Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 24 Teruslah berlari, Anakku!


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


"Bun, ayah kapan pulang?" tanya anak laki-laki tertua Nindi.


"Ayah masih menjemput Kak Juwi. Sana, temani adik-adikmu main. Nanti kalau Kak Jeff atau ayah datang segera buka pintunya, ya?" jawab Nindi seraya mencicipi rendang yang dia masak.


Anak berumur 12 tahun itu menurut. Kembali ke depan untuk menjaga adik-adiknya sembari menunggu ayah, kakak serta kakak iparnya. Sementara ibu mereka sibuk memindahkan berbagai olahan ke meja lalu membereskan semua alat masak yang memenuhi dapur sebelum tamunya datang.


Sedangkan untuk Jeffsa, siang tadi dia dan Juwita baru makan bersama. Lalu setengah jam yang lalu Juwita berpesan agar Jeff langsung ke rumah Bubu dan tidak perlu menjemputnya karena Ayah Bubu sudah dalam perjalanan untuk menjemputnya.


"Baiklah, waktunya pulang!" kata Jeffsa.


Pria itu merenggangkan tubuhnya sebentar. Lalu membereskan semua peralatan kerjanya dengan hati senang sembari membayangkan wajah Juwita yang sampai saat ini masih perawan.


"Kita sudah bekerja keras hari ini. Cepat pulang dan nikmati akhir pekan kalian!" kata Jeff lantang. Jeff sudah berdiri di depan ruang kerja yang berisikan seluruh anggota timnya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang melihat kearahnya.


"Pak Jeff, tapi ini belum selesai!" sahut salah satu anggota tim.


"Pak Jeff, pulang saja dulu. Masih ada yang harus ku kerjakan!" jawab yang lainnya.


"Pak Jeff, kami akan lembur. Apa tidak ada segelas kopi untuk kami?" tanya anggota senior yang cukup lama bekerja dengan Jeff.


"Tidak ada!" jawab Jeff dengan wajah ditekuk.


Sebelumnya Jeff sudah menyiapkan bonus sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mereka. Untuk itulah Jeff meminta mereka cepat pulang dan menikmati akhir pekan. Tapi Jeff tidak menyangka dirinya malah diacuhkan seperti ini dan mereka hanya minta segelas kopi.


Tapi situasi seperti itu tidak berlangsung lama, karena setelah satu persatu ponsel mereka berbunyi mereka semua tersenyum lebar kearah Jeff. Sejumlah uang telah ditransfer atas nama Jeffsa sebagai pengirimnya. Lengkap dengan sebuah pesan berisikan ucapan selamat menikmati akhir pekan dan jangan lupa bahagia.


"Pak Jeff, kami mencintaimu!"


"Pak Jeff, kami akan lebih rajin bekerja di masa depan!"


"Pak Jeff, terimakasih!"


Seluruh anggota yang semuanya pria itu siap berlari untuk memberikan pelukan kepada Jeffsa. Tapi Jeff lebih dulu menolak sebelum mereka mendekat. "Jangan mendekat! Lain kali tidak akan ada bonus lagi jika kalian memelukku!" kata Jeff lantang.


"Pak?" protes mereka tapi diabaikan oleh Jeff.

__ADS_1


Setelah Jeff memberikan kode tanpa kata-kata, akhirnya mereka menurut. Meskipun canggung, tapi mereka meringkas barang-barangnya dan pulang dengan sumringah. Begitu pun dengan Jeff yang juga langsung menuju rumah mertua jadi-jadiannya.


Begitu mendengar suara motor Jeff, kelima adik Juwi itu pun segera menyambut ke depan. Bukan untuk memeluk Jeff, tapi menerima buah tangan yang sengaja Jeff bawakan untuk mereka.


"Juwi sama Bang Bubu mana, Mbak Nin?" tanya Jeff.


"Yang benar bunda, Kak Jeff!" Protes anak tertua Nindi.


Jeff melirik anak itu. Lalu menyodorkan sepotong martabak jamur spesial ke mulutnya agar diam. "Memanggil Bang Bubu dan Mbak Nindi dengan sebutan ayah dan bunda? Jangan harap!" batin Jeff gemas.


Jeff melihat ke arah jam dinding. Jarak rumah mereka hanya lima belas menit saja. Jika pulang pergi juga hanya memakan waktu setengah jam, tapi kenapa mereka belum datang meskipun Bubu menjemput Juwita sejak satu jam yang lalu?


"Apa mereka mampir beli sesuatu ya, Jeff?" sahut Nindi. Sebenarnya dia juga penasaran. Seharusnya mereka sudah sampai setengah jam yang lalu.


"Sudah ditelepon?" tanya Jeff.


"Nggak diangkat," sahut Nindi.


