukan untuk meringkus mereka?" ucap Cobra.


"Saya rasa anda cukup pintar untuk mengatasi ini semua, panggil saja polisi dan jebloskan mereka semua ke penjara!" titah Jeevan.


"Tapi tuan, bukannya itu beresiko?" tanya Cobra.


Jeevan menatap tajam wajah Cobra, "Kamu lupa kalau kita punya kenalan di pihak mereka?" ucapnya tegas dan dingin.




Lova datang menemui Nina di kantin kampus, ia langsung duduk di sebelah gadis itu sembari merangkul pundaknya. Sontak Nina dibuat terkejut dengan kehadiran Lova yang secara tiba-tiba itu, tapi kemudian Nina tersenyum ke arah sahabatnya dan terlihat bingung saat Lova malah merengut kali ini.


Ya tampaknya Lova memang masih memikirkan sikap Arul yang semakin kurang ajar padanya itu, entah kenapa ia merasa ada yang tengah disembunyikan oleh Arul darinya saat ini, sebab tidak mungkin Arul bisa seberani itu tadi kalau dia sedang tidak menyembunyikan sesuatu.


"Eh Va, lu tuh kenapa sih? Tadi lu ngagetin gue, terus sekarang lu malah ngelamun begitu. Gue kadang heran deh sama lu, apa yang lagi lu pikirin Lova?" tanya Nina terheran-heran.


"Eee gak kok, gue cuma bingung aja sama si Arul. Makin hari dia makin aneh aja tau," jawab Lova.


Sontak Nina membelalakkan matanya, "Aneh gimana maksud lu, Va? Emangnya si Arul itu kenapa?" tanyanya penasaran.


"Ya gitu deh, susah rasanya buat gue jelasin ke lu. Nanti yang ada lu malah gak percaya," ucap Lova.


"Huft, terus ngapain lu kesini sekarang kalau lu gak mau cerita? Udah sih santai aja, gue pasti bakal dengerin lu dan percaya sama lu kok!" ucap Nina.


"Nanti aja ah, gue masih bingung juga jelasinnya harus gimana. Kayaknya gue mau minum dulu deh, pesenin dong!" ucap Lova.


"Dih, enak banget hidup lu datang-datang minta dipesenin minum sama gue! Pesan sendiri sana!" cibir Nina.


"Yah elah, pelit banget sih lu!" kesal Lova.


Disaat Lova hendak bangkit dan memesan minuman, tiba-tiba saja seseorang sudah menaruh gelas berisi air minum di mejanya. Sontak saja Lova amat terkejut melihat itu, matanya membulat lebar ketika mengetahui Arul lah yang baru saja memberikan minuman untuknya.


"Arul, sejak kapan lu datang kesini? Kenapa sih lu selalu ganggu gue?" geram Lova.


"Ganggu? Tapi nona, saya ini kan cuma mau bantu nona kasih minuman ini," ucap Arul.


"Iya, tapi tetap aja lu udah ganggu gue. Gue gak suka diginiin terus!" sentak Lova.


"Emangnya saya salah apa nona? Perasaan saya cuma kasih minuman deh ke nona, masa gitu aja nona merasa risih?" heran Arul.


"Bukan masalah minumannya, tapi kehadiran lu ini yang selalu ganggu gue. Gue jadi ngerasa gak bebas tau kalau ada lu terus," ucap Lova.


"Ohh, yaudah deh saya minta maaf ya nona? Ayolah, nona jangan marah dong sama saya!" ucap Arul.


Lova malah mengembungkan pipinya dan membuang muka, tapi sesaat kemudian ia mengambil gelas minuman itu dan meminumnya tanpa rasa ragu. Sontak Arul terkekeh melihatnya, begitu juga Nina yang merasa kalau Lova tidak konsisten pada perkataan yang dia lontarkan tadi.


"Yeh lu minum juga tuh minuman dari Arul, tadi katanya benci sama dia. Gimana sih lu? Gak konsisten banget sih jadi orang, si Arul jadi berharap tuh sama lu!" cibir Nina.


