
Emil dengan Papa
17
Sekitar jam tigaan Tania sudah sampai di rumah. Cukup lama dirinya, Bella dan juga Mesi berkumpul bahkan mereka sampai mampir ke restoran yang baru beberapa bulan itu buka di dekat kampus mereka. Mengisi perut yang memang terasa sangat lapar.
Tania meletakkan tasnya diatas meja yang tersedia di dalam kamarnya. merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di kasur king size miliknya dan juga Arkana. Memejamkan matanya untuk beberapa saat karena Tania memang malas untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan disisi lain, Arkana sudah di jalan menuju rumah. Tak sabar dirinya bertemu sang istri yang amat dicintainya. Apalagi sekarang sudah ada buah hatinya di dalam perut istri tercintanya itu.
"Sayang," Kaki panjang Arkana melangkah dengan cepat menaiki anakan tangga sambil memanggil istrinya.
"Sayang kamu dimana?" Tidak ada jawaban sama sekali membuat Arkana semakin memacu laju kakinya agar lekas sampai di dalam kamar.
Ceklek!!!!
Arkana menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang tengah tertidur bahkan tidak membuka alas pada kakinya. Gegas Arkana mendekati sang istri dan melepaskan sepatu di kakinya.
"Sayang kamu cantik banget, Papa semakin jatuh cinta setiap detiknya Sayang," Arkana membelai pipi mulus Tania dengan jari-jarinya yang besar.
Tania yang tengah tertidur terusik kala merasakan elusan pada pipinya. Dengan perlahan mata itu terbuka dan melihat wajah tampan Arkana yang tengah tersenyum kepadanya.
"Papa, sejak kapan Papa pulang?" tanya Tania sembari berusaha untuk duduk.
"Baru saja Sayang, kenapa bangun hmm?" Arkana menatap wajah sang istri yang tampak amat cantik. Bahkan engan rasanya Arkana melepaskan pandangannya dari wajah istrinya.
Tania tampak mengangguk. "Papa rindu," rengek Tania mendapat senyum mengembang dari Arkana.
"Nah sini Papa peluk," Arkana merentangkan kedua tangannya. Memberi isyarat agar Tania masuk ke dalam pelukannya.
Dengan patuh Tania memeluk suaminya dengan erat. Bahkan tak lupa mengendus-endus bau maskulin suaminya yang amat memenangkan. "Papa harum banget aku jadi suka," Tania mendongakkan kepalanya menatap Arkana yang kini tengah tersenyum kearahnya.
"Benarkah Sayang?" tanya Arkana yang mendapat anggukan dari Tania.
__ADS_1
Arkana semakin memeluk erat tubuh istrinya dengan erat dan mendaratkam beberapa kali ciuman pada kepala sang istri.
"Gimana kabar dedek bayi Sayang? Dia nggak rewel kan hari ini?" Arkana melepaskan pelukannya pada tubuh mungil istrinya. Menatap wajah ayu yang membuat dirinya engan untuk beralih.
"Alhamdulillah dedek bayi anteng-anteng saja hari ini Pa," jawab Tania mengusap lembut perutnya yang buncit.
"Alhmadulillah Sayang," Arkana menyingkap baju gang dipakai Tania sehingga perut buncit sang istri jelas terpampang di depan matanya. Arkana menundukkan kepalanya hingga sejajar pada perut yang didalamnya terdapat buah hatinya. Memberikan ciuman sebanyak tiga kali pada perut itu membuat Tania kegelian namun Arkana tidak menghiraukannya.
"Sayang, baik-baik ya di dalam sana, jangan bikin Mama kelelahan ya, Nak? Tetap anteng saja di dalam sana ya Nak?" Arkana mengusap perut Tania dengan tangannya yang besar.
"Iya Papa, aku nggak akan bikin Mama capek kok," Tania menjawab dengan menirukan suara anak kecil membuat Arkana tertawa begitupun dengan Tania.
*****
"Sayang mau Papa buatin susu rasa apa? Karena rasa coklat sudah habis," tanya Arkana melongokkan kepadanya ke dalam kamar. Disana Tania terlihat tengah memainkan gawainya.
"Hmm, rasa stroberi saja Pa," jawab Tania mengalihkan penglihatannya kepada Arkana.
"Baiklah Sayang, apa mau yang lain Sayang?"
Tania kembali menatap pada layar pipih di tangannya. Semenjak hamil dirinya lebih suka membaca beberapa novel mengenai rumah tangga. Tak jarang Tania membaca novel yang isi di dalamnya rumah tangga yang hancur baik itu karena poligami, perselingkuhan bahkan tak jarang juga karena sebuah persahabatan.
