
Menikah dengan Papa
20 Martabak Kacang
Arkana melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Melirik kiri dan kanan untuk melihat penjual martabak pesanan istrinya. Namun sudah jauh dari kantornya tidak terlihat satupun penjual martabak. Meskipun mereja orang berada namun makanan pinggir jalan bukan menjadi suatu halangan bagi mereka. Apapun itu makanan pasti akan mereka makan asalnya sesuai di lidah.
"Pak martabak kacang dua," pinta Arkana pada Bapak penjual.
"Baik Pak," Bapak penjual itu mengambilkan dua buah martabak dan memotong menjadi enam bagian dalam satu martabak.
"Terima kasih Pak dan uang kembaliannya buat Bapak saja," ucap Arkana menyodorkan yang pecahan seratus ribu.
"Terima kasih banyak Pak,"
"Sama-sama Pak,"
Arkana kembali ke mobilnya dan kembali mengendarai mobil itu menuju kampus sang istri. Mungkin saja saat ini istrinya itu tengah menunggu dirinya di tempat satpam seperti biasa jika dirinya telat datang.
"Sayang," Arkana memanggil sang istri yang tengah menatap benda pipih di tangannya. Bisa Arkana tebak jika saat ini istrinya itu tengah membaca novel-novel terciptanya.
Tania yang dipanggil langsung saja menatal sumber suara, melihat Papanya yang tengah tersenyum kepadanya langsung saja berdiri dari duduknya. Melangkah dengan hati-hati menuju mobil suaminya.
"Itu apa Pa?" tanya Tania melihat kresek di dasbor.
"Itu martabak yang tadi pagi kamu mau Sayang," jawab Arkana diangguki Tania.
Sampai di rumah Tania membuka martabak itu dan menyantapnya satu bagian begitupun dengan Arkana. Manis yang pas dan rasa yang juga sangat enak dan juga toping kacangnya juga banyak.
"Enak banget Pa," ujar Tania dikala kunyahannya.
"Iya Sayang besok kalau mau lagi bilang Papa, biar Papa beliin lagi di sana."
"Iya Pa, tapi rasa yang lainnya aku pengen Pa. Sepertinya setiap topingnya banyak deh Pa, ini saja kacangnya banyak banget,"
"Iya kamu benar Sayang, Papa juga tidak menyangka jika topingnya akan sebanyak ini," ujar Arkana.
Martabak yang di beli dua buah oleh Arkana kini hanya tinggal bungkusnya saja. Yang paling banyak makan tentu saja Tania karena nafsu makannya memang meningkat pesat sejak kandungannya 3 bulan.
•••••
"Pa kita cari gorengan yuk? Sudah lama rasanya kita tidak mencari gorengan di sore hari," ajak Tania.
__ADS_1
"Baiklah Sayang, mau dimana?" tanya Arkana menatap istrinya sekilas sebelum kembali pada laptop dipangkuannya.
"Terserah saja Pa, yang penting ada gorengannya,"
"Baiklah Papa ganti pakaian dulu," Arkana beranjak dari ranjang menuju wall in closet untuk berganti pakaian, karena saat ini Arkana memakai baju kaos lengan pendek serta celana pendek yang bahkan tidak menutupi lututnya.
Tania memilih duduk di kasur sambil menunggu suaminya selesai berganti baju. Tak lama tampak Arkana keluar dari dalam sana dengan baju kaos lengan panjang serta celana levis yang membuat Arkana seperti anan muda. Meskipun umurnya sudah kepala empat, namun wajah Arkana masih seperti umur tiga puluhan.
"Yuk jalan Sayang," ajak Arkana membuyarkan lamunan Tania yang menatap dirinya.
"Wahhh Papa keren banget, sepeti abg tahu." Tania berdecak kagum melihat suaminya. Tidak menyangka jika suaminya akan terlihat seperti anak muda dengan pakaian seperti ini. Mungkin saja biasanya Arkana akan memaka jas maka tidak terlihat seperti anak muda melainkan seorang laki-laki dewasa yang penuh kharisma.