"Apa sih Nin?!" sentak Lova dengan wajah kesal.


"Nona, akui saja kalau nona juga menyukai saya!" sela Arul tiba-tiba disertai senyum tipisnya.


Deg!




Setelah Cobra pergi, Jeevan pun dengan cepat menyusul masuk ke dalam rumahnya demi menemui Queen alias istrinya disana. Untungnya Queen juga tidak pergi kemana-mana, sebab wanita itu masih berada di kamarnya meskipun dengan wajah yang miring dan emosi.


Jeevan melangkah perlahan memasuki kamarnya dan mendekati istrinya itu, ia duduk di samping Queen sembari merangkul pundak wanita itu dan mendekapnya erat. Queen diam saja tak protes sedikitpun, wanita itu justru terisak dan membuat Jeevan kebingungan.


"Hiks hiks.." isakan tangis Queen terdengar di telinga Jeevan yang langsung melirik ke arahnya.


"Loh Queen, ka-kamu kenapa nangis kayak gini sayang? Ada masalah apa? Cerita dong sama aku!" ucap Jeevan panik.


"Kamu pake tanya segala, padahal udah jelas kalau aku begini ya karena kamu Jeevan!" sentak Queen.

__ADS_1


"Hah kok jadi aku? Emang aku salah apa sama kamu? Aku kan daritadi juga gak ngapa-ngapain tau," heran Jeevan.


"Kamu gak ngapa-ngapain itu yang bikin aku kesel, coba aja kamu ngapa-ngapain!" ucap Queen.


Jeevan mengernyit penuh keheranan, "Maksud kamu gimana sih sayang? Terus aku sekarang harus apa nih biar kamu gak marah lagi sama aku? Jujur aja aku gak tahan kalau diginiin terus," ucapnya.


"Kamu harusnya tuh tadi pergi pas waktu aku ada di rumah Aulia, bukan malah kamu diam aja sambil merhatiin aku!" ucap Queen.


"Oh jadi soal itu, makanya kamu marah sama aku. Ya ampun sayang, aku minta maaf deh kalau udah bikin kamu emosi ya? Please dong, kamu jangan marah terus kayak gitu sayangku!" ucap Jeevan.


"Iya aku gak marah, asalkan kamu mau jujur ke aku apa yang kamu sembunyiin dari aku!" pinta Queen.


Jeevan terbelalak dan bingung ketika Queen meminta hal itu, ia tidak tahu harus mengatakan apa saat ini untuk bisa membuat Queen tak marah lagi padanya. Tentu tak mungkin jika Jeevan jujur pada Queen dan mengatakan kalau dirinya sudah menjalin hubungan dengan Fritzy sampai memiliki anak.


"Jev, kenapa kamu diam aja? Kamu gak bisa ya jujur sama aku? Kalau gitu mending kamu jangan ganggu aku dulu deh!" ucap Queen.


"Eh jangan gitu dong sayang! Masa iya aku gak boleh deketin istri aku sendiri?" protes Jeevan.


"Bodo! Suruh siapa kamu gak mau jujur sama aku coba? Apa susahnya sih tinggal jujur aja gitu? Jadinya kan aku gak penasaran lagi," ujar Queen.


"Aku harus jujur apa sayang? Aku gak pernah bohong sama kamu," ucap Jeevan berbohong.


Queen memutar bola matanya seraya menggeleng pelan, "Bisa-bisanya ya kamu bilang begitu? Padahal jelas-jelas kamu lagi menyimpan sesuatu di belakang aku Jeevan," ucapnya tegas.


"Semua yang kamu tuduhkan ke aku itu gak benar, kamu salah paham sayang! Aku sama sekali gak punya rahasia apapun dari kamu, ayolah kamu percaya dong sama aku!" ucap Jeevan.


"Tetap aku gak akan percaya walau kamu bohong sampai gimanapun!" kekeuh Queen.


