MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
Hadiah


__ADS_3

Menikah dengan Papa


14


Tania menuju kelasnya bersama Mesi yang kebetulan bertemu dengannya di Koridor kampus. Tidak ada Bella karena Mesi juga tidak tahu apakah Bella sudah berangkat ke kampus atau belum. Biasanya mereka akan berangkat bareng, namun kali ini Bella tidak memberi kabar kepada Mesi.


"Tan, kamu sudah siap tugas dari dokil?" tanah Mesi.


"Dokil?" tanya Tania bingung yang memang tidak tahu singkatan yang sering di ucapkan Mesi maupun Bella.


"Dosen kiler, hahahah," Mesi menjawab dengan tergelak, diantara mereka bertiga memang Tania yang tidak paham dengan kosakata singkatan yang sering dia dan Bella berikan.


"Ooo dosen kiler Mes, kirain aku apa tadi. Kalau itu saudah aku selesain beberapa hari lalu. Memang wajib ya hari ini di kumpul Mes?"


Mesi menganggukkan kepalanya. "Tahulah kamu gimana tabiat itu dosen, tanpa tahu waktu itu tugas harus sudah berada di atas mejanya. Gimana sebelum masuk kelas kita antar dulu ke meja itu dosen?" tawa Mesin yang diangguki Tania. Lagian waktu masuk mereka masih tinggal beberapa menit lagi.


Mesi dan Tania meletakan tugas mereka pada tumpukan buku yang juga sudah berada di atas meja dokil. Bahkan pada bagian atas terdapat nama Bella yang mereka yakini gadis itu sudah berada di dalam kelas.


"Siang Bella," Sapa Mesi dan Tania bersamaan.


"Siang Mes, Tan," balas Bella menatap kedua temannya yang kini tengah berjalan menuju meja mereka.


"Kamu sudah dari tadi tiba Bel?" tanya Mesi.


"Belum Mes, palingan 5 menit lalu aku nyampe. Tadinya aku mau bareng kamu ehh tau-taunya kuota aku habis jadi ya nggak masuk pesan aku," Bella menyodorkan benda pipih ditangannya kepada mesi. Memperlihatkan jika dirinya sudah mengirim pesan pada gadis itu namun belum masuk sama sekali lantaran kuota yang sudah habis total.


"Ehh, kamu jalannya kok gitu sih Tan?" Bella yang melihat cara jalan Tania yang sedikit aneh menatap temannya itu binggung.


"Eh iya Tan, aku baru ngeh kalau cara jalan kamu beda dari biasanya. Kamu kenapa?" Mesi juga menatap bingung temannya itu. Tak bisanya Tania jalan seperti orang sakit seperti ini.


"Ehh tunggu-tunggu, jalan kamu seperti---"


"Aku kemaren jatuh di kamar mandi Mesi, Bell makanya jalan aku kek gini. Mana aku tajuhnya kaki aku masuk bhathup lagi, kebayangkan gimana aku jatuhnya? Makanya sekarang jalan aku kelihatan aneh sama kalian," jawab Tania memotong ucapan Bella. Tidak mungkin Tania akan berkata jujur jika dirinya semalam tengah melakukan hubungan suami istri dengan Arkana. Lebih baik untuk sekarang dia memilih diam, tapi suatu saat nanti Tania pasti akan berbicara jujur kepada kedua temannya itu. Mencari waktu buang tepat untuk menentukan tahu mereka, atau bahkan nanti di saat mereka sudah lulus dari kuliah.

__ADS_1


Bella memicingkan matanya menatap Tania, dirinya kurang percaya dengan ucapan Tania. "Kamu nggak lagi bohongin kita 'kan Tan?" tanya Bella menatap Tania dengan pandangan menyelidik. "Pasalnya aku tahu alasan kenapa seorang wanita bisa jalan kek gini jika dia masih perawan?"


"Maksd kamu apaan Bell?"


"Kalau wanita perawan setelah melakukan hubungan suami istri pasti besoknya persis kek kamu ini Tan. Jujur saja kamu itu kenapa? Jangan bilang---"


"Kamu kalau ngomong jangan ngaco deh Bell, lagian aku sudah jujur jatuh di kamar mandi. Lagian kamu mikir aku habis ngelakuin itu? Sama siapa? Orang aku belum nikah kok," ujar Tania. Namun di dalam hatinya dirinya terus meminta maaf kepada Allah dan juga suaminya. Karena kini belum saatnya Tania untuk berkata sejujurnya kepada mereka bahkan orang lain sekalipun.


