
Menikah dengan Papa
09
Tiga hari Arkana berada di rumah sakit akhirnya tadi pagi Arkana sudah di bolehkah pulang oleh dokter. Kini Tania menemani Arkana di dalam kamarnya sambil menyuapkan bubur yang tadi dibuatkan Helena. Satu jam yang lalu Helena berserta suaminya sudah pulang ke rumah karena ada pekerjaan penting yang harus dikerjakan Nino.
"Kita menikah minggu depan ya, Sayang," Tania yang sudah selesai menyuapkan Arkana bubur, menghentikan pergerakannya yang hendak meletakkan mangkuk di atas nakas.
"Kenapa secepat itu Pa?" tanya Tania heran.
"Bukankah lebih cepat maka lebih baik Sayang? Atau kamu tidak benar-benar ingin menikah dengan Papa?"
"Tidak kok Pa, aku sunguh-sungguh ingin menikah dengan Papa. Hanya saja aku merasa waktunya celat sekali. Tapi jika Papa ingin cepat aku juga tidak bisa melarang. Apapun yang membuat Papa bahagia aku pasti akan melakukannya." Tania menampilkan senyum manisnya kepada Arkana.
"Terima kasih Sayang, terima kasih sudah mau menjadi istri Papa," Arkana meraih tangan mungil Tania, lalu membawanya pada bibirnya untuk di cium berulang kali. Tania tidak merasa risih dengan kelakuan Arkana karena memang Arkana sudah sering melakukan itu kepada dirinya.
"Pa, bisalah aku mengajukan suatu permintaan kepada Papa?" Arkana menghentikan bibirnya mencium tangan mungil Tania. Menatap anak gadisnya itu dengan dahi mengeryit.
"Permintaan apa Sayang?" tanya Arkana.
"Aku berharap Papa tidak marah sama peminatan aku. Bisakah pernikahan kita tidak mengundang khalayak umum Pa? Bisakah pernikahan kita dilakuakn secara tertutup?"
"Kanapa? Apa kamu malu menikah dengan Papa?" Arkana menatap sendu putrinya. Padahal di dalam benaknya sudah tersusun rapi rencana pernikahan yang begitu megah antara dirinya dan juga Tania.
__ADS_1
"Bukan Pa, aku tidak malu menikah dengan Papa. Papa tahu sendiri jika tidak ada orang yang tahu jika kita bukanlah ayah dan anak kandung. Jika kita menikah secara besar-besaran akan banyak banyak pertanyaan yang datang dari orang-orang. Apalagi saat ini aku masih kuliah, aku tidak mau di buli karena menikah dengan papa sendiri. Papa tahu lah gimana kehidupan di kampus itu. Akan banyak pertanyaan dari mereka tentang alasan kita menikah, bagaimana kita bisa menikah sedangkan mereka tahunya jika kita hanya ayah dan anak. Aku janji jika nanti Papa ingin mengadakan pesta pernikahan, maka kita tunggu dulu sampai aku tamat kuliah. Yang penting sekarang kita menikah dulu saja Pa, agar tak ada dosa yang lebih dari kita nantinya." Usul Tania.
"Baiklah jika itu yang kamu mau Sayang, Papa akan mewujudkan ucapan kamu. Tapi Papa juga akan pegang janji kamu untuk mengadakan pesta nanti setelah kamu tamat kuliah. Papa ingin mengadakan resepsi besar-besaran untuk kita berdua." Arkana menampilkan senyumnya. Meski dirinya sedikit kecewa atas permintaan putrinya namun, Arkana juga harus memikirkan masa pendidikan putrinya yang masih panjang. Tidak mungkin dirinya akan menghancurkan masa depan putrinya hanya karena ego yang memenuhi rongga dadanya.
"Terima kasih Pa, aku sayang Papa," Tania memeluk. Tubuh Arkana yang masih terasa agak lemas. Meski begitu Arkana membalas pelukan putrinya dengan erat. Tak lupa Arkana mendaratkam beberapa ciuma pada dahi Tania.
"Papa juga sayang kamu Tania,"
*****
Satu minggu telah berlalu, akhirnya hari yang di tunggu-tunggu Arkana tiba. Hari dimana dirinya akan melangsungkan pernikahan antara dirinya dan juga Tania putrinya yang bisa membuat dirinya jatuh cinta.
Arkana tampak rapi dengan tuksedo hitam yang di dalamnya dilapisi kemeja putih serta dasi panjang yang bertengger indah di lehernya. Tak lupa juga peci hitam yang menambah kesan tampan untuk Arkana.