Mereka masih tenang sampai saat ini. Tanpa tahu dua orang yang mereka tunggu sedang dikejar-kejar oleh sekelompok pria bayaran suruhan mamanya Anggara dan diawasi langsung oleh si kembar Anggika dan Anggita.


"Wi, kamu masih bisa lari?" tanya Bubu lirih.


"Bisa," jawab Juwita.


Keadaannya sudah seperti ini. Mana mungkin Juwita bilang tidak. Juwita tersenyum, inilah ayah yang Juwita impikan. Tidak meninggalkannya meskipun situasinya sedang tidak baik-baik saja. Juwita segera bersiap. Mengira ayah angkatnya akan mengajaknya berlari lagi. Tapi sepertinya Juwita harus menangis lebih keras karena ternyata Bubu memintanya untuk berlari sendiri.


Bubu mengatur nafasnya. Memastikan Juwita mengerti instruksi yang akan dia katakan. "Juwita anakku, berlarilah! Pokoknya terus berlari dan cari siapapun yang bisa menolongmu. Ingat, jangan melihat kebelakang apapun yang terjadi."


"Berlari sendiri?" tanya Juwita.


Bubu hanya mengangguk dengan senyum yang sangat dipaksakan. Dia tidak ingin menjadi beban Juwita yang terus memapahnya hingga sampai di tempat ini.


"Tidak mau!" tolak Juwita.


"Juwita?"


"Kalau Juwi lari, bagaimana dengan Ayah Bubu?" tanya Juwita.

__ADS_1


"Ayah akan menunggu disini!" jawab Bubu.


Juwita melihat kaki Bubu yang penuh dengan darah. Dia tidak ingin pergi sendiri. Tapi dengan kondisi ayahnya yang seperti itu, bagaimana mungkin dia memaksanya berlari.


"Tapi,-"


"Cepat pergi cari suamimu atau paman-pamanmu yang lain. Katakan ayah ada disini. Mereka pasti akan datang menolong ayah," potong Bubu.


"Tunggu Juwi kembali. Jangan pergi kemana-mana!" kata Juwita.


Dengan berat hati akhirnya Juwita berlari. Meninggalkan ayah angkatnya setelah menyembunyikannya di balik tumpukan palet di sebuah gang gudang dan menyelimutinya dengan terpal bekas.


"Sepertinya aku akan mati hari ini," ucap Bubu setelah melihat Juwita menjauh.


Ada aliran bening yang mengalir dari mata Bubu. Mana mungkin dia duduk dan menunggu Juwita sementara penjahat itu sudah semakin mendekat. Alasan Bubu menyuruh Juwita berlari adalah untuk memastikan Juwita pergi sementara dirinya akan pergi ke arah lain untuk mengecoh penjahat.


Dengan kaki yang terseok-seok, Bubu pergi ke arah yang berlawanan. Tidak perlu meninggalkan jejak karena tetesan darahnya sudah cukup untuk membuat penjahat itu mengejarnya. Benar saja, Bubu belum berjalan jauh. Tapi penjahat itu sudah mengepungnya.


"Semoga saja Juwita sudah pergi jauh," batin Bubu.


Beberapa penjahat itu mengitari Bubu lengkap dengan pentungan dan benda lainnya. Bubu tersenyum tipis, sudah siap berkelahi meskipun tahu akan kalah. Baiklah, karena tidak bisa kabur lagi, maka berkelahi saja sepuas hatinya lalu mati tanpa penyesalan.


Menyesal?


Benarkah Bubu tidak menyesal? Dia sudah berusaha sejauh ini. Dia juga sudah melindungi Juwita sampai batas yang dia bisa. Itu adalah kebahagiaan tertinggi dari seorang ayah. Tapi jika boleh, Bubu ingin mati di tempat yang lain dengan cara yang lain dan di waktu yang lain.


Dia masih ingin melihat kelima anaknya tumbuh menjadi pria dewasa. Dia masih ingin mendengarkan omelan istrinya setiap hari. Dan yang terakhir, dia ingin mendengar menantu berandalannya itu memanggilnya dengan sebutan ayah mertua dan membuatnya sungkem di kakinya.


Baiklah, lupakan angan-angan itu. Sekarang waktunya berkelahi.


Bubu siap dengan kuda-kudanya meskipun tidak sempurna. Satu pria patah tulang melawan banyak orang, tentu saja Bubu ambruk juga meskipun sempat mendaratkan pukulannya beberapa kali.


Pria itu tersungkur penuh darah. Penglihatannya sudah kabur. Tapi kenapa dia bisa mendengar Juwita memanggilnya. Apa Juwita kembali? Apa Juwita tidak benar-benar pergi?


Sungguh sial. Kenapa nasib Bubu sungguh sial. Sudah punya istri yang cerewet dan lima anak yang bandel. Lalu kenapa masih harus punya menantu yang berandalan dan anak angkat yang keras kepala seperti Juwita?


...***...

__ADS_1


__ADS_2