"Emmm iya juga sih, maafkan aku yang sudah berfikir yang tidak-tidak sama kamu Tan,"


"It's ok, tidak apa Bell, lagian aku paham kok kenapa kamu sampai ngomong kek gitu. Apalagi ini kali pertama aku jalan kek gini kamu lihat bukan?" Bella hanya menganggukkan kepalanya.


Akhirnya dosen masuk kedalam kelas mereka menghentikan percakapan mereka. Tania kembali duduk di bangkunya begitupun dengan Bella dan juga Mesi.


****


"Tania ngemall yuk?" ajak Bella saat mereka sudah sampai di perkarangan kampus.


"Yahhh, padahal sudah lama banget loh kita nggak pergi bareng. Emang ada acara apa sih Tan sampai kamu hari ini pergi ke sana?" kepo Mesi.


"Kata Papa, Aunty aku pulang dari luar negeri Mesi, makanya sekarang aku dan Papa langsung kesana." Mesi menganggukkan kepalanya. "Ya sudah aku duluan Bell, Mes soalnya Papa sudah nungguin aku," pamit Tania di angguki Bella mau lain Mesi.


Dengan langkah terburu-buru Tania keluar dari gerbang kampus. Saat keluar dari kelasnya Tania sudah menghubungi Arkana jika dirinya sudah pulang.


"Assalamu'alaikum Pa, Papa sudah lama nungguin aku disini?" Tania meraih tangan Arkana untuk di salaminya dengan takzim.


"Wa'alaikumsalam Sayang, belum juga kok," jawab Arkana dan setelahnya mencium dahi sang istri sedikit lama.


Perjalanan yang lumayan jauh itu akhirnya kendaraan roda empat yang dibawa Arkana sampai di perkarangan rumah orang tuanya. Disana terdapat mobil yang baru pertama kali Arkana dan Tania lihat dan mereka yakin itu mobil suami dari suami Helia, adik Arkana.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Arkana dan Tania memasuki rumah yang tampak terdengar suara agak riuh dari dalam sana. Itu jelas suara keponakan Arkana anak dari Helia sang adik.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka yang ada di sana.

__ADS_1


Tania langsung saja menghampiri kedua mertuanya lanjut pada suami Helia, Yori dan yang terlahir kepada Helia yang di panggil Tania dengan sebutan Aunty.


"Aunty apa kabar? Kapan Aunty sampai di sini?" Tania memilih duduk di samping Helia yang tampak semakin cantik di umurnya yang sudah 35 tahun.


"Dua jam yang lalu, ehh jangan panggil Aunty lagi dong Tania, lagian sekarang kamu itu sudah jadi kakak ipar bagi aku," Rasanya agak aneh saat Helia mengatakan itu kepada gadis kecil yang sangat dia sayangi itu.


"Hehe nggak bisa Aunty, aku sudah terbiasa panggil itu buat Aunty bukan? Jadi biarkan saja tetap seperti itu," pinta Tania dengan tersenyum kaku.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau, gimana kuliahnya tadi, hmm?"


"Alhamdulillah lancar Aunty." jawab Tania.


"Ke kamar Aunty sebentar yuk, soalnya ada sesuatu buat kamu," ajak Helia.


Tania melirik ke arah suaminya meminta izin dan anggukan yang diberikan Arkana membuat Tania mengikuti langkah Helia.


"Nanti malam di pakai ya? Tapi jangan di depan orang banyak apalagi itu laki-laki cukup di depan suami kamu saja," ujar Helia dengan mata mengerling.


"Emang ini aka Aunty?" tanah Tania bingung.


"Buka saja," Tania dengan patuh membuka plastik yang membungkus kain yang ntah apa isinya Tania tidak tahu.


"Ini baju apaan Aunty? Iss aku nggak mau pake kek gini Aunty, yang ada malah bikin malu," Tania mengibaskan pakaian transparan itu di depan Helia, membuat wanita yang sudah memiliki 2 anak itu tergelak. Tidak menyangka jika istri kakaknya sepolos ini.


"Makanya Aunty katakan jika kamu makenya saat sama suami kamu dan jangan lihatin sama orang lain."


"Nggak mau ah Aunty, malu,"


"Ngapain malu? Lagian kamu juga sudah menikah bukan? Yang melihat pun juga suami kamu sendiri kok. Yakin deh sama Aunty pasti Mas Arkana makin cinta dan tergila-gila sama kamu,"


"Emangnya Iya ya Aunty?" Helia hanya mengangguk saja membuat Terdiam.


TBC

__ADS_1


__ADS_2