MENIKAH DENGAN PAPA

MENIKAH DENGAN PAPA
Kamu Cantik Sayang


__ADS_3

Menikah dengan papa


15


Malam ini Tania maupun Arkana akan menginap di rumah Helena, Ibu Arkana. Sesuai dengan yang sudah Helia katakan pada Tania tadi siang, saat ini Tania mengenakan pakaian transparan yang dibelikan Helia. Tania mematut dirinya di depan cermin. Seluruh lekuk tubuhnya terlihat jelas oleh pakain jaring ikan itu. Bahkan wajah Tania langsung merah melihat dirinya yang seperti wanita penggoda.


"Mendingan aku ganti saja bajunya, bikin malu saja yang ada. Apa lagi kalau Papa lihat," Tania berbalik dan hendak meningalkan depan cermin. Namun mata coklat Tania menatap Arkana yang kini berdiri mematung di depan pintu. Bahkan liurnya seakan ingin keluar melihat betapa seksinya Tania yang sudah halal bagi dirinya itu.


"P-papa? Sejak kapan Papa ada di sana?" Tania berusaha menyilangkan keduanya tangannya di depan dada. Dirinya terlalu malu saat ditatap Arkana seperti itu. Seakan ingin memakan dirinya hidup-hidup.


"Sudah dari tadi Sayang," Arkana menutup pintu dengan rapat tak lupa menguncinya dari dalam.


"Papa mau ngapain?" Tania menggeser tubuhnya kebelakang karena, Arkana yang terus berjalan mendekatinya.


"Kamu cantik Sayang, Papa suka," Arkana meraih tubuh istrinya untuk di peluknya. Mengusap punggung sang istri yang di lapisi kain berlubang-lubang itu.


"Papa awas dulu aku mau ganti baju, nggak nyaman pake baju ini Pa," Tania berusaha mendorong tubuh suaminya. Jujur saja dirinya sudah tidak nyaman memakai pakaian baju yang diberikan Helia.


"Papa suka kamu pakai baju seperti ini Sayang, apalagi warnanya sangat cocok untuk kamu," ujar Arkana membawa tubuh istrinya ke ranjang.


"Tapi aku nggak nyaman Pa, aneh tau kalau pakai baju kek gini,"


"Tidak apa, sekarang yuk kita bikin dedek bayi?" ajak Arkana membuat mata Tania membola. "kenapa? Apa kamu tidak mau mengandung anak Papa?" tanya Arkana menatap mata Tania dengan sendu.


"Bukan begitu Pa, tapi aku kan masih kuliah Pa, nanti apa kata orang-orang jika aku hamil bahkan tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku sudah menikah?"


"Ngapain kamu harus takut Sayang, kamu punya suami kok, kecuali kamu tidak punya suami dan tiba-tiba saja hamil baru itu menjadi sebuah pertanyaan. Kamu nggak usah mikirin itu Sayang, lagian banyak kok mahasiwa yang sudah menikah dan juga sudah hamil bahkan tidak semua orang di kampus tahu jika dia sudah menikah bukan? Palingan yang ingin tahu itu ya teman terdekat kamu atau teman satu fakultas itu hal yang wajar Sayang. Dan juga kamu punya suami kok, ngapain harus takut," Arkana mengusap lembut pipi istrinya. Memang sejak awal mereka menyatukan diri Arkana tidak pernah memakai pengaman, dirinya ingin segera memiliki anak dari Tania.


"Baiklah Pa," jawab Tania.


Akhirnya malam ini kembali menjadi saksi atas penyatuan dua anak manusia namun, di kamar yang berbeda dan rumah yang tentunya juga berbeda. Kedua insan yang tidak ada lelahnya meneguk manisnya surga dunia. Bahkan mereka berhenti tepat pada pukul 3 pagi.


****


Tania sudah berada di dapur membantu Helena dan juga Helia memaksak sarapan lagi. Biasanya yang membuat asisten rumah tangga namun, saat ini dia pulang kampung karena ada saudara yang mengalami kemalangan. Jadi art itu akan kembali lagi sekitar satu minggu lagi karena banyaknya proses yang harus di hadiri di kampungnya.

__ADS_1


"Bagaimana semalam Nia?" Helia mencubit pinggang Tania yang tengah mengiris bawang merah.


"Apanya yang bagaimana Aunty?" tanya Tania bingung. Lagian apa pokok dari yang dibahas Helia dirinya tidak tahu jadi, apa yang mau dirinya jawab kalau begini.


"Masak kamu nggak ngerti sih Nia?" Tania menggelengkan kepalanya karena dirinya benar-benar tidak mengerti maksud dari Helia. "tentang baju lingerie yang kemaren Aunty kasih?"


