
Menikah dengan papa
33
Hari-hari yang di lalui Tania begitu membahagiakan. Keluarga kecilnya yang sudah lengkap dengan kehadiran anak di antara dirinya dan juga Arkana.
Satu minggu yang lalu Tania sudah kembali memasuki kampusnya untuk melanjutkan kembali pelajarannya yang tertinggal. Airi yang saat ini sudah berusia tiga bulan membuat Arkana mencarikan baby sitter untuk putri kecilnya. Meskipun ada Helena yang akan menjaga anaknya namun melihat kondisi Helena yang sudah mulai menurun membuat Arkana tidak tega jika harus merepotkan ibunya itu. Lagian dengan adanya baby sitter, ibunya itu bisa memantau sang cucu agar baik-baik saja.
"Pagi Nia," Valencia yang baru saja datang menghampiri Tania yang sibuk dengan gawainya. Menatap foto putrinya yang tengah mengemut ibu jarinya tampak lucu.
"Ehhh, pagi Val." jawab Tania sedikit tekejut.
"Itu foto bayi siapa Nia?" tanya Valencia, karena dirinya tidak tahu jika Tania sudah menikah dan memiliki seorang anak.
"Oh itu foto anakku, Val," jawab Tania jujur, lagian dirinya tidak mungkin mengatakan darah dagingnya sebagai adiknya atau anak kakanya.
"Ehhh, kamu serius Nia? Itu anak kamu?" tanya Valencia tidak percaya. Padahal wajah Tania yang imut-imut gini tidak mencerminkan dia sudah menjadi seorang istri dan menyandang status seorang ibu.
__ADS_1
Tania mengangguk. "Iya Val, aku serius. Lagian tidak mungkin aku akan ngomong anak kandungku sebagai anak dari kakakku, Val," ujar Tania memperlihatkan foto bayinya pada Valencia.
"Hmmm, aku kira kamu belum nikah Nia melihat dari wajah kamu yang masih imut-imut gini," ujar Valencia jujur.
"Hehehe kamu bisa saja Val, lagian rupa tidak bisa menilai seseorang itu sudah ini sudah itu Val. Kadang kala juga wajahnya masih seperti anak sekolah namun umurnya suda mencapai 35 tahun. Banyakkan yang kita lihat sekarang?" Valencia mengangguk. Membenarkan ucapan Tania yang tidak ada salahnya, jujur saja dirinya juga banyak menemui hal semacam itu saat ini.
"Iya kamu benar banget Nia," jawabnya. "Oh iya anak kamu sudah usia berapa?" lanjutnya.
"Tiga bulan Val, sebenarnya aku belum di bolehin masuk kuliah sama suami aku lantaran anak kami yang masih kecil, namun ya itu aku mau secepatnya tamat dan nyari kerja yang aku inginkan. Bahkan aku nekat masuk dengan berbagai cara buku suamiku dan akhirnya suamiku ngijinin masuk dengan catatan aku harus pulang selepas kampus." ungkap Tania jujur.
"Wah baik banget suami kamu Nia, jadi kepo deh aku sama rupa suami kamu," ujar Valencia dengan wajah sumringah.
"Heheh iya juga Nia," jawab Valencia.
Akhirnya lama berbincang kini jam mata kuliah pagi mereka di mulai. Valencia yang tadi duduk di samping Tania kini sudah berpindah pada bangku tepat di belakang Tania.
("Assalamualaikum Ibu, ada apa?") Tania menekan icon hijau saat panggilan dari ibu mertuanya masuk.
__ADS_1
("Wa'alaikumsalam Nia, apa mata kuliah kamu sudah selesai?") tanya Helena di sebrang sana.
("Sudah Bu, ini aku lagi jalan keluar dari kelas,") jawab Tania.
("Kamu bisa cepat pulang Nak, ada sesuatu yang tidak bisa ibu katakan di telepon,") Suara parau Helena bisa Tania tangkap. Bahkan jelas Helena berusaha untuk tidak berbicara dengan nada parau.
("Ada apa Ibu? Kenapa Ibu menangis? Apa terjadi sesuatu di rumah Ibu?") tanya Tania yang kini sudah mulai khawatir.
("Pulanglah segera Nak, ibu tidak bisa mengatakannya disini.")
("Baiklah Ibu, aku akan segera pulang. Assalamu'alaikum,") Tania langsung mematikan teleponnya bersama Helena. Jujur saja dirinya saat ini tengah di landa rasa cemas.
"Ada apa Nia? Apa ada seuatu?" Valencia yang sedari tadi berjalan di samping Tania angkat bicara.
"Ntahlah Val, aku juga tidak tahu apa yang terjadi dirumah saat ini, karena Ibu tidak menjawab pertanyaanku," jawab Tania.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa Nia,"
__ADS_1
"Semoga saja Val,"
TBC