MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
Mari Kita Menikah Pa


__ADS_3

Menikah dengan Papa


08


Semenjak Arkana mengungkapkan perasaannya malam itu kepada Tania, semenjak itu pula Arkana mengambil jarak dari Tania. Bukan Arkana marah karena cintanya di tolak namun Arkana akan berusaha melupakan rasa cintanya kepada Tania. Arkana tidak ingin karena perasaan sepihak yang dia miliki akan membuat hubunganya dengan Tania merenggang.


Tania yang paham akan perasaan Arkana hanya memberikan ruang bagi sang ayah. Emang Tania kecewa dengan ungkapan rasa yang diberikan ayahnya untuk dirinya, namun siapa yang bisa memilih kepapa siapa hati itu akan berlabuh. Begitupun dengan Tania yang kini hatinya bisa saja berlabuh kepada ayahnya. Takdir tidak ada yang tahu.


Pagi ini Tania diantar ke kampus oleh supir kantor. Karena memang di rumah Arkana tidak menyediakan supir. Lantaran dirinya yang biasa mengantar Tania kemampun dirinya ingin. Jika pun menggunakan supir kantor itu pada saat Arkana yang memang tidak bisa menjemput Tania.


"Terima kasih Pak," Tania turun dari dalam mobil melangkah menuju perkarangan kampus.




Tania mengikuti kelas dengan hati yang sedikit gelisah. Rasanya agak aneh karena tidak bertegur sama dengan Arkana. Baru kali ini Tania merasa hatinya gelisah memikirkan Arkana yang bahkan semalam tidak pulang. Bahkan Arkana juga jugaemebri dirinya kabar. Mungkin saja ayahnya itu menginap di rumah Oma dan Opanga untuk menenangkan hatinya yang tengah kacau.



"Kamu kenapa Tan, dari tadi aku perhatikan kamu gelisah terus?" tanya Bella yang sedari tadi memperhatikan pergerakan Tania.



"Tidak apa-apa kok Bell, mungkin hanya perasaan kamu saja," jawab Tania yang berusaha tersenyum.



"Oh ya sudah." Kembali Bella mengikuti pelajaran mereka.



Waktu istirahat Tania tidak ikut bersama kedua temannya ke kantin. Tania tidak merasakan lapar seperti hari-hari sebelumnya pada saat jam istirahat. Bahkan Tania semakin gelisah kala pesan yang dia kirim tidak di balas Arkana padahal sudah centang dua abu-abu.



"Papa kemana sih? Kok nggak balas chat aku?" monolog Tania sambil terus memperhatikan benda pipih itu.



("Assalamu'alaikum Oma, ada apa?") Tania mengangkat telepin dari Helena, ibunda Arkana.



("Wa'alaikum Tania, bisa kamu sekarang ke rumah sakit Sayang. Papa kamu kecelakaan Nak,") Hampir saja benda pipih ditangan Tania terjatuh lala mendengar Papanya kecelakaan.



("Tania, kamu masih di sana kan Sayang") lagi-lagi suara Helena terdengar membuat Tania tersentak dari rasa terkejutnya.


__ADS_1


("Iya Oma, aku akan segera ke rumah sakit. Assalamu'alaikum Oma,") Tania mematikan teleponnya. Dengan segera Tania berlari menuju jalan raya untuk menyetop taksi yang akan membawanya bertemu Arkana, sang ayah.



Kaki jenjang Tania akhirnya menyusuri koridor rumah sakit. Dengan anfas yang sudah ngos-ngosan akhirnya Tania sampai didepan ruangan Arkana. Terlihat diluar ruangan itu Helena dan juga Nino duduk di luar ruangan.



"Oma, Opa gimana keadaan Papa?" Tania menatap sepasang suami istri itu dengan sendu.



"Sabar Sayang, Papa kamu masih kritis. Berdo'a saja semoga masa kritisnya cepat berlalu." Helena memeluk cucunya dengan erat. Cucu yang dicintai anak kandungnya sendiri.



"Kenapa Papa bisa kecelakaan Oma? Bukankah kamaren Papa masih baik-baik saja? Apa kecelakaan ini karena diriku Oma? Apa karena aku tidak mencintai Papa makanya Papa kecelakaan Oma? Jika itu yang menyebabkan Papan kecelakaan aku bersedia menikah dengan Papa, Oma. Asal Papa bisa bahagai aku akan ikhlas menjadi istri Papa, Oma," Tania memeluk erat tubuh Helena. Jujur saja ucapan Tania membuat Helena terharu.



"Tidak Sayang, Papa kecelakaan memang sudah takdirnya Sayang. Kamu tidak perlu menyalahkan diri kamu sendiri." Helena mengusap punggung Tania yang masih memeluk dirinya.



