
Menikah dengan papa
24
Kenapa papa bisa balik lagi?
Tania selonjoran di sofa ruang tamu dengan memainkan gawainya. Menunggu kepulangan suaminya karena jam kantor yang sudah habis sekitar sepuluh menit lalu. Tak lama daru mesin mobil membuat Tania beranjak dari sofa menuju mobil suaminya.
"Papa, aku kangen banget," Tania memeluk erat tubuh kekar suaminya sambil mendaratkan beberapa ciuman pada pipi yang di tumbuhi bulu-bulu halus yang belum di cukur itu.
"Papa juga kangen banget Sayang, sama dedek bayi Papa juga kangen," Arkana membalas pelukan sang istri dengan mendaratkan beberapa ciuman di pucuk kepala itu. Tidak lupa tangan Arkana membelai Peut buncit istrinya dengan lembut.
Tania dan Arkana menuju kamar karena Arkana harus membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sedangkan Tania memilih duduk diatas ranjang sambil selonjoran dengan gawai yang tidak lepas dari tangannya.
"Sayang bantuin Papa ngeringin rambut Sayang," Arkana memberikan handuk kecil ketangan sang istri.
__ADS_1
Dengan patuh Tania mengusap rambut itu dengan handuk kecil. Tidak lupa juga Tania menarik-narinya agar rasa lelah di kepala Arkana berkurang.
"Tadi kenapa Papa bisa balik lagi ke kampus?" tanah Tania yang masih setia dengan kepala Arkana.
Flashback On
Arkana meninggalkan kampus sang istri setelah melihat wanita tercintanya itu sudah berjalan memasuki kampusnya. Seperti biasa Arkana akan menjalankan mobilnya dengan perlahan tanpa harus terburu-buru, karena pagi ini Arkana tidak akan mengadakan rapat apapun.
Namun, tidak terlalu jauh dari kampus itu perasaan Arkana terus tertuju pada sang istri. Hati Arkana terasa begitu cemas serta berdenyut, namun pikirannya terus tertuju pada sang istri. Rasanya Arkana sudah tidak kuat melanjutkan perjalanannya menuju kantor, maka dari itu Arkana membelokkan mobilnya kembali pada kampus sang istri.
Langkah Arkana terhenti kala istrinya tengah dihina-hina bahkan tak satupun yang membela sang istri. Arkana cukup diam sampai kata-kata terakhir dari mulut wanita itu membuat wajah Arkana memerah dan tangan terkepal dengan eratnya.
Marah, itu yang kini dirasakan Arkana. Dadanya bergemuruh menahan amarah yang hendak meledak. Jika saja itu laki-laki sudah di pastikan Arkana melayangkan tangannya ke wajah orang tersebut yang sudah berani menghina istri yang amat di cintainya.
"Lihatlah dia menamparku karena aku mengatakan anaknya, anak haram. Apakah kalian masih sudi menampung wanita ja*ang seperti ini? Kampus kita sudah tercoreng nama baiknya ulah wanita ja*ang yang tengah mengandung anak ha*am itu."
__ADS_1
Sungguh ingin rasanya Arkana berjalan menuju wanita bermulut pedas itu. Tahu apa mereka tentang kehidupan istrinya, apa karena istrinya hamil dan tidak diumumkan pernikahannya maka mereka akan seenak jidat menganggap istrinya hamil di luar nikah dan menghina istrinya itu seenak dengkul mereka. Mengatakan darah dagingnya anak ha*am.
Meskipun ada orang yang hamil di luar nikah maka tak sepantasnya mereka menghina anak itu. Yang salah orang-tuanya bukan anaknya. Jika bisa memilih tidak akan ada seorang anak pun yang ingin lahir tidak di dalam hubungan pernikahan.
"SIAPA YANG KAU KATAKAN JA*ANG?!" Sugguh Arkana ingin mencekik wanita itu hingga nyawanya melayang. Enak sekali wanita itu mengatakan istri tercintanya seorang ja*ang. Istri yang bahkan berusaha dia bahagian bagaimana pun caranya. Dan sekarang mereka seenaknya saja mengatakan hal yang tidak-tidak kepada istrinya.
Bahkan saat wanita itu meminta maaf kepadanya Arkana ingin menendang wanita kurang ngajar itu. Sudah melakukan kesalahan terus dengan seenaknya meminta maaf. Cih, tidak akan pernah.
Flashback Off
"Gitu ceritanya Sayang, mungkin karena ikatan batin bayi kita yang terlalu kuat makanya membuat Papa merasakan rasa khawatir yang mendalam sama kamu." ujar Arkana menatap istrinya yang sudah meletakkan handuk kecil itu dipaha Arkana.
Tania menganggukkan kepalanya. "Terima kasih ya Pa, karena sudah ngebantu aku tadi,"
"Tidak Sayang, kamu tidak perlu berterima kasih sama Papa karena, itu sudah kewajiban Papa untuk menjaga kamu apapun itu yang terjadi," Arkana mengusap pipi sang istri dengan lembut.
__ADS_1
TBC