
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Minta pisah
•
•
Aqila melirik ke arah Fritzy sekilas dan kembali menatap putranya, "Kenapa kamu gak pernah bilang ke mama, kalau kamu sudah menghamili Fritzy?" ujarnya dengan nada ketus.
Deg!
Seketika jantung Jeevan berhenti berdetak mendengar pertanyaan mamanya, rupanya apa yang ia khawatirkan sedari tadi benar-benar terjadi kali ini. Mamanya itu memang sudah mengetahui mengenai Fritzy dan kini dirinya dalam bahaya, ia pun bingung harus bagaimana menjelaskan pada mamanya.
"Ma-maksud mama apa sih? Sejak kapan aku hamilin Fritzy? Lagian aku kan punya istri, mama ada-ada aja deh," ucap Jeevan mengelak.
"Kamu gausah ngelak Jeevan, mama sudah tahu semuanya dan Fritzy sendiri juga sudah mengaku kalau dia sedang mengandung anak kamu. Jadi, kamu gak bisa ngelak lagi!" tegas Aqila.
Sontak Jeevan spontan menatap ke arah Fritzy, ia merasa kesal pada wanita itu karena dianggap telah membocorkan semua rahasianya. Tangannya terkepal, menandakan betapa emosinya Jeevan saat ini kepada Fritzy. Tapi disaat yang sama, Aqila coba melindungi Fritzy dan menarik tubuh pria itu.
"Kenapa kamu tatap Fritzy kayak gitu? Kamu marah karena dia sudah bilang ke mama? Itu wajar kok, dia juga perlu mengakui semuanya demi kelangsungan hidup dia!" ucap Aqila.
"Tapi ma, yang dibilang Fritzy itu gak bener. Aku gak mungkin hamilin dia, ma!" ucap Jeevan.
"Itu bener kok nyonya, cuma bos Jeevan yang setubuhi saya selama ini, bahkan sampai berkali-kali," sela Fritzy.
Deg!
Lagi-lagi Jeevan dibuat terkejut dengan pengakuan Fritzy, ia sungguh bingung apa yang membuat Fritzy sampai berbicara seperti itu di depan mamanya saat ini. Dan kini Jeevan pun terpojokkan, ia sudah tidak bisa mengelak lagi setelah semua perkataan Fritzy barusan yang mengungkap rahasianya.
"Tuh kan, lebih baik kamu mengaku saja Jeevan kalau kamu memang menghamili Fritzy! Kamu itu benar-benar keterlaluan ya Jeevan, bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu!" ujar Aqila.
"Apa ma??" tiba-tiba saja Queen muncul dari dalam rumahnya dan bergerak menghampiri mereka dengan ekspresi kaget.
Ya sontak hal itu membuat ketiganya kompak menoleh ke asal suara, mereka tak menyangka jika Queen akan mendengar semuanya dan turut menyusul keluar menemui mereka. Tentunya Jeevan semakin terpuruk saat ini dan kebingungan, ia khawatir Queen terpancing emosi nantinya.
"Ma, yang mama bilang tadi itu beneran? Jeevan udah hamilin Fritzy?" tanya Queen pada mama mertuanya itu dengan wajah bingung.
"Eee iya begitu sayang, mama minta maaf ya karena mama gagal jaga Jeevan?" jawab Aqila lirih.
Queen sontak terkejut bukan main mendengar jawaban Aqila, ia menggeleng dan matanya mulai tampak berkaca-kaca menahan kesedihan serta kekecewaan terhadap suaminya. Queen juga menatap ke arah Jeevan, ia sungguh tak menyangka jika pria itu akan menyakitinya seperti ini.
"Queen, kamu dengerin aku dulu ya, kamu jangan salah paham dulu!" pinta Jeevan.
"Oh tenang aja Jev, aku gak akan salah paham kok! Aku tahu kalau hubungan kalian sudah lebih dulu terjalin sebelum kamu menikah dengan aku, iya kan?" ucap Queen tersenyum sakit.
"Gak gitu sayang, aku minta kamu tahan emosi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!" bujuk Jeevan.
