MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
Raaniyah Azahra Khairina


__ADS_3

Menikah dengan Papa


30


Raaniyah Azahra Khairina


Tania kini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap begitupun dengan bayi merah yang beberapa menit lalu di lahirkannya. Bayi merah yang kini tampak imut di dalam bedongan kain corak batik dengan mata tertutup sempurna. Sesakali bibirnya bergerak lucu membuat mereka yang berada di dalam ruangan itu tersenyum gemas.


"Kalian sudah ada nama buat cucu, ibu?" taman Helena yang tengah mengusir lebut pipi cucunya.


Tania dan Arkana saling lirik sambil melempar senyum manis mereka. "Raaniyah Azahra Khairina. Artinya perempuan yang luar biasa cerdas dan sebagai pembawa kabar bahagia." jawab Tania membuat Helena dan juga Nino yang berada di sana menatap Tania dengan senyuman. "kita semua bisa memanggilnya dengan Airi." lanjut Tania.


"Bagus, nama yang bagus Tania, ibu suka namanya." ungkap Helena jujur.


"Bener apa yang dikatakan Ibu, Tania namanya sangat bagus dan ayah juga menyukainya." ujar Nino menimpali.


"Terima kasih Ayah, Ibu," ujar Tania dengan memperlihatkan senyum manisnya.


"Hallo cucu Oma, kamu cantik banget Sayang. Nanti kalau kamu sudah besar kita shopping bareng ya, Sayang. Cepatlah besar agar oma bisa membawa kamu berkeliling kota ini." ujar Helena kepada bayi merah yang masih setia menutup matanya itu.

__ADS_1


"Cucu opa yang paling cantik, cepatlah besar agar opa bisa mengajarkan kamu bermain bola. Meskipun kamu perempuan tidak ada larangan untuk bermain bola bukan?" Nino yang tidak mau kalah itu mengajak cucunya berbicara.


Jujur saja Helena dan Nino begitu bahagia dengan kehadiran cucu mereka itu. Karena anak dari Arkanalah yang mereka lihat seperti ini berbeda dengan kedua cucunya dari Helia yang lahir di negeri orang dan mereka tidak bisa datang ke sana waktu itu lantaran ada kendala yang memang tidak bisa mereka tunda.


"Mana bisa gitu Mas, anak perempuan kok diajarin main bola. Kalau laki-laki ya bisalab Mas, lah ini perempuan mainnya ya boneka atau masak-masakan Mas," protes Helena. Enak saja suaminya mengajarkan sang cucu untuk bermain bola, yang ada cucunya pasti akan sering terjatuh dan luka-luka. Helena paling tidak suka dengan itu, maka dari itu Helena menatap sinis suaminya yang hanya terkekeh.


Sedangkan Arkana dan Tania hanya menatap Helena dan Nino yang berdebat sambil geleng-geleng kepala. Tidak menyangka jika putrinya akan di perebutkan seperti itu. Jika saja bayi mereka kembar sepasang mungkin saja kedua kakek dan nenek itu akan semakin heboh lantaran tidak perlu memperebutkan satu bayi. Jika satu saja sudah seperti itu apalagi jika dua.


Dua hari dua malam Tania berada di rumah sakit, saat ini Tania dan sang bayi sudah berada di kediaman Nino. Kemar yang huni Tania adalah kamar tamu dan tidak mungkin Tania akan tidur di lantai dua yang bisa saja waktu itu membahayakan kandungannya. Makanya semenjak mereka tinggal di kediaman Nino, Tania dan Arkana memilih untuk tidur di kamar tamu yang lebih aman untuknya dan sang bayi kala itu.


Airi masih tertidur di atas ranjang samping Tania karena setengah jam yang lalu Airi telah selesai meminum ASI Tania. Untung saja ASI Tania banyak sehingga tidak perlu membeli susu tbahan untuk sang putri.


"Pa, bentar lagi ada teman aku yang mau kesini, baru saja dia ngirimi aku pesan." ujar Tania kepada Arkana yang tengah melihat bayi merahnya.


"Palingan lima menit lagi dia akan sampai Pa," Arkana menganggukkan kepalanya paham.


Taka berapa lama Bell rumah berbunyi, gegas Arkana keluar dari dalama kamar menuju pintu masuk.


"Hallo Om, Tanianya ada?" tanya Mesi melirik kedalam rumah.

__ADS_1


"Ada silahkan masuk," jawab Arkana.


Mesi dan Bella mengikuti Arkana untuk memasuki rumah itu. Arkana langsung saja membawa Bella dan juga Mesi menuju kamar dimana Tania dan bayinya berada.


"Wahhh, selamat Tania akhirnya kamu brojol juga," ucap Bella dengan cengengesan menuju bayi merah yang tengah tertidur pulas.


"Kamu kalau ngomong yang baik napa sih Bell," ujar Mesi mengingatkan.


"Heheh, maafkan aku ya Tania. Namanya siapa Tania?" tanya Bella.


"Airi," jawab Tania menyebutkan nama panggilannya.


"Cuman Airi doang Tan? Nggak ada tambahannya gitu?" Bella menatap sekilas Tania sebelum kembali lagi pada baby Airi.


"Raaniyah Azahra Khairina, itu namanya Bell." Bella menganggukkan kepalanya.


"Bagus, aku suka Tania." ungkapnya jujur.


"Silahkan di nikmatin dulu air sama cemilannya." ujar Arkana yang membawa dua gelas air serta kue bawang.

__ADS_1


"Iya Om, terima kasih," jawab Mesi sedikit sungkan. Setelah itu Arkana memilih keluar dari kamar itu membiarkan sang istri dengan kedua temannya berada di sana untuk melihat baby Airi.


TBC


__ADS_2