
Menikah dengan papa
19
Tania, Arkana, Helena dan Nino tengah makan malam bersama. Biasanya hanya dua hidangan namun kali ini terdapat lima menu sekaligus. Apalagi melihat nafsu makan Tania yang memang sangat banyak semenjak hamil membuat keluarga itu bahagia.
"Nambah lagi Sayang?" tanya Arkana saat melihat nasi dipiring Tania hanya tinggal beberapa suap lagi.
"Sudah Pa, aku sudah kenyang," tolak Tania halus. Lagian dirinya sudah nambah dua kali, tidak mungkin dirinya bakan nambah yang ketiga kalinya. Mau di taruh dimana nasi yang akan masuk itu.
Selesai makan malam Tania tidak ikut berkumpul bersama kedua mertuanya serta suaminya. Setiap siap makan malam bawaan Tania seakan ingin tidur untuk beberapa menit kedepan. Yang paling lamanya itu sekitar 15 menitan.
Pukul sepuluhan Arkana memasuki kamarnya karena kedua orang-tuanya sudah masuk ke dalam kamar mereka. Daripada seorang diri diruang tamu maka dari itu Arkana memilih untuk masuk ke kamarnya dimana sang istri tengah berasa.
Arkana menatap sang istri yang tengah bergelung di dalam selimut dengan mata terpejam rapat. Mulut yang sedikit terbuka serta suara dengkuran yang tidak terlalu keras. Arkana membaringkan tubuhnya di samping sang istri sambil memeluk pinggang Tania dengan erat. Sebelum itu Arkana mengelus lembut perut Tania beberapa kali.
*****
Arkana mengantar Tania ke kampus langsung dari rumah Ibunya. Beruntung saja baju mereka ada beberapa helai di sana, mulai dari baju tidur juga baju untuk pergi kuliah bagi Tania dan kemeja serta teman-temannya bagi Arkana.
"Nanti Papa yang jemput Sayang, jangan lupa hubungi Papa nanti ya?" Arkana mendaratkan ciuman ada kening serta pipi istrinya sedikit lebih lama. Jujur saja ingin sekali Arkana membawa istrinya ke kantor agar dirinya semakin bersemangat saat bekerja. Bukan dirinya tidak semangat jika tidak ada istrinya, namun jika ada pasti akan lebih dari itu.
"Iya Pa, nanti aku kabari Papa," jawab Tania memegang tangan suaminya yang sudah di ciumanya. "Pa mau peluk dulu sebelum turun," pinta Tania dengan menampilkan puppy eyesnya membuat Arkana gemas.
"Dengan senang hati Sayang," jawab Arkana sembari melepaskan sabuk mengamannya.
Arkana memeluk tubuh istrinya cukup lama, apalagi waktu masuk juga masih lama membuat Arkana lebih luasa. Apalagi sekarang mereka juga sudah sampai di perkarangan kampus jadi mereka tidak perlu cemas diburu waktu.
"Sudah Sayang?" tanya Arkana tanpa melepaskan pelukannya.
"Terima kasih Pa," jawab Tania sembari tersenyum manis. "Papa hati-hati di jalan,"
"Iya Sayang, terima kasih." Arkana mendudukkan kepalanya agar sejajar dengan perut Tania. Mengusap lembut perut buncit itu dengan telapak tangannya yang besar. "Sayang yang anteng ya didalam perut Mama, jangan rewel ya didalam perut Mama," Arkana mencium perut buncit itu dengan penuh kasih Sayang.
"Iya Papa, aku nggak akan membuat Mama kesusahan kok. Papa tenang saja, tapi ingat Nanti Papa harus beliin Mama martabat kacang dua ya?" jawab Tania menirukan saya anak kecil.
"Iya Sayang, Papa pasti akan menuruti keinginan kamu dan Mama, Nak,"
"Terima kasih Papa," balas Tania. Setelah itu mereka tertawa bersama.
Tania turun dari mobil dengan senyum mengembang di bibirnya. Paginya terasa begitu indah setiap harinya. Memiliki suami serta keluarga yang begitu menyayanginya membuat Tania begitu bersyukur kepada Allah yang memberikan dirinya takdir yang begitu indah.
__ADS_1
"Hey, kok senyum-senyum sendiri Tan?" Bella memeluk pundak Tania membuat wanita itu terperanjat.
"Astagfirullah Bell, kamu bikini aku jantungan saja tahu." Kesal Tania sambil memegang dadanya.
"Tapi kamu nggak sampai jantungan bukan?" ledek Bella serta tertawa.
"Isss, kamu pagi-pagi sudah bikin aku kesal tahu Bell," Sunggut Tania.
"Hehe maaf deh maaf Tania," ucap Bella dengan mata yang berkedip-kedip lucu.
"Iya Bell, tidak apa," jawab Tania.
"Gimana nih kabar dedek bayi? Dia anteng saja kan?" tanya Bella melirik perut Tania.