Tania menghentikan tangannya yang hendak mengiris kembali bawang merah yang masih tersisa. Wajah Tania berubah merah lantaran kembali mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan juga Arkana semalam. "Isss Aunty kok nanya gitu sih? Nggak usahlah bahas hal itu Aunty, malu," Tania menundukkan kepalanya lantaran dirinya benar-benar malu. Dan juga dirinya tidak akan menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan juga Arkana bukan? Itu adalah aib dirinya dan juga Arkana yang tidak boleh siapapun yang tahu kecuali mereka berdua.


"Malu kenapa sih Nia? Lagi disini juga perempuan semu kok, ngak ada tuh laki-laki," goda Helia membuat wajah Tania semakin merah.


"Ahhh sudahlah Aunty, itu privasi aku sama Papa," ujar Tania yang tidak mau menbahas lebih lanjut lagi. Karena Tania yakin jika terus di ladeni pasti akan semakin banyak pernyataan-pernyataan yang akan muncul nantinya.


"Iya deh iya, orang yang sudah malu kok, heheh," Helia menutup mulutnya karena tertawa. "Semoga di dalam sana cepat di hadiahkan sosok seroang malaikat ya Nia, Aunty berharap kalian segera mendapatkan momongan yang akan semakin melengkapi keluar kecil kalian nantinya."


Tania terharu mendengar ucapan Helia. "Aamiin, semoga saja Allah cepat kasih aku momongan Aunty, Papa juga sudah tidak sabar menantikan aku hamil," ujar Tania yang mendapatkan usapan pada kepalanya dari Helena sang ibu mertua yang sedari tadi mendengarkan ucapan anak dan menantunya.


"Berdo'a dan terus berusaha Sayang, Oma yakin tidak akan ada usaha yang akan menghianati hasil."


"Aamiin Oma, semoga saja diperut aku akan segera hadiah sosok malaikat kecil yang akan meramaikan rumah,"


"Aamiin,"




Sarapan pagi di rumah Helena kali ini sangat ramai. Helia dengan suami dan kedua anaknya, Helena dan suaminya di tambah dengan Tania dan juga Arkana. Meja makan yang sudah lama terasa sepi kini berisi dengan penuhnya. Helena merasa terharu dengan kehadiran anak, menantu dan cucunya. Sungguh tidak pernah terbayang oleh Helena jika hari ini akan terjadi di dalam hidupnya.



"Devia mau nggak tinggal disini bareng Kakak? Kita tinggal bareng, main bareng dan apa-apa saja bisa bareng?" Tania duduk bersebelahan dengan putri Helia.



"Tidak mau Kakak, aku mau tinggal bareng Bunda. Disini aku nggak punya banyak temen, tapi kalau disana temen-temen aku banyak banget," tolak gadis berlesung pipi itu dengan wajahnya yang imut.

__ADS_1



"Lama-kelamaan pasti Devia bakal punya banyak temen juga di sini. Jika baru-baru kan masih ada Kakak yang jadi temennya Devia?" tawar Tania yang mendapatkan gelengan berulang kali dari gadis berlesung pipi itu.



"No Kakak, aku nggak suka disini kalau tidak ada Bunda sama Ayah."



"Terus kalau Bunda sama Ayahnya, Devia disini emang Devia mau?"



"Tidak Kakak, aku lebih senang di sana dari pada disini. Aku paling malas kalau nyari temen lagi. Kalau di sana aku sudah banyak menal sama mereka jadi tidak perli lagi berkenalan," ujar Devia.



"Lah tapi katanya kalau Bunda sama Ayah disini Devia mau? Lalu sekarang kenapa malah bahas disana lagi?" tanya Tania bingun.



"Ya aku paksa lagi Ayah sama Bunda balik ke sana Kakak," jawab Devia seenak hatinya.



"Iya deh, kakak nyerah ngomong sama kamu," ujar Tania pasrah.



Devia terkekeh mendengar jawaban Tania yang tampak parah saja. Bahkan kini Tania sudah menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa. Sedangkan mereka yang ada di sana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Tania dan juga Devia.



TBC

__ADS_1



(Yang bingung kenapa anaknya Helia masih memanghil Tania dengan sebutan Kaka karena Devia anakmya Helia belum terbiasa memanggil Tania dengan Tante atau Aunty. dan juga kenapa Tania juga bel memanggil Helena dengan Ibu seperti Arkana karena itu semua pasti butuh proses. 18 tahun bukan waktu yang sebentar bagi Tania untuk menukar nama panggilan utnuk Ibu mertuanya Helena. karana lidahnha masih terasa keluar untuk memanggil Helena dengan sebutan Ibu.)


__ADS_2