MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
36


__ADS_3

Menikah dengan papa


36


Akhirnya keputusan Tania untuk berhenti kuliah sudah bulat dan hari ini hari pertama dirinya tidak akan masuk lagi ke kampus tempat dirinya menimba ilmu sebelumnya. Jika di bilang sayang, ya sayang karena waktu dua tahun itu tidak akan lama. Namun, Tania memilih lebih fokus pada rumah tangganya dan juga program hamil yang akan dirinya lakukan bersama Arkana sang suami.


Kehilangan putrinya membuat Tania sadar jika pendidikan tidak akan bisa mengantikan waktu satu detik bersama putrinya yang kini sudah tiada. Dirinya sungguh menyesal kenapa harus pergi kuliah hari itu, andai saja dirinya tahu maka dirinya tidak ada akan pergi kuliah dan akan menghabiskan waktu terakhirnya bersama sang putri. Putri yang amat di cintainya sepenuh hati jiwa dan raganya.


"Mas, mudah-mudahan kita segera di kasih bayi lagi ya sama Allah," lirih Tania menatap sendu suaminya.


Arkana mengelus lembut pipi istrinya. "Aamiin Sayang, insyaa Allah kalau kita terus usaha dan do'a pasti Allah kabulkan Sayang. Intinya sekarang kamu jangan banyak pikiran agar kondisi kesehatan kamu tidak menurun."


Tania menganggukkan kepalanya berulang kali, ucapan suaminya memang benar jika dirinya terus-terusan banyak pikiran tidak menutup kemungkinan tubuhnya akan sakit dan juga program hamilnya juga bisa tertunda. Tania tidak ingin itu terjadi, dirinya sudah tidak sabar dengan kehadiran sosok bayi mungil yang akan menghiasi rumahnya nanti.


"Iya Mas, aku akan jaga kesehatan dan juga aku nggak akan memikirkan apapun lagi. Aku sudah ikhlas untuk semuanya Mas, insyaa Allah." Senyum manis tercetak di bibir Tania.


"Bagus Sayang, Mas bahagia jika kamu kembali ceria seperti ini." Arkana mengelus pipi istrinya dengan bibir yang membentuk sebuah senyuman.


Tania mengantar Arkana sampai depan pintu rumah karena suaminya akan berangkat kerja. Hari ini Arkana ada meeting pagi sehingga Arkana tidak bisa sarapan pagi bersama istri serta keluarganya yang lain.


"Mas hati-hati ya?" ucap Tania saat mereka sudah sampai di pintu keluar.


Arkana menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang, terima kasih. Mas berangkat dulu." Arkana mendaratkan bibirnya tepat pada dahi sang istri setelah Tania mencium tangan suaminya dengan takzim.

__ADS_1


Tania kembali ke dalam rumah setelah mobil yang membawa Arkana sudah tak terlihat lagi. Wanita itu menuju dapur dimana Ibu serta Ayah mertuanya sudah menunggu kehadiran dirinya.


"Arkan mana Nia?" tanya Helena saat tidak melihat kehadiran putranya yang biasanya selalu bersama Tania saat menuju dapur.


"Mas Arkan sudah berangkat ke kantor Bu, pagi ini Mas Arkan ada meeting jadi Mas Arkana tidak bisa ikut sarapan bersama." jawab Tania sambil menggeser kursi untuk didudukinya.


Helena menganggukkan kepalanya. "Yasudah ayo kita lekas sarapan." ajak Helena yang diangguki Nino dan juga Tania.


Siangnya Arkana merentangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku setelah dua jam lebih mengerjakan pekerjaan yang tiada hentinya. Jam makan siang sudah tiba membuat perut laki-laki itu merasa lapar. Seperti biasanya makan siangnya sudah tersedia di meja sofa yang terdapat di ruangan.


Laki-laki berparas tampan itu lekas menuju sofa untuk mengisi perutnya yang sudah bergejolak minta diisi.


("Assalamu'alaikum Sayang,")


Saat ini Arkana dan juga istrinya tengah melakukan video call. Seperti yang biasa mereka lakukan jika kala itu Tania tidak masuk kuliah. Namun beda ceritanya untuk sekarang dan kedepannya.


("Ini Mas lagi makan Sayang, kamu sudah makan siang?") tanya Arkana lembut.


("Sudah Mas, baru saja aku selesai makan siang. Oh iya Mas, aku ganggu kamu nggak?")


("Nggak kok Sayang, kenapa emang?")


("Nggak kok Mas, aku hanya takut saja ngeganggu waktu kamu. Apalagi ini kamu juga sedang makan siang.") ujar Tania tidak enak hati. Meski pada saat waktu istirahat dirinya selalu mengghubungi suaminya, namun suaminya pasti sudah selesai makan siang, berbeda dengan kali ini.

__ADS_1


("Nggak apa-apa kok Sayang, lagian Mas senang kok ada yang nemanin Mas makan siang kek gini. Apalagi jika kamu memang berada di dekat Mas, Mas akan semakin senang.") jawab Arkana yang membuat Tania di sebrang sana tersipu malu.


Istrinya masih saja seperti itu, padahal mereka menikah bukan lagi satu minggu atau dua minggu. Ini sudah lebih dari satu tahun mereka menikah namun istrinya masih saja malu-malu kepada dirinya.


("Kamu bikin aku malu tau Mas,") rajuknya.


("Ngapain malu sih Sayang, lagian kita itu suami istri loh? Dan juga kita itu nikahnya bukan lagi satu atau dua mingguan ini sudah lebih dari satu tahun dan kita dekatnya juga bukan satu tahun atau dua tahunan loh Sayang, malah dari kamu masih kecil banget.")


("Ih Mas, sudah ahh kamu bikin aku malu saja.") tajuknya dengan memonyongkam bibirnya.


("Hahahaha, kamu lucu Sayang dan Mas bahagia kamu kek gini. Mas bahagia akhirnya kamu sudah kembali seperti biasa, Tania yang suka merajuk seperti ini. Intinya Mas bahagia banget Sayang.")


Tania di sebrang sana terharu mendengar ucapan suaminya. Beginilah dirinya sebelum kehilangan putrinya saat itu. Dirinya yang penuh dengan kecerian, tidak ada rasa sedih, mata bengkak di pagi hari, hidung merah ataupun bermenung sendirian.


("Alhamdulillah Mas, aku akan tetap seperti ini untuk seterusnya Mas,")


"Bagus Sayang, Mas setuju dengan ucapan kamu,")


("Iya Mas, gih makan nasinya Mas. Asik ngomong tapi nasinya nggak kamu makan.") ujar Tania.


("Heheh iya Sayang, nasinya pasti Mas makan kok kamu tenang saja.")


TBC

__ADS_1


__ADS_2