"Kamu bikin Papa tersanjung saja Sayang," jawab Arkana malu-malu kucing. Padahal hatinya begitu berbunga-bunga.
"Isss, Papa aku seriusan loh. Papa tampak berkali-kali lipat lebih muda,"
Arakan memanyunkan bibirnya kala mendengar ucapan istrinya. Apa selama ini dirinya terlihat lebih tua, begitu? "Terus selama ini apa Papa kelihatan tua Sayang?"
"Tidak kok Pa, biasanya Papa kan pakai jas tapi Papa masih terlihat tampan kok hanya saja telihat lebih dewasa namun berkharisma. Beda sama yang sekarang Papa seperti anak abg," jawab Tania menampilkan deretan giginya yang putih. Tania tidak sedang berbohong dirinya mengatakan yang sebenarnya jika suaminya itu memang sangat tampan. Bahkan saat Tania masih SMA saja banyak teman-temannya yang naksir kepada Arkana, namun Tania tidak menanggapi sama sekali ocehan tidak bermutu dari teman-temannya itu. Toh Arkana jelas tidak mau bersama mereka, jadi ya percuma.
"Kamu nggak lagi ngehibur Papa kan Sayang?" tanya Arkana memastikan.
"Baiklah Sayang, Papa percaya. Yuk kita jalan," Arkana meraih tangan istrinya dan digenggamnya dengan erat seakan takut Tania pergi dari dirinya.
***
“Kita beli gorengannya disana saja yuk Sayang?" tunjuk Arkana pada tempat penjualan gorengan yang lumayan rame.
"Baiklah Pa, biasanya kalau rame itu enak, beda sama yang sepi. Bahkan ada kata temannya aku kalau penjual gorengannya sepi itu nggak enak, bahkan mereka juga pernah dapat yang basi Pa," ujar Tania. Bukan Tania ingin menjelekkan pedagang gorengan yang sepi, hanya saja untuk antisipasi agar dirinya tidak kena seperti temannya yang mendapatkan gorengan basi bahkan rasanya juga tidak enak sama sekali.
"Iya Sayang, lebih baik kita nyarinya tempat yang rame biar kita nggak rugi belinya. Biarpun kecil yang penting rasanya itu enak Sayang,"
"Nah iya bener banget Pa, aku setuju ucapan Papa," ujar Tania menyetujui.
Tania dan Arkana berjalan menuju penjual gorengan yang agak jauh dari mobilnya berada. Kebetulan mobil memang tidak akan bisa masuk ke dalam perkarangan itu karena jalan yang sempit dan hanya muat untuk kendaraan roda dua.
Dengan tetap bergandengan tangan Arkana berjalan beriringan dengan sang istri. Bahkan tatapan orang-orang yang melihat ke arah mereka diabaikan Arkana mau pun Tania. Lagian apa peduli mereka dengan tatapan mereka yang tidak akan ada gunanya sama sekali. Mau mereka mengejek atau semacamnya toh itu hak mereka masing-masing. Rugi pun tidak Arkana mau lain Tania. Karena setiap pandangan orang-orang itu pasti memiliki pola pikir yang berbeda.
Tania membeli 20.000 gorengan dengan campurannya tahu isi, bakwan, pergedel dan juga pastel. Tania maupun Arkana kurang menyukai pisang goreng jadi mereka tidak memilih itu. Dari pada terbuang nantinya mendingan mereka membeli apa yang memang akan mereka habiskan nantinya.
"Ada yang mau di beli lagi Sayang? Mumpung kita masih disini takutnya nanti sampai di rumah kamu ingin yang lain juga?" tanya Arkana. Bukan dirinya tidak mau kembali untuk memenuhi keinginan istrinya itu, hanya saja daripada kembali lagi yang otomatis waktu magrib jelas akan datang mendingan langsung saja sekarang.
