
Siang hari di akhir pekan ini, Jeff mengajak Juwita keluar. Juwita kira Jeff akan membawanya jalan-jalan untuk mengisi quality time mereka seperti setiap akhir pekan yang mereka lalui selama ini. Juwita sangat senang, ukiran senyum tak pernah lepas dari sudut-sudut bibir di wajahnya yang manis.
Sampai akhirnya Juwita sadar ke arah mana Jeff membawanya pergi beberapa menit kemudian. Senyum itu berangsur hilang bersamaan dengan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Juwita.
"Kenapa membawaku kemari?" tanya Juwita.
Mereka sudah sampai di tempat tujuannya. Tapi sepertinya Juwita enggan turun meskipun Jeff sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Kita selesaikan semuanya hari ini disini, Juwita!" jawab Jeffsa.
"Semuanya sudah selesai sejak dulu, Jeff! Aku ... selamanya tidak ingin menginjakkan kakiku disini lagi." Juwita menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya ke udara sebelum berpaling dari tatapan suaminya.
"Kau tidak mau turun?" tanya Jeffsa.
"Tidak!" jawab Juwita singkat.
Juwita enggan melihat Jeff yang setia menunggunya. Lalu menutup kembali pintu mobil yang sebelumnya Jeff buka untuknya. Tapi gagal karena Jeff sudah lebih dulu menahannya.
"Aku tahu tempat ini seperti mimpi buruk untukmu. Aku tahu aku hanya akan membuatmu mengingat kembali masa sulit itu,-"
"Lalu kenapa kau masih membawaku kemari?" potong Juwita.
Wajah itu merah padam. Bukan karena malu, tapi karena benci dan amarah yang belum sepenuhnya padam di lubuk hatinya yang terdalam.
Jeff menanggapi marahnya Juwita dengan senyuman. Dia tahu akhirnya akan seperti ini. Tapi Jeff adalah seorang pria, selain itu dia juga seorang kepala keluarga. Jadi dia berkewajiban untuk memastikan anggota keluarganya hidup tenang dan nyaman. Terbebas dari belenggu masa lalu kelam yang terkadang masih menjelma menjadi mimpi buruk yang menghampiri Juwita di tidur malamnya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya barusan, Wi? Aku ingin mengakhirinya semuanya hari ini," jawab Jeffsa.
Saat ini mereka sudah berada di depan rumah orangtua angkat Juwita. Dan di dalam sana, seharusnya keluarga inti Anggara sudah menunggu tamu spesial yang identitasnya masih Anggara rahasiakan.
"Aku mau pulang!" kata Juwita.
Juwita memegang tangan Jeff erat-erat. Berharap pria itu segera membawanya kembali ke rumah mereka yang nyaman karena Juwita tidak ingin tinggal di tempat ini lebih lama lagi dari ini.
Kenapa Jeff berharap Juwita mau masuk. Kenapa Jeff setega itu. Siapa juga yang ingin masuk ke rumah seperti neraka yang menyisakan kenangan pahit di masa kecilnya. Pukulan itu, rasa lapar itu dan tatapan kebencian itu Juwita masih bisa mengingat semuanya dengan jelas. Jadi kenapa dia harus masuk. Memangnya apa yang akan dilakukan Jeff untuk mengakhiri semuanya?
"Wi, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi sekarang sudah berbeda. Dulu memang hanya ada Sadewa yang melindungimu, tapi sekarang sudah tidak sama lagi. Selain dia, masih ada Anggara. Lalu apa kau tidak melihat aku yang berdiri di depanmu. Bukankah aku selalu melindungimu, Wi?" kata Jeff panjang lebar.
Mendengar itu, Juwita langsung memeluk Jeffsa. Juwita tahu semuanya sudah berbeda. Juwita tahu Jeff akan melindunginya. Tapi untuk kembali masuk ke rumah ini, Juwita benar-benar tidak berani.
"Aku takut," ucap Juwita lirih.
Sial, Juwita sebenarnya tidak ingin menangis. Tapi air mata itu jatuh juga. Di satu sisi, Juwita merasa bersalah jika tidak menuruti apa kata Jeffsa. Tapi disisi yang lain Juwita ketakutan. Mau bagaimana lagi, dia juga tidak ingin seperti ini tapi tangannya bahkan tidak berhenti gemetar sejak tadi.
"Wi, kau percaya padaku kan?" tanya Jeffsa.
"Percaya!" jawab Juwita.
"Lalu, kalau aku berjanji tidak akan terjadi hal buruk setelah kita masuk nanti, bukankah seharusnya kau percaya?" tanya Jeffsa.
Jeff memeluk erat tubuh istrinya. Menepuk-nepuk punggung itu untuk menenangkan Juwita. Berharap istrinya bisa mengerti dan berkompromi kali ini saja.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku tidak bisa keluar lagi setelah aku masuk. Bagaimana kalau aku tidak bisa melihat dan memelukmu lagi seperti ini setelah ini. Bagaimana kalau di dalam sana mereka,-"
"Ssttt! Aku janji itu tidak akan terjadi. Aku janji akan membawamu keluar bersamaku. Jadi jangan takut karena aku akan selalu memegang tanganmu. Jadi, maukah kau masuk kesana bersamaku?" bujuk Jeff lagi.
