MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
35


__ADS_3

Menikah dengan papa


35


Acara pemakaman Airi berjalan dengan lancar, bahkan cuaca amat terik dan cerah. Seluruh keluarga dan orang yang datang mengantar kini sudah pulang ke rumah mereka.


Sepanjang jalan menuju rumah, Tania hanya bisa termenung dengan kepergian putri kecilnya. Namun, disisi lainnya Tania berusaha untuk tetap ikhlas melepaskan kepergian putrinya dengan penuh ikhlas dan rasa sabar.


"Sayang kamu mau minum apa?" Arkana menyentuh bahu istrinya lembut kala istrinya itu hanya diam termenung.


"Aku nggak haus Mas," jawabnya menatap sekilas Arkana.

__ADS_1


"Hmm, baiklah. Apa kamu belum ikhlas melepas putri kita, Sayang?" tanya Arkana sambil meraih tangan sang istri dan menggenggamnya erat.


Tania menatap wajah suaminya dengan air mata yang kembali mengalir. Jujur saja rasanya amat sakit ditinggal putrinya yang amat di cintainya. Banyak kata andaian yang bersarang di kepala Tania. Andai saja dirinya tidak pergi kuliah mungkin saja dirinya bisa melepaskan kepergian sang putri, andai saja dirinya di rumah dan menghabiskan waktu bersama putrinya bisa saja itu sebagai obat bagi dirinya sebelum kepergian sang putri untuk selamanya. Andai saja dirinya tidak melanjutkan kuliah, mungkin saja dirinya hanya akan sibuk dengan putri kesayangannya, namun kini kata-kata itu tidak ada gunanya. Putrinya sudah pergi untuk selamannya, putrinya tidak akan kembali lagi meski menangis darah sekalipun dirinya.


"Jujur ini sangat menyakitkan bagiku, Mas, namun aku harus ikhlas agar putri kita tenang di sisi-Nya," jawab Tania sambil memeluk tubuh sang suami. Dirinya harus yakin jika di balik semua ini ada hikmah yang bisa mereka ambil nantinya.


"Iya Sayang, Mas yakin Allah mungkin saja menyiapkan rencana yang lebih baik dari ini semua." Arkana membalas pelukan istrinya tak kalah eratnya. Dirinya tidak ada bedanya dengan Tania, terluka akan kepergian putri kecil mereka.


"Mas, kalau aku berhenti kuliah gimana?" Pertanyaan itu terlontar spontan dari mulut Tania. Toh, dirinya kini hanya memikirkan rumah tangganya dan melakukan program hamil kedua.


"Kenapa? Bukankah dua tahun lagi kamu wisuda Sayang?" tanya Arkana bingung kepada sang istri yang tiba-tiba saja meminta untuk berhenti kuliah.

__ADS_1


"Iya aku tahu Mas, tapi aku merasa lebih baik berhenti saja kuliah dan kita akan program hamil anak kedua Mas," ujar Tania dengan lirih.


Arkana mengangkat tangannya lalu menyentuhkan pada wajah sang istri. Mengelusnya lembut dengan penuh kasih sayang. "Apa tidak sayang jika kamu berhenti di tengah jalan begini Sayang?" tanya Arkana. Dirinya tidak mengapa jika Tania berhenti kuliah, toh dirinya juga tidak memaksa sang istri untuk melanjutkan studinya.


Tania menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah Mas, aku hanya mau menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk suami dan anak-anak kita nantinya," jawab Tania dengan menipiskan bibirnya.


"Apa nantinya kamu tidak akan menyesal Sayang?" tanya Arkana memastikan. Dirinya tidak mau Tania menyesali keputusannya ini di kemudian hari.


Tania menggeleng mantap. "Insyaa Allah aku tidak akan menyesal dengan keputusanku, Mas," jawabnya mantap yang membuat Arkana menganggukkan kepalanya. Jika memang itu yang diinginkan Tania, dirinya hanya bisa ngikut tanpa protes sedikitpun.


TBC

__ADS_1


__ADS_2