Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 39. Kebahagiaan tiada akhir (end)


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Bersatunya nona dan pengawal




Arnold yang kebingungan masih terus menatap penuh heran ke arah Arul, tetapi akhirnya ia tak memiliki pilihan lain dan mengikuti saja permintaan Arul untuk pergi dari sana. Ya Arnold pun pergi dengan terpaksa karena tak mungkin ia menolak perintah sahabatnya tersebut.


Sementara kini Arul kembali menatap wajah Lova yang masih tampak kecewa itu, ia langsung menaruh dua tangannya di pundak sang wanita dan berusaha menjelaskan pada Lova agar tidak salah paham. Namun, Lova jelas saja tak semudah itu dapat ditaklukan oleh Arul saat ini.


"Ish, lu gausah sentuh gue dulu sekarang! Lu mending jelasin deh, apa maksud perkataan cowok tadi? Kok bisa sih lu sekolah di Jerman? Katanya lu orang gak mampu yang ditugasin papa buat jaga gue, kenapa lu bisa sekolah disana?" ujar Lova.


"Eee tenang dulu ya nona, saya bisa jelaskan semua ke nona kok. Sekarang kita cari tempat yang enak buat ngobrol ya?" ucap Arul.


"Gausah, lu jelasin disini aja sekarang biar gue gak penasaran!" pinta Lova.


"Tapi nona, mana enak sih ngobrol hal penting sambil berdiri kayak gini?" ujar Arul.


"Bodoamat, gue minta sekarang ya sekarang! Lu tinggal jelasin aja ribet amat sih!" kesal Lova.


Arul pun coba merayu nona nya itu agar tidak terus marah padanya, ia mencolek dagu gadis itu dengan lembut dan sesekali tersenyum bermaksud menggodanya. Namun, Lova tak berubah dan tetap saja cemberut karena merasa kesal pada Arul. Tentu Arul dibuat kebingungan kali ini.


"Nona, ayolah jangan cemberut gitu terus dong non! Senyumnya yang manis mana coba?" goda Arul.


"Gak lucu! Gue gak mempan ya sama rayuan busuk lu itu, mending sekarang lu jelasin ke gue semuanya biar gue bisa tahu!" ucap Lova ketus.


"Iya iya nona, sini duduk dulu yuk!" Arul meraih tangan mulus gadis itu dan membawanya ke pinggir trotoar yang mana terdapat tempat duduk disana.


Kali ini Lova menurut, ia diam saja saat Arul menarik tangannya dan mengajaknya duduk di tempat yang tersedia. Meski begitu, Lova masih tetap merengut dan tak mau menatap wajah pria di sampingnya. Walaupun tangan mereka tetap saling menyatu dan menggenggam satu sama lain.


"Jadi begini nona, saya minta maaf ya kalau sudah bikin nona kesal? Tapi, saya gak ada maksud untuk bohongi nona kok," ucap Arul pelan.


"Maksud lu apa sih? Jelasinnya yang bener dong, gausah pake bertele-tele kayak gitu, kelamaan tau!" geram Lova.


"Iya maaf nona, saya akan jelaskan sesuai yang nona minta," ucap Arul.


"Yaudah, buruan lu jelasin dong jangan malah banyak basa-basi! Gue gak punya banyak waktu buat dengerin ocehan gak jelas lu itu, jadi cepetan lu cerita sekarang!" sentak Lova.


"Baik nona, jadi saya ini sebenarnya memang bukan orang tidak mampu seperti yang sering saya katakan ke nona selama ini. Tapi, saya justru lahir dari keluarga yang berada. Itu sebabnya saya bisa sekolah di Jerman," ucap Arul.


Lova mengernyit tanda tak mengerti, "Terus maksudnya apa lu malah kerja jadi pengawal gue? Apa lu sekarang udah jatuh miskin?" tanyanya heran.


Arul menggeleng dengan perlahan, "Bukan begitu nona, tapi saya diminta oleh papanya nona untuk mengawal nona kemanapun nona pergi karena beliau khawatir dengan nona," jawabnya.


"Ya kenapa papa harus sewa lu? Lu kan orang kaya, pasti udah gak butuh duit dong?" tanya Lova heran.


"Eee itu karena saya sebenarnya memang dijodohkan dengan nona, orang tua kita yang mengatur itu semua," jawab Arul ragu.


"Apa? Dijodohin??" Lova tersentak kaget seolah tak percaya dengan perkataan pria itu.

