
Menikah dengan papa
18
Pagi ini Tania maupun Arkana sudah rapi dengan pakaian biasa. Mumpung hari ini weekend mereka memilih untuk berkunjung ke rumah Helena. Terkahir mereka berkunjung satu bulan yang lalu saat usia kandungan Tania 3 bulan.
"Pa kita berhenti dulu di supermarket itu ya Pa? Tidak enak jika kita hanya membawa tangan saja," pinta Tania. Meskipun mereka tidak membawa apa-apa kerumah Helena tidak membuat wanita paruh baya itu jengkel atau marah. Kehadiran anak dan menantunya saja sudah membuat Helena amat bahagia.
"Iya Sayang," jawab Arkana.
"Papa tunggu disini saja biar aku masuk sendiri lagian tidak akan lama," pinta Tania yang di angguki Arkana.
Tania memasuki supermarket dan langusng menuju pada rak buah serta cemilan. Membeli satu kilogram anggur serta satu kilogram salak. Dan juga terlahir mengambil sanjai balado khas minang. Setalah membayar kini Tania tengah berjalan menuju mobil dimana suaminya berada.
"Sudah Sayang?" tanya Arkana saat Tania sudah selesai mengenakan sabuk pengamanmya.
"Sudah Pa,"
Tania dan Arkana kini sudah sampai di rumah Helena. Berjalan beriringan dengan tangan saling bertautan satu sama lain.
"Assalamu'alaikum," ucap Tania dan Arkana. Namun tidak ada sahutan dari dalam rumah membuat mereka hanya mengedikkan bahu dengan acuh.
Arkana duduk di ruang tamu sedangkan Tania berjalan menuju dapur dengan menenteng kresek berisi belanjaan yang mereka beli.
"Ibu mana Bi? tanya Tania saat melihat wanita patuh baya itu tengah membersihkan dapur. Mungkin saja dirinya sudah selesai memasak.
" Astagfirullah Non Nia, bikin Bibi kaget saja," kejut wanita yang biasa di panggil Sasa itu dengan memegang dadanya. Untung saja dirinya tidak memiliki riwayat penyakit jantung, kalau tidak mungkin kini dirinya sudah terkapar indah dilantai marmer.
"Heheh maaf Bi, aku nggak nyangka Bibi bakal terkejut," ujar Tania tak enak hati. "Ibu di mana Bi? Biasanya juga jam segini pasti sudah duduk di ruang tamu sama Ayah?"
"Sepertinya di taman belakang deh Non, soalnya tidak mungkin nyonya berada di kamar apalagi cuaca cerah kek gini,"
"Hmm baiklah Bi, aku mau lihat Ibu kebelakang dulu, mudah-mudah Ibu memang berada di sana.
__ADS_1
Tolong pindahkan buah ini dari kreseknya ya Bi, terus tolong juga buatin jus buat Papa," pinta Tania.
"Biak Non," jawab Bibi Sasa sambil memberikan dua jempolnya membuat Tania tergelak.
Tania berjalan menuju belakang rumah yang disana memang ada kolam ikan mini milik ayah mertuanya. Dan juga ada bebeberapa bunga kesayangan Helena yang dirawat sedemikian rupa agar tidak mati.
"Sayang, kapan datang?" Helena yang melihat kehadiran menantunya langsung saja menuju Tania.
"Baru saja Bu, Ibu ngapain disini?" tanya Tania setelah menyalami tangan Helena dengan takzim.
"Ini Ibu baru saja menyirami bunga-bunga Ibu, tahulah kamu akhir-akhir ini cuaca panas terus, jadi tanahnya pada kering semua. Jika tidak Ibu sirami sudah pasti bunga-bunga Ibu bakalan mati," jawab Helena.
Tania mengangguk, Ibu mertuanya ini memang sangat pencinta bungan. Bahkan pernah saat Tania masih berumur 15 tahun Helena menangis kejer lantaran bunga yang paling dia sayangi mati karena lupa menyirami. Bahkan waktu itu ayah mertuanya mati-matian mencarikan bunga penganti yang sama untuk sang istri, agar Helena tidak merasa sedih lagi. Dan untungnya teman dari ayah mertuanya memilki bungan yang serupa sehingga Nino tidak perlu waktu berhari-hari untuk mencarinya.
"Kabar Ibu gimana? Lalu ayah di mana sekarang Bu?" tanya Tania.
"Seperti yang kamu lihat Sayang, Ibu sehat. Ayah pergi ke rumah temannya karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Tadinya Ayah ngajakin Ibu, tapi Ibu malas untuk pergi ke sana," jawab Helena.
