
Menikah dengan Papa
12
Pukul lima sore akhirnya sepasang suami istri itu tebangun. Tania mengucek matanya untuk menyesuaikan dengan penerangan di ruangan itu.
"Papa, sudah jam berapa?" tanya Tania menatap Arkana yang kini duduk linglung di sampingnya.
"Jam 5 sore sayang," jawab Arkana setelah melirik arloji ditangannya dengan mata yang sedikit sayu akibat masih mengantuk.
"Lah kok? Kenapa Papa ngak bangunin aku? Lihat kan ini sudah terlalu sore loh Pa?" protes Tania membe renggut.
"Kamu tidurnya nyenyak banget Sayang, Papa jadi tidak tega bangunin kamu," jawab Arkana jujur.
"Ya sudahlah Pa, sekarang kita langsung pulang saja yuk Pa, mana aku sudah pengen banget mandi," Arkana hanya bisa mengangguk pasrah. Lagian ngapain juga mereka lama-lama di kantor ini, karena karyawan yang tinggal mungkin hanya sedikit itupun hanya karyawan lembur.
__ADS_1
****
Sampai dirumah Tania bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tubuhnya terasa begitu lengket meski dirinya baru saja bangun tidur. Cuaca panas hari ini membuat Thai lebih banyak mengeluarkan keringat dari pada biasanya.
Sedangkan Arkana memilih mandi di kamar tamu karena tidak mungkin dirinya meminta mandi bersama dengan Tania. Yang ada nanti istrinya itu malah takut kepadanya. Lagian Arkana juga tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Tania. Tania mau menjadi istrinya saja sudah membuat Arkana bahagia. Dan Arkana juga yakin suatu saat Tania pasti akan mau menyerahkan dirinya kepadanya.
"Papa sudah selesai mandi?" Tania melihat Arkana yang tengah menyisir rambutnya yang tampak basah.
"Sudah Sayang di kamar tamu. Lagian kalau Papa nungguin kamu malah lama nantinya. Apalagi ini sudah sore banget," jawab Arkana yang masih melanjutkan menyisir rambutnya.
Tania telah selesai mengerjakan tugas kuliahnya begitupun dengan Arkana yang telah selesai mengecek e-mail yang dikirim sekretarisnya. Kini sepasang suami istri itu sudah berbaring di atas ranjang king size mereka
"Pa," Tania menatao Arkana yang tengah melihat langit-langit kamar.
"Apa Sayang?" Arkana mengalihkan penglihatannya kepada Tania.
__ADS_1
"Papa tidak mau malam pertama?" tanya Tania.
Arkana yang mendengar ucapan itu keluar dari mulut istrinya langsung saja terduduk dengan tegap. Iris mata tegas itu kini menatal intens kedua iris coklat milik Tania. "Papa tidak akan memaksa kamu jika kamu belum siap Sayang. Papa masih bisa menahannya sampai kamu benar-benar siap memberikan itu kepada Papa." jawab Arkana. Tapi jauh di lubuk hatinya Arkana ingin sekali mendapatkan haknya, namun di sisi lain dirinya tidak bisa memaksa Tania meski dirinya bisa. Arkana tidak mau Tania akan membenci dirinya jika Arkana memaksa Tania memberikan apa yang harusnya menjadi miliknya.
"Apa bisa Papa melakukannya malam ini?" tanya Tania menatap Arkana tanpa berkedip
"Kamu jangan bercanda Sayang, jika kamu benar-benar belum bisa Papa tidak akan memaksa. Jangan paksakan jika hati kamu masih berat untuk memberikannya kepada Papa, Sayang," Arkana mengusap pipi strinya dengan lembut.
Tania menggeleng. "Tidak Pa, aku tidak terpaksa. Aku ikhlas memberikannya kepada Papa. Lagian ini juga hak Papa, milik Papa. Ayo kita lakukan malam ini Pa?" ajak Tania yang memegang tangan Arkana yang tadi mengelus pipinya.
"Tidak ada yang memaksa kamu untuk memberikan itu kan Sayang? Papa tidak mau kamu nanti menyesal karena menyerahkan kepada Papa, sedangkan hati kamu masih berat untuk melakukannya."
Lagi-lagi Tania menggelengkan kepalanya, Tania memang jujur tidak ada yang menyuruh dirinya untuk melakukan itu. Namun Tania sudah mulai belajar menjadi istri yang patuh, bahkan Tania tak tanggung-tanggung mencari bagaimana cara membuat suami bahagia dan salah satunya yaitu melakukan hubungan intim. Apalagi jika seorang istri menolak maka malaikat akan mengutuknya semalam suntuk. Dari pada itu terjadi lebih baik Tania menawarkan kepada Arkana. Bukankah Papanya itu sudah melajang selama ini dan tidak menutup kemungkinan Arkana menginginkan hal itu.
TBC
__ADS_1