Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 15. Menyatakan cinta


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Menyatakan cinta




Fritzy melongok lebar mendengar tebakan Alden, ia sedikit cemas karena Alden sudah berhasil menebak siapa ayah dari anaknya. Tetapi, Fritzy mencoba untuk tetap tenang agar Alden tidak curiga dan menyangka kalau tebakannya salah. Tentu Fritzy tak mau siapapun termasuk Alden mengetahuinya.


Sementara itu, Queen yang sedang mencari Fritzy serta Alden tak sengaja malah mendengar apa yang diucapkan Alden barusan. Ya Queen sontak langsung terperangah tak percaya dengan tebakan pria itu mengenai ayah dari anak di dalam kandungan Fritzy yang ternyata adalah Jeevan.


"Apa-apaan ini? Kenapa bisa Alden mengira Jeevan lah ayah dari anaknya Fritzy?" gumam Queen dalam hati.


Karena penasaran, Queen akhirnya maju mendekati mereka berdua untuk bertanya secara langsung. Sontak Fritzy dan Alden sama-sama terkejut melihat keberadaan Queen disana, mereka langsung menoleh dan tampak terperangah saat Queen semakin mendekat.


"Alden, apa yang kamu bicarakan barusan? Mengapa kamu mengatakan jika Jeevan suamiku adalah orang yang sudah menghamili Fritzy? Atas dasar apa kamu dapat berkata demikian?" ujar Queen.


Alden pun terlihat kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa, "Eee sa-saya cuma baru menduga aja nona, belum pasti juga kok kalau dugaan saya itu benar adanya. Nona jangan marah dulu ya sama saya!" ucapnya gugup.


"Ah tidak tidak, aku gak marah sama kamu. Tapi, tolong jelaskan mengapa kamu bisa menuduh Jeevan! Pasti ada alasannya kan?" ucap Queen.


"Ada sih nona, maka dari itu saya bisa mengira bos Jeevan lah pelakunya," ucap Alden.


"Yasudah, kamu jelaskan sekarang kenapa kamu menuduh suami aku pelakunya!" pinta Queen.


"Eee begini nona, bos Jeevan..." tiba-tiba ucapan Alden dihentikan paksa oleh Fritzy yang menyela karena tak ingin Alden membongkar semuanya.


"Gak mbak, itu gak benar. Dugaan Alden salah, bukan bos Jeevan ayah dari anak aku," sela Fritzy dengan tegas.


Seketika Queen dan Alden menatap tajam ke arah Fritzy dengan penasaran, mereka berdua yakin bahwa Fritzy tengah menyembunyikan sesuatu, sebab terlihat dari ekspresi wajahnya yang tampak sangat cemas. Queen pun mendekati Fritzy dengan harapan ia bisa mendapat jawaban dari wanita itu.

__ADS_1


"Lalu, siapa ayah anak kamu yang sebenarnya Fritzy? Jika memang dugaan Alden salah, pasti kamu bisa kan beritahu ke kami siapa ayahnya?" tanya Queen.


"Saya juga tidak tahu mbak, kejadian itu berlangsung begitu saja tanpa sepengetahuan saya. Seingat saya, saat itu saya diberi obat tidur," jawab Fritzy bohong.


Queen mengernyitkan dahinya, "Obat tidur? Berarti kamu diperkosa?" tanyanya lagi.


Fritzy mengangguk perlahan dengan wajah menunduk lesu, ia terpaksa harus berkata bohong di depan Queen dan Alden karena ia tak mau mereka mengetahui yang sebenarnya bahwa Jeevan adalah pelaku yang sudah menghamilinya. Fritzy juga tak ingin membuat hubungan Queen dengan Jeevan menjadi berantakan hanya karena anak di dalam kandungannya.


"Ya ampun, terus sampai sekarang kamu juga belum bisa tahu siapa ayah dari anak kamu itu?" tanya Queen memastikan.


"Iya mbak, aku gak tahu siapa yang menghamili aku. Aku juga gak ingat apa-apa soal malam itu, yang aku tahu pagi-pagi sekali aku terbangun di sebuah tempat yang asing," jawab Fritzy.