__ADS_1


Arul malah manggut-manggut sembari menatap wajah Lova, "Iya benar nona, itulah yang terjadi. Makanya saya diminta buat jagain nona, supaya kita juga bisa lebih saling mengenal," ucapnya.


"Ih apaan sih? Kenapa papa gak pernah cerita soal ini ke gue coba? Kok harus dirahasiain gitu loh kalau papa mau jodohin gue sama lu?" heran Lova.


"Emangnya kalau mereka jujur, apa nona langsung mau menerima perjodohan kita ini? Nona suka sama saya?" tanya Arul memancing.


Deg!


Lova terkejut dan terdiam saat itu juga, ia bingung harus mengatakan apa pada Arul. Ya Lova akui ia selama ini memang selalu merasa gugup saat berada di dekat Arul, tapi ia masih belum yakin sepenuhnya kalau itu adalah rasa cinta, sebab ia tidak bisa membedakannya.


"Kenapa diam nona? Ayo jawab dong!" pinta Arul seraya mendekat ke tubuh Lova.


"Ish, jangan dekat-dekat deh lu! Gue juga mau jawab ini, sabar napa!" kesal Lova yang langsung mendorong tubuh Arul menjauh darinya.


"Hahaha, kok pipi nona merah kayak gitu sih? Jangan-jangan nona emang udah mulai sayang ya sama saya?" goda Arul.


"Hah? Ngarang aja lu jadi orang, gue gak gitu kali!" elak Lova.


"Masa sih nona? Terus kenapa nona sampe merah kayak gitu?" tanya Arul yang terus menggoda nona nya itu.


"Umm, apaan sih? Udah ah jangan bahas itu!" kesal Lova yang langsung membuang muka.


"Ahaha, jadi gimana nih nona? Nona mau terima saya jadi jodoh nona atau enggak?" tanya Arul.


Lova kembali menatap wajah pria itu, cukup lama mereka saling bertatapan sampai tiba-tiba Lova bergerak mendekat dan mengecup pipi Arul tanpa aba-aba. Sontak hal itu mampu membuat Arul melongok lebar dan tak bergerak selama beberapa detik, Lova pun tersenyum melihatnya.


Cup!


Arul tersenyum dibuatnya, "Iya sayang, aku senang dengarnya," ucapnya sembari mengecup puncak kepala sang gadis.




Sementara itu, Jeevan membawa istrinya kembali pulang ke rumah mereka setelah dipastikan bahwa Queen tidak jadi pergi dari sana dan memilih tetap tinggal bersama sang suami. Ya itu semua demi anak yang tengah dikandung olehnya, sehingga Queen tak mungkin pergi meninggalkan Jeevan.


Sontak Aqila tampak bahagia melihat putranya dapat tersenyum bersama Queen sang istri, meski ia masih tidak menyukai sikap Jeevan yang mudah sekali mencoblos lubang perempuan di luaran sana sampai membuat Fritzy hamil. Namun, Aqila juga tidak tega jika melihat Jeevan bersedih.


"Queen, makasih banyak ya kamu udah mau kembali ke rumah ini lagi dan tetap sama aku!" ucap Jeevan.


"Iya sama-sama Jev, asal kamu mau janji sama aku kalau kamu gak akan mengulangi perbuatan kamu itu lagi! Dan ingat, kamu juga harus tanggung jawab atas bayi dalam kandungan Fritzy!" ucap Queen.


Jeevan mengangguk dengan wajah sendu, "Aku akan lakukan apa yang kamu minta Queen, meskipun itu tidak mudah buat aku. Jujur aja aku gak mau menduakan kamu sayang, tapi karena ini permintaan kamu ya aku terpaksa nurut," ucapnya.


"Udah deh, kamu gausah pura-pura begitu. Aku tahu kamu pasti senang kan bisa punya istri dua?" ucap Queen menggoda suaminya.


"Eee kalau dibilang senang ya namanya laki-laki pasti senang lah, tapi tetap aku gak tega sama kamu sayang. Ini kamu yakin minta aku buat nikahin Fritzy disaat kamu sedang hamil?" ucap Jeevan.


Queen mengangguk tersenyum sembari menaruh tangan di wajah suaminya, "Apa wajah aku kelihatan ragu sayang?" ujarnya.


Jeevan menitikkan air mata tak kuasa menahan sedihnya, ia sungguh menyesal telah melakukan hubungan terlarang dengan Fritzy kala itu yang sampai membuat Fritzy mengandung anaknya. Jika saja ia mampu menahan diri, pastinya semua ini tidak akan terjadi.