"Apanya Jev? Hal yang gak diinginkan itu yang kayak gimana? Semuanya udah terjadi, ternyata dugaan aku selama ini benar ya, kalau anak yang dikandung Fritzy itu anak kamu. Aku benar-benar kecewa sama kamu, Jev!" ucap Queen emosi.
"Tenang dulu Queen, a-aku.." Jeevan berusaha membujuk istrinya dan meraih tangan wanita itu, tetapi dengan cepat Queen menghindar bahkan menepis tangan Jeevan.
"Gak ada ketenangan lagi Jev, aku mau kita pisah sekarang juga!" sentak Queen.
Deg!
Seketika Jeevan melotot lebar mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya itu, inilah yang selama ini ia takutkan jika Queen mengetahui tentang rahasia terbesarnya. Tentunya Jeevan tidak ingin berpisah dengan Queen yang baru saja menjadi istrinya, sebab Jeevan amat mencintai wanita itu.
"Kamu jangan asal bicara deh Queen! Masa iya kamu minta pisah dari aku? Padahal pernikahan kita aja baru seumur jagung loh," ucap Jeevan.
"Apa perduli aku? Kamu pikir aku kuat setelah dengar kabar ini? Kamu sudah menghamili wanita lain, terus kamu malah menikah sama aku. Dimana sih hati nurani kamu Jeevan?" ucap Queen.
"Ini semua bukan kemauan aku, Queen. Kamu kan tahu sendiri kalau aku sudah ingin bertanggung jawab dengan menikahi Fritzy, tetapi saat itu Fritzy malah minta aku buat nikah sama kamu," ucap Jeevan.
"Terus kamu nyalahin aku gitu karena hadir di kehidupan kalian? Kamu nyesel udah nikah sama aku, iya?" ujar Queen.
"Hah? Gak gitu sayang, ka-kamu tenang dulu dong jangan kebawa emosi!" bujuk Jeevan.
Dengan cepat Queen menepis tangan Jeevan yang hendak menyentuhnya, wanita itu tampaknya sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Jeevan dan sulit baginya untuk memaafkan pria itu. Jeevan pun terlihat panik serta kebingungan harus melakukan apa, dia tidak tahu lagi apa yang akan dia lakukan agar bisa membujuk istrinya itu.
"Jangan pernah kamu sentuh aku lagi Jeevan! Aku muak sama kamu, aku benci kamu!" sentak Queen.
"Sa-sayang, tahan emosi kamu ya sayang! Aku mohon sama kamu, kita bicarakan ini baik-baik dan jangan pakai emosi! Kamu tahu kan sesuatu yang dibawa emosi itu gak akan mujur," ucap Jeevan.
"Kamu kira aku bakal semudah itu buat gak emosi setelah tahu kalau suami yang aku cintai ini menghamili perempuan lain? Aku sakit hati Jev, aku gak kuat dengan semua ini. Kamu pikirin dong perasaan aku!" kesal Queen.
__ADS_1
"I-i-iya aku tahu Queen, tapi semua pasti ada jalan keluarnya. Gak harus dengan pisah sayang, tolong dipikirin lagi matang-matang ya!" ucap Jeevan.
"Keputusan aku udah bulat, aku gak mungkin pertahankan hubungan kita ini Jev. Sekarang aku mau pergi, dan kamu gak bisa tahan aku lagi!" ucap Queen tegas.
"Sayang, kamu—" Queen lagi-lagi mendorong tubuh Jeevan yang berniat mendekatinya.
Akhirnya wanita itu memutuskan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa dan diiringi isak tangis, sontak Jeevan berusaha mengejarnya untuk menahan Queen agar tidak pergi dari sana. Namun, tangan Aqila lebih cepat mencegahnya dan meminta Jeevan tetap disana.
"Mau kemana kamu Jeevan? Selesaikan dulu masalah kamu dengan Fritzy, baru kamu boleh susul istri kamu itu!" ujar Aqila.
