
Menikah dengan Papa
22
"Lihatlah wanita ini teman-teman, bahkan sekarang dengan bangganya dia memojokkanku dengan mencari-cari pemebelaan terhadap dirinya agar kita semua tidak lagi membahas dirinya yang sudah hamil di luar nikah." Wanita berhijab coklat berteriak sambil mengatakan sekelilingnya.
"Apa kalian semua tetap diam melihat kampus kita tercoreng nama baiknya karena wanita tidak tahu diri ini? Apa kalian masih tetap diam kampus kita memiliki wanita yang hamil di luar nikah? Apakah kalin semua akan tetap diam dengan adanya wanita yang mengandung anak haram ini?!" Kembali wanita berhijab coklat itu berteriak membuat semua yang ada di sana kembali berbisik-bisik.
PLAK!!!"
Tangan Tania mendarat mulus diwajah wanita itu, bahkan kini nafas Tania sudah memburu karena amarah. Anaknya dikatakan anak haram? Tania tidak akan membiarkan itu terjadi karena anaknya anak hasil dari pernikahannya bersama Arakan. Jikapun Tania hamil di luar nikah yang namanya anak tidak ada yang haram. Anak itu terlahir dalam keadaan suci, yang bersalah ke-dua orang-tuanya bukan anaknya.
__ADS_1
"Wanita s*l*n!!" Maki wanita berhijab coklat itu sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Tania.
"Lihatlah dia menamparku karena aku mengatakan anaknya, anak haram. Apakah kalian masih sudi menampung wanita ja*ang seperti ini? Kampus kita sudah tercoreng nama baiknya ulah wanita ja*ang yang tengah mengandung anak ha*am itu." tunjuknya pada perut Tania.
"SIAPA YANG KAU KATAKAN JA*ANG, HAH?!!KATA SIAPA ANAK ITU ANAK HA*AM?!" bentak Arkana menggelegar.
"Papa," Tania menatap suaminya yang kini berada diantara kerumunan itu. Berjalan dengan gagahnya menuju dirinya yang kini mematung dengan kehadiran suaminya. Tidak menyangka jika Arkana akan datang di waktu seperti ini.
"Dia Om, dia yang ja*ang." Dengan pedenya wanita berhijab coklat itu menunjuk Tania dengan jari telunjuknya.
Arkana menatap wanita itu nyalang. "Jangan sekali-sekali kau menunjuk istri saya dengan tangan kotor kau itu!!" Marah Arkan membuat wanita berhijab coklat itu terkejut begitupun dengan yang lainnya. Mereka tidak menyangka jika laki-laki yang mereka kira Om dari wanita yang mereka hina itu merupakan suaminya.
__ADS_1
"Saya tegaskan untuk kalian semua, jika masih saja ada yang menghina istri saja jangan salahkan terjadi sesuatu kepada kalian bahkan keluarga kalian sekalian. Jangan kira saya tidak akan berani melakukan tindakan yang tidak akan pernah kalian bayangkan." Arkana menatap sekelilingnya dengan tajam. Ucapannya benar-benar tidak main-main, dirinya serius mengatakan itu semua. Demi kenyamanan istrinya Arkana akan melakukan segala cara, karena Arkana tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap anak dan juga istrinya.
"Dan kau," Arkana menunjuk wanita berhijab coklat itu dengan jari telunjuknya namun suara mengerikan membuat wanita itu gemetaran. "Lihat saja nanti yang akan saya lakukan terhadap kau setelah apa yang kau katakan tentang istri saya!!"
"Om saya mohon maafkan saya, Om. Saya janji tidak akan melakukan hal buruk lagi Om, saya mohon jangan lakukan apapun terhadap saya Om." Wanita berhijab coklat itu mengiba di hadapan Arkana namun tidak di gubris Arkana.
"Ayo Sayang, Papa antar ke kelas kamu," Arkana merangkul bahu istrinya, menuntun sang istri menuju kelasnya.
"Om, saya mohon maafkan saya, Om. Saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi Om?!" Wanita itu berteraiam berharap Arkana mau mendengarkan dirinya. Namun usahanya sia-sia lantaran Arkana tidak menghiraukannya sama sekali.
Mereka yang ada di sana tidak bisa melakukan apa-apa kepada wanita berhijab coklat itu. Ada rasa kasihan yang meraka berikan kepada wanita itu namun, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa. Takut diri mereka akan kena sasarannya nanti, maka dari itu mereka lebih memilih untuk diam..
__ADS_1
TBC