Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 35. Queen tahu?


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Queen Mengetahui Semuanya?




Fritzy dan Alden kini saling memalingkan wajah masing-masing, mereka juga bingung harus menjawab bagaimana pada Aqila agar tak membuat wanita itu kecewa. Jujur saja Fritzy benar-benar ketakutan, ia sangat khawatir kalau Aqila mengetahui semuanya dan akan memarahinya.


"Fritzy, kenapa kamu malah diam? Ayo jawab pertanyaan saya! Jangan bikin saya emosi ya, kalau kamu gak mau jawab nanti saya hukum loh kamu!" ucap Aqila.


"Ma-maaf tante, tapi tadi Alden cuma salah bicara kok. Ucapan dia mah gausah didengar," ucap Fritzy.


"Saya gak percaya, kalian pasti sedang menyembunyikan sesuatu kan dari saya?" ucap Aqila tak percaya begitu saja.


"Enggak kok, kita gak ada sembunyiin apa-apa dari tante. Beneran deh tante," ucap Fritzy coba meyakinkan Aqila bahwa tidak ada apa-apa.


"Lebih baik kamu jujur saja sama saya, atau jangan-jangan anak yang kamu kandung itu anak Jeevan?" ucap Aqila tegas.


Deg!


Fritzy sontak terkejut dan terdiam saat itu juga, ia tak menyangka kalau Aqila dapat menduga seperti itu. Matanya kini langsung melirik ke arah Alden seolah meminta bantuan, namun tampaknya Alden juga tidak bisa membantunya karena dia pun bingung harus melakukan apa.


"Kenapa kalian malah diam? Benar berarti yang saya duga itu, ha? Kamu sedang mengandung anak Jeevan ya kan?" tanya Aqila lagi.


"Fritzy, jawab aja udah pertanyaan nyonya Aqila! Bener apa enggak itu anaknya bos Jeevan? Kalau enggak, ya jawab enggak. Kalau iya, yaudah kamu mending jujur aja deh!" bisik Alden.


"Ish, aku tuh bingung tau. Aku gak mungkin ngaku ke nyonya Aqila kalau anak yang aku kandung ini emang anak bos Jeevan," balas Fritzy.


"Apa? Berarti benar dong?" kaget Alden.


Fritzy mengangguk dengan wajah merengut, mereka berdua terus berbisik di depan Aqila dan membuat Aqila tentunya semakin tersulut emosi. Sontak saja Aqila mendekati keduanya dengan wajah penasaran, wanita itu juga langsung menarik pundak Fritzy agar mau menatap wajahnya.


"Cepat katakan sekarang Fritzy, apa benar itu Jeevan putra saya! Tolong jangan berbohong!" ucap Aqila.


"Eee nyonya, sebaiknya kita bahas yang lain aja ya? Kebetulan ini Alden katanya ada yang mau disampaikan, ya kan Al?" ucap Fritzy gugup.


"Hah?" Alden yang tak mengerti sontak menatap Fritzy dengan bingung, tapi kemudian Fritzy malah menginjak kakinya.


"Awhh kok diinjek sih? Kamu tuh kalau bicara yang jelas dong Fritzy!" ujar Alden.


"Ah sudah sudah, kenapa malah jadi kalian yang berdebat? Cepat jawab Fritzy, jangan mengalihkan pembicaraan!" sentak Aqila.


Fritzy kembali terdiam bingung, ia merasa kikuk dan tak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan Alden tampak memberi kode pada Fritzy agar menceritakan saja semuanya ke Aqila, biar bagaimanapun Fritzy memang harus jujur supaya seluruh masalahnya selesai.


Namun, entah mengapa Fritzy masih ragu untuk menceritakannya pada Aqila. Fritzy khawatir kalau ia akan dicap sebagai penggoda suami orang dan bisa saja ia dipecat dari pekerjaannya, tentu Fritzy tak mau itu terjadi, karena ia sangat membutuhkan pekerjaan untuk bisa menghidupi anaknya nanti.


"Kalau kamu diam begitu, tandanya memang benar bahwa anak yang kamu kandung itu anak dari Jeevan," ucap Aqila.