"Kamu jangan mengarang cerita Fritzy! Kapan kamu diperkosa? Mengapa aku bisa tidak tahu?" sentak Alden yang masih belum percaya.


"Aku tidak mengarang cerita, itu memang yang benar-benar terjadi. Kalau kamu tidak percaya, ya terserah kamu!" kesal Fritzy.


Akhirnya Alden terdiam, sedangkan Queen terlihat masih kebingungan dengan apa yang terjadi disini. Queen tak mengerti mengapa bisa Fritzy diperkosa dan tidak ada yang mengetahuinya sama sekali, bahkan seorang Alden yang selama ini ia kenal dekat dengan Fritzy pun tak mengetahui hal itu.




Disisi lain, Lova masih bersama Arul di sebuah tempat indah yang sebelumnya pria itu katakan padanya. Arul memang sengaja membawa Lova kesana untuk segera menyatakan perasaannya pada gadis itu, ya Arul kini sudah dengan yang apa yang dia rasakan dan ia ingin membuat Lova mau menjadi kekasih hatinya.


Lova pun tampak tersenyum ceria melihat betapa indahnya tempat tersebut, ia belum pernah datang kesana selama ini dan baru kali ini ia berdiri di tempat seindah itu. Gadis itu mendongak ke atas, menatap langit yang indah sembari merentangkan kedua tangannya dan tersenyum.


"Wow! Kamu terlihat sangat menikmati tempat ini nona, benar begitu kan?" ujar Arul.


"Tentu saja Arul, gue baru kali ini datang ke tempat seindah ini. Lu kenapa sih baru ajak gue kesini? Kenapa gak dari kemarin-kemarin coba?" ucap Lova.


"Ahaha, spesial nona karena saya ingin membuat nona berkesan," ucap Arul.

__ADS_1


Lova terkejut dan sontak menatap pengawalnya itu dengan bingung, "Maksud lu gimana dah? Berkesan apanya coba?" tanyanya heran.


"Ya berkesan nona, jadi nona tidak akan melupakan hal ini begitu saja nantinya," jawab Arul.


"Yaudah, gue gak bakal ngelupain ini semua. Kalo gitu gue mau duduk dong," pinta Lova.


"Baiklah nona, mari saya antar nona ke tempat duduk disana!" ajak Arul.


Lova mengangguk perlahan, lalu mereka berdua berjalan menuju tempat duduk yang ada di dekat sana. Namun, tiba-tiba saja Arul menggenggam tangan kanan sang nona dan menghentikan langkahnya. Sontak Lova terkejut, apalagi saat pria itu malah berlutut di hadapannya saat ini.


"A-apa yang lu lakuin sih Arul? Lu ngapain jongkok begitu di depan gue? Gausah aneh-aneh ya Arul, lepasin ah!" ujar Lova.


"Tenang dulu nona, jangan terlalu emosi seperti itu! Saya ingin berbicara sebentar dengan nona, karena ada yang ingin saya sampaikan pada nona," ucap Arul sambil tersenyum.


"Apa itu? Gausah bertele-tele, cepat katakan saja!" pinta Lova kesal.


"Saya mencintai kamu, nona. Saya mau kamu jadi kekasih saya dan kita hidup bahagia selamanya, apa nona berminat?" ucap Arul dengan santainya.


Deg!


Mata Lova terbelalak seketika, ia sama sekali tak menyangka jika Arul akan menyatakan cinta padanya di tempat ini sekarang. Sungguh Lova benar-benar bingung, ia tak mengerti harus berbuat apa untuk bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu.


"Lu bicara apa sih ah? Jangan bercanda deh, udah ah ayo kita duduk aja!" ucap Lova.


"Tidak nona, saya tidak sedang bercanda. Saya serius menginginkan nona untuk menjadi kekasih saya, sudah sekian lama saya menyimpan perasaan ini nona. Dan sekarang lah saatnya saya menyatakan semua ini pada nona," ucap Arul dengan tegas.


Lova kembali terdiam, jantungnya sudah berdebar kencang menatap tak percaya ke arah si pengawal yang masih saja berlutut di depannya itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2