Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 10 Atasanku Ex Saingan Cintaku


__ADS_3

Sebulan sudah Juwita berganti status sebagai istri. Dia juga sudah bekerja sebagai karyawan magang di perusahaan Adhyaksa Group.


Juwita tidak sendirian, karena disini juga ada Alan dan Caca. Mereka jugalah yang memberikan informasi lowongan pekerjaan pada Juwita beberapa waktu yang lalu. Selama satu minggu bekerja, tidak ada kendala yang berarti.


Juwita sangat senang bekerja di perusahaan ini. Terlebih dia juga berada di divisi yang sama dengan Caca. Sementara Alan, dia bekerja di divisi yang lain dan hari ini absen karena sakit.


"Juwita, tolong serahkan laporan ini ke manager kita, ya?" pinta seorang karyawan senior siang itu.


"Apa manager kita sudah kembali masuk kerja?" tanya Juwita antusias.


Juwita belum pernah melihat manager divisinya. Dia hanya tahu bahwa manager mereka galak. Desas-desus yang beredar juga mengatakan manager suka menindas karyawan yang tidak mematuhi perintahnya. Dengar-dengar, dia hamil duluan dengan pacarnya dan seminggu ini dia mengambil cuti karena pergi berbulan madu setelah melangsungkan acara pernikahan.


"Jangan bikin masalah sama dia ya?" pesan karyawan senior tadi.


"Juwita, jangan sampai lihat wajahnya. Segera kembali setelah menyerahkan laporannya!" kata Caca mengingatkan.


"Baik!" kata Juwita.


Juwita bangkit, merapikan dirinya sebelum menemui manager wanita di ruangannya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" sahut manager itu dari dalam.


"Selamat pagi, Bu Manager! Saya kemari untuk membawakan laporan hari ini. Silahkan diperiksa!" kata Juwita dengan sopan.


"Taruh di meja. Aku akan memeriksanya nanti!" jawab Manager itu tanpa melihat Juwita.


"Kalau begitu saya permisi!" kata Juwita lagi. Juwita pun sama, dia tidak terlalu memperhatikan wajah atasannya.


Dia segera berbalik arah. Segera keluar mengikuti arahan teman-temannya yang mereka sampaikan sebelum Juwita pergi. Tapi langkahnya terhenti karena manager wanita itu menghentikannya.


"Tunggu, siapa namamu?" tanya orang itu.


Juwita pun kembali berbalik arah dan menjawab pertanyaan atasannya, "Saya Juwi,-"


Juwita tidak bisa melanjutkan kalimatnya setelah melihat wajah atasannya. Seorang wanita yang kini melihatnya dengan senyum jahat. Wanita bernama Melodi, yang ternyata adalah wanita pilihan Sadewa.


Demi wanita ini Juwita ditinggalkan. Karena wanita ini Juwita harus patah hati karena Sadewa mengingkari janji untuk menikah dengannya dan memilih wanita lain. Dan wanita lain itu kini berada tepat di hadapan Juwita. Duduk di singgasananya yang terhormat sebagai atasannya.


"Juwita, kita bertemu lagi!" kata Melodi dengan senyum yang sangat memuakkan.


"Manager, bolehkah saya kembali?" tanya Juwita. Mengabaikan sapaan Melodi dan pamit secepatnya.


Dadanya sangat sesak. Juwita sudah menjauh dari Sadewa. Tidak ingin melihatnya lagi dan bertemu dengannya. Dia bahkan tidak hadir saat dia menerima undangan pernikahan Sadewa. Siapa yang mengira bisa seperti ini.


Di tempat barunya Juwita harus bertemu dengan wanita yang pernah menjadi saingan cintanya dan lebih buruk lagi karena Juwita harus bekerja sebagai bawahannya.

__ADS_1


Meskipun begitu, Juwita masih bisa berpikir jernih. Tidak kalap dan marah seperti hari saat dia kembali dan menggagalkan pernikahan mereka. Tapi apa yang akan terjadi kedepannya. Sebagai karyawan magang, sangat mudah baginya untuk ditendang keluar. Juwita sudah sangat berhati-hati, tapi jika pada akhirnya atasannya adalah musuhnya, pemecatan dirinya rasanya tinggal menghitung hari saja.


"Tentu saja. Silahkan kembali ke ruanganmu dan bekerja dengan serius," jawab Melodi.


Juwita segera pergi. Meninggalkan ruangan itu dan terduduk lemas saat tiba di ruangannya.


"Kenapa harus dia?" sesal Juwita sambil mengusap wajahnya


.


.


.


"Kamu kenapa?" tanya Caca saat mereka istirahat siang di kantin. Caca rupanya menyadari Juwita yang terlihat berbeda sekembalinya dari ruangan Melodi.


"Sepertinya aku akan segera dipecat," jawab Juwita jujur tapi terlihat lemas.


Baru beberapa hari yang lalu Juwita membanggakan dirinya karena berhasil diterima bekerja di perusahaan besar sekelas Adhyaksa Group. Dia bahkan selalu memamerkannya pada kelima adik barunya yang sebenarnya masih tidak tahu apa-apa. Juwita juga sudah berjanji akan mentraktir mereka saat menerima gaji pertamanya.


Juwita masih ingat bagaimana bahagianya Ayah Bubu dan Bunda Nindi saat membanggakannya di hadapan Jeffsa. Tapi sepertinya kebanggaan itu akan segera berakhir. Juwita sangat malu, malu pada orangtua angkat barunya juga malu pada Jeffsa suaminya.


"Kenapa harus dipecat?" tanya Caca bingung. Seingatnya Juwita tidak melakukan kesalahan apapun dan bekerja sangat baik meskipun masih magang.


