MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
37


__ADS_3

Menikah dengan papa


37 lima bulan berlalu


Waktu terus berlalu hingga kini tidak terasa sudah lima bulan sejak kepergian putri semata wayang Tania. Hari-hari yang dihabiskan Tania dengan cara mengabdi kepada suaminya dan juga melakukan program kehamilan yang sampai saat ini belum juga berhasil. Tidak lupa segala cara serta do'a sudah mereka lakukan, namun Tuhan belum juga memberi mereka kembali sebuah kepercayaan.


"Mas, aku ikut ke kantor Ya? Suntuk kalau dirumah terus," pinta Tania kepada Arkana yang tengah memperbaiki sedikit dasinya yang kurang rapi.


"Boleh, segeralah bersiap-siap karena lagi pagi ini Mas ada meeting mendadak." jawab Arkana dengan menampilkan sedikit senyumnya.


Tania lekas saja berlari menuju wallincloset untuk berganti pakaian. Dirinya sudah selesai mandi sehingga tidak perlu mengulang untuk kedua kalinya.


"Yok Mas," Tania menggandeng tangan suaminya yang tengah berdiri mematut tubuhnya di kaca.


"Ayo," tambah Arkana dengan semangat empat lima. Bahagia rasanya jika sang istri ikut dengan dirinya ke kantor sehingga rasa lelah yang dirasakan hilang seketika.

__ADS_1


Perjalanan yang tidak terlalu lama, akhirnya Tania dan juga Arkana sampai di gedung bertingkat itu. Memasuki gedung pencakar langit dengan bergandengan tangan dengan senyum yang menghiasi wajah mereka masing-masing.


Banyak sapaan yang mereka dapatkan dari karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua yang dibalas anggukan kecil oleh Arkana sedangkan Tania membalas dengan senyum lebar.


"Sayang, tunggu Mas di sini ya Mas akan meeting sebentar, jika kamu lelah kamu bisa istirahat di kamar," ujar Arkana mengusap kepala istrinya lembut.


"Iya Mas, kamu yang semangat meetingnya." Arkana menganggukkan kepalanya lalu setelahnya mendaratkan bibirnya tepat di dahi sang istri sebelum keluar dari ruangannya.


Sepeninggal Arkana, Tania memilih duduk di kursi kebesaran Arkana. Memutar-mutar tubuhnya di kursi goyang itu layaknya anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Hingga akhirnya dirinya lelah dan membuat Tania merebahkan kepalanya pada meja kaca hitam itu.


Sampai di ruangannya Arkana melihat sang istri yang malah tertidur di kursi kerjanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu istri kecilnya yang mengemaskan.


"Disuruh tidur di kamar malah tidur disini kamu Sayang," Arkana membelai pipi chubby Tania yang tengah tertidur pulas. Bahkan dapat Arkana dengar dengkuran halus Tania.


Dengan pelan Arkana mengangkat tubuh istrinya agar sang istri tidak tebangun dari tidurnya. Membawa tubuh kecil itu menuju kamar yang tersedia di dalam ruangannya.

__ADS_1


"Mas," lirih suara Tania saat Arkana baru saja meletakkan tubuh sang istri di ranjang.


"Kenap bangn Sayang, tidur lagi gih," pinta Arkana membuat Tania menggeleng. Lekas wanita itu mengambil posisi duduk di samping suaminya dan menyenderkan kepalanya pada bahu kokoh itu.


"Udah nggak ngantuk Mas," jawabnya.


"Tapi kamu masih menguap terus Sayang, kalau masih ngantuk tidur aja gih. Mas juga mau lanjutin kerja yang masih tertinggal." ujar Arkana yang lagi-lagi mendapat gelengan dari Tania.


"Nggak mau Mas, aku sudah nggak ngantuk lagi kok. Mungkin karena efek bagun tidur makanya menguap terus." jawab Tania.


"Baiklah kalau memang begitu Sayang, kamu mau tetap disini atau mau keluar bareng Mas?" tanya Arkana.


"Aku keluar aja Mas, lagian disini yang ada aku malah suntuk."


"Ya suda ayo."

__ADS_1


TBC


__ADS_2