MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
Terima Kasih Sayang


__ADS_3

Menikah dengan papa


13


"Sayang kamu serius dengan apa yang kamu katakan?" Mata Arkana tampak berbinar kala istrinya menawarkan malam pertama untuk dirinya. Sungguh hatinya kini tengah berbunga-bunga dengan mekarnya. Membayangkan jika malam ini dirinya akan meneguk manisnya surga dunia.


Tania menganggukkan kepalanya. "Iya Pa," jawab Tania sambil menampilkan senyumnya.


"Tidak usah Sayang, Papa tahu jika kamu terpaksa untuk melakukannya. Papa minta kamu tidak perlu memikirkan itu jika hati kamu masih terasa berat. Papa tidak akan memaksa kamu sampai kamu benar-benar sanggup untuk merelakannya kepada Papa, Sayang," Meski di hatinya Arkana sangat ingin, namun di sisi hatinya yang lain mengatakan jika dirinya tidak boleh egois. Dirinya tidak boleh egois hanya karena memenuhi kebutuhan biologinya.


Tania meraih tangan Arkana lalu di genggamnya dengan erat. "Insyaa Allah aku sudah ikhlas lahir dan batin untuk menyerahkan hak Papa. Papa tidak udah lagi berfikir yang tidak-tidak mengenai aku yang belum ikhlas. Yang Papa harus tahu kini dan kedepannya aku milik Papa, dan Papa milik aku. Jadi apapun yang ada pada diriku milik Papa begitupun sebaliknya. Jadi ayo malam ini kita lakukan tugas kita masing-masing Pa sebagai suami-istri Pa,"


Arkana terharu mendengar ucapan istrinya, Arkana tidak menyangka jika pikiran Tania sudah dewasa. Padahal dari awal dirinya akan menunggu sampai kapanpun Tania ingin menyerahkannya kepada dirinya, bahkan sampai Tania bisa mencintainya sekalipun.


"Terima kasih Sayang, karena kamu sudah mau menerima Papa dan kini kamu juga ingin menyerahkan harta paling berharga dalam diri kamu," Arkana memeluk erat tubuh mungil istrinya. Mendaratkan beberapa kali ciuman pada rambut Tania yang berada di pelukannya.


"Sama-sama Pa,"


"Bisa kita mulai Sayang?" Arkana melepaskan pelukannya pada Tania. Menatap intens wajah cantik istri kecilnya dengan jari jempolnya yang mengusap lembut pipi Tania.


Tania menganggukkan kepalanya. "Iya Pa, lakukanlah,"

__ADS_1


Arkana memulai dengan menciumi seluruh wajah Tania dengan lembut. Tidak ada penolakan yang dilakukan Tania, Tania hanya menikmati setiap pergerakan yang dilakukan Arkana kepadanya. Tidak terburu-buru, dan juga tidak kasar, pergerakan yang sangat lembut di lakukan Arkana kepada Tania.


"Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa," Arkana mengusap ubun-ubun Tania setelah mengucapkan do'a sebelum mereka melakukan ke bagian inti dari kegiatan mereka malam ini.


****


Semalaman mereka melakukan hubungan suami-istri tanpa henti, bahkan Arkana seakan memiliki kekuatan yang tidak ada habisnya. Meneguk manisnya surga dunia yang baru pertama kali dilakukan sepasang suami istri itu.


"Sayang," Arkana mengusap pipi Tania dengan ibu jarinya. Saat ini mereka sudah terbangun telat pada pukul 8 pagi.


"Papa,"


"Terima kasih Sayang, terima kasih sudah memberikan pengalaman yang tidak pernah Papa lupakan. Terima kasih atas semua yang kamu lakukan untuk Papa, Tania. Papa cinta sama kamu Sayang," Arkana menundukkan kepalanya dan mencium pipi istrinya dengan lembut.


"Mau Papa bantu Sayang? Emm, apa bagian itu masih sakit?" tanya Arkana saat Tania yang hendak turun dari ranjang.


Tania menganggukkan kepadanya, Tania juga tidak mungkin berbohong karena pada nyatanya masih sangat sakit. Apalagi semalam Arkana seperti orang kesetanan meneguk manisnya surga dunia pada dirinya.


"Masih Pa, sakit banget," Tania meringis kala rasa sakit itu terasa di pergerakannya.


"Yasudah, biar Papa bantu kamu ke kamar mandi Sayang. Lagian kita juga bisa sambil mandi bersama. Hari ini kamu kuliah siang bukan?"

__ADS_1


Lagi-lagi Tania menganggukkan kepalanya. Hari ini memang Tania tidak memiliki jadwal pagi untuk mata kuliahnya dan nanti sekitar pukul 10 pagi dirinya sudah berada di kampus untuk mengikuti pelajaran. "Iya Pa, nanti jam 10 aku harus udah berada di kampus. Papa tidak ke kantor?" jawab Tania di gendongan Arkana.


"Nanti Papa antar kamu ke kampus Sayang, pulangnya jam berapa nanti Sayang? Papa tidak ke kantor Sayang, tadi lagi Papa sudah hubungi sekretaris Papa kalau Papa hari ini tidak masuk dan dia yang akan menghandel semua pekerjaan Papa," jawab Arakan sambil meletakkan tubuh istrinya diatas bathup.


"Aku cuman satu mata kuliah Pa, palingan juga jam 12san aku sudah pulang lagi," jawab Tania sambil meraih sambung mandi.


Dalam waktu 16 menit akhirnya mereka berdua telah selesai melakukan mandi bersama, Tania melakukan hal yang iya-iya. Mengingat tak lama lagi Tania harus pergi ke kampus dan mereka juga belum melakukan sarapan pagi.


****


Kendaraan roda empat yang dibawa Arkana kini sudah sampai di perkarangan kampus. "Sayang nanti kabari Papa jika kamu sudah pulang ya? Soalnya nanti setelah kamu pulang kita akan langsung ke rumah Ibu,"


"Iya Pa, tapi ada acara apa disana Pa? Padahal baru beberapa hari lalu kita dari kesana?" tanya Tania bingung. Biasanya mereka akan datang ke rumah itu satu kali seminggu itupun jika Arkana luang, jika tidak mereka akan berkunjung satu kali dalam dua minggu.


"Kata Ibu, Helia sama suaminya pulang hari ini Sayang, makanya kita di minta datang kesana," jawab Arkana mengusap lembut rambut istrinya.


"Benarkah Pa? Wahhh aku sudah tidak sabar untuk datang ke sana, apalagi Aunty Heli sudah lama banget nggak pulang Pa," Tania tampak bahagia kala mendengar adik dari suaminya akan pulang. Helia sama seperti yang lainnya yang menyayanginya tanpa pilih. Bahkan Helia juga sudah menganggap dirinya sebagai anaknya, sama seperti Arkana dulu saat masih menjadi ayah angkatnya.


"Ya sudah sana gih masuk, Papa akan tunggu kamu di restoran baru itu?" tunjuk Arkana pada restoran yang masih baru di buka. "Kebetulan bosnya teman kuliah Papa, bisa di bilang sahabat Papa semasa kuliah dulu," ujar Arkana.


"Baik lah Pa, nanti aku akan kabari Papa jika sudah pulang ya?" Tania meraih tangan Arkana laku di ciumnya berulang kali. Tak lupa juga pada kedua sisi pipi Arkana.

__ADS_1


TBC


__ADS_2