Menikah Dengan Mafia Sadis

Menikah Dengan Mafia Sadis
Bab 37. Biar saya yang bujuk


__ADS_3

#Terjebak Gairah Sang Mafia 3


Bagaimana solusinya?




Lagi-lagi Arul terkekeh dibuatnya, tapi Lova yang kesal terus memaksa pria itu agar turun dari mobil dan menemui pemilik mobil di depan sana. Lova khawatir jika nantinya terjadi sesuatu pada mereka, maka dari itu ia ingin Arul untuk memastikan semua agar aman dan tentram.


Arul pun terpaksa menuruti perintah nona nya, dengan hati-hati ia turun dari mobil dan berjalan perlahan mendekati mobil di depannya. Ia terus mengamati mobil itu sambil melangkah, ia heran lantaran pemilik mobilnya tak mau turun keluar dan malah berdiam diri saja di dalam sana.


"Itu ngapain sih orangnya malah diem aja disitu? Bukannya keluar temuin saya gitu, jadinya saya kan gak perlu hati-hati kalau tiba-tiba pas saya mendekat dia malah serang saya," gumam Arul.


"Heh Arul!" tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara panggilan tersebut.


"Loh nona? Ngapain nona pake ikut turun segala sih? Saya kan udah bilang, nona tunggu aja di dalam mobil biar aman!" ucap Arul.


"Gapapa, gue males aja nunggu sendirian di mobil. Lagian belum tentu juga dia orang jahat, ya kan?" ucap Lova.


"Ya, tapi non—" ucapan Arul terhenti saat ia mendengar suara seseorang menutup pintu mobil.


Lalu, Arul dan Lova kini sama-sama menoleh ke arah mobil tersebut. Mereka tercengang melihat seorang pria tampan berkacamata hitam turun dari mobil itu dan berjalan ke arah mereka, perlahan pria itu juga melepas kacamatanya dan menunjukkan wajahnya pada Arul serta Lova.


"Hai Rul! Wow keren banget sih kamu bro, sekarang udah bisa gandeng cewek secantik ini!" ujarnya.


Arul terdiam saja dengan wajah panik, seolah ia tengah mengkhawatirkan sesuatu setelah bertemu dengan pria tersebut. Sedangkan Lova terlihat heran dan terus memandang ke arah Arul, dia sungguh tak mengerti siapa sebenarnya pria di depannya itu dan apakah Arul mengenalnya.


"Rul, lu kenal sama dia?" tanya Lova yang berbisik di telinga Arul, walau harus sedikit berjinjit karena tubuh Arul yang lebih tinggi darinya.


"Eee nona balik ke mobil dulu ya? Saya harus bicara sama orang ini, gapapa kan?" pinta Arul.


Lova mengernyit penuh heran, "Ih apa sih? Emang dia siapa coba? Terus kenapa gue harus masuk ke mobil?" tanyanya.


"Udah, nona buruan masuk ke mobil sebelum terlambat!" ujar Arul.


Lova benar-benar tak mengerti dengan apa yang dimaksud Arul itu, namun pada akhirnya ia menyerah dan memilih menuruti perkataan Arul untuk kembali ke mobil. Tapi sebelum ia melangkah, pria dengan kacamata hitam itu lebih dulu menyapanya hingga membuat Lova berhenti melangkah.


"Hey! Kamu pasti pacarnya si Arul kan? Kenalkan, saya Arnold teman sekolah Arul dulu! Saya senang banget bisa ketemu kalian disini!" sapa pria itu.


Deg!


Jantung Arul seolah berhenti berdetak mendengar perkataan Arnold barusan, ia menatap ke arah Lova yang juga tengah terkejut setelah mengetahui siapa pria berkacamata hitam tersebut. Lova sungguh tak menyangka jika Arul dapat memiliki teman seperti Arnold yang tampak kaya raya.


"Jadi, lu ini temannya Arul? Kok bisa sih?" tanya Lova terheran-heran.


"Ya bisa dong, emangnya kenapa harus gak bisa? Kita sama-sama sekolah di Jerman dulu, tapi terus kita pisah cukup lama karena Arul mutusin buat tinggal di Indonesia," jelas Arnold.


