
Menikah dengan Papa
10
Acara pernikahan tertutup yang diadakan Arkana dan Tania selesai. Kini mereka sudah berada di dalam kamar yang sudah dihias sedemikian rupa cantiknya. Dengan taburan kelopak mawar yang dibentuk sepasang hati. Tania yang baru saja masuk ke kamar penganti itu berdecak kagum. Tak menyangka jika pernikahan sederhana yang mereka lakukan terasa bagaikan mimpi untuk Tania.
"Sayang," Arkana memeluk pinggang ramping Tania yang tengah menatap taburan mawar diatas ranjang pengantin mereka.
"Papa," Tania terkejut dengan perlakuan dadakan yang dilakukan Papanya yang kini sudah merangkap menjadi suaminya.
"Terima kasih,"
"Untuk apa Pa? Bukankah Papa tidak memiliki salah sama aku?" Tania menetralkan detak jantungnya yang secara tiba-tiba menggila. Ini kali pertamanya Arkana memperlakukan dirinya seperti ini. Mungkin saja karena mereka sudah menikah maka Arkana bisa lebih leluasa kepada dirinya.
"Karena kamu sudah mau menjadi istri Papa," Arkana semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Tania. "Papa sangat bahagia Sayang, Papa mencintai kamu," lanjut Arkana mendaratkan ciuman pada pipi chubby Tania.
"Sama-sama Pa, aku mau mandi dulu ya Pa. Gerah banget," Tania melepaskan pelukan Arkana pada pingganya. Jujur saja tubuh Tania sudah lengket dan juga sedikit lelah.
"Iya Sayang," Arkana menuju ranjang mereka. merebahkan tubuhnya sejenak untuk menghilang rasa lelah yang juga dirasakannya.
Tania keluar dari kamar mandi dengan piyama pink yang dia ambil dari dalam lemari Arkana. Ntah sejak kapan bajunya berpindah ke dalam lemari itu, yang jelas Tania tidak menyadarinya. Saat mengambil pakaian di dalam lemari Arkana, maka dari sanalah Tania sedikit terkejut, namun Tania tak bergitu memikirkannya.
"Papa nggak mandi?" tanya Tania yang melihat Arkana tak bergerak dari tempat tidur.
"Iya Sayang," jawab Arkana turun dari ranjang dan mengambil handuk yang diberikan Tania serta piyama yang susah di ambil Tania dari dalam lemari.
"Terima kasih Sayang,"
"Sama-sama Papa," jawabnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam Arkana maupun Tania belum juga masuk kedalam mimpi. Malam ini mereka tidak melakukan apa-apa di malam pertama mereka. Bukan Arkana tidak mau, hanya saja mulutnya terasa sedikit berat menanyakan apakah Tania mau melakukan malam pertama mereka atau tidak. Jika yang di tanya Arkana mala jawabanya jelas saja dirinya mau, bahkan sangat mau. Kucing dikasih ikan tidak akan menolak, sama dengan Arkana tidak tidak akan menolak jika Tania memberikan haknya.
"Papa, apa Papa sudah tidur?" tanya Tania melirik suaminya yang menatap langit-langit kamar.
"Belum Sayang, apa Sayang belum mengantuk?" tanya Arkana yang kini menatap istrinya.
"Aku nggak bisa tidur Pa."
"Kenapa? Biasanya Sayang cepat tidur kalau tidurnya bareng Papa. Bahkan membiarkan Papa terjaga sendirian," Sindir Arkana yang memang benar adanya. Istrinya itu jika sudah tidur dengan dirinya maka, langsung saja memasuki alam mimpinya.
"Pa, pengen peluk," Dengan menahan rasa malunya Tania meminta hal yang tak pernah dirinya ucapkan selama ini. Sungguh matanya kali ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
"Ya sudah geser sini," Tania dengan patuh menuruti ucapan Papanya yang langsung saja mendekat pada tubuh suaminya.
Arkana memeluk erat tubuh ramping Tania dengan tangannya yang kekar. Arkana memejamkan matanya kala merasakan kantuk yang tiba-tiba saja mendera dirinya begitupun dengan Tania yang juga langsung tertidur.
__ADS_1
\*\*\*\*
Pagi ini Tania diantar Arkana ke kampusnya karena mereka memang tidak ambil cuti menikah. "Belajar yang rajin Sayang, jangan bertingkah yang tidak-tidak. Ingat ada suami yang selalu berharap keberkahan dalam setiap langkah kamu," Arkana memegang tangan mungil istrinya.
