MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
07


__ADS_3

Menikah dengan Papa


07


"Arkana, kalian nginap di sini malam ini kan?" Helena menatap anak serta cucunya bergantian. Jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam membuat Helena berharap malam ini mereka menginap di rumahnya. Sudah lama rasanya merasa tidak menginap di sana. Terakhir kali yang Helena ingat dua bulan yang lalu itupun karena Helena yang memaksa Arkana.


"Maaf Ibu, aku maupun Tania tidak menginap di sini untuk malam ini. Tapi aku janji malam minggu nanti akan meginap di sini Bu. Besok aku harus berangkat ke kantor karena ada rapat penting yang tidak bisa di undur. Lagian jika aku maupun Tamia menginap disini baju kuliah Tania juga tidak ada disini. Pagi nanti tidak mungkin aku akan kembali pulang dengan terburu-buru belum lagi mengantar Tania ke kampusnya Bu," Bukan Arkana ingin menolak permintaan Ibunya, hanya saja Arkana memang tidak bisa telat untuk samapi ke kantor besok lagi. Rekan bisnisnya kali ini terkenal akan kedisiplinannya. Telat sedikit saja kontrak kerja sama mereka bisa batal tanoa bisa bernegosiasi.


Wajah Helene di tekuk mendengar ucapan putranya. "Huhhh, baiklah. Tapi ingat ya


Arkana jika kalian janji akan menginap di sini malam minggu. Jangan bikin Ibu kecewa loh Arkan? Lagian juga sudah lama sekali kalian tidak menginap disini,"


"Iya Ibu, aku janji akan menginap di sini malam minggu nanti." jawab Arkana. "Emm, aku mau pamit dulu Yah, Bu karena ini sudah malam," Arkana menarik lembut tangan putrinya agar lekas berdiri.


"Iya kamu hati-hati di jalan, jangan bawa mobilnya ngebut-ngebut." peringat Helena yang diangguki Arkana.


"Oma, Opa, aku pulang dulu ya," Tania menghampiri pasangan paruh baya itu untuk menyalami tangan mereka masing-masing. Sebelum pergi Tania memeluk erat tubuh Helena sambil mendaratkan ciuman pada pipinya yang sudah mulai keriput.


"Iya hati-hati Tania,"

__ADS_1


"Terima kasih Opa," Nino hanga menganggukkan kepalanya.


****


Tania dan Arkana sudah sampai di kediaman mereka. Langsung saja anak dan ayah itu masuk ke dalam kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Apalagi mereka juga belum sempat mandi di rumah Helena tadi.


"Sayang boleh Papa masuk?" Arkana melonggokkan kepalanya ke dalam kamar Tania yang terbuka. Terlihat di sana Tania tengah selonjoran di atas ranjangnya sambil memainkan benda pipih di tangannya.


"Boleh Pa, masuklah," jawab Tania meletakkan benda pipih itu di sampingnya.


Arkana melangkah menuju Tania, duduk di samping anak gadisnya sambil menatap betapa indahnya ciptaan Tuhan yang ada di sampingnya itu. Wajah imut sang putri yang selalu menari-nari di dalam kepala Arkana setiap saat. Bahkan di kantor pun tak jarang wajah cantik Tania muncul membuat Arkana sering kali tidak fokus. Rasa cinta yang kian membuncah membuat Arkana tidak bisa mengendalikan dirinya. Rasanya sudah terlalu lama Arkana memendam rasa kepada anaknya sendiri.


Tania yang mendapat perlakuan seperti itu hanya membiarkan saja. Bahkan tidak ada sedikitpun Tania berfikir jika apa yang dilakukan Arkana saat ini berbeda dari yang sebelumnya.


"Sayang boleh Papa jujur?" Arkana menatap wajah Tania yang tampak bingung.


"Boleh, emang Papa mau ngomong apa?" tanya Tania.