"Baiklah ayo,"
Di ruang tamu Arkana duduk sendirian sambil memegang benda pilih di tangannya. Dirinya merasa bosan lantaran sang istri yang tidak kunjung datang.
"Silahkan Den," Sasa meletakkan jus jeruk serta kue bawang di depan Arkana.
"Terima kasih Bi, dimana istri saya Bi?" tanya Arkana yang tidak melihat batang hidung istri tercintanya.
"Sama-sama Den, itu Non Nia kebelakang nyariin Ibu Aden," jawabnya.
"Oh yasudah Bi," Sasa meninggalkan ruang tamu untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih tertinggal.
Arkana meraih jus jeruk tesebut lalu di minumnya hingga separo. Dirinya sangat haus karena cuaca hari ini memang panas. Bukan hanya hari ini namun, hari-hari sebelumnya juga panas.
"Sayang," Arkana menghampiri istrinya yang berjalan dengan Ibunya, Helena.
__ADS_1
"Ibu nggak di sapa Arkan?" rajuk Helena dengan pura-pura.
"Hehehe maaf Ibu, Ibu apa kabar?" Arkana menyalami tangan Helena lalu memeluk ibunya itu dengan erat. Tidak lupa juga Arkana mendaratkan ciuman pada pipi Helena yang sudah mengeriput.
"Alhamdulillah Ibu sehat Nak,"
Tania, Arkana dan juga Helena duduk di kursi yang berbeda. Tania dan Arkana duduk di satu kursi sedangkan Helena tepat berada di depan sepasang suami istri itu.
"Kapan kalian akan pindah kesini? Ibu merasa kesepian meskipun ada Ayah disini," Helena menatap sendu anak dan menantunya. Jujur saja Helena sangat berharap mereka tinggal di rumahnya biar ramai dan tidak sepi seperti sebelumnya.
"Kita cari waktu dulu ya Bu, mungkin dalam waktu dekat ini belum bisa. Pekerjaan aku juga masih banyak yang harus di kerjakan," jawab Arkana.
"Pekerjaan kamu jelas tidak akan pernah ada habisnya Arkan, bahkan ada setiap hari," dengus Helena membuat Tania terkekeh.
"Ibu benar Pa, pekerjaan Papa jelas tidak akan ada habisnya. Bahkan sampai anak kita lahirpun pekerjaan Papa tidak akan pernah berkurang,"
Arkana mengaruk kepalanya yang tidak gatal pasalnya apa yang dikatakan kedua wanita tersayangnya memang benar. "Hmm gini saja Bu, bagaimana jika saat usia kandungan Tania 7 bulan?" tawar Arkana menatap ibunya.
"Itu terlalu lama Arkana, kenapa nggak minggu depan saja?" tawar Helena.
"Lama apanya Bu? Sekarang saja usia kandungan Tania sudah 4 bulan artinya dua bulan lagi kandungan Tania sudah 7 bulan,"
"Dua bulan kamu kita sebentar Arkana? Dua bulan itu butuh waktu 60 hari belum lagi jam, menit bahkan detiknya," ujar Helena menatap putranya sengit.
Arkana memijit keningnya pusing lantaran ucapan sang Ibu. "Tidak bisa secepat itu Bu, lagian aku maupun Tania masih ingin menikmati masa-masa di rumah kami sendiri. Jadi Ibu tolong paham, lagian cuman dua bulan lagi kok Bu, pasti rumah ini akan ramai dengan kehadiran aku dan Tania. Dan dua bulan kemudian cucu Ibu akan lahir juga bukan? Jadi waktu itu tidak akan terasa begitu lama Bu," papar Arkana membuat Ibunya bungkam.
"Baiklah kalau itu kata kamu Arkana, Ibu juga tidak bisa memaksakan kalian agar cepat tinggal disini." jawab Helena akhirnya dengan pasrah. Dirinya juga tidak ingin mendesak sang putra yang akhirnya membuat Arkana jadi malas untuk tinggal di rumahnya. Bahkan sebuah harapan yang berkahir sia-sia jika dirinya terus memaksakan kehendak.
"Terima kasih Ibu sudah paham dengan keinginanku. Kami pasti akan tinggal disini saat kandungan Tania sudah di bulan ke 7, dan kami tidak akan ingkar janji Bu," ujar Arkana.
"Biarlah Arkana, Ibu paham,"
TBC
__ADS_1