"Di Jerman? Yang bener aja? Lo dulu sekolah di Jerman, Rul?" Lova tersentak kaget dan coba bertanya pada Arul untuk memastikannya.


"Eee..."


"Iyalah cakep, emangnya kamu gak tahu soal itu? Masa pacarnya sendiri sekolah di Jerman aja kamu gak tahu sih?" sela Arnold.


"Sssttt, kamu diam dulu deh Arnold! Jangan bicara apapun tentang saya di depan dia!" sentak Arul.


"Loh apa salahnya? Aku kan cuma mau kenalin diri ke pacar kamu, lagian kamu kenapa pake rahasiakan jati diri kamu sih Rul?" ujar Arnold.


"Itu kita bahas nanti aja, sekarang saya lagi sibuk dan saya harus antar dia pulang secepatnya. Kamu tunggu aja di cafe dekat sini, nanti saya susul kamu supaya kita bisa bicara banyak!" pinta Arul.


"Okay, tapi aku minta nomor telepon kamu dulu dong Arul. Gimana caranya aku bisa hubungi kamu nanti kalau gak punya nomornya?" ujar Arnold.


"Iya iya.." tanpa menunggu lama, Arul pun segera memberikan nomor teleponnya kepada Arnold dan meminta sahabatnya itu untuk pergi dari sana.


"Yaudah, makasih ya bro? Aku tunggu kamu di cafe dekat sini, tapi sebelumnya boleh kan aku kenalan sama pacar kamu ini?" ucap Arnold.


"Nanti aja kapan-kapan, udah sana kamu cepetan pergi! Saya akan jelaskan semuanya ke kamu nanti," ucap Arul sembari mendorong tubuh Arnold.


Arnold yang kebingungan masih terus menatap penuh heran ke arah Arul, tetapi akhirnya ia tak memiliki pilihan lain dan mengikuti saja permintaan Arul untuk pergi dari sana. Ya Arnold pun pergi dengan terpaksa karena tak mungkin ia menolak perintah sahabatnya tersebut.


Sementara kini Arul kembali menatap wajah Lova yang masih tampak kecewa itu, ia langsung menaruh dua tangannya di pundak sang wanita dan berusaha menjelaskan pada Lova agar tidak salah paham. Namun, Lova jelas saja tak semudah itu dapat ditaklukan oleh Arul saat ini.


"Ish, lu gausah sentuh gue dulu sekarang! Lu mending jelasin deh, apa maksud perkataan cowok tadi? Kok bisa sih lu sekolah di Jerman? Katanya lu orang gak mampu yang ditugasin papa buat jaga gue, kenapa lu bisa sekolah disana?" ujar Lova.


"Eee tenang dulu ya nona, saya bisa jelaskan semua ke nona kok. Sekarang kita cari tempat yang enak buat ngobrol ya?" ucap Arul.


"Gausah, lu jelasin disini aja sekarang biar gue gak penasaran!" pinta Lova.


"Tapi nona, mana enak sih ngobrol hal penting sambil berdiri kayak gini?" ujar Arul.

__ADS_1


"Bodoamat, gue minta sekarang ya sekarang! Lu tinggal jelasin aja ribet amat sih!" kesal Lova.


Arul pun coba merayu nona nya itu agar tidak terus marah padanya, ia mencolek dagu gadis itu dengan lembut dan sesekali tersenyum bermaksud menggodanya. Namun, Lova tak berubah dan tetap saja cemberut karena merasa kesal pada Arul. Tentu Arul dibuat kebingungan kali ini.


"Nona, ayolah jangan cemberut gitu terus dong non! Senyumnya yang manis mana coba?" goda Arul.


"Gak lucu! Gue gak mempan ya sama rayuan busuk lu itu, mending sekarang lu jelasin ke gue semuanya biar gue bisa tahu!" ucap Lova ketus.


"Iya iya nona, sini duduk dulu yuk!" Arul meraih tangan mulus gadis itu dan membawanya ke pinggir trotoar yang mana terdapat tempat duduk disana.


Kali ini Lova menurut, ia diam saja saat Arul menarik tangannya dan mengajaknya duduk di tempat yang tersedia. Meski begitu, Lova masih tetap merengut dan tak mau menatap wajah pria di sampingnya. Walaupun tangan mereka tetap saling menyatu dan menggenggam satu sama lain.