"Tadak Oma, aku yakin Papa pasti kecelakaan gara-gara aku. Aku mau menikah dengan Papa, Oma. Aku bersedia Oma, bilang sama Papa jika aku akan menikah dengannya Oma." Raung Tania dipelukan Helena. Dirinya sangat menyayangi Arakana, meskipun laki-laki itu hanya ayah angkatnya. Ayah angkat yang rela memberinya kasih sayang yang begitu besar. Merawat serta menjaganya dengan cinta yang begitu besar.




"Iya Oma, aku ngak akan nangis lagi agar Papa tidak sedih. Papa harus tetap melihat aku bahagia, bukan begitu Oma?" Tania memaksakan senyumnya meskipun itu sulit. Namun dirinya harus tetap tersenyum agar Arkana tidak sedih melihat dirinya saat sadar nanti.



"Iya kamu bener banget Sayang, kamu tidak boleh menampakkan kesedihan kamu kepada Papa."



\*\*\*\*\*



Tania duduk di samping tempat tidur Arkana yang masih menutup matanya dengan rapat. Satu jam yang lalu Arkana sudah melewati masa kritisnya. Tania menatap sendu laki-laki yang membesarkan dirinya, laki-laki yang kini belum juga membuka matanya padahal sudah lebih dari 3 jam menutup mata dengan rapat.



"Papa kenapa belum bangun juga? Apa Papa tidak ingin melihatku lagi? Apa Papa tidak ingin menikah dengan diriku? Bukankah Papa mencintaiku?" Tania megang erat tangan Arkana. Mencium berulang kali tangan besar Arkana.



"Bangunlah Pa, mari kita menikah Pa. Papa mencintaiku bukan? Maka bangunlah Pa, kita wujudkan keinginan Papa untuk menikah dengan diriku. Aku tidak akan terpaksa menikah dengan Papa, aku ingin menjadi istri Papa. Papa bangunlah."

__ADS_1



"Aaarggghtttt!!" Erangan Arkana membuat Tania mendongak menatap wajah Arkana yang sudah mulai siuman.



"Papa, alhamdulillah Papa akhirnya bangun juga. Aku takut papa tidak akan bangun lagi dan meninggal aku sendirian." Air mata Tania kembali merembes dengan tidak tahu malunnya.



"Tania, Papa mencintai kamu Nak," Tania menganggukkan kepalanya.



"Ayo kita menikah Pa, aku mau jadi istri Papa." ujar Tania membut Arkana yang megang kepalanya lantaran pusing melepas begitu saja tangannya. Menatap putrinya dengan tatapan tidak menyangka.



"Kamu jangan main-main dengan ucapan kamu Tania, Papa tidak suka." protes Arkana yang tidak suaka dengan ucapan Tania yang menurutnya tidak serius.



"Tania tidak main-main Pa, aku mau menikah dengan Papa. Aku ingin melihat Papa bahagia,"



"Jangan paksakan diri kamu untuk menikah dengan Papa, Tania. Papa tahu kamu tidak mencintai Papa, maka dari itu jangan kamu paksakan keinginan yang yang bahkan kamu sendiri merasa berat memenuhinya."



Tania menggeleng beberapa kali. "Tidak Pa, aku ikhlas menikah dengan Papa. Jika yang Papa khawatirkan itu cinta, bukankah cinta bisa datang kapan saja? Bukankah ada Allah yang maha membolak-balikan hati hambanya?" Tania menatap Arkana dengan mata yang masih sedikit mengembun. "Mari kita menikah Pa," ulang Tania untuk kesekian kalinya.



"Kamu serius mau menikah dengan Papa, Tania?" tanya Arkana untuk memastikan.



"Iya Pa, aku bersedia menikah dengan Papa. Asal Papa bahagia aku akan melakukannya." jawab Tania mantap.



"Papa mencintai kamu Sayang, sangat!" Arkana merengkuh tubuh Tania dengan erat. Sungguh kecelaan yamg menimpa dirinya nyata membuat Arkana menjadikan Tania istrinya. Gadis cantik yang dia rawat akan terwujud menjadi pendamping hidupnya. Sungguh ini bencana yang membawa berkah. Hati Arkana berbunga-bunga tidak sabar untuk mempersunting Tania menjadi istrinya.



Sedangkan di pintu masuk Helena dan suaminya menatap haru sepasang ayah dan anak itu. Mereka bahkan tidak menyangkan jika Tania akan mengajak langsung Arkana untuk menjadi suaminya. Sungguh hati gadis cantik itu begitu lembut. Demi membuat ayahnya bahagia dia rela mengorbankan dirinya menikah dengan laki-laki yang berstatus ayah angkatnya itu.



TBC

__ADS_1


__ADS_2