"Tapi ma, rumah tangga aku dalam bahaya loh ma. Emang mama mau kalau aku dan Queen pisah cuma karena masalah ini?" ucap Jeevan.
"Apa? Cuma kamu bilang? Kamu menghamili wanita lain disaat kamu sudah punya istri, itu kamu bilang cuma? Kayaknya ada yang salah dari otak kamu Jeevan!" ucap Aqila.
Pria itu pun terdiam menunduk seolah menyesal perbuatannya terhadap Fritzy dan juga Queen.
•
•
Arul malah tersenyum melihat ekspresi Lova saat ini, entah kenapa ia justru merasa gemas kala Lova tengah marah padanya seperti sekarang ini. Gadis itu memang benar-benar membuatnya tergoda, sungguh Arul tidak sabar ingin mengungkap siapa dia sebenarnya dan meminang Lova menjadi istrinya agar ia bisa sepuasnya memiliki gadis itu.
"Non, kita ini mau langsung pulang ke rumah aja? Emang nona gak mau jalan-jalan lagi gitu sama saya? Kan seru tau nona kalau jalan berduaan, biar kayak pasangan kekasih," ucap Arul.
"Ogah! Gue pengen pulang aja, lu anterin gue sekarang dan jangan banyak omong!" pinta Lova.
"Sebentar aja deh non, abis itu baru kita pulang ke rumah nona ya?" bujuk Arul.
"Lo kenapa maksa banget sih? Emang lu mau bawa gue kemana lagi coba?" tanya Lova heran.
"Ada deh non, saya yakin nanti juga nona pasti suka kok sama tempatnya. Seperti waktu kemarin saya bawa nona ke taman itu, nona langsung terpukau kan?" ucap Arul.
"Ya iya, tapi masalahnya gue lagi gak mau pergi kemana-mana. Mending kita pulang aja deh, gue capek soalnya Rul!" pinta Lova.
"Okay, saya nurut deh sama nona kali ini. Tapi itu karena saya sayang sama nona dan saya gak mau maksa nona," ucap Arul.
"Ya bagus, udah buruan cepetin bawa mobilnya!" suruh Lova.
"Baik nona!" Arul menurut dan memacu mobilnya lebih cepat dibanding sebelumnya, tapi tak lama kemudian sebuah mobil malah menyalipnya dari samping dan berhenti secara mendadak tepat di depan mobil mereka.
Ciiittt
"Ih lu gimana sih? Nyetir tuh yang bener dong, atau lu sengaja ya mau celakai gue!" kesal Lova.
"Loh??" Arul terheran-heran.
"Apa loh loh? Lo mau gue pukul?" sentak Lova.
"Bukan nona, tapi itu loh masa nona gak lihat ada mobil segede itu di depan kita yang berhenti sembarangan? Karena itu makanya saya rem mendadak nona," tunjuk Arul.
"Hah itu mobil siapa sih? Ngapain coba dia berhenti disitu? Ngalangin jalan orang aja!" heran Lova.
Arul menggeleng sambil menatap wajah gadis itu, "Gak tahu nona, coba deh nona turun terus tanya langsung ke pemilik mobilnya!" ucapnya.
"Dih, kok gue? Kenapa gak lu aja? Kan lu pengawal gue, udah sana turun gih!" sewot Lova.
"Gak mau ah nona, saya gak berani. Gimana kalau misalnya mereka itu begal dan mereka mau ngambil harta kita? Yang ada saya bisa digebukin sama mereka loh non," ucap Arul.
"Haish, terus maksudnya lu pengen biar gue aja gitu yang dipukulin sama mereka? Sialan banget lu jadi bodyguard!" geram Lova.
"Hehe, bukan saya loh yang bilang non." Arul terkekeh kecil seraya meraih satu tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Ih ini ngapain nih lu pegang-pegang tangan gue?!" tanya Lova ketus.
"Ngecek aja nona, ada yang luka apa enggak gitu gara-gara kejadian tadi. Eh ternyata gak ada, tangan nona masih mulus banget," jawab Arul.
"Alasan aja lu! Bilang aja lu mau modus kan!" cibir Lova.
