
Menikah dengan papa
31
"Boleh aku bawa pulang nggak Tan? Lucu banget bayi kamu," ujar Mesi saat Airi sudah membuka matanya dan mengeluarkan lidahnya berulang kali.
"Enak banget kamu tinggal minta doang Mesi, kalau mau ya nikah sono biar kamu juga punya bayi." sinis Bella membuat Tania tergelak. Kedua temannya ini memang tidak pernah berubah selalu saja mencari-cari cara agar adu mulut itu terjadi.
"Kok kamu yang sewot sih Bell? Lagian kalau Tania mau ya aku juga nerimanya dong, apalagi lucu kek gini siapa yang nolak." ujar Mesi.
"Kalian kenapa malah berdebat gitu sih? Tujuan kalian ke sini mau debat apa mau nengokin aku sama bayiku?" tanya Tania menghentikan Bella yang hendak membuka suara. Lagian jika dibiarkan akan semakin panjang masalah yang akan mereka buat.
"Ya nengokin bayi kamu sama kamu lah Tan, mau apalagi?" ujar Bella yang masih kesal dengan Mesi.
"Yasudah kalau gitu kalian nggak perlu berdebat lagi, lagian aku juga nggak akan kasih bayiku buat Mesi." ujar Tania.
Akhirnya mereka semua terdiam, sesekali Bella maupun Tania mengajak bicara bayi merah yang belum bisa apa-apa itu.
__ADS_1
"Tania sakit nggak sih ngelahirin itu?" tanahnya Mesin ingin tahu.
"Sakit banget Mes, serasa mau meninggal." jawab Tania jujur.
"Beneran Tania? Kamu nggak lagi bercanda kan?"
"Iya bener banget lah Mes, lagian buat apa juga aku bercanda akan hal seperti itu." jawab Tania.
"Kok aku jadi takut jika suatu saat hamil ya Tania? Ngebayangin kamu ngomong saja sudah bikin aku merinding." ujar Bella jujur.
"Meski awalnya kita ngerasain sakit, ngerasain usia yang seakan di ujung tanduk namun semua itu terbayarkan dengan kehadiran buah hati kita. Disaat suara tangisnya keluar pada saat itulah rasa sakit yang kita rasakan seakan hilang dalam seketika. Intinya itu melahirkan itu ada nikmatnya Mesi, Bell, kita jadi tahu bagaimana perjuangan Ibu kita saat melahirkan kita kedunia dulu." papar Tania.
"Sabar, ntar kalau kamu sudah nikah pasti akan di kasih keturunan sama Allah, insya Allah."
"Aamiin, terima kasih do'anya Tania," Tania merespon dengan anggukan.
Dua jam lamanya Bella maupun Mesi berkunjung ke rumah mereka, akhirnya kedua gadis itu sudah pergi dari rumahnya dengan meninggalkan kado yang mereka bawa untuk baby Airi.
__ADS_1
"Sudah tidur Airi, Sayang?" Arkana membawa nasi untuk sang istri, apalagi Arkana tahu jika ibu menyusui itu pasti merasa lapar tiap sebentar karena asinya sering di minum sang buah hati.
"Sudah Pa," jawab Tania.
"Yasudah kamu makan dulu. Lapar bukan?" Arkana duduk di samping sang istri yang menganggukkan kepalanya atas pertanyaannya.
"Iya Pa," jawab Tania.
"Yasudah, biar papa yang nyuapin kamu Sayang," dengan kasrah Tania mengangguk patuh.
Arkana menyuapi nasi yang dia bawa hingga nasi itu habis tanpa sisa. Piring kotor bekas makan Tania di letakkan Arkana diatas nakas samping tempat tidur.
"Sayang, papa nggak nyangka sekarang kita sudah memiliki baby Airi, bahkan sebelumnya papa juga tidak pernah bermimpi akan memiliki anak kandung," lirih Arkana menatap mata sang istri dengan tulus.
"Sama Pa, aku juga tidak menyangka akan menjadi seorang ibu di usia muda. Bahkan aku juga tidak pernah bermimpi akan menikah dengan laki-laki yang membesarkan aku selama ini. Indah ya takdir Allah, apa."
"Iya kamu bener banget Sayang, takdir Allah memang tidak akan bisa kita tebak." jawab Arkana setuju.
__ADS_1
TBC