"Iya itu memang benar nyonya, Fritzy sedang mengandung anak dari bos Jeevan." tiba-tiba Alden menyela dan berkata seperti itu pada Aqila, sontak Fritzy terkejut dan menatap jengah ke arahnya.


Deg!


Tentu saja Aqila yang mendengar pengakuan dari Alden, tampak sangat kaget seolah tak percaya kalau dugaannya selama ini ternyata benar bahwa Fritzy memang mengandung anak Jeevan yang merupakan putranya itu.




Lova masih terus merengut sepanjang perjalanan pulang bersama Arul, gadis itu sungguh malu dengan apa yang dilakukan Arul padanya saat di kantin kampus tadi. Apalagi Arul melakukan itu ketika dirinya sedang bersama Nina, tentu saja Lova tak bisa menahan rasa malunya lagi.


Namun, tampak sekali kalau Arul tidak menyesal telah melakukan itu pada Lova di depan sahabatnya. Arul justru terus tersenyum memandang wajah Lova dari tempatnya duduk saat ini, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Bahkan sesekali Arul juga masih mencolek lengan Lova dengan iseng.


"Ehem ehem, kamu kenapa manyun kayak gitu aja sih Lova cantik? Kamu gak mau bicara sama pacar kamu yang tampan ini?" goda Arul.


Sontak Lova tersentak dan menoleh ke arahnya, "Apa sih lu? Gue bukan pacar lu ya!" ujarnya kesal.


"Ahaha, jangan marah-marah dong non! Saya kan cuma bercanda, kalem aja gitu!" ucap Arul sambil terkekeh kecil.


"Gimana gue bisa kalem coba? Lu itu udah makin keterlaluan tau Rul, please lah lu jangan kayak gitu dong apalagi di depan si Nina!" ucap Lova.


"Emang salah ya nona? Saya kan cuma mau menyampaikan rasa sayang saya ke nona, apa itu salah?" heran Arul.


Lova menggelengkan kepala sembari membuang muka, "Gue bingung harus ngomong apa sama lu, capek gue tau gak!" ucapnya ketus.


"Loh kenapa harus capek? Kan cuma ngomong non, kecuali kamu ngomongnya sambil loncat-loncat, nah itu baru capek deh," ucap Arul.


"Diem lu!" bentak Lova.


Arul malah tersenyum melihat ekspresi Lova saat ini, entah kenapa ia justru merasa gemas kala Lova tengah marah padanya seperti sekarang ini. Gadis itu memang benar-benar membuatnya tergoda, sungguh Arul tidak sabar ingin mengungkap siapa dia sebenarnya dan meminang Lova menjadi istrinya agar ia bisa sepuasnya memiliki gadis itu.

__ADS_1


"Non, kita ini mau langsung pulang ke rumah aja? Emang nona gak mau jalan-jalan lagi gitu sama saya? Kan seru tau nona kalau jalan berduaan, biar kayak pasangan kekasih," ucap Arul.


"Ogah! Gue pengen pulang aja, lu anterin gue sekarang dan jangan banyak omong!" pinta Lova.


"Sebentar aja deh non, abis itu baru kita pulang ke rumah nona ya?" bujuk Arul.


"Lo kenapa maksa banget sih? Emang lu mau bawa gue kemana lagi coba?" tanya Lova heran.


"Ada deh non, saya yakin nanti juga nona pasti suka kok sama tempatnya. Seperti waktu kemarin saya bawa nona ke taman itu, nona langsung terpukau kan?" ucap Arul.


"Ya iya, tapi masalahnya gue lagi gak mau pergi kemana-mana. Mending kita pulang aja deh, gue capek soalnya Rul!" pinta Lova.


"Okay, saya nurut deh sama nona kali ini. Tapi itu karena saya sayang sama nona dan saya gak mau maksa nona," ucap Arul.


"Ya bagus, udah buruan cepetin bawa mobilnya!" suruh Lova.


"Baik nona!" Arul menurut dan memacu mobilnya lebih cepat dibanding sebelumnya, tapi tak lama kemudian sebuah mobil malah menyalipnya dari samping dan berhenti secara mendadak tepat di depan mobil mereka.


