MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
32


__ADS_3

Menikah dengan Papa


32


Dua minggu sudah usia Baby Airi, Bayi kecil itu sudah terlihat berisi dari sebelumnya. Setiap malam Arkana mau pun Tania di buat bergadang oleh bayi kecil itu. Siang hari dirinya akan tidur dengan nyenyak namun, pada malam hari dia akan terus terjaga dan seringkali menangis. Tidak hanya karena lapar, namun juga karena pup dan juga pipis.


"Jika kamu ngantuk tidur saja Sayang, biar papa yang jaga Airi," ujar Arkana. Kembali malam ini mereka di buat begadang oleh bayi mungil mereka.


"Tapi Papa juga belum tidur, pasti Papa lelah apalagi Papa tadi siang juga kerja. Jadi Papa saja yang tidur dan biar aku yang jaga Airi," ujar Tania menyodorkan kedua tangannya untuk menyambut Airi yang tengah berada di gendongan Arkana.


"Tidak sudah Sayang, biar Papa saja. Kamu tidur saja sebentar dulu," tolak Arkana halus. Dirinya pahan bagaimana lelahnya Tania menjaga putri mereka, meskipun ada Helena sang ibu bukan berarti wanita paruh baya itu akan ada setiap waktunya. Apalagi Helena sekarang juga sudah mulai sakit-sakitan karena umur yang tidak lagi muda.


"Baiklah Pa, apa tidak apa-apa jika aku tidur sebentar Pa?" tamat Tania. Jujur saja dirinya benar-benar sangat mengantuh bahkan, tubuhnya pun terasa begitu lelah.

__ADS_1


"Iya Sayang, tidurlah biar Airi bersama Papa," jawab Arkana.


Malam ini Arkana terjaga sepanjang malam untuk menjaga putrinya yang tidak kunjung tidur. Sesekali Airi menangis lantaran dirinya pipis dan juga buang air besar.


"Sudah jam berapa Pa?" tanya Tania saat terbangun ketiga Airi menangis.


"Jam tiga Sayang, tidur saja jika kamu masih mengangantuk." pinta Arkana yang mendapat gelengan dari Tania.


"Baiklah Sayang, papa benar-benar sudah sangat mengantuk. Maafkan papa yang tidak bisa menemani kamu untuk menjaga Airi, Sayang," ujar Arkana tidak enak hati. Namun matanya memang sudah tampak sayu karena kantuk yang menyerang.


"Tidak apa Pa, lagian Papa sudah terjaga semalaman dan kini Papa bisa tidur." Arkana menganggukkan kepalanya.


Lekas Arkana merebahkan tubuhnya di ranjang dan matanya tertutup dengan segera. Tidak sampai lima menit akhirnya Arkana sudah masuk ke alam mimpinya.

__ADS_1


Sekitar pukul sembilan pagi Airi sudah selesai di mandikan Tania. Sedangkan Arkana sudah berangkat ke kantor sekitar satu jam yang lalu. Tania meletakkan bayinya di kasur khusus bayi yang bisa di bawa kemana-mana. Saat ini Tania dan juga Airi berada di ruang tamu. Mum po ung Airi masih tertidur Tania memilih untuk makan karena dirinya benar-benar kembali lapar meski tadi pagi b dirinya sudah makan.


ASI Tania yang terlalu banyak membuat Tania harus memompanya setiap hari dan akan di sumbangkan ke rumah sakit dari pada terbuang sia-sia. Jika di berikan kepada Airi jelas tidak akan habis, apalagi sekali-sekali jika Tania lupa memompa asinya maka ASI itu akan merembes kemana-mana dan yang lebih parahnya lagi Tania akan merasakan sakit ada bagian itunya.


"Belum bangun juga Airi, Tania?" Helena datang dan duduk di samping cucunya yang masih setia memejamkan matanya.


"Belum Bu, Ibu makan?" tawar Tania.


"Tidak, kamu lanjut saja. Ibu mau menunggu cucu ibu bangun dan mengajaknya untuk bermain." ujar Hele membuat Tania mengangguk saja.


Setengah jam kemudian Airi akhirnya bangun dan sesuai dengan ucapan Helena saat ini nenek tiga cucu itu tengah asik bermain dengan Airi yang belum bisa apa-apa. Bahkan jika di hibur bayi mungil itu hanya terdiam tampa ekspresi.


TBC

__ADS_1


__ADS_2