MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
Rumah Sakit


__ADS_3

Menikah dengan papa


28


Rumah sakit


Sudah bulan berlaku dan sekarang usia kandungan Tania sudah masuk bulan ke sembilan. Tinggal menunggu hari maka anak yang berada di dalam kandungan Tania akan lahir. Segala persiapan sudah matang sehingga mereka tidak perlu kocar-kacir memenuhi apa yang di butuhkan nantinya.


"Sayang lagi apa di dalam hm? Nggak alam lagi kita akn ketemu Nak, rasanya papa sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu Nak," Arkana berjongkok didepan perut buncit sang istri. Mengusap lembut perut itu dengan tangan besarnya.


"Ahhh," ringis Tania kala tangan besar Arkana bergerak di atas perutnya.


"Kenapa Sayang? Apa ada yang sakit?" tanga Arkana khawatir.

__ADS_1


"Tidak kok, Pa. Dedeknya nendang membuat aku terkejut," jujur Tania yang kembali mengunyah kerupuk sanjai di tangannya.


Arkana mengangguk paham. "Sayang jangan bikin Mama terkejut ya Nak. Lihatlah mama sekarang sedang menikmati keripik agar kamu bisa mencobanya juga Nak," kembali Arkana berbicara di depan perut Tania. Namun lagi-lagi tendangan dari sang buah hati membuat Tania kembali meringis. Meski begitu Tania tetap tersenyum karena begitu nikmatnya tendangan bentuk dari respon anaknya.


"Papa bisa tolong pijit tangan aku, pegal banget Pa," pinta Tania. Jujur saja tangannya beberapa hari belakangan ini sering merasa pegal belum lagi bagian kaki yang sudah membengkak.


"Buiklah Sayang," Arkana duduk di samping sang istri. Meraih tangan Tania yang kini sudah tampak lebih besar dari bulan sebelumnya. Semenjak hamil tubuh Tania mengalami peningkatan yang cukup besar.


Meskipun begitu cinta Arkana tidak pernah berkurang meski sedikit, bahkan rasa cinta itu semakin besar setiap harinya.


Tania, Arkana, Helana dan Nino kini tengah berada di ruangan Tania. Semalam Arkana membawa Tania ke rumah sakit lamaran istrinya sudah merasakan sakit pada bagian perutnya. Namun sampai kini belum ada tanda-tanda Tania akan melahirkan. Meski ada rasa sakit yang datangnya setiap satu jam sekali, membuat Arkana cukup khawatir. Maka dari itu Arkana memilih agar Tania tetap berada di rumah sakit. Takut jika sewaktu-waktu Tania kembali merasakan sakit sedangkan di samping mereka tidak ada dokter yang menangani Tania.


Sebelumnya dokter menyarankan Tania agar melakukan operasi, namun Tania menolak lantaran dirinya ingin melahirkan secara normal.

__ADS_1


"Sstttt, Papa sakit." keluh Tania memegang perutnya yang kembali sakit setelah satu jam berlalu.


"Papa panggilin dokter ya Sayang, mungkin saja kamu sudah mau melahirkan," tanpa menunggu jawaban istrinya, Arkana bergegas keluar dari ruangan sang istri untuk mencari dokter.


Dengan panik Arkana seperti orang kesetanan memanggil-manggil dokter maupun suster. Padahal di dalam ruangan Tania ada tombol yang bisa dirinya pencet tanpa harus keluar dari ruangan sang istri. Arkana masuk bersama dokter wanita yang sedari awal menangani Tania.


"Ini sudah sampai pada bukaan 5 ya Bu," ujar dokter itu Setelah melihat jalan keluar sang bayi. Tadi sebelum keluar dari ruangan Tania, memang belum ada tanda-tanda bukaan jalan lahir.


"Apa masih lama bayi kami lahir Dok,?" tanya Arkana melirik dokter itu. Jujur saja dirinya tidak sanggup melihat istrinya terus meringis sakit seperti ini. Andai saja bisa di gantikan, Arkana rela jika dirinya yang mengantikan rasa sakit sang istri.


"Lima pembukaan lagi maka bayi anda akan lahir Pak, bersabarlah ini tidak akan lama lagi," ujar dokter itu dengan memberikan senyumnya.


Arkana mengangguk pasrah, memaksa sang istri agar di oprasi dirinya juga tidak bisa. Tania sudah menegaskan jika dirinya mau melahirkan secara normal tanpa harus memasuki meja operasi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2