Ciiittt


Akhirnya mau tidak mau, Arul pun terpaksa menginjak rem agar tak menabrak mobil itu. Namun, naasnya hal itu malah membuat kepala Arul serta Lova terbentur cukup keras. Tentu saja Lova langsung meringis kesakitan sembari memegangi dahinya, ia menatap Arul dengan jengah dan memukul lengan pria itu karena emosi.


"Ih lu gimana sih? Nyetir tuh yang bener dong, atau lu sengaja ya mau celakai gue!" kesal Lova.


"Loh??" Arul terheran-heran.




Ting nong ting nong...


Jeevan dibuat kaget saat mendengar suara bel ditekan dari arah luar, tanpa banyak berpikir pria itu langsung bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu untuk memastikan siapa yang datang. Meski Jeevan masih galau memikirkan Queen, tapi tidak mungkin ia mengabaikan tamu.


Sesaat setelah membuka pintu, Jeevan benar-benar terkejut ketika melihat mamanya berada disana bersama Fritzy dan tampak menatapnya dengan wajah serius. Tentu saja Jeevan tak mengerti apa maksud mamanya datang kesana dengan membawa Fritzy, membuat Jeevan terus berpikir keras serta khawatir kalau rahasianya akan terbongkar di hadapan mamanya hari ini.


Ceklek


"Mama? Ada apa mama kesini? Terus kok pake bawa Fritzy segala, emangnya dia lagi gak ada urusan di kerjaan?" tanya Jeevan heran sembari mencium tangan mamanya.


"Gausah banyak basa-basi deh Jeevan, kita langsung aja bicara ke intinya!" ketus Aqila.


Aqila melirik ke arah Fritzy sekilas dan kembali menatap putranya, "Kenapa kamu gak pernah bilang ke mama, kalau kamu sudah menghamili Fritzy?" ujarnya dengan nada ketus.


Deg!


Seketika jantung Jeevan berhenti berdetak mendengar pertanyaan mamanya, rupanya apa yang ia khawatirkan sedari tadi benar-benar terjadi kali ini. Mamanya itu memang sudah mengetahui mengenai Fritzy dan kini dirinya dalam bahaya, ia pun bingung harus bagaimana menjelaskan pada mamanya.


"Ma-maksud mama apa sih? Sejak kapan aku hamilin Fritzy? Lagian aku kan punya istri, mama ada-ada aja deh," ucap Jeevan mengelak.


"Kamu gausah ngelak Jeevan, mama sudah tahu semuanya dan Fritzy sendiri juga sudah mengaku kalau dia sedang mengandung anak kamu. Jadi, kamu gak bisa ngelak lagi!" tegas Aqila.


Sontak Jeevan spontan menatap ke arah Fritzy, ia merasa kesal pada wanita itu karena dianggap telah membocorkan semua rahasianya. Tangannya terkepal, menandakan betapa emosinya Jeevan saat ini kepada Fritzy. Tapi disaat yang sama, Aqila coba melindungi Fritzy dan menarik tubuh pria itu.


"Kenapa kamu tatap Fritzy kayak gitu? Kamu marah karena dia sudah bilang ke mama? Itu wajar kok, dia juga perlu mengakui semuanya demi kelangsungan hidup dia!" ucap Aqila.


"Tapi ma, yang dibilang Fritzy itu gak bener. Aku gak mungkin hamilin dia, ma!" ucap Jeevan.


"Itu bener kok nyonya, cuma bos Jeevan yang setubuhi saya selama ini, bahkan sampai berkali-kali," sela Fritzy.


Deg!


Lagi-lagi Jeevan dibuat terkejut dengan pengakuan Fritzy, ia sungguh bingung apa yang membuat Fritzy sampai berbicara seperti itu di depan mamanya saat ini. Dan kini Jeevan pun terpojokkan, ia sudah tidak bisa mengelak lagi setelah semua perkataan Fritzy barusan yang mengungkap rahasianya.


"Tuh kan, lebih baik kamu mengaku saja Jeevan kalau kamu memang menghamili Fritzy! Kamu itu benar-benar keterlaluan ya Jeevan, bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu!" ujar Aqila.


"Apa ma??" tiba-tiba saja Queen muncul dari dalam rumahnya dan bergerak menghampiri mereka dengan ekspresi kaget.