Sementara itu, Jeevan masih terlibat perbincangan dengan Fritzy di rumahnya. Mereka kini berada di halaman samping dengan pepohonan untuk menghindari Queen agar tidak semakin emosi, tampak sekali raut kekecewaan terlihat di wajah Jeevan saat menatap sekretarisnya itu.


Fritzy sendiri juga tampak gugup dan grogi ketika berduaan dengan Jeevan saat ini, jujur saja wanita itu merasa takut dan khawatir kalau-kalau Jeevan akan bertindak macam-macam dan diluar batas. Apalagi ia tahu kalau Jeevan adalah orang yang tempramen dan mudah sekali emosi.


"Fritzy, saya gak nyangka ya sama kamu. Bisa-bisanya kamu ceritakan semua ini ke mama saya, apa kamu sengaja ingin menjatuhkan hidup saya?" geram Jeevan.


Seketika Fritzy terkejut mendengar ucapan bosnya itu, "Apa bos? Sa-saya gak bermaksud begitu, saya terpaksa cerita sama nyonya Aqila karena beliau terus mencecar saya. Akhirnya saya tidak ada pilihan lain bos," ucapnya.


"Halah alasan aja kamu, kan bisa kamu karang cerita bohong sampai mama saya percaya! Kamu itu gak harus cerita yang sejujurnya dong!" ujar Jeevan.


"Ma-maaf bos, saya sudah terlanjur bingung tadi sewaktu nyonya Aqila menanyakan siapa ayah dari anak yang saya kandung ini. Jadinya saya terpaksa jujur sama beliau bos," ucap Fritzy gugup.


"Ah terserah lah! Sekarang hubungan saya dan Queen jadi berantakan gara-gara kamu!" ujar Jeevan.


"Sekali lagi saya minta maaf bos, saya janji akan berusaha membujuk mbak Queen supaya mau menerima bos lagi. Tolong jangan pecat saya dari pekerjaan ya bos!" ucap Fritzy memohon.


"Gimana caranya kamu bisa bujuk istri saya, hm? Tidak akan mudah untuk kamu melakukan itu, karena saya tahu karakter Queen seperti apa!" ucap Jeevan.


"Biar itu jadi urusan saya bos, apapun pasti akan saya lakukan demi keutuhan rumah tangga bos dan mbak Queen. Jujur saya juga gak mau kalau bos pisah dari mbak Queen," ucap Fritzy.


"Kalau memang begitu, seharusnya kamu bisa sembunyikan ini semua dari mereka! Kenapa kamu malah jujur coba ke mama saya?" kesal Jeevan.


"Kan tadi saya sudah bilang bos, saya tidak sengaja menceritakan itu semua. Saya benar-benar menyesal bos," ucap Fritzy tampak sedih.


"Okelah, saya juga gak bisa marah terus sama kamu. Saya tahu kamu pun butuh pertanggungjawaban dari saya atas bayi itu, jadi ini semua bukan murni salah kamu. Pasti itu kan yang kamu mau?" ucap Jeevan.


"Yasudah, kamu boleh pergi sekarang. Saya mau ketemu istri saya dan bicarakan mengenai ini semua," ucap Jeevan dingin.


"Baik bos!" ucap Fritzy menurut.


Disaat Fritzy bangkit dan hendak pergi, tanpa diduga Queen justru muncul tepat di hadapan mereka sembari menenteng tasnya. Melihat itu, sontak Jeevan makin dibuat panik dan khawatir. Pria itu bahkan langsung berdiri mendekat ke arah sang istri bermaksud untuk mencegahnya.


"Sayang, kamu mau kemana sih pake bawa tas segala? Kamu jangan ngada-ngada deh sayang!" ujar Jeevan panik.


"Aku mau pergi Jev, aku gak tahan kalau harus tinggal disini," ucap Queen singkat.


Deg!




"Mmhhh... ahhh.."


Suara lenguhan panjang terdengar indah dari dalam kamar tempat Dinda dan Erick berada, pasangan suami-istri itu tentunya tengah melakukan rutinitas mereka sebagai sepasang kekasih yang sudah menikah. Tentunya Erick amat menikmati momen ini, sebab sudah cukup lama ia tak mendapat jatah dari istrinya.