Juwita mendongakkan kepalanya. Memandang wajah teduh Jeff lekat-lekat untuk beberapa saat. Sungguh, dia tidak ingin pergi. Tapi melihat wajah pria yang selalu sabar menghadapinya membuat Juwita menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
Juwita akhirnya turun. Berjalan berdampingan dengan memegang erat tangan Jeffsa menuju rumah orangtua angkatnya. Tidak banyak yang Juwita lakukan. Dia hanya terus mengikuti Jeff kemanapun dia melangkah. Sementara Jeff melirik Juwita sebentar, lalu tersenyum simpul dan mengeratkan genggaman tangannya agar Juwita merasa aman.
Jeff tahu api kemarahan itu masih menyala di hati Juwita. Jeff tahu tidak mungkin bagi Juwita untuk menghapus kenangan pahit itu. Jeff juga tidak akan meminta Juwita memaafkan mereka nanti. Hanya saja Jeff tidak ingin ada kebencian apapun di hati Juwita mulai hari ini.
Jeff ingin Juwita pelan-pelan berdamai dengan masa lalu yang menyedihkan itu. Lalu mengingat masa lalunya dari sisi yang berbeda. Masa lalu itu mungkin memang kelam, tapi bukan berarti semuanya tidak indah kan. Pasti masih ada beberapa kenangan manis yang terlupakan karena Juwita lebih memilih mengingat bagian yang menyedihkan.
Jeff melakukan ini bukan tanpa alasan. Alasan pertama adalah, karena dia mencintai Juwita. Lalu alasan berikutnya adalah karena Juwita akan jadi seorang ibu. Jeff tidak ingin ada hal sekecil apapun yang mengganggu fokus Juwita saat merawat anak mereka nanti. Jeff ingin Juwita tidak takut lagi, tidak menangis lagi ataupun bersedih lagi. Jeff ingin Juwita menjadi Juwita yang bebas dan lepas.
Lalu menjalani kehidupan rumah tangga yang manis dan hidup bahagia dengan anak-anak mereka sampai mereka menua.
.
.
.
"Sebenarnya siapa tamu kita hari ini?" tanya Mama Reta.
Di tempat itu ada Papa Albert, Mama Reta, Anggara, serta kembar Anggita dan Anggika. Mereka sudah duduk selama setengah jam di ruang tamu atas permintaan Anggara. Tapi tidak ada siapapun yang datang.
"Mereka akan segera datang," jawab Anggara.
Tidak lama setelah itu, seorang maid datang. Melapor pada mereka bahwa ada dua tamu yang ingin bertemu dengan mereka. Anggara yang tahu siapa tamu yang dimaksud segera bangkit. Menjemput Jeff serta Juwita untuk mempersilahkan mereka masuk.
"Ma, Pa, tamu kita sudah datang!" kata Anggara.
Keempat orang itu menoleh bersamaan. Melihat dengan jelas siapa yang berani membuat mereka menunggu hingga lebih dari setengah jam di ruang tamu ini.
Jeff biasa saja berdiri di samping Anggara. Tidak takut meskipun pandangan empat orang itu tidak ramah. Sementara Juwita yang berdiri di belakangnya mulai berkeringat dingin. Takut jika tiba-tiba beberapa pengawal menyergap dan memisahkannya dari Jeffsa.
"Jangan takut!" bisik Anggara.
Anggara berjalan mendahului. Lalu mempersilahkan Jeff dan Juwita duduk tidak jauh dari tempatnya duduk. Anggita dan Anggika masih acuh. Hanya melirik sebentar sebelum kembali sibuk dengan gadget di tangannya. Sedangkan Papa Albert tersenyum sinis. Berharap kedatangan Jeff dan Juwita bukan untuk mengemis.
"Kenapa, apa kau sudah sadar siapa dirimu. Apa kau kemari untuk mengantar Juwita kembali kesini?" tanya Mama Reta dengan senyum yang mengejek.
"Ma, jaga bicara mama!" kata Anggara. Tapi Mama Reta tidak mengindahkan ucapkan Anggara dan semakin bersikap angkuh. Wanita itu bahkan sudah mengetik sebuah pesan kepada pengawalnya untuk bersiap diluar sana.
Suasana menjadi hening untuk sesaat. Jeff tahu kedatangannya tidak diterima, Jeff juga tahu mereka sudah siap menahan Juwita. Jadi, sebelum Juwita semakin takut Jeff segera mengutarakan maksud kedatangannya disini.
"Berapa banyak yang Dante berikan untuk kalian sehingga kalian bersedia menyerahkan Juwita padanya?" tanya Jeffsa.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Papa Albert.
"Juwita adalah istriku dan kalian akan menyerahkannya pada pria lain. Jadi bagaimana mungkin itu bukan urusanku?" kata Jeffsa.
__ADS_1
Mama Reta tersenyum sinis. Mengira Jeff sudah gila karena berani bertanya berapa banyak uang yang akan diberikan Dante untuknya.
