Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 20 Aku Mengundurkan Diri


__ADS_3

"Kenapa ramai sekali?" batin Juwita setibanya di kantor dan mendengar suara ribut-ribut.


Juwita sangat penasaran dengan apa yang terjadi, terlebih saat melihat rekan-rekannya membentuk sebuah kerumunan. Tapi rasa penasarannya berubah menjadi kebingungan saat melihat pandangan mereka yang ada di nagian belakang tertuju kearahnya.


"Ada apa?" tanya Juwita kepada rekan yang posisinya paling dekat dengan suara nyaris tak terdengar.


Rekan wanita itu diam saja. Tapi tangannya menunjuk kedalam kerumunan dengan gesture aneh.


"Ini bukan pekerjaan Juwita. Aku mengenal Juwita sangat baik. Dia bertanggung-jawab. Aku melihatnya bekerja keras seharian untuk menyelesaikan ini semua. Aku bahkan sempat menemani dan memeriksa pekerjaannya. Bukan itu yang dia kerjakan kemarin. Pasti ada seseorang yang sengaja melakukan ini agar Juwita mendapat masalah!"


Suara lantang milik Caca itu bisa di dengar oleh Juwita yang saat ini berdiri di bagian terluar. "Apa yang Caca katakan barusan. Apa ada masalah dengan pekerjaannya kemarin?" batin Juwita.


"Benarkah? Tapi kenapa laporan semacam ini yang terkumpul di meja kerjaku. Bagaimana kau bisa menjelaskan ini?" tanya Melodi.


Melodi melemparkan salah satu laporan ke arah Caca dengan kasar. Lalu tersenyum tipis saat melihat Caca memeriksa lembar demi lembar laporan yang sangat acak-acakan.


"Bagaimana?" tanya Melodi dengan melipat kedua tangannya. Dia sangat puas melihat Caca menjadi pucat seperti mayat. Bagaimana tidak, Presdir datang hari ini dan Juwita melakukan kesalahan seperti ini. Dengan status yang masih magang, Melodi sudah punya alasan kuat untuk memecat Juwita tanpa harus melaporkannya ke atasan.


"Bu Melodi, kenapa kita tidak memeriksa CCTV untuk memastikannya?" tantang Caca.


Caca masih tidak percaya. Dia tahu ini semua pasti ulah Melodi mengingat Melodi sangat membenci Juwita karena pernikahannya pernah dirusak Juwita.


"Tentu saja akan diperiksa. Tapi bagaimana dengan Presdir. Beliau setidaknya akan datang kurang dari satu jam. Apa kau tahu apa akibatnya jika membuat Presdir marah?" tanya Melodi.


Memeriksa CCTV katanya? Apa itu sebuah ancaman? Periksa saja jika ingin memeriksa. Memangnya apa yang akan mereka dapatkan dengan melihat CCTV rusak? Melodi sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Dia melakukan ini bukan tanpa persiapan. Takut? Tentu saja tidak karena dia sudah membayar seseorang dengan imbalan yang mahal untuk membereskan masalah CCTV itu.


Juwita yang sudah tahu apa masalahnya segera menerobos kerumunan. Pekerjaan itu adalah tanggung jawabnya. Jika ada kesalahan, tentu saja harus dia yang bertanggungjawab bukannya Caca.

__ADS_1


"Aku ada disini. Tidak perlu berdebat dengan Caca yang tidak tahu apa-apa," kata Juwita.


Caca dan Melodi menoleh bersamaan. Caca sangat ingin mencakar wajah Melodi saat Melodi tersenyum puas melihat Juwita datang. Tapi tidak berani karena bagaimanapun juga itu tidak dibenarkan. Jadi dia hanya bisa mendekati Juwita untuk menjelaskan semuanya.


"Aku sudah tahu," kata Juwita pelan sebelum Caca sempat berbicara.


"Oh, kau masih bisa santai saat pekerjaanmu amburadul seperti ini. Apa kau tahu, mungkin Presdir akan menggantungmu sampai mati setelah melihatnya nanti," kata Melodi.


"Oh, benarkah? Sayangnya aku tidak takut karena aku sudah mengerjakannya dengan benar dan meletakkannya di mejamu kemarin," kata Juwita.


"Inikah yang kau sebut dengan baik. Apa begini caramu bekerja? Anak SD pun juga bisa melakukannya jika seperti ini!" gertak Melodi.