__ADS_1


"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu sayang, aku benar-benar nyesel telah melakukan semua ini! Kamu bebas menghukum aku sayang!" ucap Jeevan terisak.


Queen menggeleng perlahan seraya mengusap air mata di wajah suaminya, "Udah kamu gausah nangis kayak gitu, dasar cengeng! Aku kan udah maafin kamu, dan mau terima kamu lagi walau aku masih ngerasa sakit," ucapnya.


"Tuh Jev, kamu harus bersyukur punya istri kayak Queen! Dia udah cantik, baik lagi. Kalau mama jadi Queen, belum tentu mama bisa maafin kesalahan kamu," sela Aqila.


"Iya ma, aku emang beruntung banget bisa punya istri seperti Queen. Makasih ya sayang, kamu emang istri yang terbaik buat aku! Aku janji sama kamu, aku juga akan berubah dan berusaha jadi yang terbaik di hidup kamu!" ucap Jeevan tegas.


"Aku tunggu itu sayang, semoga kamu berhasil ya! Supaya nanti anak kita bisa bangga punya daddy seperti kamu," ucap Queen tersenyum.


"Nah, dengerin tuh Jeevan! Kamu harus bisa bikin anak kamu bangga nantinya!" sahut Aqila.


"Iya mama, aku kan udah bilang tadi kalau aku bakal berusaha yang terbaik. Makanya aku butuh dukungan dari mama dan kamu juga sayang!" ucap Jeevan sambil mencolek wajah istrinya.


"Kita disini bakal dukung kamu kok, tapi awas loh kalau kamu nyakitin Queen lagi! Mama akan jadi orang yang pertama buat hukum kamu!" ucap Aqila.


"Siap ma!" ucap Jeevan dengan lantang dan tegas.


Disaat mereka hendak lanjut melangkah ke dalam rumah, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumah itu dan membunyikan klakson yang membuat mereka terkejut. Sontak mereka reflek menoleh ke arah mobil itu secara bersamaan, dan kemudian sesosok pria turun dari sana lalu melangkah menghampiri mereka disertai senyuman.


"Papa?" lirih Jeevan yang menyadari bahwa papanya lah yang datang itu.


"Hahaha, iya ini papa. Tadi papa dapat kabar dari mama kamu, katanya Queen sedang hamil. Makanya papa buru-buru datang kesini deh buat ucapin selamat ke kalian," ucap Dean.


Jeevan pun melirik wajah mamanya, "Ma, mama kasih tahu semuanya ke papa?" ucapnya.


"Iya, mama bilang kalau Queen hamil dan rumah tangga kalian jadi makin harmonis. Itu aja kok, kenapa kamu ketakutan begitu?" ucap Aqila.


"Eee..." Jeevan malah dibuat salah tingkah dan bingung sendiri saat ini.


"Memangnya ada apa sih? Selain Queen hamil, ada hal lain yang papa gak tahu ya?" tanya Dean.


"Gak ada kok pa, semuanya baik-baik aja. Jeevan emang suka aneh anaknya, jadi wajar aja kalau dia begitu," jawab Aqila sambil tersenyum.


"Iya pa, makasih ya udah mau sempatin waktunya buat datang kesini. Aku senang banget papa bisa hadir di hari bahagia kami," ucap Queen.


"Sama-sama cantik, papa kan juga ikut ngerasa bahagia kalau kalian bahagia. Sekali lagi selamat ya atas kehamilan kamu Queen!" ucap Dean.


"Makasih pa," ucap Queen singkat.


"Oh ya, rencananya papa mau mengadakan acara selamatan nanti malam. Papa sudah undang semua rekan bisnis papa untuk hadir, kalian setuju gak sayang?" ucap Dean.


"Wah bagus tuh pa, aku sih setuju banget! Aku jadi bisa undang teman-teman aku nanti," ucap Jeevan.


"Iya pa, aku juga setuju. Makasih banyak ya pa udah mau perduli sama aku!" sahut Queen.


Dean tersenyum saja menatap wajah Queen serta Jeevan secara bergantian, baru kali ini ia merasakan kebahagiaan seperti ini saat bersama keluarganya. Akhirnya Dean pun merangkul serta memeluk Aqila, dan Aqila juga tampak merangkul Queen yang disusul dengan rangkulan pada Jeevan.


...~Selesai~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2