
Menikah dengan papa
23
Arkana mengusap kepala sang istri lembut saat mereka sudah sampai di depan kelas Tania. Tanpa rasa malu Arkana mendaratkan ciuman pada dahi sang istri sedikit lebih lama.
"Belajar yang rajin Sayang, kalau ada apa-apa kabari Papa," Jujur saja berat rasanya Arkana meninggalkan sang istri setelah kejadian beberapa menit lalu.
"Iya Pa, Papa tenang saja nanti aku kabari jika terjadi sesuatu," jawab Tania dengan menampilkan senyum manisnya.
"Ya sudah, Papa berangkat dulu ke kantor,"
"Iya Pa, hati-hati," Tania melihat Arkana yang sudah mulai menjauh dari dirinya, hingga akhirnya Tania tak lagi melihat tubuh Arkana barulah Tania memasuki kelasnya.
"Keren banget suami kamu, Tania," Bella mendekati meja Tania yang tengah berusaha duduk secara perlahan karena perutnya yang sudah lumayan besar.
__ADS_1
"Iya bener banget, bahkan aku sampai nggak nyangka Om Arkana akan mengancam mereka seperti itu. Ehh, tapi kenapa Om Arkana bisa datang lagi ya? Bukannya biasanya langsung pergi dari kampus Tania?" timpal Mesi.
"Aku juga nggak nyangka Papa akan datang lagi Mes, Bell. Itu saja tadi aku cukup terkejut saat mendengar suara Papa dan tengah berjalan mendekati aku," jawab Tania jujur. Padahal dirinya juga cukup heran dengan kehadiran Arkana di kampus. Dengan jelas-jelas Tania melihat mobil Arkana yang sudah meninggalkan kampus saat dirinya sudah berjalan memasuki kampus. Bella dan Mesi menanggapai ucapan Tania dengan anggukan kecil.
"Tapi sumpah keren banget Om Arkana, Tan. Ahhh, aku juga pengen dapat suami kek Om Arkana. Sudah kaya, tampan, cinta banget sama istrinya lagi. Itu contoh suami idaman banget lah pokoknya," ujar Mesi sambil menerawang.
Bella benoyor kepala Mesi yang menurutnya plin-plan. "Jangan ngaco deh Mes, kemaren bilangan pengen punya suami berondong terus sekarang malah bilangnya pengen punya suami yang lebih tua. Atau malah besok-besok kamu berubah haluan lagi sama duda?"
Mesi menjentikan jarinya. "Kamu bener banget Bell, kalau ada yang duda mapan, tampan plus setia aku mah nggak bakalan nolak." Mesi menatap Bella dengan mata berbinar. Lagian tidak ada yang salah bukan jika dirinya juga mengingin duda apalagi jika itu masuk ke dalam kriterianya.
"Kamu do'ain aku dapat suami jelek, gitu?" tanya Mesi tajam.
"Lah, yang do'ain kamu dapat suami jelek siapa? Lagian aku hanya ngingetin kamu saja kok Mesi,"
"Sama saja kali Bell, kata-kata itu adalah do'a,"
__ADS_1
"Kalian berdua kenapa malah berantem nggak jelas gini sih? Masalah jodoh itu serahkan saja sama Allah. Jika dapat yang terbaik maka itulah takdir kalian, jika tidak ya terima dengan ikhlas. Itu saja kok kalian yang repot." Mesi dan Bella menatap Tania yang kini menatap mereka bergantian.
"Ya nggak mau lah Tan, kalau aku dapat jodoh yang burik. Apa kata dunia nantinya coba? Bella yang cantik ini mendapatkan suami yang burik, oh no, mendingan aku nggak nikah saja sekalian,"
"Benar banget kata kamu Bel, aku juga nggak mau kalau dapat jodoh yang burik, tapi kalau dia kaya ya aku ayok ayok saja." ujar Mesi dengan cengiran.
"Lah itu sama saja kali Mes, poin pentingnya dia kaya kamu akan tetap mau. Kalau aku mah ogah banget, mau dia kaya aku tetap nggak mau,"
"Percuma kalau kamu mengharapkan yang ganteng Bell, kalau dia miskin mau di kasih makan apa kamu sama anak kamu nantinya? Emang kamu mau makan pasir sama tinggal di bawah kolong jembatan? Aku mah ogah." ujar Mesi.
"Iya juga ya Mesi, ahhh apapun bentuk dia mau jelek atau tampan aku akan tetap mau deh. Pokoknya dia kaya aku juga ayok saja kek kamu Mes,"
"Nah itu baru bagus, tapi yang lebih bagusnya lagi ya dapat suami kek Tania ini," tunjuk Mesi pada Tania.
Sedangkan Tania hanya menyaksikan kedua temannya itu tampan ikut campur sedikitpun. Seperti seorang pendengar yang baik maka, Tania cukup saja diam dan menopang dagu dengan indahnya.
__ADS_1
TBC