MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
Melahirkan


__ADS_3

Menikah dengan Papa


29


Melahirkan


"Pa, ini sakit banget aku nggak kuat Pa," Tania mengengam erat tangan suaminya. Sungguh rasanya amat sakit di bagian perut bawahnya.


"Tahan Sayang, papa yakin kamu bisa. Papa yakin kamu wanita kuat Sayang, ayo semangat lagi bayi kita sudah hampir keluar Sayang," Arkana sungguh tidak tega melihat sang istri yang harus merasakan sakit yang teramat seperti ini.


Bulir bening sudah memenuhi dahi Tania, bahkan wajahnya sudah tampak memerah karena sakit yang dia rasakan. Tania tidak menyangka jika melahirkan akan sesakit ini. Dirinya berfikir, beginikah sang ibu dulu melahirkan dirinya, namun sayang dirinya tidak pernah bertemu dengan wanita yang melahirkannya. Namun begitu, dirinya sangat bahagia karena ada laki-laki hebat yang membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


"Sedikit lagi Bu, kepalanya sudah mulai kelihatan. Ayo dorong lagi!!" Intruksi dokter itu membuat Tania kembali mengumpul oksigen serta kekuatannya demi melahirkan sang buah hati.

__ADS_1


"Aaaahhhhkkkkkk!!!" Tania mengejan dengan kuatnya. Air mata yang terus mengalir tanpa henti karena sakit yang dia rasakan. Bahkan tulang di patah sembilan secara bersamaan.


Owek... Owek... Owek...!


Rasa sakit yang tadi dirasakan Tania akhirnya terbayar sudah dengan suara tangis bayinya yang memekakkan seluruh ruangan. Senyum manis terbit di bibir Tania kala anaknya sudah lahir.


"Alhamdulillah putrinya cantik seperti anda Bu, tanpa ada yang kurang satupun," Dokter meletakkan bayi merah itu diatas dada Tania.


Air mata Tania mengalir dengan sendirinya, begitupun dengan Arkana yang melihat putri kecilnya di atas dada Tania. Berulangkali Tania menciumi putrinya dengan sayang. Sungguh dirinya tidak menyangka jika dirinya kini sudah menjadi seorang ibu.


"Papa tidak perlu berterima kasih karena ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri," ujar Tania lembut.


Arkana menggeleng tidak setuju, jika bukan karena Tania mungkin saja dirinya tidak akan memiliki anak secantik putri merahnya ini. Bisa jadi dirinya juga tidak akan pernah menikah lantaran cintanya hanya milik Tania.

__ADS_1


"Tidak Sayang, papa harus berterima kasih karena kamu. Karena kamu sudah mau manjadi istri Papa dan memberikan putri kecil seperti ini." ujar Arkana mengusap bulir bening di pipinya. Sungguh hatinya sangat bahagia yang tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata.


Sedangkan dibawa sana dokter tengah membersihkan bekas persalinan Tania setalah melakukan jahit pada jalan lahirnya sang buah hati.


Diluar ruangan Helena dan juga Nino tak kalah bahagianya kala mendengar suara tangis bayi setelah menunggu sekian lama. Hati Kakek dan Nenek itu amat sangat bahagia. Akhirnya rumah mereka akan dihiasi dengan suara tangis bayi kecil yang menambah kesan ramai di rumah mereka.


"Alhamdulillah Mas, cucu kita sudah lahir. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya," ujar Helena memeluk tubuh suaminya erat.


"Sama Sayang, Mas juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucu kita," Nino membalas pelukan sang istri. Mengusap lembut lengan sang istri dengan tangannya yang sudah mengeriput.


"Apakah dia perempuan atau laki-laki ya Mas? Kalau perempuan pasti sangat mirip dengan Tania dan jika laki-laki pasti akan mirip Arkan, Mas," Helena membayangkan wajah imut sang cucu yang belum sekalipun dia lihat. Selama hamil Tania memang tidak pernah mengcopy bentuk wajah sang anak.


"Ntahlah Sayang, Mas sudah sangat penasaran, tapi yang lebih lenting dia sehat begitupun dengan menantu kita,"

__ADS_1


"Aamiin, aku berdo'a juga pasti gitu Mas,"


TBC


__ADS_2