"Alhmadulillah akhirnya hari ini kamu melepaskan masa lajang kamu Nak," Nino menepuk-nepuk bahu putranya. Sungguh Nino sangat bahagia akhirnya putra semata wayangnya menikah. Sudah lama Nino menunggu hari ini tiba, namun siapa yang dapat menentukan jodoh seseorang, contohnya saja Arkana yang menikah di umur yang sudah menginjak kepala 4. Mungkin teman-teman Arkana yang lain sudah memiliki anak bahkan mungkin juga tak lama lagi akan memiliki menantu, namun Arkana baru sekarang akan membina rumah tangga. Itupun dengan anak angkatnya sendiri. Sungguh takdir Allah itu memang unik.
"Pasti Nak, Ayah maupun Ibu pasti akan mendo'akan yang terbaik untuk pernikahan kamu juga pernikahan Heliana." jawab Nino menampilkan senyum di wajahnya yang sudah keriput.
"Terima kasih Ayah," Nino menganggukkan kepalanya.
Sedangkan di kamar lain, Tania sudah selesai di rias oleh mua pilihan Helena. Wajah Tania bak bidadari dengan polesan make-up yang bisa dikatakan tidak terlalu tebal.
"Masya Allah, kamu cantik banget Sayang." puji Helena yang mendampingi cucu yang akan merangkap menjadi menantunya itu.
__ADS_1
"Terima kasih Oma," jawab Tiana dengan malu. Tania juga tidak menyangka jika wajahnya akan secantik ini. Maklum jika dirinya sampai terpesona akan dirinya sendiri, karena saat pergi ke kampus Tania tidak pernah menggunakan make-up seperti Bella dan juga Mesi temannya. Dirinya hanya memakai bedak baby dengan sedikit polesan lipbalm pada bibirnya. Meski begitu wajah Tania tetap tampak cantik.
"Terima kasih Sayang, terima kasih sudah mau menikah dengan putra, Oma. Terima kasih sudah memenuhi keinginan putra Oma, Sayang. Oma tidak tahu jika saja kamu tidak bersedia menikah dengannya, mungkin saja Papa kamu tidak akan menikah sampai dia meninggal nantinya." Helena menatap sendu cucunya yang sebentar lagi akan menjadi menantunya. Helena sangat bersyukur dengan pernikahan Arkana, karena jika tidak mungkin saja Helena tidak akan pernah menyaksikan putranya membina rumah tangga. Bersyukur Allah masih memberinya kesempatan untuk melihat kedua anaknya menikah. Meskipun pada pernikahan Arkana dirinya harus bersabar untuk menunggu.
"Oma tidak perlu berterima kasih, karena ini juga sudah menjadi takdir yang yang Allah gariskan untukku," jawab Tania sambil memeluk Omanya dengan erat.
"Tidak Sayang, Oma harus berterima kasih sama kamu. Meskipun di hati kamu belum ada cinta untuk Arkana, Oma minta cobalah membuka hati untuk Papa kamu Sayang. Oma yakin kamu pasti bisa, jika kamu mau mencobanya. Yakinlah apapun yang sekarang terjadi, pasti itu pilihan yang tepat Allah berikan untuk kamu dan juga Arkana, Sayang. Oma yakin akan ada bahagia yang akan kalian petik suatu hari nanti. Maka ikhlas adalah kunci utamanya Nak," Manik mata Helena menatap Tania yang juga tengah menatap dirinya. Tak lupa senyum manis membingkai wajah Tania menambah kecantikan yang dimiliki Tania.
"Aamiin, terima kasih do'anya Oma,"
"Sama-sama Sayang. Yuk kita keluar acaranya sudah mau di mulai,"
"Iya Oma.
Tania berjalan di temani Helena menuju dimana tempat ikrar janji sucu mereka diadakan. Manik mata Tania menangkap Arkana yang menatap dirinya dengan kagum. Bukan hanya itu, bahkan sebagian yang lainnya yang memang di undang diacara mereka juga menatap Tania dengan penuh rasa kagum.
"Sayang kamu cantik banget, Papa sudah tidak sabar menghalalkan kamu," bisik Arkana saat Tania sudah duduk di sampingnya. Wajah Tania memerah kala mendengar bisikan Arkana yang membuat bulu kuduk Tania berdiri.
"Bisa kita mulai Pak, Arkana?" tanya Pak Penghulu.
"Iya Pak, bisa," jawab Arkana.
"SAH!!!"
__ADS_1
Akhirnya kini Arkana maupun Tania sudah sah menjadi sepasang suami istri. Dengan sekali tarikan napas Arkana lancar menjawab ucapan Pak penghulu yang menjadi wali nikah bagi Tania.
TBC