Lagi-lagi Arul terkekeh dibuatnya, tapi Lova yang kesal terus memaksa pria itu agar turun dari mobil dan menemui pemilik mobil di depan sana. Lova khawatir jika nantinya terjadi sesuatu pada mereka, maka dari itu ia ingin Arul untuk memastikan semua agar aman dan tentram.
Arul pun terpaksa menuruti perintah nona nya, dengan hati-hati ia turun dari mobil dan berjalan perlahan mendekati mobil di depannya. Ia terus mengamati mobil itu sambil melangkah, ia heran lantaran pemilik mobilnya tak mau turun keluar dan malah berdiam diri saja di dalam sana.
"Itu ngapain sih orangnya malah diem aja disitu? Bukannya keluar temuin saya gitu, jadinya saya kan gak perlu hati-hati kalau tiba-tiba pas saya mendekat dia malah serang saya," gumam Arul.
"Heh Arul!" tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara panggilan tersebut.
__ADS_1
"Loh nona? Ngapain nona pake ikut turun segala sih? Saya kan udah bilang, nona tunggu aja di dalam mobil biar aman!" ucap Arul.
"Gapapa, gue males aja nunggu sendirian di mobil. Lagian belum tentu juga dia orang jahat, ya kan?" ucap Lova.
"Ya, tapi non—" ucapan Arul terhenti saat ia mendengar suara seseorang menutup pintu mobil.
Lalu, Arul dan Lova kini sama-sama menoleh ke arah mobil tersebut. Mereka tercengang melihat seorang pria tampan berkacamata hitam turun dari mobil itu dan berjalan ke arah mereka, perlahan pria itu juga melepas kacamatanya dan menunjukkan wajahnya pada Arul serta Lova.
"Hai Rul! Wow keren banget sih kamu bro, sekarang udah bisa gandeng cewek secantik ini!" ujarnya.
Arul terdiam saja dengan wajah panik, seolah ia tengah mengkhawatirkan sesuatu setelah bertemu dengan pria tersebut. Sedangkan Lova terlihat heran dan terus memandang ke arah Arul, dia sungguh tak mengerti siapa sebenarnya pria di depannya itu dan apakah Arul mengenalnya.
"Rul, lu kenal sama dia?" tanya Lova yang berbisik di telinga Arul, walau harus sedikit berjinjit karena tubuh Arul yang lebih tinggi darinya.
"Eee nona balik ke mobil dulu ya? Saya harus bicara sama orang ini, gapapa kan?" pinta Arul.
Lova mengernyit penuh heran, "Ih apa sih? Emang dia siapa coba? Terus kenapa gue harus masuk ke mobil?" tanyanya.
"Udah, nona buruan masuk ke mobil sebelum terlambat!" ujar Arul.
Lova benar-benar tak mengerti dengan apa yang dimaksud Arul itu, namun pada akhirnya ia menyerah dan memilih menuruti perkataan Arul untuk kembali ke mobil. Tapi sebelum ia melangkah, pria dengan kacamata hitam itu lebih dulu menyapanya hingga membuat Lova berhenti melangkah.
"Hey! Kamu pasti pacarnya si Arul kan? Kenalkan, saya Arnold teman sekolah Arul dulu! Saya senang banget bisa ketemu kalian disini!" sapa pria itu.
Deg!
Jantung Arul seolah berhenti berdetak mendengar perkataan Arnold barusan, ia menatap ke arah Lova yang juga tengah terkejut setelah mengetahui siapa pria berkacamata hitam tersebut. Lova sungguh tak menyangka jika Arul dapat memiliki teman seperti Arnold yang tampak kaya raya.
"Jadi, lu ini temannya Arul? Kok bisa sih?" tanya Lova terheran-heran.
•
•
Aqila kini pergi menemui Queen di kamarnya untuk berupaya menenangkan wanita itu agar tak terbawa emosi, meskipun Aqila sangat memahami seperti apa sakitnya hati Queen saat ini. Tapi biar bagaimanapun, Aqila tentu tak ingin hubungan rumah tangga putranya hancur berantakan.