Ya sontak hal itu membuat ketiganya kompak menoleh ke asal suara, mereka tak menyangka jika Queen akan mendengar semuanya dan turut menyusul keluar menemui mereka. Tentunya Jeevan semakin terpuruk saat ini dan kebingungan.




Dinda mengangguk pelan dan mulai menghilangkan rasa ragu di hatinya, ia pun bersiap menemui Tom saat ini untuk melampiaskan semua kekesalannya pada pria itu, sekaligus meminta Tom agar bisa melupakan dirinya dan tidak mengejar-ngejar cintanya seperti sebelum ini.


Tak lama kemudian, akhirnya pria yang mereka tunggu pun tiba. Ya Tom si tahanan pun datang bersama dua orang polisi yang menjaganya, lalu Tom diminta duduk pada kursi di dekat Erick serta Dinda. Melihat keberadaan Dinda disana, sontak saja Tom sangat terkejut dan keheranan dibuatnya.


"Dinda, akhirnya kamu datang juga sayang. Jujur aku rindu sekali dengan kamu, dan aku senang kamu bisa hadir disini menengokku. Pasti kamu juga merasakan hal yang sama bukan?" ucap Tom.


Dinda menggeleng dan tersenyum seringai, "Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu Tom, padahal aku sama sekali tidak pernah merindukan kamu. Aku bahkan sangat membenci kamu, jadi kamu jangan terus berharap!" ucapnya mengelak.

__ADS_1


"Masih saja kamu malu-malu begitu, sudahlah kamu akui saja kalau kamu memang masih mencintai aku, Dinda sayang!" ucap Tom menggoda.


"Cukup Tom! Sekali lagi kamu bicara begitu, aku tidak akan segan-segan merobek mulut kamu itu!" sentak Erick penuh emosi.


Dinda yang berada di sebelahnya pun berusaha menenangkan suaminya itu, ia mengusap lembut pundak sang suami serta menggenggam dua tangannya erat. Sedangkan Tom sama sekali tak terpengaruh dengan ucapan Erick tadi, dia masih saja tersenyum genit menatap wajah Dinda.


"Mas udah, biarin aku yang bicara sama Tom ya? Kamu tolong diam dulu disini!" ucap Dinda.


"It's okay, meskipun berat buat aku, tapi aku gak mungkin bikin kamu sedih," ucap Erick pasrah.


"Makasih mas, sekarang tolong kamu jaga emosi kamu ya sayang!" pinta Dinda.


Erick manggut-manggut paham, lalu Dinda kembali menatap Tom dengan dua tangan ia lipat di atas meja. Dinda tampak berhati-hati sebelum mulai berbicara dengan Tom, ia tidak mau hal seperti tadi terjadi kembali dan malah membuat Erick semakin emosi pada pria di depannya itu.


"Tom, aku datang kesini cuma untuk kasih tahu ke kamu supaya kamu bisa lupain aku dan jangan berharap cinta lagi sama aku! Aku harap kamu bisa mengerti itu ya Tom?" ucap Dinda pelan.


"Tidak akan, sampai kapanpun aku gak mungkin bisa lupain kamu apalagi menghilangkan rasa cinta aku ke kamu sayang," ucap Tom tersenyum tipis.


Deg!


Perkataan Tom barusan tentunya membuat emosi Erick makin memuncak, jika tidak karena istrinya mungkin saja Erick saat ini sudah menghajar habis Tom di tempat itu. Namun, Dinda tak mau itu semua terjadi dan meminta pada semuanya untuk tenang serta membiarkan ia mengurus Tom.


"Kalau memang kamu gak bisa melupakan aku, it's okay itu hak kamu. Tapi, aku minta sama kamu untuk jangan ganggu hidup aku lagi ya!" ucap Dinda.


"Hah? Sekarang gini deh Dinda, gimana caranya aku bisa menjauh dari orang yang sangat aku sayangi? Itu sulit sayang, aku gak bisa hidup tanpa kamu walau sebentar!" ucap Tom.


"Tapi Tom, aku sekarang sudah punya suami. Aku rasa kamu paham akan hal itu," ucap Dinda.


Tom terdiam menundukkan wajahnya, sedangkan Dinda bangkit dari duduknya bersama Erick dan mengajak suaminya itu untuk pergi. Ya Dinda merasa semua ini tak ada gunanya, sebab Tom selalu saja kekeuh ingin berada di sisinya meski Dinda telah meminta Tom menjauh darinya.