Jika tadi Melodi melemparkan satu laporan kearah Caca dengan kasar, sekarang ini Melodi melemparkan beberapa laporan sekaligus ke wajah Juwita dan Caca. Untung saja Alan datang di saat yang tepat dan menepis.


"Mungkin saja kau orangnya kan?" tanya Alan.


"Kau siapa? Aku tidak ingat punya bawahan sepertimu. Apa yang membuatmu berani kemari dan ikut campur?" tanya Melodi.


"Caca adalah istriku sedangkan Juwita adalah temanku. Lalu kau melakukan tindakan tidak terpuji seperti ini. Bukankah seharusnya alasan ini cukup untuk membuatku berada disini? Lagipula masih ada waktu sebelum Presdir datang. Jika memang laporan ini bermasalah, kenapa tidak mengerahkan semua bawahan yang ada di divisimu untuk menyelesaikannya bersama-sama? Bukankah kalian adalah Team?" jawab Alan.


Pria itu tidak takut. Melodi memang termasuk atasannya meskipun beda divisi. Tapi karena Melodi sudah keterlaluan, maka Alan tidak akan menahan untuk ikut campur.


"Kau berani mengomentari apa yang kulakukan? Dengar, aku sedang mengajari bawahanku. Sebaiknya kau diam saja. Alasanku tidak membuat mereka menyelesaikan ini sebelum Presdir datang karena aku juga sudah membuatnya untuk berjaga-jaga," kata Melodi.


"Berjaga-jaga? Apa kau pikir kami anak kecil?" tanya Alan.


Tangan Alan sudah mengepal. Jika Melodi ini perempuan, sudah pasti dia memberikan bogem mentah sejak tadi.

__ADS_1


"Terserah kau percaya atau tidak. Tapi begitulah kenyataannya. Sebaiknya kau segera angkat kaki atau aku akan memberikan catatan buruk kepada kepala divisimu agar dia memecatmu," ancam Melodi.


"Pecat saja. Apa kau pikir aku takut?" sahut Alan.


Caca yang berdiri di belakang Alan terkejut dengan jawaban Alan, terlebih Juwita. Dialah akar masalahnya. Kenapa Alan memilih dipecat hanya untuk membelanya?


Juwita menghirup nafasnya beberapa kali sebelum memegang tangan Alan dan menariknya. "Biar aku yang menyelesaikan urusanku!"


Juwita mulai mendekati Melodi. Lalu menyerahkan satu tentengan untuknya. "Kau tahu kan, aku sangat membencimu. Aku juga tahu kau pasti juga membenciku. Kau atasanku disini. Aku tahu hal seperti ini akan terjadi sebagai bentuk pembalasan dendammu. Jadi aku mengambil salinannya untuk menghindari hal-hal seperti ini. Kau ingin laporan yang ku kerjakan bukan? Ini kuberikan untukmu!" kata Juwita kemudian pergi begitu saja.


"Juwita, kau mau kemana?" tanya Caca dan Alan bersamaan.


"Pulang!" jawab Juwita.


"Juwita berhenti!" teriak Melodi.


Tapi Juwita sekalipun tidak menghiraukan panggilan Melodi.


"Kau hanya karyawan magang tapi bersikap sangat angkuh seperti ini kepada atasanmu. Apa kau ingin dipecat?" tanya Melodi.


"Siapa yang bilang kau atasanku. Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku sebelum kesini. Lalu, apa kau pikir kau pantas jadi atasanku?" jawab Juwita tanpa menoleh sedikitpun.


Tidak ada lagi yang menghalangi Juwita sekarang. Caca bahkan juga langsung mengemasi barang-barangnya setelah Juwita tak lagi terlihat. "Aku juga mengundurkan diri," katanya. Lalu segera berlari mengejar Juwita.


Semua orang tertuju pada Alan yang masih berdiri di depan Melodi. Alan pun juga pergi tidak lama setelah kepergian Caca. "Kau atasan yang sangat buruk. Aku menyesal selama ini bekerja dengan bangga di perusahaan yang memelihara orang sepertimu!"


Alan melangkah dengan santai. Membalas tatapan orang-orang disekelilingnya dengan senyuman. Senyumnya baru berhenti ketika dia berpapasan dengan kepala divisinya di depan lorong.

__ADS_1


"Pak Kepala, aku mengundurkan diri. Mulai hari ini jangan mencariku lagi!" kata Alan.


...***...


__ADS_2