
Menikah dengan Papa
25
Hari ini sesuai janji Arkana beberapa bulan lalu kepada sang ibu untuk pindah kerumah Helena, saat usia kandungan Tania sudah memasuki tujuh bulan.
Arkana maupun Tania sudah di perjalanan menuju kediaman Helena dengan membawa begitu banyak barang. Mulai dari pakaian Tania maupun dirinya buku-buku kuliah Tania pekerjaan kantornya yang di susun tapi di dalam dus.
"Pak tolong bawakan barang-barang saya dan istri ke kamar semuanya ya. Dan setelah itu tolong rapikan semuanya ke tempatnya masing-masing ya Bi," pinta Arkana kepada Pak Jaka, Pak Beni dan juga Bi Sasa.
"Baik Den," jawab mereka bersama.
Arkana dan Tania memasuki rumah dengan bergandeng tangan. "Ibu, assalamualaikum,"
"Ehh, wa'alaikumsalam. Kenapa tidak bilang-bilang sama Ibu jika kalian akan kesini?" tanya Helena membawa menantunnya ke sofa yang didudukinya.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah hilang sama ibu kemaren jika aku akan pindah hari ini?" Arkana melirik Ibunya, padahal kemaren siang dirinya sudah mengabari sang ibu jika hari ini dirinya akan pindah bersama sang istri. Mumpung waktu libur sehingga Arkana bisa pindah ke rumah Helena. Jika bukan karena janjinya waktu itu, Arkana akan memilih untuk tetap berada di kediaman mereka.
"Oh iya ibu lupa Arkan. Maafkan Ibu yang sudah lupa, maklum saja ibu tidak lagi muda," ujar Helena membuat Arkama menggeleng lucu.
"Kamu mau makan sesuatu Sayang? Tadi ibu membuat agar-agar apa kamu mau?" tanya Helena menatap menantunya yang kini tengah menyender di bahu kursi.
"Boleh Bu, rasany pasti sangat enak," ujar Tania menganggukkan kepalanya. Membayangkan agar-agar itu membuat ludah Tania seakan mau keluar.
"Baiklah ibu ambilkan dulu," Helena beranjak dari duduknya menuju dapur untuk mengambil agar-agar yang sudah di buat tadi lagi.
Tak menunggu lama akhirnya Helena membawa satu piring agar-agar yang sudah di potong-potongnya.
"Terima kasih Bu," Tania meletakkan piring agar-agar itu diatas pahanya, menyantap sendiri agar-agar yang terasa sangat menyejukkan tenggorokannya.
"Papa mau?" tanya Tania mendapat gelengan dari Arkana. Laki-laki itu lebih memilih menatap sang istri yang sangat lahab memakan makanan bergoyang itu.
__ADS_1
****
"Dua bulan lagi cucu ibu akan lahir Sayang, bagaimana kalau besok kita pergi membeli beberapa pakaian untuknya?" usul Helena kepada sang menantu yang tengah menonton di gawainya.
"Boleh juga Bu, sudah lama juga rasanya aku tidak pergi ke mall bareng Ibu," ujar Tania terkekeh.
"Iya kamu bener Tania, kalau tidak salah terakhir kita ke mall bareng sebelum kamu menikah dengan Arkana," Tania menganggukkan kepalanya. Kerana memang benar ucapan Ibu mertuanya Tania tidak lagi pergi ke mall bareng Helena lantaran dirinya yang tidak di perbolehkan oleh Arkana. Laki-laki itu takut jika terjadi sesuatu kepada anak dan istrinya maka dari itu Arkana begitu posesif terhadap keduanya.
"Besok kita ulang lagu Bu, jangan ku kan yg about a bakal perawatan satu jam biar tubuh kita jadi rileks." ucap Tania.
"Baiklah ibu setuju, lagian ibu sudah malas sendirian kalau pergi perawatan. Kalau pun ada teman itupun pasti mulutnya tidak henti-hentinya berbicara malah membuat ibu muak," ungkap Helena jujur. Karena memang begitulah temannya yang tidak akan pernah berhenti berbicara. Bahkan kata-katanya sering kali di ulang-ulang membuat Helena jengkel sendiri dan memilih untuk pindah. Meski kurang sopan tapi Helena sungguh tidak sanggup mendengar ucapan temannya yang unfaedah itu.
"Sabar Bu," ujar Tania mengusap lembut tangan Helena yang sudah mulai mengeriput.
"Ibumah selalu sabar Tania," jawab Helena membuat Tania terkekeh begitupun dengan Helena.
__ADS_1
TBC
(author minta maaf ya, karena baru bisa up. soalnya author lagi sibuk di duta sehingga tidak bisa untuk mengetik)