
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Diterima atau tidak
•
•
Lova mengangguk perlahan, lalu mereka berdua berjalan menuju tempat duduk yang ada di dekat sana. Namun, tiba-tiba saja Arul menggenggam tangan kanan sang nona dan menghentikan langkahnya. Sontak Lova terkejut, apalagi saat pria itu malah berlutut di hadapannya saat ini.
"A-apa yang lu lakuin sih Arul? Lu ngapain jongkok begitu di depan gue? Gausah aneh-aneh ya Arul, lepasin ah!" ujar Lova.
"Tenang dulu nona, jangan terlalu emosi seperti itu! Saya ingin berbicara sebentar dengan nona, karena ada yang ingin saya sampaikan pada nona," ucap Arul sambil tersenyum.
"Apa itu? Gausah bertele-tele, cepat katakan saja!" pinta Lova kesal.
"Saya mencintai kamu, nona. Saya mau kamu jadi kekasih saya dan kita hidup bahagia selamanya, apa nona berminat?" ucap Arul dengan santainya.
Deg!
Mata Lova terbelalak seketika, ia sama sekali tak menyangka jika Arul akan menyatakan cinta padanya di tempat ini sekarang. Sungguh Lova benar-benar bingung, ia tak mengerti harus berbuat apa untuk bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu.
"Lu bicara apa sih ah? Jangan bercanda deh, udah ah ayo kita duduk aja!" ucap Lova.
"Tidak nona, saya tidak sedang bercanda. Saya serius menginginkan nona untuk menjadi kekasih saya, sudah sekian lama saya menyimpan perasaan ini nona. Dan sekarang lah saatnya saya menyatakan semua ini pada nona," ucap Arul dengan tegas.
Lova kembali terdiam, jantungnya sudah berdebar kencang menatap tak percaya ke arah si pengawal yang masih saja berlutut di depannya itu. Arul pun tak berniat melepaskan pegangannya pada tangan Lova, pria itu ingin terus melakukannya sampai Lova benar-benar memberi jawaban padanya.
__ADS_1
Tentu saja Lova terlihat kebingungan dan tubuhnya mulai gemetar akibat itu, Lova coba memandang ke arah lain sembari mencari cara untuk menjawab dengan benar. Lova tak ingin Arul kecewa jika ia nantinya berkata yang tidak sesuai dengan keinginan pria itu, karena jujur Lova pun menyayangi Arul.
"Bagaimana nona? Apa nona mau menerima cinta saya atau tidak?" tanya Arul sekali lagi yang disertai senyuman lebar.
"Gu-gue belum tahu Rul, gue masih bingung sama perasaan gue sendiri. Gue takut salah bicara dan malah bikin lu sakit hati, mending sekarang lu lepasin gue dulu deh!" ucap Lova.
"Tidak nona, saya akan menerima apapun keputusan dari kamu. Silahkan, jawab saja nona apa yang ingin nona katakan!" ucap Arul.
"Gak sekarang Arul, gue butuh waktu. Lu bisa kan kasih gue waktu?" pinta Lova.
"Tidak masalah, saya bisa beri waktu untuk nona memikirkan semuanya. Tapi, selagi menunggu jawaban dari nona, boleh kan kalau saya lebih dekat dengan nona?" ucap Arul sambil tersenyum.
Lova mengernyit heran, "Ya boleh boleh aja sih, lagian bukannya emang kita selalu dekat ya? Makanya lu bisa sampe jatuh cinta sama gue," ucapnya dengan penuh pede.
Arul tiba-tiba bangkit tanpa melepas genggaman tangannya, ia mendekat dan membela rambut nona nya dengan lembut. Lova pun semakin dibuat gugup dengan perlakuan pengawalnya itu, apalagi telapak tangan Arul yang mulus perlahan turun juga ke ceruk lehernya dan terus memberi usapan lembut.
"Hahaha, kulit kamu mulus banget sih. Saya jadi gak bisa berhenti buat usap kamu, apalagi wanginya tercium sampai kesini. Emang beda sih ya kalau orang cantik mah?" goda Arul.
Lova yang tersipu hanya menunduk malu untuk menyembunyikan wajah merahnya, sedangkan Arul terus saja menggodanya.
•
•
Queen tiba di rumahnya, ia terkejut karena teman-teman serta suaminya sudah berada disana menunggunya. Sontak Queen bergegas turun dari mobilnya, ia melangkah menghampiri mereka semua dan menyapanya satu persatu serta saling berpelukan untuk melepas rindu pada mereka.
Jeevan pun tampak sangat bahagia dapat melihat istrinya lagi, ia langsung beranjak dari tempat duduknya mendekati Queen dengan penuh rasa ceria. Jeevan sudah tidak sabar ingin segera menuntaskan gairah yang ia tahan sedari tadi itu, tapi tentu tak mungkin ia melakukannya saat ini.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa lama banget sih? Ini loh teman-teman kamu udah nungguin kamu daritadi, kasihan tahu mereka!" ucap Jeevan.
"Iya maaf ya guys, soalnya gue ada urusan tadi. Emangnya kalian datang dari kapan? Terus kenapa gak bilang gue dulu? Kalau tahu kalian mau datang, gue kan gak pergi," ucap Queen.
"Gapapa Queen, kita baru sebentar kok nunggunya," ucap Aulia.
"Iya Queen, yang gak sabar mah si Jeevan tuh. Dia daritadi nungguin lu terus dan nanyain lu mulu, udah kayak cacing kepanasan," sahut Nina.
"Lah kenapa jadi bawa-bawa saya? Saya mah santai aja walau Queen pulang lama," ucap Jeevan.
"Halah bohong aja lu! Gue tahu kok daritadi lu nyariin Queen terus, kelihatan dari ekspresi lu tau Jeevan," ucap Aulia.
"Udah udah, jangan pada ribut ah! Yuk kita masuk aja ke dalam! Lagian kenapa coba kalian malah pada disini aja gak masuk?" ucap Queen keheranan.
"Tau tuh si Jeevan gak bolehin kita masuk, gak jelas dia emang!" cibir Aulia.
"Ya saya kan jaga-jaga aja, takutnya kalau saya ajak masuk kalian ke dalam, nanti malah timbul fitnah. Saya kan laki-laki, gak enak lah kalau bawa tiga cewek sekaligus ke rumah saya," ucap Jeevan.
"Yeh alasan aja lu!" ujar Nina.
Queen terkekeh dan kemudian beralih menatap Dinda, ia mengernyit heran melihat Dinda yang tampak bersedih. Queen pun mendekatinya dan menggenggam dua tangannya yang halus, menatap wanita itu dengan memicingkan mata karena sangat penasaran.
"Dinda, lu kenapa? Kok lu sedih begitu sih? Apa lu ada masalah sama suami lu?" tanya Queen.
"Eee.." Dinda terlihat gugup dan bingung saat hendak menjawabnya, ia menunduk sembari menggigit bibir bagian bawahnya karena masih sedikit takut.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...