"Iya Pa, terima kasih sudah mendo'akan yang terbaik untuk aku," Tania menampilkan senyum manisnya dan juga deretan giginya yang putih.
"Sama-sama Sayang,"
Tania menarik tangan suaminya lalu di ciumnya dua kali pada bagian telapak tangan dan satu kali pada bagian punggung tangan suaminya. Arkana membalas setiap ciuman pada tangannya dengan mencium kening Tania sedikit lama.
"Hati-hati Sayang, nanti jangan lupa hubungin Papa jika kamu sudah pulang,"
"Iya Pa, siap. Papa juga hati-hati kerjanya."
"Iya Sayang,"
Tania memasuki kampusnya dengan senyum mengembang di bibirnya yang sedikit tebal. Dengan langkah yang tidak terburu-buru akhirnya Tania sudah memasuki kelasnya.
"Pagi Tania, kenapa kemarin kamu nggak masuk Tania?" tayang Mesi menatap temannya itu.
"Heheh, aku ada acara keluarga Mesi makanya aku nggak masuk." jawab Tania bohong. Tidak mungkin Tania akan jujur jika kemaren dirinya tengah melangsungkan pernikahan bersama ayahnya. Yang ada kedua temannya itu akan banyak tanya yang membuat Tania akhirnya merasa pusing.
"Ohh gitu Tan, emang acara apa Tania?" tanya Mesi lagi.
"Anak sepupunya suami Aunty aku menikah Mes."
Bella dan juga Mesi hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu tak ada lagi pembicaraan dari mereka bertiga karena dosen sudah memasuki kelas mereka.
Kelas pagi ini berjalan dengan lancar, Tania dan kedua temannya berjalan menuju kantin. Seperti biasa mereka memesan bakso untuk Bella dan juga Mesi sedangkan Tania memesan nasi goreng telur dadar karena sudah beberapa hari ini Tani menginginkan nasi goreng itu.
Sedangkan di tempat lain, Arkana memasuki kantornya dengan senyum yang tidak pernah berhenti di bibirnya. Karyawan yang melihat senyum Arkana langsung saja terpana karena, selama ini bos mereka itu tidak pernah menampilkan senyumnya. Jika pun dirinya tersenyum hanya karena sebuah kebahagiaan yang dia rasakan.
__ADS_1
"Pagi Pak,"
"Morning Pak,"
"Selamat pagi Pak,"
Masih banyak lagi sapaan dari para karyawan Arkana, namun tak satupun ditanggapi Arkana, karena saat ini Arkana tengah membayangkan wajah cantik sang istri. Wajah yang tidak akan bisa tergantikan oleh wajah-wajah wanita manapun. Istrinya, hanya istrinya yang bisa memenuhi segenap rasa dalama jiwanya. Istrinya yang bertahtakan cinta tertinggi di dalam hatinya.
"Zaki masuk keruangan saya 10 menit lagi, ingat jangan sampai telat." pinta Arkana saat melihat sekretarisnya yang akan keluar dari ruangannya.
"Baik Pak," jawab laki-laki yang tak kalah tampaknya dari Arkana. Laki-laki yang seumuran Arkana namun sudah memiliki anak yang sudah duduk di bangku SMA.
•
•
"Permisi Pak," Sepuluh menit berlalu akhirnya kini Zaki sudah berada di dalam ruangan Arkana.
"Silahkan duduk,"
"Terima kasih Pak," Zaki mengikuti perintah bosnya. Duduk dikursi yang berada tepat di depan Arkana. "Maaf Bapak manggil saya ada perlu apa? Apa ada jadwal Bapak yang mau di majukan atau bahkan diundur?" tanya Zaki.
"Tidak, bulan depan kasih bonus pada setiap karyawan 10 persen tanpa terkecuali."
"Dalam rangka apa Pak?" Jujur saja zaki terkejut dengan ucapan bosnya. Tidak mungkin Arkana akan memberikan tambahan bonus kepada karyawannya jika tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas lakukan saja apa yang saya perintahkan."
"Baik Pak, apa masih ada yang perlu saya lakukan Pak?"
"Tidak, sekarang silahkan keluar dari ruangan saya." usir Arkana.
"Baik Pak,"
__ADS_1
TBC