Tling


Tak lama kemudian, ponsel milik Queen berdering menandakan ada pesan yang masuk kesana. Sontak Queen segera mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang mengirim pesan itu, setelahnya ia lalu menatap ke arah Jeevan yang membuat pria itu terlihat keheranan.


"Siapa sayang?" tanya Jeevan penasaran.


"Aulia kirim pesan ke aku, ada video nih. Tapi, aku gak tahu video apa," lirih Queen.


Deg!


Seketika Jeevan terkejut bukan main mendengar ucapan istrinya, bagaimana tidak? Karena ternyata Queen baru saja mendapat kiriman video dari Aulia, tentu saja Jeevan sangat panik dan dibuat cemas. Meski begitu, Jeevan harus berjaga-jaga agar tidak sampai membuat Queen curiga padanya.




Tin Tin...


Sebuah mobil membunyikan klakson dengan keras di halaman depan rumah Aulia, hal itu sontak membuat Aulia terkejut dan meletakkan sejenak ponselnya di atas sofa. Gadis itu mengintip melalui tirai jendela, ia terbelalak melihat mobil milik Rifan alias katingnya di kampus lah yang datang kesana.


Aulia pun dibuat bingung, ia tak mengerti mengapa Rifan datang ke rumahnya disaat seperti ini. Padahal baru saja Aulia hendak melihat reaksi Queen setelah menonton video yang dikirim olehnya, ia pun terus mengamati mobil tersebut dari tempatnya berdiri sembari berpikir keras.


"Dek!" tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya dari belakang, Aulia terkejut lalu menoleh dan menemukan sosok Victor disana.


"Kak Victor? Ih kakak ngagetin aja deh! Ngapain sih kakak disitu?" kesal Aulia.


"Loh kenapa kamu jadi nyalahin kakak? Harusnya kakak yang tanya ke kamu, ngapain kamu berdiri di dekat jendela kayak gini? Lagi ngeliatin apa sih adikku yang cantik ini?" ujar Victor.


"Huh dasar kakak gombal! Aku tuh cuma penasaran sama mobil yang tadi bunyiin klakson, makanya aku mau coba cek dari sini," ucap Aulia.


"Ohh, terus kamu udah tahu itu mobil siapa?" tanya Victor.


Aulia mengangguk pelan, "Sudah kak, itu mobil kak Rifan. Kating aku yang sempat bikin kakak cemburu dan salah paham loh," jawabnya.


Victor pun langsung menarik pundak adiknya dan merangkulnya erat, "Hey! Siapa coba yang cemburu sama laki-laki? Ngapain juga kakak harus cemburu sama dia? Ngada-ngada aja kamu dek!" elaknya.


"Iya iya, lepasin ah aku mau ke depan temuin kak Rifan!" ucap Aulia meronta-ronta.


"Hah? Udah deh gausah, biarin aja dia disitu sendiri nanti juga pulang sendiri kalau tau gak ada yang keluar temuin dia!" ucap Victor.


"Ya ampun kak, masa kakak begitu sih sama tamu sendiri? Gak boleh tau kak, dosa!" ucap Aulia.


"Biarin aja, abisnya kakak gak suka kamu dekat-dekat sama dia. Dari yang kakak lihat, dia itu bukan orang baik tau. Udah deh mending kamu jauh-jauh aja dari dia sayang," ucap Victor.


"Tapi kak, aku kan cuma mau buka pintu dan temuin dia. Aku juga gak ada apa-apa kok sama dia," ucap Aulia membela diri.


Victor menggeleng pelan seraya menepuk jidatnya, akhirnya mau tak mau ia terpaksa membiarkan adiknya itu keluar membukakan pintu. Tentunya Victor juga mengikuti Aulia dari belakang, ya ia tak mau sesuatu terjadi pada gadis itu kalau ia tidak berjaga-jaga saat ini.


Ceklek


Pintu terbuka, dan Aulia langsung tersenyum ke arah Rifan begitu melihat pria tersebut sudah berada di depan matanya. Rifan sendiri tampak membungkuk seolah memberi salam, sedangkan Victor masih mengamati dari belakang berjaga-jaga jikalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2