"Emmm, maafkan ucapan Papa nanti jika sudah lacang sama kamu Tania. Maafkan ucapan Papa jika nanti membuat kamu syok atau bahkan lebih. Tapi ini sudah terlalu lama Papa pendam tanpa pernah sekalipun Papa ungkapkan sama kamu. Papa mencintai kamu Tania,"

__ADS_1


Dapat Arkana lihat reaksi anaknya yang diam mematung. Mungkin saja putrinya itu syok dengan pengakuan yang di katakan Arkana. Namun, Arkana juga tidak bisa lagi memendam perasaan yang kian hari makin bertambah.


"Papa tahu kamu kecewa mendengar pengakuan yang Papa katakan. Papa tahu kamu syok Sayang. Tapi apakah salah Papa jatuh cinta sama kamu Nak? Salahkan Papa jika hati ini malah memilih kamu untuk tempatnya berlabuh Sayang? Maafkan Papa yang jatuh cinta sama kamu Tania. Jujur saja berulang kali Papa menepis rasa ini sama kamu namun, semakin Papa berusaha semakin rasa itu menyakitkan bagi Papa. Rasa itu semakin menjadi setiap harinya Tania. Papa tidak bisa berbuat banyak, hati Papa hanya menginginkan Kamu." ungkap Arkana yang sudah mulai sedikit merasa lega karena perasaan yang selam ini dia tahan akhrinya keluar juga dari mulutnya.


"Apa karena itu juga Papa tidak menikah sampai sekarang?" tanya Tania tanpa menatap sang ayah.


Arkana menganggukkan kepalanya. "Kamu benar Tania. Itulah alasan mengapa Papa belum juga menikah di usai Papa yang sudah sangat matang. Papa sudah berusaha membuka hati untuk wanita lain namun semuanya gagal Tania. Hati Papa hanya untuk kamu, hati Papa seakan sudah terkunci hanya kepada satu wanita yaitu kamu Sayang. Maafkan Papa, maafkan Papa yang sudah lancang menempatkan perasaan ini sama kamu,"


"Kamu boleh kecewa sama Papa, Sayang. Tapi Papa minta jangan pernah berubah meski kamu tahu Papa mencintai kamu. Papa tidak akan memaksa kamu untuk menerima cinta Papa, Sayang. Kamu boleh memilih laki-laki manapun yang kamu mau, Papa tidak akan larang dan Papa tidak akan pernah memaksakan cinta itu hadir untuk Papa. Maafkan Papa,"


Tania menatap laki-laki yang sudah membesarkannya itu tengah menunduk. Segera Tania memeluk tubuh kekar Arkana sambil mengusap-ngusap punggung lembar itu dengan tangannya yang mungil.


"Papa tidak salah. Cinta itu memang tidak bisa di tebak kepada siapa dia akan berlabuh. Sekuat apapun Papa menyangkal jika cinta itu hadir dihati Papa maka, dia tidak akan bisa di tolak. Aku paham apa yang Papa rasakan tapi maafkan aku, Pa, aku tidak mencintai Papa, maaf jika jawaban aku membuat Papa kecewa. Tapi Papa tahu sendiri jika cinta itu tidak bisa dipaksakan, bukan?" Tania melepaskan pelukannya dari Arkana. Menatap wajah tampan ayahnya yang memang sangat memukau.


"Tidak apa Tania, Papa paham. Maafkan Papa, Tania,"


"Papa tidak perlu minta maaf karena Papa memang tidak salah sama aku. Jujur saja aku sedikit kcewa dengan ucapan Papa, tapi tidak apa kok Pa, aku paham." Tania memperlihatkan senyum manisnya tak lupa dengan deretan giginya yang putih.


Kecewa pun Tania percuma karena perasaan seseorang tidak ada yang tahu kepada siapa dia akan berlabuh. Contohnya saja seperti Arkana yang melabuhkan hatinya kepada anak angkatnya. Anak yang selama ini dia besarkan dengan penuh cinta malah menjadi tambatan hati bagi Arkana.

__ADS_1


TBC


__ADS_2