
Menikah dengan papa
34
Tania berpisah dengan Valencia setelah dirinya menyetop taksi yang kebetulan lewat di depannya. Berulang kali Tania beristighfar dengan pikiran buruknya yang datang menghampiri. Bahkan sepanjang jalan menuju rumah tak henti-hentinya mulut mungil Tania mengucapkan istighfar kepada sang . Jujur saja dirinya tengah cemas, takut semuanya menjadi satu.
Akhirnya taksi yang membawa Tania sampai di kediamannya. Lekas wanita itu menuju perkarangan rumah, dan tampak di indra penglihatan Tania banyak orang yang hadir di halaman rumahnya bahkan pintu rumah di biarkan terbuka lebar.
"Astagfirullah, ada apa ini ya Allah? Kenapa banyak sekali orang di rumah?" monolog Tania dengan lirih.
Dengan langkah pelan Tania melewati orang-orang yang jelas menatap dirinya iba. Perasaan takut yang dirasakan Tania semakin menjadi bahkan tanpa bisa di cegah seluruh tubuh Tania sedikit bergetar dengan sendirinya.
__ADS_1
"Sayang...," Arkana menghampiri istrinya yang berdiri mematung tidak jauh dari pintu keluar. Air mata wanita itu menetes dengan derasnya kala sang suami kini berjalan dengan mata bengkak dan hidung merah.
Bahkan sosok kecil kini tertutup kain hingga tidak menampakkan apapun. Jantung Tania semakin berdetak dengan kencangnya bahkan terasa begitu menyesakkan dada.
"Mas--" lirih Tania dengan suara bergetar. "Ke-kenapa Airi di tutup kain Mas?" lanjut Tania dengan suara yang semakin bergetar.
"Sayang, kita harus sabar dan ikhlas?" Air mata Arkana juga ikut turun sama seperti istrinya. Tidak akan ada orang-tua yang bahagia jika anaknya pergi untuk selamanya. Apalagi ini anak pertama mereka yang tidak akan mudah mereka lupakan.
"Mas, putri kita, Airi," Arkana menuntun tubuh ringkih istrinya menuju sang putri yang kini sudah terbujur kaku.
Tania menyingkap kain yang menutupi putri kecilnya, mendaratkan bibirnya pada dahi sang putri yang sudah terasa dingin. Sungguh rasanya sangat menyakitkan kehilangan anak yang amat di cintanya itu. Jika saja bisa memilih ingin rasanya Tania mengantikan posisi putrinya dengan dirinya. Biarkan anaknya hidup dan merasakan indahnya dunia.
__ADS_1
"Sabar Nia, Ibu yakin Allah tengah menyiapkan kejutan yang tidak akan pernah kita semua bayangkan. Biarkan Airi tenang di sisinya dan ibu berharap kamu bisa menerima takdir seperti ini," Helena mengusap lembut bahu menantunya untuk memberikan dukungan.
Helena tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang amat di cintai segenap hati dan jiwa, tidak akan mudah.
"Ibu, putriku dia pergi meninggalkan aku untuk selamanya," Dengan sesegukan Tania berkata lirih kepada ibu mertuanya. Dirinya sungguh belum sanggup untuk ikhlas melepaskan kepergian putri kesayangan. Namun, apakah bisa putrinya kembali dan tentu saja tidak. Amat sulit bagi Tania, namun dia harus di paksa menerima kenyataan yang ada.
"Sabar, dan ikhlas itu kuncinya Nia. InsyaAllah Allah nanti pasti akan berikan hadiah yang bahkan lebih dari apa yang kamu bayangkan." ujar Helena kembali menghibur. Dirinya juga sedih, namun apa yang bisa di lakukan Helena jika tidak memberikan kekuatan untuk menantunya. Yang amat merasakan sakit disini ya Tania dan Arkana yang merupakan ayah dan ibu dari gadis kecil itu.
"Bismillaahirrohmaanirrohiim, insyaAllah aku ikhlas Bu," Tania menganggukkan kepadanya. Dirinya harus ikhlas agar putrinya tenang di sisi yang Kuasa.
TBC
__ADS_1