
Menikah dengan Papa
38
Weekend ini Arkana dan Tania memilih untuk menghabiskan waktu di rumah saja tidak seperti minggu lalu dengan memilig pergi jalan-jalan.
"Mas mau puding nggak?" tanya Tania pada suaminya yang kini tengah selonjoran di kursi tidur.
"Boleh Sayang, tapi yang rasa coklat ya," Tania mengangguk serta memberikan dua jempolnya membuat Arkana tertawa.
"Baiklah Mas, aku buatkan dulu." Tania meninggalkan suaminya yang kembali menutup matanya dengan tangan yang menyangga belakang kepalanya.
Sesuai dengan permintaan suaminya, Tania membuatkan puding coklat yang di beri variasi buah jagung. Seperti dua bulan yang lalu dirinya buatkan untuk suaminya. Sepertinya dengan topping seperti itu sangat enak dan jangan lupakan jika jagungnya adalah jagung manis. Karena tidak semua jagung itu manis, ada yang rasanya hambar.
Lima belas menit berlalu kini Tania kembali menghampiri suaminya dengan puding coklat jagung di tangannya. Puding coklat jagung yang sudah di potong-potong mengikuti garis cetakan.
__ADS_1
"Mas pudingnya sudah bisa di makan ini, ayo duduk." Arkana yang tadi menutup matanya lekas membuka kedua mata itu lalu duduk di samping sang istri yang tengah merapikan puding dimeja kecil.
"Wahhh, kelihatannya enak banget ini Sayang. Mas boleh makan kan?" tanya Arkana yang sudah sangat ngiler melihat puding buatan istrinya.
Saat ini mereka tengah bersantai di taman belakang sambil menikmati pemandangan kolam serta bunga-bunga cantik yang di tanam Tania setelah mereka menempati rumah ini. Rumah yang memang baru di beli Arkana dua bulan yang lalu, dan rumah lama mereka sudah di jual Arkana untuk menambah uang beli rumah baru mereka.
"Bioleh dong Mas, makanlah." jawab Tania.
Arkana langsung saja mengambil satu potong puding jagung itu. Melahapnya dengan merapatkan kedua bola matanya untuk menikmati sensasi dari rasa puding jagung buatan istri tercintanya.
"Alhamdulillah Mas," jawab Tania.
"Ehh, Sayang kamu nggak makan pudingnya? Ini sudah habis setengah loh sama mas?" ujar Arkana menghentikan suapannya.
"Aku merasa kenyang saja melihat kamu makan lahap seperti itu Mas," jawab Tania jujur.
__ADS_1
"Nggak enak lah Sayang, kalau hanya Mas yang makan pudingnya sendiri." Arkana menyodorkan puding yang ada ditangannya pada mulut sang istri.
Meskipun Tania tidak berminat untuk memakan pudingnya, tetap saja suapan suaminya dirinya makan. Memang benar apa yang dikatakan suaminya jika puding itu sangat enak. Dapat Tania rasakan manisnya puding itu di tambah ada jagung yang menambah rasa lain dalam puding tersebut.
"Terima kasih Mas," Arkana menganggukkan kepalanya.
Pada akhirnya puding itu mereka makan berdua dengan Arkana yang setia menyuapi istrinya, hingga tidak ada sisa satupun di dalam cetakan puding tersebut alias habis tanpa sisa.
Sorenya Tania dan juga Arkana memilih untuk duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Sesuai rencana memang hari ini mereka tidak akan keluar dari rumah barang sekalipun. Apapun yang mereka inginkan kemaren siang sudah di beli Tania saat di supermarket.
"Mas, mudah-mudah bulan besok kita sudah dapat kabar bagus ya," ujar Tania menatap suami.
"Aamiin Sayang, semoga do'a kita kali ini diijabah Allah. Mas juga sudah tidak sabar menanti kehamilan kedua kamu Sayang." jawab Arkana sambil mengelus rambut istrinya.
"Iya Mas, aamiin semoga saja kali ini kita nggak kecewa seperti bulan-bulan sebelumnya." Arkana menganggukkan kepalanya. Dirinya juga berharap hal yang sama dengan istrinya.
__ADS_1
TBC