"Alhamdulillah dedek bayi anteng saja kok Bell, malah sejak awal hamil aku nggak ngerasain yang namanya ngidam," jawab Tania jujur.
"Terus yang ngerasain ngidam siapa? Apa Papa, kamu?"
Tania menggeleng. "Papa juga nggak ngerasain ngidam kok Bell, malah Papa seperti biasa aja," jawab Tania.
"Wahhh enak banget dong kalau kek gitu Tania, aku juga pengen kek gitu jika suatu saat hamil." seloroh Bella.
"Ya semoga saja Tania,"
Sampai di kelas Tania dan Bella langsung saja duduk di bangku mereka masing-masing. Kebetulan waktu kelas sudah datang dan dosen juga baru masuk berbarengan dengan Tania dan juga Bella. Untung saja pagi ini tidak dokil yang masuk jika iya sudah pasti mereka akan kena tendang dari kelas meski telat beberapa menit.
"Gimana sih rasakan hamil Tania?" tanya Mesi penasaran menatap Tania.
"Iya Tania, aku juga penasaran gimana rasanya hamil," tambah Bella menopang dagunya menggunakan kepalan tangannya yang di letakan diatas meja.
"Setiap orang hamil itu pasti berbeda-beda karena pasti ada yang ngerasain ngidam atau semacamnya. Tapi kalau menurut aku pribadi enak, karena dari disini aku tahu gini rasanya saat Ibu, aku hamil aku dulu, meskipun aku tidak tahu bagaimana rupanya tapi aku berfikirnya gitu. Ditambah lagi Papa semakin memanjakan aku saat tahu aku hamil, bukan berarti saat aku dulu belum hamil atau belum menjadi istri Papa, aku tidak di manjakan." papar Tania menatap bergantian Bella dan juga Mesi.
__ADS_1
"Terus awal kamu mengetahui kamu hamil dulu gimana Tania? Kan kamu nggak ngerasa nih yang namanya ngidam?" tanya Bella. Pasalnya kebanyakan orang pasti akan langsung terlihat di mulai saat awal kehamilan dengan ditandai dengan adanya muntah-muntah di pagi hari, siang ataupun sore. Dan bahkan ada pula yang nafsu makannya terlalu berlebihan dari yang biasa.
"Awalnya aku juga nggak tahu Bell, tapi Papa waktu itu nanyain kapan aku terkahir datang bulan. Terus aku sebutin sebelum kita menikah. Nah dari jawaban aku itu Papa langsung saja bawa aku ke rumah sakit untuk periksa. Awalnya aku juga heran kenapa Papa bawa aku kerumah sakit padahal aku kan lagi nggak sakit, tapi semua itu sirna saat aku tahu Papa bawa aku ke ruangan obgin. Sampai diruangan itu langsung saja aku di periksa sama dokter dan ternyata di dalam perut aku sudah ada sosok kecil yang masih sebesar biji kacang alias bayiku yang baru tumbuh. Jadi waktu itu dokter langsung mengatakan jika kehamilan aku sudah masuk dua bulan yang artinya sesuai dengan usia pernikahan aku sama Papa," jelas Tania.
"Berarti kamu langsung hamil ya Tan?" Mesi yang belum sepenuhnya paham kembali bertanya.
"Iya Mes, karena sebelum itu aku sudah datang bulan sebelum menikah jadi otomatis saat aku menikah dengan Papa di masa-masa suburnya aku." jawab Tania di angguki Mesi.
"Terus apa tanggapan Om Arkana saat tahu kamu hamil Tania?" tanya Bella.
Tania menipiskan bibirnya menjadi sebuah senyuman. "Alhamdulillah Papa bahagia, bahkan saat itu Papa langsung saja meluk aku erat-erat. Mengucapkan terima kasih berulang kali bahkan membuat aku sampai bosan namun, aku tahu disetiap pengucapan Papa ada sebuah kebahagiaan yang tidak bisa di ucapan dengan kata-kata,"
Bella dan Mesi sampai terpana mendengar ucapan Tania. Sungguh indah takdir yang dimiliki Tania. Sudah memiliki keluarga yang sayang kepadanya di tambah lagi seorang suami yang begitu menyayangi serta mencintainya. Meskipun suami Tania ayah yang membesarkannya tapi, meski begitu siapa yang bisa menolak jika ada laki-laki seperti Arkana. Penuh cinta dan kasih Sayang, tidak anak kandungnya sendiri saja disayangi dan dicintai dengan sepenuh hati, apalagi itu anak kandungnya, anak yang di hasilkan oleh benihnya sendiri.
"Enak banget ya punya suami kek Om Arkana, Tania, aku juga pengen kayak kamu Tania pasti menyenangkan. Masih ada nggak sih stok seperti Om Arkana?"
"Berdo'a saja Bell, insyaa Allah dikabulkan. Dan tentunya tidak lupa juga usaha,"
"Aamiin semoga saja Tania,"
TBC
__ADS_1