"Apa kau yakin ingin tahu berapa banyak yang akan dia berikan?" tanya Mama Reta.
Anggita yang sedari tadi diam mulai ikut bersuara. Ikut mencemooh Jeff sama seperti yang dilakukan orangtuanya. "Pria miskin sepertimu, mungkin kau bisa kencing di celana jika tahu berapa banyak nominalnya."
Kini giliran Jeff yang tersenyum sinis. Masih santai meskipun mereka menghinanya. Tapi tidak dengan Juwita karena wanita itu sudah mulai sesak bahkan hanya untuk bernafas.
Anggara yang sadar Juwita sedang tidak baik-baik saja akhirnya angkat bicara. Meminta mama dan papanya segera menyebutkan berapa nominalnya agar Jeff segera membungkam kesombongan mereka dengan selembar cek yang sudah Jeff sediakan.
"Ma, Pa, katakan saja!" kata Anggara. Meskipun Anggara tahu berapa jumlahnya tapi dia ingin orangtuanya saja yang mengatakannya.
Mama Reta melirik suaminya sebentar, sebelum menganggukkan kepala karena setuju untuk mengatakan nominal yang jauh lebih besar dari jumlah hutang mereka sebenarnya.
"Satu triliun!" jawab Mama Reta.
Anggara ingin bangkit, tapi Jeff menahannya. Dia tidak ingin ribut hanya karena mereka menaikkan jumlah 'harga' yang harus dia bayar jika ingin Juwita tetap tinggal.
"Jika aku memberikan uang sejumlah satu triliun kepada kalian, seharusnya kalian tidak keberatan jika aku meminta kalian memutuskan hubungan orangtua dan anak antara kalian dan Juwita kan?" tanya Jeffsa.
Mendengar Jeff begitu santai mengatakan itu akhirnya Juwita mengangkat kepalanya juga. Apa yang baru saja Jeff katakan. Satu triliun? Apa Jeff serius akan memberikan uang sebanyak itu. Baiklah, Juwita senang jika Jeff benar-benar memberikannya. Tapi uang sebanyak itu Jeff dapat darimana?
Jeff yang tahu apa yang ingin Juwita katakan hanya tersenyum tipis. Lalu menggelengkan kepalanya sebagai tanda agar Juwita tidak perlu cemas.
"Tentu saja," jawab Papa Albert.
Tentu saja jawaban itu diselingi dengan tawa yang merendahkan. Gembel seperti Jeffsa mana mungkin punya uang sebanyak itu.
"Kalau begitu tolong tanda tangan disini!" pinta Jeffsa sembari mengeluarkan selembar kertas bermaterai berisikan kesepakatan mereka.
Mama Reta dan Papa Albert membaca sekilas, lalu melihat Jeff bersamaan. "Jangan bercanda!" kata Mama Reta.
Jika tadi Anggita yang mencemooh, sekarang giliran Anggika yang mengatai Jeff miskin. "Kau yang miskin ini tidak mungkin punya uang sebanyak itu. Menyerah sajalah, pulang sana dan tinggalkan Juwita disini."
Tapi cemoohan Anggika tidak digubris Jeff sama sekali karena Jeff lebih memilih menanggapi keraguan Mama Reta. "Aku tidak bercanda. Jadi segera tanda tangani surat perjanjiannya agar aku bisa menyerahkan satu triliun itu pada kalian," kata Jeffsa.
Meskipun sempat ragu, tapi akhirnya dua orang itu tanda tangan juga. Lagipula hasilnya akan sama-sama menguntungkan untuk mereka. Jika Jeff tidak punya uang, mereka hanya perlu menahan Juwita dan menyerahkannya pada Dante. Tapi jika Jeff punya uang, maka mereka akan untung lebih banyak karena Dante bersedia memberikan 850 miliar sementara Jeff memberikan satu triliun. Dengan uang satu triliun, bukan hanya hutang mereka yang lunas, tapi mereka juga masih punya 150 miliar lainnya untuk digunakan bersenang-senang.
Setelah dua orang itu menandatangani surat perjanjian mereka, Jeff akhirnya mengeluarkan selembar cek dengan nominal satu triliun untuk ditunjukkan pada mereka.
"K-kau benar-benar punya uang sebanyak ini?" tanya Mama Reta dengan mata bulat sempurna.
"Tentu saja aku punya," jawab Jeffsa.
"Berikan padaku sekarang!" kata Papa Albert.
Papa Albert nyaris menyambar cek yang masih dipegang oleh Jeffsa. Tapi Jeff lebih gesit karena sudah terlebih dulu menyimpan cek itu kembali.
Jeff tidak sebodoh itu. Yang baru saja mereka tanda tangani hanyalah surat perjanjian. Meskipun cukup kuat, tapi itu tidak membuat Jeff puas sebelum hubungan orangtua dan anak itu diselesaikan. Jadi sebelum pembatalan adopsi itu tuntas, Jeff tidak akan menyerahkan satu triliunnya kepada mereka.
...***...
__ADS_1