Pria itu pun terus memompa miliknya keluar masuk dari liang senggama milik sang istri, sesekali ia berteriak mengekspresikan kenikmatan yang ia dapatkan. Begitupun dengan Dinda yang juga tak mau kalah, mereka saling sahut menandakan kepuasan yang tiada tara.


Tak lama kemudian, akhirnya Erick mencapai puncaknya. Ia mengeluarkan semua lahar miliknya ke dalam rahim Dinda dan terus menekannya agar tidak ada satupun yang tumpah, mereka tampak terengah-engah dan lalu terjatuh di atas ranjang empuk tersebut sambil saling berpelukan.


"Haaahhh haaahhh, kamu luar biasa sayang! Aku benar-benar puas dibikin sama kamu, ini sungguh enak!" ujar Erick.


Dinda tersenyum mendengarnya, ia menaruh telapak tangannya di wajah sang suami serta mengelusnya perlahan. Bahkan Dinda juga bergerak maju dan lalu mengecup lembut pipi Erick tanpa rasa malu, hal itu membuat Erick merasa bahagia dan makin menyayangi istrinya itu.


Cup!


"Kamu juga luar biasa mas, aku gak nyangka stamina kamu masih sehebat ini. Kapan-kapan kita main kayak tadi lagi ya sayang?" ucap Dinda.


"Loh kok kapan-kapan sih? Sekarang kalau kamu masih mau lanjut juga aku siap kok, gimana sayang?" ucap Erick bersemangat.


"Ahaha, ih kamu tuh ya gak puas-puas! Aku masih capek tau mas, nanti aja ya?" ucap Dinda menolak.


"It's okay, aku gak akan paksa kamu sayang. Aku juga tadi cuma bercanda kok, gak mungkin lah aku minta jatah lagi dari kamu. Apalagi kamu sekarang lagi hamil kan sayang?" ucap Erick.

__ADS_1


"Iya mas, makasih ya atas pengertiannya? Aku senang banget punya suami kayak kamu, yang perhatian dan perduli sama aku!" ucap Dinda.


"Aku juga senang punya istri seperti kamu sayang, udah cantik terus jago masak lagi. Aku serasa jadi laki-laki paling beruntung tau sayang," ucap Erick.


"Ah bisa aja kamu mas, udah ah kita mandi bareng yuk! Badan aku udah lengket semua nih mas," ucap Dinda.


Erick langsung kembali bersemangat mendengarnya, "Oh okay, aku setuju sama ajakan kamu sayang. Ayo dah aku gendong kamu ya ke kamar mandi!" ucapnya.


"Haish, kamu giliran diajak mandi bareng aja langsung semangat gitu. Ingat loh mas, cuma mandi dan gak ada adegan kayak tadi!" ucap Dinda.


"Iya sayang iya, aku tau kok. Aku kan udah bilang tadi, aku gak akan paksa kamu kalau kamu emang gak mau. Aku juga gak tega lah karena kamu kan lagi hamil sayang," ucap Erick.


"Iya mas, aku percaya sama kamu. Yaudah, aku jalan sendiri aja bisa kok," ucap Dinda tersenyum.


"Beneran nih sayang? Aku gendong aja kali biar aman, mau ya?" bujuk Erick.


"Umm, ya oke deh kalo kamu maksa. Lagian emang enak sih digendong jadi gak capek," ucap Dinda.


"Hahaha.." Erick tertawa puas dan kemudian bangkit lalu mengambil ancang-ancang menggendong tubuh istrinya.


Barulah Erick membawa Dinda ke dalam kamar mandi, dan di dalam sana mereka melaksanakan mandi bersama tanpa mengulangi kegiatan panas mereka tadi.




Disisi lain, Aulia sudah menghubungi Nina dan meminta sohibnya itu datang ke rumahnya. Kebetulan Aulia memang masih bersedih setelah kejadian dengan kakaknya tadi, sehingga ia meminta Nina untuk datang menghiburnya sekaligus menemaninya disana sementara ini.