Namun kali ini Tania tengah membaca novel dengan judul 'MENIKAH DENGAN MBAK-MBAK' karya Author Indah Yuliana. Menceritakan sebuah pernikahan paksa bahkan terkesan konyol lantaran seorang wanita yang menjadi tokoh utama di dalam cerita itu memaksa seorang pemuda yang umurnya terpaut beberapa tahun di bawahnya untuk menikah dengan dirinya. Bahkan yang lebih anehnya lagi wanita di tokoh itu sangat mementingkan egonya yang terlalu tinggi. Bahkan untuk mengakui cintanya pun di wanita amat sulit karena ego yang begitu di sanjungnya.
"Minum dulu susunya Sayang nanti lagi lanjut lihat HPnya," Arkana menyodorkan segelas susu rasa stroberi itu ke hadapan sang istri.
"Tanggung ini Pa, tarok saja dulu di atas nakas," pinta Tania yang memang sangat tanggung jika menghentikan membaca novelnya. Apalagi ini mau akhir dari babnya.
"Tidak Sayang, minum dulu susunya nanti masih bisa di lanjut. Atau HPnya Papa ambil dan jangan harap kamu bisa megang HP setelah ini?" ancam Arkana membuatnya Tania melenggos. Meski begitu Tania tetap mengambil susu ditangan suaminya laku meminumnya dengan segera.
"Sudah kan Pa?" Tania memberikan gelas kosong itu kepada Arkana lalu lanjut lagi melihat HPnya tanpa menatap Arkana terlebih dahulu.
"Kamu marah sama Papa, Sayang?" tanya Arkana yang memilih duduk di samping istrinya setalah meletakkan gelas kosong di atas nakas.
__ADS_1
"Nggak tahu," jawab Tania.
"Maafkan Papa, Papa ngelakuin itu juga demi kebaikan dedek Sayang, Papa nggak mau dia kenapa-napa," Arkana mengelus lembut perut istrinya.
Tania menatap suaminya, dirinya lupa jika saat ini tengah mengandung. Makanya Tania sedikit marah kepada suaminya karena dipaksa meminum susu dengan cara mengancam. "Tidak apa kok Pa, tapi terima kasih sudah buatin aku susu. Maafkan aku jika membuat Papa tersinggung," ujar Tania tidak enak hati.
Arkana menampilkan senyum manisnya. Memeluk erat pinggang sang istri sambil mendaratkan bibirnya pada perut buncit istrinya.
"Emang kamu lagi baca apa Sayang?" tanya Arkana melirik istrinya sekilas.
"Ini aku lagi baca cerita di Novel Toon Pa, ceritanya bagus-bagus banget. Apalagi ini nggak pake koin alias gratis. Bisa di unduh juga bisa di baca langsung pake data," Tania memperlihatkan gawainya kepada suaminya. Arkana merespon dengan menganggukkan kepalanya.
"Lalu sekarang kamu baca cerita tentang apa Sayang?"
"Ini aku lagi baca cerita tentang wanita yang menikah dengan brondong Pa," Arkana manyun mendengar ucapan istrinya. "Papa kenapa?" lanjut Tania bingung.
"Ngapain sih kamu baca cerita macan itu Sayang? Papa ngak suka ya kamu baca cerita yang nikahnya dengan anak kecil." kesal Arkana.
Tania mendelik kepada suaminya. "Lah emang Papa nggak sadar nikah sama anda kecil juga?"
"Isss, ini beda Sayang. Ini dunia nyata bukan halu."
"Lalu apa bedanya dengan aku yang baca cerita ini Pa? Ini hasil halu juga bukan dunia nyata kok?" ujar Tania.
"Ya cari cerita yang lain kek Sayang, yang wanitanya di bawah usia laki-lakinya bukan malah usia suaminya yang kecil," ujar Arkana yang malah merasa kesal.
"Ada juga kok Pa, tapi aku sekarang mau namatin cerita ini dulu Pa, lagian babnya juga nggak sampai 60an. Jadi nggak perlu waktu satu hari sudah selesai aku baca Pa. Nanti deh aku baca cerita 'SUAMI PILIHAN ABI' Pa. Disana laki-laki yang lebih tua dari istrinya. Katanya sih ceritanya juga bagus dan banyak juga pelajaran yang bisa di petik," jelas Tania.
"Terserah kamu lah Sayang,"
"Papa marah sama aku?" tanya Tania.
"Nggak kok Sayang, tapi bacanya jangan lama-lama ya? Ingat kamu tidak boleh begadang Sayang karena ada dedek bayi di dalam sini," Arkana mengelus perut istrinya.
__ADS_1
"Iya Pa, bentar lagi aku tidur kok," jawab Tania menampilkan senyumnya.
TBC