Sementara itu, Aulia terlihat kembali ke sofa dan langsung mengambil ponselnya untuk melihat apa ada balasan dari Queen atau tidak. Namun, ia tampak kecewa lantaran ternyata Queen belum melihat video kiriman darinya. Tentu saja Aulia tak mengerti mengapa Queen mengabaikannya.


Victor yang melihat kekecewaan di wajah adiknya, kini menghampiri gadis itu dan menyentuh pundaknya dari belakang. Aulia terkejut serta reflek menoleh ke arahnya, sebenarnya Aulia masih agak kesal pada kakaknya itu sejak kejadian pengusiran terhadap Rifan yang datang ke rumahnya tadi.


"Kak, ngapain sih kakak diam-diam kayak gitu? Hampir aja aku jantungan tau," protes Aulia.


"Maaf sayang, abisnya kakak heran sih sama kamu karena kamu kelihatan kecewa gitu sambil lihat hp kamu. Emangnya ada apa sih di hp kamu itu sayang?" ucap Victor penasaran.


"Umm, kakak gak perlu tahu. Nanti yang ada kakak malah marahin aku, padahal aku kan cuma mau lakuin yang terbaik buat sahabat aku," ucap Aulia.


"Maksudnya gimana? Apa kamu udah kirim video itu ke Queen? Ya ampun sayang, kok kamu nekat banget sih?!" ujar Victor.


"Biarin aja sih kak, lagian kenapa kakak gak suka gitu kalau aku kirim videonya ke Queen? Ohh, kakak mau belain si Jeevan yang tukang selingkuh itu ya? Huh dasar laki-laki!" ucap Aulia.


Victor menggeleng dengan cepat, "Gak gitu Aulia, kakak cuma gak mau kamu ikut campur masalah mereka. Kalau kamu nanti kenapa-napa gimana? Udah deh, cepat kamu hapus videonya!" ucapnya.


"Gak mau ah, Queen belum lihat videonya. Dia kayaknya masih sibuk deh," ucap Aulia.


"Ya itu bagus, kamu urungkan sekarang videonya cepat sebelum dilihat sama Queen! Kakak gak mau kamu kena masalah nantinya," pinta Victor.


"Kakak tuh kenapa sih? Tenang aja kali, aku gak bakal kena masalah atau apa-apa kok!" ujar Aulia.


"Haish kamu ini!" Victor menggeram kesal dan langsung mengambil paksa ponsel itu dari tangan adiknya.


"Ih kakak, balikin hp aku!" kesal Aulia.


"Nanti dulu, kakak cuma mau hapus videonya. Kamu tenang aja, nanti kakak balikin lagi kok!" ucap Victor.


"Ih jangan kak! Sini ah!" Aulia berupaya merebut kembali ponselnya, tetapi tidak berhasil.


Akhirnya Victor berhasil mengurungkan video tersebut dari kolom chat nomor Queen serta menghapus video itu dari galeri ponsel tersebut, sehingga Aulia pun tampak merengut kesal dan terus memukul-mukul tubuh kakaknya. Setelahnya, Victor langsung mengembalikan ponsel itu ke Aulia karena ia merasa sudah aman.


"Nih, kamu gausah cemberut gitu!" ucap Victor sembari mencubit pipi adiknya.


"Tau ah aku benci sama kakak!" ketus Aulia.


Victor tersenyum saja seraya menggelengkan kepalanya, sedangkan Aulia yang kesal memilih berbalik dan pergi dari sana meninggalkan kakaknya. Aulia pun masuk ke dalam kamar serta menutup pintu dengan keras, membuat Victor mendengus pelan melihatnya.


Braakk


"Hadeh, tuh anak kelakuannya masih kayak anak kecil. Tapi gapapa deh, yang penting gue udah berhasil hapus video itu. Jadi, Aulia gak akan terkena masalah nantinya," gumam Victor merasa lega.


Setelah itu, Victor langsung ikut pergi dari rumah itu karena harus menemui sahabatnya. Ya sudah lama memang Victor tidak bekerja seperti biasanya, sehingga kali ini ia berniat untuk kembali merampok ke sebuah tempat yang tepat.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2