Tak butuh waktu lama bagi Nina untuk sampai di rumah sahabatnya itu, ia pun langsung melangkah menghampiri Aulia yang kebetulan sudah menunggu di depan pintu sesaat setelah turun dari taksinya. Tampak Nina begitu cemas ketika melihat kondisi Aulia saat ini yang terlihat begitu menyedihkan.


"Duh ya ampun Aulia! Lu kenapa jadi kayak gini sih cantik? Lu diapain emangnya sama abang lu itu? Dia mukul lu atau apa?" ujar Nina panik.


Aulia menggeleng pelan, "Enggak, dia cuma bikin hp gue rusak tadi. Makanya gue bete," ucapnya.


"Hah kok bisa sih? Kalau hp lu rusak, terus tadi lu ngabarin gue pake hp siapa dong?" heran Nina.


"Ya kan lu tau sendiri hp gue ada dua, ya gue pake hp satu lagi lah," jawab Aulia agak kesal.


"Oh iya ya, hehe gue sampe lupa. Terus emang kenapa hp lu bisa dirusakin sama abang lu? Lu ngelakuin apa coba?" tanya Nina penasaran.


"Gue tuh cuma mau ngirimin video perselingkuhan Jeevan ke Queen, eh malah dihalangi sama dia. Padahal tinggal sedikit lagi gue bisa bikin Queen lihat video itu," jelas Aulia.


Seketika Nina tercengang mendengar penjelasan Aulia barusan, "Apa? Seriusan si Jeevan selingkuh? Lu yang bener aja Aul, masa iya dia kayak gitu sih?" ujarnya tak percaya.


"Iya beneran Nina, makanya gue mau kirim video itu ke Queen. Eh malah dihalangin terus sama kak Victor, katanya takut gue kena masalah," ucap Aulia.


"Waduh gawat dong! Si Jeevan udah keterlaluan tuh, katanya cinta sama Queen tapi kok malah selingkuh sih! Tapi, videonya masih aman kan di hp lu Aul? Hilang apa enggak?" ujar Nina.


"Gak tahu deh, kan hp gue rusak gara-gara dia. Semoga aja gak ilang sih," ucap Aulia.


"Aamiin, yaudah yuk kita ke konter hp dekat sini buat servis hp lu yang rusak! Siapa tahu bisa dibenerin dan videonya bisa langsung lu kirim ke Queen," usul Nina.


"Boleh juga ide lu tuh, ayo dah kita cari konter dekat sini yang bisa benerin hp gue! Mumpung kak Victor juga lagi di luar," ucap Aulia setuju.


Nina manggut-manggut setuju, kemudian Aulia mulai menutup pintu serta menguncinya rapat. Mereka pun bergegas menuju mobil milik Aulia yang terparkir di halaman depan rumahnya, tapi sebelum itu mereka dibuat kaget saat sebuah klakson mobil terdengar dari arah luar pagarnya.


Tin Tin...


"Hah mobil siapa tuh Aul? Jangan-jangan itu abang lu ya?" ujar Nina.


"Eee gak tahu, tapi kayaknya bukan deh. Kak Victor gak punya mobil begitu," ucap Aulia.


"Ya terus mobil siapa dong?" tanya Nina heran.


Setelah diperhatikan lebih rinci, Aulia dapat menemukan sosok Rifan yang ternyata ada di dalam mobil tersebut. Sontak Aulia semakin panik melihat pria itu yang kembali datang kesana, padahal sebelumnya Victor sudah sempat mengusir Rifan dari rumahnya dengan alasan cemburu.


"Kayaknya gue tahu itu mobil siapa deh, dia kak Rifan kating kita di kampus. Tadi soalnya dia sempat datang kesini tapi diusir sama kak Victor," ucap Aulia.


"Apa? Ngapain coba kak Rifan datang ke rumah lu? Dia naksir sama lu?" tanya Nina keheranan.


"Ih ya gak tahu, coba aja lu tanya ke dia langsung nanti!" jawab Aulia.


Dan betul saja, tak lama kemudian Rifan turun dari mobilnya lalu menghampiri Aulia serta Nina di depan sana. Pria itu tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arah mereka berdua, Aulia pun amat bingung dan tak mengerti harus melakukan apa kali ini saat berhadapan dengan Rifan.


"Hai Aulia, hai Nina!" sapa Rifan dengan ramah disertai senyuman lebarnya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2