"Ca, Melodi itu ternyata istrinya Kak Sadewa. Aku sudah mengacaukan pernikahan mereka waktu itu. Dia pasti menyimpan dendam padaku," curhat Juwita.


Caca yang sebelumnya sibuk dengan makanannya langsung diam. Membayangkan betapa gelapnya masa depan Juwita di perusahaan ini sekarang.


"Juwita, percayalah padaku. Dia pasti akan mencari-cari kesalahanmu dan membuatmu terlihat buruk di mata orang-orang," kata Caca.


"Juwita, maaf. Tapi sepertinya itu yang terbaik. Daripada bekerja di satu perusahaan dengannya, lebih baik kau berhenti. Aku yakin dia akan mempersulit mu," jawab Caca.


"Aku tahu," lirih Juwita.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Aku akan membantumu mencari lowongan pekerjaan yang lain nanti," lanjut Caca.


.


.


.


BRUK


Jam menunjukkan pukul 16.50 sore. Sepuluh menit lagi harusnya Juwita pulang tapi setumpuk berkas itu diletakkan di meja Juwita.


Juwita melihat kearah wanita yang berdiri di depan mejanya. Ingin tahu siapa yang memberikan tugas sebanyak itu di akhir jam kerja.


"Juwita, kau tidak diijinkan pulang sebelum menyalin semua berkas ini," perintah Melodi kemudian pergi begitu saja.


"Sialan!" umpat Juwita.

__ADS_1


Sepertinya pembalasan dendam Melodi sudah dimulai sekarang. Tapi Juwita harus tetap profesional. Meskipun masih magang dia tetap harus menyelesaikan pekerjaannya dengan serius. Jadi Juwita segera membuka komputer miliknya dan mulai menyelesaikan tugasnya tanpa mengeluh sedikitpun.


"Aku bantu ya?" kata Caca saat semua karyawan mulai pulang.


"Memangnya boleh?" tanya Juwita.


Berkas itu sangat banyak, bahkan meskipun harus dibantu Caca sepertinya mereka akan tetap pulang larut malam.


"Boleh, asal tidak ketahuan," jawab Caca kemudian segera membantu Juwita.


Dua sahabat itu saling kejar. Dua-duanya konsentrasi dengan komputer mereka masing-masing. Tidak ada percakapan yang berarti karena mereka ingin segera menyelesaikannya dan pulang.


Setelah bergelut selama empat jam akhirnya semua selesai. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan mereka belum makan.


Keduanya bergegas. Segera turun dan berencana makan malam bersama. Tapi terhenti karena Juwita melihat Sadewa.


"Apa Melodi belum pulang. Dia pasti sengaja agar aku melihatnya," gumam Juwita kesal.


"Ayo, cuek aja!" ajak Caca kemudian menarik Juwita. Tapi pergerakannya disadari oleh Sadewa.


"Juwita?" panggil Sadewa ketika menoleh dan melihat siapa yang lewat. Tidak hanya memanggil, Sadewa juga mendekatinya.


"Juwita, kamu kerja disini sekarang? Kenapa nomormu tidak bisa di hubungi. Kakak merindukanmu," kata Sadewa kemudian berinisiatif memeluk Juwita.


Meskipun sangat marah karena Juwita menikah dengan Jeffsa tapi nyatanya Sadewa tetap tidak bisa membenci Juwita. Karena sebenarnya Sadewa pun mencintai Juwita. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Dia hanya bisa menyesal, kenapa tidak berhati-hati sampai tergoda untuk tidur dengan Melodi sehingga harus mengingkari janjinya pada Juwita. Sadewa faktanya menikah dengan Melodi karena tanggungjawab bukan karena cinta.


"Lepas!" dorong Juwita.


"Juwita, kenapa?" seru Sadewa. Dia tidak menyangka Juwita menolaknya. Apa dia masih marah?


Juwita ingin menjawab, tapi seseorang datang disaat yang sangat tepat. Melodi, entah apa yang dia lakukan. Sepertinya dia sudah akan memulai dramanya di hadapan Sadewa.


"Juwita, kamu mau pulang bareng?" tanya Melodi dengan ramah. Nada bicaranya sangat berbeda seperti saat mereka hanya berdua siang tadi. Tidak hanya sok ramah, dia juga sok perhatian.


"Nggak apa-apa kan, Sayang?" tanya Melodi kepada Sadewa dengan melingkarkan tangannya. Sadewa terhenyak, tidak suka Melodi berbuat mesra seperti ini di hadapan Juwita.


Juwita bisa melihat semuanya dengan jelas. Juwita tidak marah, dia tidak berhak. Hanya saja dia masih bisa merasakan sakit hati melihat Sadewa bersama wanita ini. Kenapa hari ini dia sangat sial. Meskipun dia sudah menikah dengan Jeff, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa dia masih mencintai Sadewa. Melihat mereka bermesraan di depan matanya kembali meremukkan hatinya yang sempat membaik.


"Juwita, apa begini sikapmu saat bertemu kakak iparmu?" tanya Sadewa.


"Dia bukan kakak ipar ku. Dia atasanku," jawab Juwita.


"Mel, benarkah?" tanya Sadewa mengkonfirmasi.


"Benar," jawab Melodi.


"Kalau begitu aku titip Juwita ya. Meskipun dia sedikit manja dan keras kepala tapi dia pasti bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan kemampuannya," kata Sadewa.


"Tentu, aku akan dengan senang hati menjaga dan membantunya nanti," janji Melodi.


"Juwita, ayo!" ajak Sadewa.

__ADS_1


"Aku bisa pulang sendiri," tolak Juwita. Kemudian menarik Caca dan pergi dari tempat itu secepatnya.


...***...


__ADS_2