Ketika Aqila masuk ke kamar, tampak Queen yang tengah membereskan baju-bajunya itu ke dalam koper sambil menangis terisak, sungguh Aqila tak tega melihatnya dan seolah tahu betapa sakit yang dirasakan Queen setelah mengetahui kabar mengenai suaminya menghamili perempuan lain. Tentunya Aqila juga belum tentu bisa kuat jika hal itu dialami olehnya.
"Queen sayang!" Aqila menyapa menantunya itu dan mendekatinya sembari menyentuh pundaknya dari belakang dengan lembut.
Sontak Queen menoleh ke belakang dan tampak lah matanya yang berkaca-kaca, "Mama?" ujarnya lirih.
"Ya sayang, mama kesini cuma mau tenangin kamu. Mama tahu kamu pasti sedih dan sakit banget setelah tahu semua itu," ucap Aqila.
Queen menunduk dengan sedihnya, "Iya ma, makanya aku gak kuat lama-lama disini," ucapnya.
"Kalau mama boleh kasih saran, sebaiknya kamu tinggal dulu disini ya sayang? Kamu jangan pergi dalam keadaan emosi, nanti yang ada kamu malah kenapa-napa lagi!" ucap Aqila.
"Gak bisa ma, aku benar-benar kecewa sama Jeevan! Aku gak kuat kalau harus tinggal satu rumah sama orang yang udah sakitin aku!" ucap Queen.
"Iya mama ngerti, tapi ini semua kan demi kebaikan kamu. Apa kamu mau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi?" ujar Aqila.
Queen menggeleng pelan, "Enggak ma, tapi aku juga gak mau tinggal bareng Jeevan untuk sekarang ini. Aku harap mama ngerti ya dan biarin aku buat pergi?" ucapnya.
"Mama sebenarnya juga kasihan sama kamu sayang, tapi jujur mama gak pengen kalau hubungan kamu dan Jeevan berantakan," ucap Aqila.
"Tenang aja ya ma, itu kan belum tentu terjadi. Aku cuma mau tenangin diri dulu, siapa tahu nanti aku bisa berubah pikiran. Ya walau itu sangat sulit terjadi sih ma," ucap Queen.
"Iya deh, mama harap kamu bisa pikirin lagi keputusan kamu itu ya sayang!" ucap Aqila.
Queen mengangguk sambil tersenyum, "Yaudah, tapi sekarang aku pergi dulu ya ma? Aku cuma mau pulang ke rumah kok," ucapnya.
"Mau mama antar gak sayang? Biar mama gak cemas sama kamu," ucap Aqila.
Kali ini Queen menggeleng disertai senyum tipisnya, "Gausah ma, aku gak mau ngerepotin mama. Aku bisa pesan taksi nanti atau minta Jago untuk jemput aku disini," ucapnya menolak tawaran sang mama.
"Kamu yakin sayang? Jujur loh mama khawatir banget sama kamu, mama gak mau sesuatu terjadi ke kamu!" ucap Aqila panik sembari mengusap wajah serta rambut menantunya itu.
"Gapapa ma, aku kan udah besar dan aku bisa jaga diri sendiri. Mama disini aja sama Jeevan, sekalian bahas tentang kehamilan Fritzy. Kasihan dia ma, dia butuh tanggung jawab dari Jeevan loh untuk menghidupi anaknya," ucap Queen.
"Mama sih gak perduli sama Fritzy, mama justru kecewa sama dia karena bisa-bisanya dia menggoda Jeevan sampai Jeevan melakukan itu ke dia," ucap Aqila.
"Ma, aku rasa ini bukan kesalahan Fritzy deh. Tapi, Jeevan sendiri yang emang kepengen ngelakuin itu sama Fritzy. Aku tahu kok karakter Jeevan seperti apa," ucap Queen.
Aqila hanya bisa terdiam memandangi wajah menantunya itu, sebenarnya ia juga tak yakin kalau Jeevan melakukan itu karena terpaksa.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...