__ADS_1
"Kita keliling sebentar gimana Pa?" tanya Tania.
"Baiklah Sayang," jawab Arkana menyetujui.
Akhirnya mereka mengelilingi tempat yang ada disana, memang tidak terlalu besar namun cukup menguras tenaga. Cukup lama pula mereka bolak-balik mencari apa yang akan diinginkan Tania hingga akhirnya Tania memiliki membeli ayam kentucky. Tania membelinya 3 buah tapi yang bagian dada karena Tania tidak suka paha begitupun dengan Arkana. Memang makanan kesukaan mereka sama, jadi tidak perlu lagi mencari ke tempat yang lain lagi.
"Ada lagi Sayang?" tanya Arkana.
"Tidak Pa, ini sudah cukup. Yuk kita pulang," Arkana menganggukkan kepalanya. Dirinya juga tidak ada yang akan dibeli lantaran sudah terlalu banyak yang mereka beli.
Sampai dirumah Tania membawa kresek berisi belanjaan mereka ke dapur. Memindahkan gorengan itu ke dalam piring besar agar bisa muat semuanya. Lalu mengambil mangkok kecil untuk memasukkan sausnya dan meletakkan cabe rawit pada pinggiran piring. Sedangkan ayah kentucky yang dibeli di masukkan Tania ke dalam lemari untuk dimakan nanti malam.
"Wahhh sepertinya enak Sayang," Arkana mengambil satu tahu isi dan mencocolnya dengan saus asam manis yang berada di mangkok kecil.
"Makanlah Pa," ujar Tania sambil duduk di samping Arkana.
Mereka makan gorengan itu hingga perut merasa kenyang. Memang rasanya sangat enak, bahkan jika masih ada lambung cadangan ingin lagi mereka untuk membeli tambahannya. Tidak rugi mereka membeli gorengan disana, bahkan rasanya bikin nagih.
Tania mengerjakan tugas kuliahnya di dalam kamar. Di sampingnya Arkana asik mengelusi perut Tania dan memutar-mutar tangannya di atas perut buncit sang istri. Rasanya sangat menyenangkan bermain dengan perut buncit itu.
"Sayang," panggil Arkana.
"Apa Pa?" jawab Tania menatap Arkana sekilas lalu kembali lagi pada laptop didepannya.
"Kamu rindu nggak sama Papa?" tanya Arkana lagi yang masih asik mengelusi perut Tania.
"Kangen maksud Papa? Aku nggak ngerti?" tanya Tania. Jelas-jelas mereka di satu kamar yang sama, dan lagian ngapain juga Arkana menanyakan soal kangen kepada dirinya. Sungguh pertanyaan Arkana ada-ada saja.
"Kamu nggak ngerti maksud Papa, Sayang?" Arkana menatap istrinya yang masih saja sibuk dengan laptopnya.
Tania menggelengkan kepalanya, jujur saja dirinya kurang paham maksud dari kangen yang dikatakan Arkana. "Tidak Pa, aku kurang ngerti maksud ucapan Papa," jawab Tania jujur.
Arkana menghembuskan nafasnya kasar. "Apa kamu nggak kangen gitu Sayang? emmm, maksud Papa, apa kamu nggak kangen Papa mengokin Dedek bayi?"
"Ohhh itu Pa, kangen sih Pa tapi aku masih banyak tugas kuliah gimana dong?" tanya Tania bingung.
"Gini saja, kita lakuin dulu nanti Papa bantuin tugas kuliah kamu gimana?" Tawar Arkana. Jujur saja dirinya sudah sangat ingin, apalagi akhir-akhir ini dirinya tidak mendapat jatah dari sang istri yang selalu saja tidur sehabis makan malam.
"Baiklah Pa," jawab Tania membuat Arkana bersorak di dalam hatinya. Akhirnya malam ini dirinya akan kembali merasakan surga dunia.
TBC
__ADS_1